INFO UNTUK ANDA

Tumit-Sering-Nyeri-Saat-Bangun-Tidur_-Waspadai-Plantar-Fasciitis.png
05/Nov/2026

Halo, Sobat eRSIy!

Pernahkah kamu merasakan nyeri pada bagian bawah tumit ketika melangkah? Atau tumit terasa semakin sakit setelah berdiri dan berjalan dalam waktu lama? Kondisi ini jangan dianggap sepele karena bisa menjadi salah satu tanda plantar fasciitis, yaitu gangguan pada jaringan di telapak kaki yang berperan penting dalam menopang tubuh saat berdiri dan berjalan.

Jika tidak ditangani dengan tepat, nyeri tumit dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari berjalan hingga berolahraga. Yuk, kenali penyebab, gejala, dan cara mencegah plantar fasciitis agar kaki tetap nyaman saat beraktivitas!

 

Apa Itu Plantar Fasciitis?

Plantar fasciitis adalah kondisi ketika jaringan ikat tebal bernama plantar fascia mengalami iritasi dan perubahan degeneratif sehingga menimbulkan nyeri pada bagian bawah tumit. Jaringan ini membentang dari tulang tumit hingga bagian depan telapak kaki dan membantu menopang lengkung kaki.

Gangguan ini dapat terjadi ketika plantar fascia menerima tekanan berulang atau beban yang berlebihan. Akibatnya, tumit terasa sakit, terutama saat kaki mulai digunakan setelah beristirahat cukup lama.

 

Apa Saja Penyebab Plantar Fasciitis?

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami plantar fasciitis, antara lain :

  • Berdiri atau berjalan terlalu lama. Aktivitas yang memberikan tekanan berulang pada kaki dapat meningkatkan beban pada plantar fascia.
  • Berat badan berlebih. Beban tubuh yang meningkat dapat menambah tekanan pada telapak kaki, khususnya ketika berdiri atau berjalan.
  • Olahraga berlebihan atau mendadak. Meningkatkan intensitas, durasi, atau frekuensi olahraga tanpa adaptasi yang cukup dapat membebani jaringan kaki.
  • Bentuk dan mekanika kaki. Kaki datar, lengkung kaki yang terlalu tinggi, atau keterbatasan gerak pergelangan kaki dapat memengaruhi distribusi tekanan pada telapak kaki.
  • Penggunaan alas kaki yang kurang mendukung. Sepatu dengan bantalan atau penopang lengkung kaki yang tidak memadai dapat memperburuk keluhan pada sebagian orang.

 

Apa Gejala Plantar Fasciitis?

Gejala plantar fasciitis umumnya ditandai dengan nyeri pada bagian bawah tumit. Rasa sakit ini dapat muncul dalam situasi tertentu, seperti :

  • Tumit terasa nyeri ketika pertama kali melangkah pada pagi hari setelah bangun tidur.
  • Nyeri muncul kembali setelah duduk atau beristirahat dalam waktu lama.
  • Rasa sakit bertambah setelah berdiri atau berjalan terlalu lama.
  • Tumit terasa sakit ketika ditekan.

Keluhan dapat mengganggu kenyamanan saat berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pola nyeri yang muncul, terutama jika terjadi berulang atau semakin mengganggu.

 

Bagaimana Cara Mencegah Plantar Fasciitis?

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi tekanan pada telapak kaki dan menjaga kesehatan kaki, yaitu :

  • Gunakan sepatu yang nyaman. Pilih alas kaki dengan bantalan yang memadai dan penopang lengkung kaki yang sesuai.
  • Hindari terlalu sering memakai sepatu hak tinggi. Pilih alas kaki yang lebih mendukung kenyamanan kaki saat beraktivitas.
  • Lakukan peregangan secara rutin. Regangkan otot betis dan telapak kaki sebelum berolahraga atau sebelum mulai berjalan pada pagi hari.
  • Jaga berat badan ideal. Menjaga berat badan dapat membantu mengurangi beban mekanis pada kaki.
  • Sesuaikan intensitas olahraga. Tingkatkan durasi dan frekuensi latihan secara bertahap agar kaki memiliki waktu untuk beradaptasi.
  • Gunakan bantalan tumit bila diperlukan. Bantalan tumit dapat membantu meningkatkan kenyamanan, khususnya bagi orang yang sering berdiri.

 

Latihan Sederhana untuk Membantu Mengurangi Nyeri Tumit

Selain menjaga kebiasaan sehari-hari, beberapa latihan dapat membantu meregangkan jaringan dan otot di sekitar kaki.

Berikut beberapa latihan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan dan toleransi nyeri :

  1. Peregangan otot betis. Berdirilah menghadap dinding, letakkan kedua tangan pada dinding, lalu posisikan satu kaki di belakang. Tekuk lutut kaki depan dan jaga tumit kaki belakang tetap menapak untuk meregangkan otot betis.
  2. Peregangan telapak kaki menggunakan handuk. Dalam posisi duduk, lingkarkan handuk pada telapak kaki, kemudian tarik perlahan ke arah tubuh hingga terasa regangan yang nyaman.
  3. Memijat telapak kaki dengan bola tenis. Gulirkan bola tenis secara perlahan di bawah telapak kaki untuk membantu meredakan ketegangan.
  4. Menggerakkan jari-jari kaki ke atas dan ke bawah. Lakukan dengan perlahan sesuai kemampuan dan hindari gerakan yang menimbulkan nyeri.
  5. Menggunakan heel pad atau bantalan tumit. Bantalan ini dapat membantu memberikan dukungan dan kenyamanan pada tumit saat berjalan.

Lakukan gerakan dengan lembut dan hindari memaksakan peregangan hingga menimbulkan nyeri tajam. Jika keluhan bertambah parah, hentikan latihan dan konsultasikan kepada tenaga kesehatan.

 

Apa yang Terjadi Jika Plantar Fasciitis Dibiarkan?

Nyeri tumit yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketika rasa sakit membuat seseorang mengubah cara berjalan untuk menghindari tekanan pada tumit, pola berjalan juga dapat ikut berubah.

Keluhan yang menetap perlu diperiksa agar penyebab nyeri dapat diketahui dan ditangani dengan tepat. Pemeriksaan oleh dokter atau tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah penanganan dan latihan yang sesuai dengan kondisi kaki.

Perlu diketahui bahwa tidak semua nyeri tumit disebabkan oleh plantar fasciitis. Karena itu, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya sendiri, terutama jika nyeri semakin berat atau tidak kunjung membaik.

 

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Segera konsultasikan keluhan kepada dokter atau tenaga kesehatan apabila nyeri tumit :

  • Berlangsung terus-menerus atau semakin parah.
  • Membuat kamu kesulitan berjalan atau melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Tidak membaik meskipun sudah beristirahat dan melakukan perawatan sederhana.
  • Disertai keluhan lain yang mengkhawatirkan.

Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebab nyeri dan menentukan penanganan yang tepat, termasuk jika dibutuhkan program rehabilitasi medik atau fisioterapi.

Plantar fasciitis dapat membuat aktivitas sederhana seperti berdiri dan berjalan terasa tidak nyaman. Namun, dengan memilih alas kaki yang sesuai, melakukan peregangan, mengatur beban aktivitas, dan mendapatkan penanganan yang tepat, keluhan dapat dikelola dengan lebih baik.

Yuk, lebih peduli terhadap kesehatan kaki! Jangan abaikan nyeri tumit yang berulang agar aktivitas sehari-hari tetap nyaman dan tidak terganggu.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


15.-Bingung-ASI-Belum-Lancar_-Yuk-Kenali-Cara-Stimulasi-yang-Tepat.png
29/Oct/2026

Halo, Sobat eRSIy!

Menyusui adalah momen yang sangat dinantikan setiap ibu setelah melahirkan. Namun, wajar jika sebagian ibu baru merasa khawatir ketika ASI belum keluar atau jumlahnya masih sedikit pada hari-hari pertama. Tenang ya, kondisi ini cukup sering terjadi dan umumnya bisa dibantu dengan stimulasi yang sesuai.

Yuk, kenali penyebab, cara merangsang, dan tanda ASI sudah cukup untuk si kecil!

 

Mengapa ASI Belum Keluar Lancar Setelah Melahirkan?

Tubuh sebenarnya sudah mulai menyiapkan ASI sejak masa kehamilan. Meski begitu, ASI tidak selalu langsung keluar banyak setelah persalinan. Pada hari-hari pertama, yang keluar biasanya kolostrum, yaitu ASI pertama yang berwarna kekuningan, jumlahnya sedikit, tetapi kaya zat kekebalan untuk bayi. Jumlah ASI biasanya meningkat dalam beberapa hari berikutnya.

Beberapa hal yang dapat memengaruhi kelancaran ASI antara lain :

  • Stres dan rasa lelah setelah melahirkan
  • Persalinan yang berlangsung lama atau melalui operasi caesar
  • Bayi belum cukup sering menyusu pada hari-hari awal
  • Posisi dan perlekatan bayi saat menyusu yang belum tepat
  • Asupan cairan dan nutrisi ibu yang belum tercukupi
  • Perubahan hormon yang belum stabil

Jadi, tidak perlu panik dulu, Sobat eRSIy. Tubuh ibu membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dan mulai memproduksi ASI secara optimal.

 

Bagaimana Cara Merangsang ASI Agar Cepat Keluar?

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba untuk membantu ASI keluar secara alami :

  • Susui bayi sesering mungkin. Semakin sering payudara dihisap, semakin banyak ASI yang diproduksi. Tidak perlu menunggu payudara terasa penuh.
  • Lakukan kontak kulit ke kulit (skin to skin). Sentuhan langsung antara kulit ibu dan bayi membantu memicu hormon oksitosin yang berperan dalam mengalirkan ASI. Kebiasaan ini juga membuat bayi lebih tenang dan lebih mudah mencari payudara.
  • Pastikan posisi dan perlekatan sudah tepat. Mulut bayi sebaiknya menutupi sebagian besar area gelap di sekitar puting, bukan hanya ujung puting. Perlekatan yang baik membuat bayi menyusu lebih efektif dan mengurangi risiko puting lecet.
  • Coba pijat laktasi. Teknik ini dapat membantu memperlancar aliran ASI dan mencegah sumbatan pada saluran payudara.
  • Pertimbangkan memerah ASI. Jika bayi belum bisa menyusu langsung, misalnya karena dirawat terpisah, ibu dapat memerah ASI dengan tangan atau pompa agar payudara tetap terstimulasi.
  • Penuhi kebutuhan gizi. Pilih makanan bergizi seperti sumber protein, sayuran hijau, dan buah segar, serta cukupi kebutuhan cairan setiap hari.
  • Istirahat cukup dan kelola stres. Ibu yang lebih tenang dan cukup tidur cenderung lebih mudah mengalirkan ASI. Jangan sungkan meminta bantuan suami atau keluarga untuk urusan rumah agar ibu bisa beristirahat.

 

Tips Menjaga Produksi ASI Tetap Lancar

Agar produksi ASI terjaga, kebiasaan berikut bisa diterapkan setiap hari :

  • Tetap susui bayi secara teratur, atau lakukan pumping bila bayi sedang tertidur dan belum menyusu
  • Dekatkan bayi dengan ibu selama mungkin agar ibu lebih mudah mengenali tanda bayi lapar
  • Hindari rokok dan batasi konsumsi kafein
  • Kenakan bra yang nyaman dan tidak menekan payudara agar aliran darah tetap lancar
  • Sempatkan waktu untuk relaksasi dan tidur yang cukup

 

Bagaimana Tahu ASI Sudah Cukup untuk Bayi?

Banyak ibu khawatir ASI-nya kurang hanya karena payudara terasa tidak penuh. Padahal, payudara yang lunak tidak selalu berarti ASI sedikit. Tanda-tanda berikut bisa membantu ibu menilai kecukupan ASI :

  • Bayi menyusu dengan baik dan tampak tenang atau puas setelah menyusu
  • Terdengar suara menelan saat bayi menyusu
  • Popok bayi cukup sering basah dan buang air besar teratur
  • Berat badan bayi naik sesuai anjuran tenaga kesehatan
  • Bayi tampak aktif dan terjaga saat waktunya terjaga

Perlu diingat, bayi baru lahir memang sering menyusu, bahkan bisa berkali-kali dalam sehari. Hal ini normal dan justru membantu meningkatkan produksi ASI.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Cerebral-Palsy_-Kenali-Lebih-Awal-Tangani-Lebih-Tepat.png
28/Oct/2026

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar istilah Cerebral Palsy? Kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan gerak pada anak sejak usia dini. Padahal, Cerebral Palsy bukan penyakit menular. Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan gerak, postur tubuh, dan koordinasi anak.

Yuk, kenali lebih jauh tentang Cerebral Palsy, tanda-tanda awalnya, dan langkah penanganan yang tepat agar tumbuh kembang anak tetap terpantau dengan baik!

 

Apa Itu Cerebral Palsy?

Cerebral Palsy (CP) adalah sekelompok gangguan yang disebabkan oleh kerusakan atau perkembangan otak yang tidak normal, terutama pada bagian otak yang mengatur gerakan, keseimbangan, dan postur tubuh. Gangguan ini dapat terjadi saat bayi masih di dalam kandungan, ketika proses persalinan, atau pada masa awal kehidupan setelah lahir.

Kondisi ini bersifat menetap, tetapi tidak bertambah parah seiring waktu. Dengan terapi yang tepat, kemampuan fungsional anak dapat dioptimalkan.

 

Apa Saja Penyebab dan Faktor Risikonya?

Cerebral Palsy dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain :

  • Kekurangan oksigen pada otak bayi saat proses kelahiran
  • Infeksi pada ibu selama kehamilan
  • Cedera kepala pada bayi
  • Bayi lahir prematur
  • Berat badan lahir sangat rendah
  • Bayi kuning berat yang tidak tertangani
  • Gangguan perkembangan otak sejak dalam kandungan

Pada sebagian kasus, penyebab pastinya tidak dapat diketahui dengan jelas.

 

Tanda dan Gejala Cerebral Palsy pada Anak

Mengenali gejala sejak dini sangat penting agar anak bisa segera mendapatkan terapi dan dukungan. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai :

  • Tubuh bayi terasa sangat kaku atau justru sangat lemas saat digendong
  • Gerakan tubuh tampak tidak seimbang atau sulit dikendalikan
  • Terlambat mencapai tahapan perkembangan, seperti mengangkat kepala, duduk, merangkak, atau berjalan sesuai usianya
  • Sering mengeluarkan air liur berlebihan, kesulitan menelan, atau sulit menghisap saat menyusu
  • Satu sisi tubuh tampak lebih lemah dibandingkan sisi lainnya
  • Gerakan yang tidak disengaja atau tremor
  • Kesulitan berbicara atau mengendalikan gerak mulut dan lidah

Tingkat keparahan gejala dapat berbeda pada setiap anak. Jika Sobat eRSIy menemukan tanda-tanda tersebut, jangan menunggu lama untuk berkonsultasi dengan dokter.

 

Bagaimana Cara Menanganinya?

Penanganan Cerebral Palsy bersifat jangka panjang dan melibatkan banyak tenaga kesehatan, seperti dokter anak, dokter spesialis rehabilitasi medik, fisioterapis, terapis okupasi, terapis wicara, dan ahli gizi. Beberapa langkah penanganannya meliputi :

  • Fisioterapi, untuk melatih kekuatan otot, keseimbangan, dan kemampuan gerak anak
  • Terapi okupasi, untuk membantu anak melakukan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri
  • Terapi wicara, untuk melatih kemampuan berbicara, menelan, dan berkomunikasi
  • Obat-obatan atau tindakan medis, yang diberikan sesuai indikasi, misalnya bila anak mengalami kejang atau kekakuan otot yang berlebihan
  • Dukungan keluarga, berupa kesabaran, perhatian, dan lingkungan yang penuh kasih sayang karena sangat berperan dalam perkembangan anak

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan anak ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan apabila :

  • Perkembangan motorik anak tampak terlambat dibandingkan anak seusianya
  • Tubuh anak terasa terlalu kaku atau terlalu lemas
  • Anak sulit menyusu, menelan, atau mengendalikan air liur
  • Satu sisi tubuh anak terlihat lebih lemah
  • Anak mengalami kejang

Pemeriksaan dan terapi sedini mungkin memberikan kesempatan terbaik bagi anak untuk berkembang secara optimal.

Cerebral Palsy bukan akibat kesalahan orang tua, dan bukan penyakit yang menular. Dengan deteksi dini, terapi yang konsisten, serta dukungan penuh dari keluarga, anak dengan Cerebral Palsy tetap dapat tumbuh dan berkembang sesuai potensinya.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Benjolan-di-Leher-Kanker-atau-Bukan.png
27/Oct/2026

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah meraba leher lalu menemukan benjolan yang tidak biasa, dan langsung cemas membayangkan kanker? Tenang dulu. Tidak semua benjolan di leher berbahaya. Sebagian besar disebabkan oleh hal yang jinak, seperti infeksi, dan sering membaik setelah penyebabnya ditangani. Meski begitu, kita tetap perlu tahu kapan benjolan boleh dipantau dan kapan harus segera diperiksa. Yuk, simak penjelasannya!

 

Apa Saja Penyebab Benjolan di Leher?

Benjolan di leher bisa muncul karena beberapa kondisi, antara lain :

  • Pembesaran kelenjar getah bening. Ini penyebab paling sering. Kelenjar membesar saat tubuh melawan infeksi, misalnya flu, radang tenggorokan, atau gigi berlubang.
  • Infeksi pada kulit atau jaringan di sekitar leher, yang kadang disertai nyeri, kemerahan, atau bengkak.
  • Gangguan kelenjar tiroid, misalnya gondok atau nodul tiroid.
  • Kista atau lipoma (benjolan lemak). Biasanya teraba lunak, tidak nyeri, dan bersifat jinak.
  • Tumor atau kanker. Penyebab ini jauh lebih jarang, tetapi tetap perlu disingkirkan lewat pemeriksaan dokter.

 

Kenali Ciri Benjolan yang Perlu Diwaspadai

Segera periksakan diri bila benjolan di leher disertai tanda berikut :

  • Teraba keras dan sulit digerakkan
  • Membesar dengan cepat
  • Tidak nyeri, tetapi terus bertambah besar
  • Tidak mengecil atau hilang setelah 2 sampai 3 minggu
  • Disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Disertai keringat malam atau demam yang berlangsung lama
  • Disertai suara serak, sulit menelan, atau sulit bernapas

Ingat, benjolan yang tidak terasa sakit bukan berarti aman. Justru benjolan yang tidak nyeri tetapi terus membesar perlu mendapat perhatian lebih.

 

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Penanganan disesuaikan dengan penyebabnya. Untuk menentukannya, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan dapat menganjurkan pemeriksaan penunjang seperti USG, tes darah, atau pengambilan sampel jaringan (biopsi) bila diperlukan.

  • Akibat infeksi : dokter dapat memberikan obat sesuai penyebabnya, misalnya antibiotik atau antiinflamasi.
  • Akibat gangguan tiroid atau kista : diperlukan evaluasi lanjutan, dan penanganannya bisa berupa pemantauan, obat, atau tindakan, tergantung kondisinya.
  • Bila dicurigai tumor ganas : akan dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis, lalu diberikan penanganan khusus sesuai hasilnya.

Jangan menekan, memijat, atau memencet benjolan, ya, karena dapat memicu peradangan atau infeksi. Hindari juga mengobati sendiri tanpa tahu penyebabnya.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Konsultasikan ke dokter bila benjolan tidak kunjung mengecil dalam beberapa minggu, bertambah besar, terasa keras, atau muncul bersama gejala lain seperti penurunan berat badan, demam berkepanjangan, suara serak, atau sulit menelan. Pemeriksaan sejak dini membantu menemukan penyebab dengan tepat dan mencegah komplikasi.

Benjolan di leher memang bisa membuat cemas, tetapi jangan langsung berpikir yang terburuk ya Sobat eRSIy! Dengan pemeriksaan dan penanganan yang tepat, sebagian besar kasus dapat tertangani dengan baik.

Jadi, jangan menunggu sampai benjolan membesar. Periksakan diri lebih awal ke Dokter Spesialis untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Kenali-Lemak-Baik-dan-Lemak-Jahat.png
26/Oct/2026

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah dengar istilah lemak jahat dan lemak baik? Banyak orang mengira semua lemak itu buruk bagi tubuh, padahal tidak begitu, lho! Tubuh kita tetap membutuhkan lemak sebagai sumber energi, melindungi organ, dan membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K. Yang perlu kita perhatikan adalah jenis dan jumlah lemak yang dikonsumsi setiap hari.

Yuk, kenali perbedaannya agar kamu bisa memilih lemak yang tepat untuk tubuhmu!

 

Apa Itu Lemak Jahat?

Lemak jahat adalah sebutan untuk lemak jenuh (saturated fat) dan lemak trans (trans fat). Jika dikonsumsi berlebihan, kedua jenis lemak ini dapat menaikkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Lemak trans bahkan juga dapat menurunkan kolesterol baik (HDL). Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan kegemukan.

Lemak jahat banyak ditemukan pada :

  • Makanan cepat saji dan gorengan
  • Daging berlemak dan kulit ayam
  • Mentega, margarin padat, dan camilan olahan
  • Produk susu tinggi lemak (full cream)
  • Santan kental dan makanan bersantan yang dimasak berulang

 

Lalu, Apa Itu Lemak Baik?

Lemak baik adalah lemak tak jenuh (unsaturated fat), yaitu lemak tak jenuh tunggal (MUFA) dan lemak tak jenuh ganda (PUFA, termasuk omega-3). Bila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar dan menggantikan lemak jahat, lemak ini dapat membantu menurunkan kolesterol LDL serta menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Sumber lemak baik yang mudah kamu temukan :

  • Ikan berlemak seperti salmon, tuna, sarden, dan makerel
  • Alpukat
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian, seperti kacang almond, kenari, dan biji chia
  • Minyak zaitun, minyak kanola, dan minyak bunga matahari

Meski bermanfaat, lemak baik tetap mengandung kalori yang cukup tinggi, jadi konsumsilah sesuai porsi, ya!

 

Tips Mengurangi Lemak Jahat dengan Pola Makan Sehat

  • Batasi gorengan dan makanan cepat saji
  • Pilih cara memasak yang lebih sehat, seperti mengukus, merebus, atau memanggang
  • Buang kulit ayam dan lemak yang terlihat pada daging sebelum dimasak
  • Ganti mentega padat dengan minyak zaitun atau minyak kanola
  • Hindari memakai minyak goreng berulang kali
  • Biasakan membaca label kemasan untuk memeriksa kandungan lemak jenuh dan lemak trans
  • Perbanyak sayur dan buah segar setiap hari
  • Cukupi kebutuhan air putih dan batasi makanan serta minuman tinggi gula

 

Sobat eRSIy, tidak semua lemak itu berbahaya. Kuncinya adalah mengatur asupan lemak dengan bijak, kurangi lemak jahat, pilih lemak baik dalam porsi yang sesuai, dan imbangi dengan pola makan seimbang serta aktivitas fisik rutin. Dengan begitu, berat badan lebih terkontrol dan jantung pun lebih terlindungi.

Yuk, mulai gaya hidup sehat dari sekarang!

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mimisan-Tak-Kunjung-Berhenti-_-Jangan-Panik.png
16/Oct/2026

Halo, Sobat eRSIy!

Mimisan atau epistaksis merupakan kondisi ketika terjadi perdarahan dari dalam hidung. Keluhan ini cukup sering terjadi dan pada banyak kasus dapat berhenti dengan sendirinya. Namun, mimisan yang berlangsung lama, darah mengalir cukup banyak, atau muncul setelah benturan pada kepala dan wajah perlu mendapat perhatian lebih.

Saat mimisan terjadi, jangan panik dan jangan langsung menengadahkan kepala. Ada langkah sederhana yang dapat dilakukan sebagai pertolongan awal, yaitu metode Trotter.

 

Apa Itu Mimisan?

Mimisan adalah perdarahan yang keluar melalui hidung. Kondisi ini dapat berkaitan dengan berbagai penyebab, mulai dari cedera atau benturan pada kepala dan hidung hingga kondisi tertentu yang memengaruhi tubuh.

Beberapa penyebab mimisan yang dapat terjadi antara lain :

  • Trauma atau cedera pada kepala dan hidung
  • Kelainan struktur anatomi hidung
  • Paparan infeksi virus atau bakteri
  • Masuknya benda asing ke dalam hidung
  • Penyakit sistemik tertentu
  • Faktor hormonal, seperti pada ibu hamil atau saat menopause
  • Kelainan darah, misalnya anemia atau trombositopenia

Sebagian mimisan dapat berhenti sendiri. Namun, penting untuk mengetahui cara menangani perdarahan dengan benar agar kondisi tidak semakin berat.

 

Bagaimana Melakukan Metode Trotter?

Metode Trotter merupakan salah satu langkah pertolongan awal yang dapat dilakukan ketika mimisan.

Caranya sebagai berikut :

  1. Duduk dengan posisi tegak, kemudian condongkan tubuh sedikit ke depan.
  2. Jepit bagian lunak atau pangkal cuping hidung menggunakan ibu jari dan telunjuk.
  3. Bernapas melalui mulut sambil mempertahankan tekanan pada hidung selama sekitar 10-15 menit.
  4. Jika perdarahan belum berhenti, metode ini dapat diulangi sebanyak 2-3 kali.

Posisi tubuh yang condong ke depan penting agar darah tidak mengalir ke bagian belakang tenggorokan.

 

Apa yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Mimisan?

Kesalahan saat memberikan pertolongan pertama justru dapat membuat kondisi menjadi kurang nyaman. Saat mimisan, hindari beberapa hal berikut :

  • Jangan menengadahkan kepala.
  • Jangan berbaring telentang.
  • Jangan memasukkan sesuatu terlalu dalam ke dalam hidung.
  • Jangan meniup atau mengorek hidung setelah perdarahan berhenti.
  • Jangan menunda mencari pertolongan ketika perdarahan tergolong berat.

Tetap tenang dan lakukan penekanan pada hidung dengan posisi yang tepat.

 

Waspadai Tanda Bahaya

Mimisan perlu segera diperiksakan apabila disertai tanda-tanda seperti :

  • Perdarahan tidak berhenti setelah 15-20 menit
  • Darah keluar cukup banyak dan mengalir ke tenggorokan
  • Pusing, lemas, atau sesak
  • Mimisan terjadi setelah benturan pada kepala atau wajah
  • Mimisan berulang atau disertai tekanan darah yang sangat tinggi

Pada kondisi tersebut, sebaiknya segera mencari pertolongan medis agar penyebab perdarahan dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jangan menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pemeriksaan apabila mimisan sulit berhenti atau terjadi berulang kali. Pemeriksaan diperlukan terutama ketika perdarahan muncul setelah cedera, jumlah darah cukup banyak, atau kondisi tubuh mulai terasa lemas dan pusing.

Mimisan memang sering kali bukan kondisi yang serius, tetapi cara penanganannya tetap perlu diperhatikan. Metode Trotter dapat menjadi salah satu pertolongan awal dengan posisi duduk tegak, tubuh sedikit condong ke depan, dan menekan bagian lunak hidung selama 10-15 menit.

Yuk, tetap tenang saat mimisan dan lakukan pertolongan awal dengan cara yang tepat. Jangan ragu mencari bantuan medis bila perdarahan tidak kunjung berhenti atau muncul tanda bahaya!

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Terlalu-Lama-Pakai-Headset-Bahaya-Mengintai.png
15/Oct/2026

Halo, Sobat eRSIy!

Siapa di sini yang hampir setiap hari menggunakan headset? Mulai dari mendengarkan musik, menonton film, bermain game, hingga mengikuti meeting online, headset memang sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Namun, pernahkah Anda mendengar anggapan bahwa terlalu lama memakai headset bisa merusak otak? Kabar seperti ini tentu bisa membuat khawatir. Sebenarnya, apakah headset benar-benar bisa merusak otak? Yuk, cari tahu faktanya!

 

Apa yang Terjadi Saat Menggunakan Headset Terlalu Lama?

Penggunaan headset dalam waktu lama tidak secara langsung menyebabkan otak menjadi rusak. Yang lebih perlu diperhatikan adalah paparan suara yang terlalu keras dan terlalu lama karena dapat meningkatkan risiko kerusakan pada sistem pendengaran.

Semakin tinggi volume suara, semakin lama durasi pemakaian, dan semakin sering telinga terpapar suara keras, semakin besar pula risikonya terhadap pendengaran. Paparan berulang dapat menyebabkan noise-induced hearing loss (NIHL) atau gangguan pendengaran akibat kebisingan.

Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain :

  • Telinga berdenging atau tinnitus.
  • Pendengaran terasa berkurang atau suara terdengar lebih samar.
  • Kesulitan mendengar percakapan, terutama di tempat yang ramai.
  • Telinga terasa tidak nyaman setelah mendengarkan suara keras.

Jadi, bukan berarti headset secara langsung “merusak otak”. Justru, kebiasaan mendengarkan audio dengan volume tinggi dan dalam waktu lama yang perlu diwaspadai karena dapat merusak sel-sel sensorik pendengaran yang tidak mudah pulih.

 

Apakah Aman Menggunakan Headset?

Tentu saja boleh, Sobat eRSIy! Kuncinya adalah memperhatikan volume, durasi, dan frekuensi penggunaan.

WHO merekomendasikan menjaga volume perangkat pribadi tidak lebih dari sekitar 60% dari tingkat maksimal. WHO juga menjelaskan bahwa batas aman sangat bergantung pada tingkat suara. Sebagai gambaran, paparan sekitar 80 dB dapat didengarkan hingga 40 jam per minggu, sedangkan pada 90 dB batas waktunya turun menjadi sekitar 4 jam per minggu.

Karena itu, tidak ada satu batas waktu yang berlaku untuk semua kondisi. Semakin keras suara yang didengarkan, semakin singkat pula waktu yang aman.

 

Tips Aman Menggunakan Headset

  • Atur volume tetap rendah
    Usahakan tidak memutar suara terlalu keras. WHO menyarankan volume perangkat pribadi tidak lebih dari sekitar 60% dari maksimal.
  • Beri waktu istirahat untuk telinga
    Jangan menggunakan headset terus-menerus tanpa jeda, terutama ketika mendengarkan audio dalam waktu lama.
  • Gunakan fitur noise cancelling
    Headset dengan fitur noise cancelling atau peredam bising dapat membantu mengurangi kebutuhan menaikkan volume saat berada di lingkungan yang ramai.
  • Kenali tanda-tanda paparan suara berlebihan
    Bila telinga mulai berdenging, terasa tidak nyaman, atau pendengaran menjadi kurang jelas setelah menggunakan headset, sebaiknya segera kurangi paparan suara dan beri waktu telinga untuk beristirahat.
  • Hindari menaikkan volume untuk menutupi suara bising
    Saat berada di kendaraan, tempat ramai, atau lingkungan yang berisik, sebaiknya jangan terus menaikkan volume. Pilih perangkat yang dapat membantu mengurangi kebisingan dari luar.

 

Jadi, Benarkah Headset Bisa Merusak Otak?

Tidak secara langsung, Sobat eRSIy. Yang menjadi perhatian utama justru kesehatan telinga dan sistem pendengaran. Penggunaan headset dengan suara terlalu keras dan dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran serta tinnitus.

Karena itu, tidak perlu takut menggunakan headset. Yang penting, gunakan dengan bijak, atur volume tetap aman, dan berikan waktu istirahat untuk telinga.

Bila Anda mengalami telinga berdenging yang menetap, sulit mendengar percakapan, atau merasa kemampuan mendengar menurun, jangan abaikan keluhan tersebut. Pemeriksaan oleh tenaga medis dapat membantu mengetahui penyebabnya.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Silent-Depression_-Bahagia-di-Luar-Berjuang-di-Dalam.png
14/Oct/2026

Halo, Sobat ERSIY!

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu tersenyum, aktif beraktivitas, dan terlihat baik-baik saja, tetapi ternyata sedang menyimpan beban emosional yang berat?

Kondisi seperti ini sering disebut silent depression atau depresi yang tidak tampak jelas dari luar. Istilah tersebut bukan diagnosis medis resmi, tetapi digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengalami gejala depresi namun tetap berusaha menjalani rutinitas seperti biasa.

ㅤ

Apa Itu Silent Depression?

Tidak semua orang dengan depresi akan terlihat murung atau menarik diri sepenuhnya. Ada yang tetap bekerja, belajar, bersosialisasi, bahkan tampak ceria di hadapan orang lain. Namun, di balik aktivitas tersebut, mereka mungkin sedang merasakan kesedihan, kehampaan, kelelahan, atau kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai.

Sebagian orang juga memilih menyembunyikan perasaannya karena takut dianggap lemah, tidak ingin merepotkan orang lain, atau merasa harus selalu terlihat kuat.

 

Tanda-Tanda yang Perlu Diperhatikan

Mengenali perubahan kecil dapat membantu kita lebih peka terhadap kondisi diri sendiri maupun orang terdekat. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain :

1. Tetap terlihat ceria, tetapi merasa kosong di dalam

Seseorang mungkin tetap tersenyum dan bercanda, meskipun sebenarnya sedang merasa sedih atau tidak bersemangat.

2. Mudah lelah dan kehilangan energi

Rasa lelah yang terus berlangsung dapat menjadi salah satu gejala depresi, terutama ketika tidak membaik meskipun sudah beristirahat.

3. Perubahan pola tidur

Kesulitan tidur, sering terbangun, atau justru tidur terlalu lama dapat terjadi pada seseorang yang mengalami depresi.

4. Kehilangan minat terhadap aktivitas yang dulu disukai

Hal-hal yang sebelumnya menyenangkan bisa terasa biasa saja dan tidak lagi memberikan kepuasan.

5. Sulit berkonsentrasi

Seseorang mungkin lebih mudah kehilangan fokus, sulit mengambil keputusan, atau merasa pikirannya terus dipenuhi berbagai hal.

6. Mulai menjauh dari orang lain

Meski masih berkomunikasi dan beraktivitas seperti biasa, seseorang dapat perlahan mengurangi interaksi sosial atau memilih menyendiri.

7. Sering merasa tidak berharga atau putus asa

Perasaan bersalah berlebihan, tidak berdaya, tidak berharga, atau kehilangan harapan juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.

ㅤ

Apa yang Bisa Dilakukan?

Menghadapi kondisi emosional yang berat tidak harus dilakukan sendirian. Beberapa langkah sederhana yang dapat membantu antara lain :

  • Cerita kepada orang yang dipercaya. Tidak perlu memendam semua masalah seorang diri.
  • Tetap aktif bergerak. Aktivitas fisik secara rutin dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan mental.
  • Jaga pola tidur dan makan. Rutinitas yang lebih teratur dapat membantu menjaga kondisi tubuh dan kesejahteraan secara keseluruhan.
  • Kurangi kebiasaan membandingkan diri. Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat membuat seseorang semakin tertekan.
  • Cari bantuan profesional. Psikolog atau psikiater dapat membantu menilai kondisi dan menentukan penanganan yang sesuai.

Perlu diingat, mengalami beberapa tanda tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami depresi. Diagnosis perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan melihat gejala, durasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

ㅤ

Jangan Abaikan Perasaan yang Terus Mengganggu

Sobat ERSIY, seseorang tidak harus terlihat sedih untuk sedang mengalami masalah kesehatan mental. Karena itu, penting untuk lebih peka terhadap perubahan pada diri sendiri maupun orang di sekitar.

Bila perasaan sedih, kosong, kehilangan minat, sulit tidur, kelelahan, atau putus asa berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Terlebih lagi, bila muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, bantuan segera sangat diperlukan.

Bagi Sobat ERSIY yang merasa sedang berada di titik lelah atau mengalami tanda-tanda yang mengkhawatirkan, Anda tidak sendirian. Jangan hanya bertanya “Apakah saya terlihat baik-baik saja?” tetapi juga tanyakan, “Apakah saya benar-benar baik-baik saja?” Karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

ㅤ

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Makan-Malam-di-Atas-Jam-9_-Benarkah-Bisa-Picu-Penyakit-Metabolik.png
13/Oct/2026

Halo, Sobat ERSIY!

Siapa yang sering baru sempat makan malam setelah jam 9 karena pekerjaan atau aktivitas yang padat? Sesekali makan larut malam mungkin bukan masalah besar. Namun, jika menjadi kebiasaan, terutama disertai makanan tinggi kalori, gula, garam, atau lemak, hal ini dapat memengaruhi kesehatan metabolisme.

Tubuh memiliki ritme sirkadian yang mengatur waktu tidur, hormon, pencernaan, dan metabolisme. Pada malam hari, tubuh mulai bersiap untuk beristirahat. Karena itu, makan dalam jumlah besar terlalu dekat dengan waktu tidur sebaiknya dihindari.

 

Apa Itu Penyakit Metabolik?

Penyakit metabolik merupakan kondisi yang berkaitan dengan gangguan tubuh dalam mengolah dan menggunakan energi. Beberapa contohnya Adalah :

  • Diabetes melitus tipe 2
  • Obesitas
  • Kolesterol atau lemak darah tinggi
  • Hipertensi
  • Sindrom metabolik

Jika faktor risikonya tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

 

Mengapa Makan Larut Malam Perlu Diperhatikan?

Makan di atas jam 9 malam tidak otomatis menyebabkan penyakit metabolik. Namun, kebiasaan makan terlalu larut dapat menjadi bagian dari pola hidup yang kurang sehat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Mengganggu Ritme Sirkadian

Makan pada waktu yang tidak sesuai dengan jam biologis tubuh dapat memengaruhi pengaturan metabolisme.

2. Mudah Mengonsumsi Kalori Berlebih

Rasa lapar setelah seharian beraktivitas dapat membuat seseorang memilih makanan cepat saji, gorengan, atau camilan tinggi kalori.

3. Mengganggu Kualitas Tidur

Makan dalam porsi besar terlalu dekat dengan waktu tidur dapat menyebabkan rasa begah dan membuat tidur kurang nyaman.

4. Memengaruhi Kesehatan Metabolik

Jika dilakukan terus-menerus dan disertai pola makan yang tidak sehat, kebiasaan makan larut malam dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme.

 

Bagaimana Cara Menjaga Metabolisme Tetap Sehat?

Sobat ERSIY bisa mulai dengan beberapa kebiasaan sederhana :

  • Usahakan makan secara teratur dan tidak terlalu larut.
  • Beri jarak sekitar 2–3 jam antara makan malam dan waktu tidur.
  • Pilih makanan bergizi seimbang dan batasi makanan tinggi gula, garam, serta lemak.
  • Tetap aktif bergerak atau berolahraga secara rutin.
  • Cukupi waktu tidur dan jaga pola istirahat.

 

Jangan Hanya Fokus pada Jam Makan!

Kesehatan metabolisme tidak hanya ditentukan oleh jam makan. Kualitas makanan, jumlah asupan, aktivitas fisik, berat badan, tidur, dan kebiasaan sehari-hari juga berperan penting.

Jika Anda sering mengalami mudah lelah, haus berlebihan, perubahan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau memiliki tekanan darah maupun gula darah tinggi, sebaiknya jangan diabaikan. Konsultasikan kondisi Anda dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.

Yuk, Sobat ERSIY, mulai jaga kesehatan metabolisme dari sekarang! Atur waktu makan, pilih makanan bergizi, tetap aktif, dan jangan lupa beristirahat dengan cukup. Jaga pola makan hari ini untuk kesehatan tubuh yang lebih baik di masa depan!

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Hipertensi-di-Usia-Muda_-Jangan-Anggap-Sepele.png
09/Oct/2026

Halo, Sobat ERSIY!

Siapa bilang tekanan darah tinggi hanya dialami orang yang sudah lanjut usia? Hipertensi juga dapat terjadi pada usia muda, termasuk mereka yang masih berada di usia produktif.

Rutinitas yang padat, pola makan tinggi garam, kurang bergerak, berat badan berlebih, kebiasaan merokok, hingga stres berkepanjangan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Masalahnya, hipertensi sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas sehingga seseorang dapat merasa sehat meskipun tekanan darahnya sudah tinggi.

Karena itu, jangan menunggu sampai muncul keluhan. Mengetahui tekanan darah secara rutin merupakan langkah sederhana untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah sejak dini.

 

Mengapa Hipertensi di Usia Muda Perlu Diwaspadai?

Tekanan darah yang terus berada di atas batas normal dapat memberikan beban lebih besar pada pembuluh darah dan organ tubuh. Dalam jangka panjang, hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, hingga komplikasi pada organ lainnya.

Yang perlu diingat, usia muda bukan berarti bebas dari risiko. Kebiasaan hidup yang kurang sehat dan faktor tertentu dapat membuat tekanan darah meningkat lebih awal. Bahkan, seseorang bisa tidak menyadarinya karena hipertensi pada banyak kasus tidak menimbulkan gejala khas.

 

Apa Saja yang Bisa Memicu Hipertensi di Usia Muda?

Beberapa kebiasaan dan kondisi yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi antara lain :

1. Terlalu Banyak Mengonsumsi Garam

Makanan cepat saji, makanan olahan, mi instan, makanan kalengan, serta berbagai camilan asin dapat menjadi sumber natrium yang cukup tinggi. Asupan natrium berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

2. Jarang Bergerak

Terlalu banyak duduk dan minim aktivitas fisik dapat berkontribusi terhadap berat badan berlebih dan meningkatkan risiko hipertensi. Aktivitas fisik secara rutin membantu menjaga berat badan sekaligus membantu mengendalikan tekanan darah.

3. Berat Badan Berlebih atau Obesitas

Kelebihan berat badan dapat membuat sistem kardiovaskular bekerja lebih berat dan menjadi salah satu faktor risiko hipertensi. Menjaga berat badan tetap sehat dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

4. Merokok dan Konsumsi Alkohol

Nikotin dapat menyebabkan tekanan darah meningkat sementara dan penggunaan tembakau juga dapat merusak pembuluh darah. Sementara itu, konsumsi alkohol berlebihan juga berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi.

5. Stres Berkepanjangan dan Pola Hidup Tidak Teratur

Stres yang berlebihan dapat memengaruhi tekanan darah. Selain itu, stres terkadang diikuti kebiasaan lain yang kurang sehat, seperti pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, merokok, atau konsumsi alkohol.

6. Faktor Keturunan dan Kondisi Kesehatan Tertentu

Tidak semua penyebab hipertensi berasal dari gaya hidup. Riwayat keluarga, penyakit ginjal, diabetes, sleep apnea, dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

 

Bagaimana Cara Mencegah Hipertensi Sejak Muda?

Kabar baiknya, beberapa faktor risiko hipertensi dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup. Sobat ERSIY bisa mulai dari kebiasaan sederhana berikut :

1. Cek Tekanan Darah Secara Berkala

Jangan hanya mengukur tekanan darah ketika sedang merasa tidak enak badan. Pemeriksaan secara berkala membantu mengetahui kondisi tekanan darah lebih awal, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko atau riwayat keluarga hipertensi.

2. Batasi Garam dan Perbanyak Makanan Sehat

Kurangi makanan yang terlalu asin dan tinggi natrium. Perbanyak buah, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, serta makanan bergizi seimbang. Pola makan sehat seperti DASH juga direkomendasikan untuk membantu mencegah dan mengendalikan tekanan darah tinggi.

3. Rutin Melakukan Aktivitas Fisik

Usahakan tetap aktif setiap hari. Untuk orang dewasa, aktivitas fisik intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu dapat menjadi salah satu target yang baik, misalnya jalan cepat, bersepeda, berenang, atau aktivitas lain yang sesuai dengan kondisi tubuh.

4. Jaga Berat Badan Tetap Sehat

Bila memiliki berat badan berlebih, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu memperbaiki kesehatan secara keseluruhan dan membantu mengendalikan tekanan darah.

5. Berhenti Merokok dan Batasi Alkohol

Menghindari rokok dan membatasi atau menghindari alkohol merupakan bagian penting dari upaya menjaga tekanan darah serta kesehatan jantung dan pembuluh darah.

6. Kelola Stres dan Perbaiki Pola Istirahat

Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang membantu tubuh dan pikiran lebih rileks. Meditasi, latihan pernapasan, kegiatan positif, serta mengatur keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat dapat menjadi bagian dari pengelolaan stres.

 

Jangan Menunggu Gejala untuk Cek Tensi!

Hipertensi dikenal sebagai kondisi yang sering tidak menimbulkan gejala. Karena itu, merasa sehat bukan berarti tekanan darah pasti normal. Pemeriksaan tekanan darah tetap diperlukan untuk mengetahui kondisinya.

Pada tekanan darah yang sangat tinggi, seseorang dapat mengalami keluhan seperti sakit kepala berat, pusing, penglihatan kabur, sesak napas, atau nyeri dada. Bila tekanan darah sangat tinggi disertai keluhan tersebut, segera cari pertolongan medis.

Yuk, Sobat ERSIY, jangan tunggu sampai hipertensi menimbulkan komplikasi! Mulai dari hal sederhana dengan lebih aktif bergerak, pilih makanan yang lebih sehat, kurangi garam, hindari rokok, kelola stres, dan jangan lupa memeriksa tekanan darah secara berkala.

Jaga tekanan darah sejak muda, agar kesehatan jantung dan tubuh tetap terjaga hingga masa depan!

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2026. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?