INFO UNTUK ANDA

IMG_1526.png

Olahraga rutin memang baik untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Namun, semakin aktif berolahraga, risiko mengalami cedera juga tetap ada. Sayangnya, cedera olahraga sering dianggap sepele dan dibiarkan begitu saja karena berharap keluhan akan membaik dengan sendirinya.

Padahal, cedera pada sendi dan ligamen dapat mengganggu aktivitas jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Salah satu cedera yang cukup sering terjadi adalah keseleo pada pergelangan kaki, terutama pada olahraga yang melibatkan banyak gerakan dan benturan seperti sepak bola.

 

Kenali 5 Tanda Cedera yang Perlu Diperiksa

Tidak semua rasa sakit setelah olahraga berarti cedera serius. Namun, Anda sebaiknya lebih waspada jika mengalami beberapa tanda berikut.

  1. Nyeri Tidak Kunjung Reda

Jika nyeri pada sendi tetap terasa dan tidak membaik setelah lebih dari 3 hari, sebaiknya jangan terus memaksakan aktivitas. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab nyeri dan kondisi jaringan yang mengalami cedera.

  1. Bengkak dan Memar Semakin Meluas

Bengkak atau memar setelah benturan memang dapat terjadi. Namun, jika pembengkakan dan memar justru semakin meluas, kondisi tersebut sebaiknya diperiksakan, terutama jika disertai nyeri atau keterbatasan gerak.

  1. Sendi Terasa Tidak Stabil

Pernah merasa sendi seperti mudah “lepas” atau tidak mampu menopang gerakan dengan baik? Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada struktur sendi atau ligamen dan perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

  1. Sulit Menahan Beban Tubuh

Jika setelah cedera Anda kesulitan berdiri, berjalan, atau menahan beban tubuh pada bagian yang cedera, jangan memaksakan diri untuk kembali berolahraga. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui tingkat cedera.

  1. Terdengar Bunyi “Klik” Disertai Nyeri

Bunyi klik pada sendi tidak selalu menandakan masalah. Namun, jika bunyi tersebut muncul bersamaan dengan rasa nyeri saat bergerak, sebaiknya jangan diabaikan dan lakukan pemeriksaan.

 

Jangan Tunggu Cedera Menjadi Lebih Parah

Penanganan awal yang tepat dapat membantu mengurangi dampak cedera. Salah satu prinsip pertolongan awal yang dapat digunakan adalah PRICE, yaitu Protection, Rest, Ice, Compression, dan Elevation.

Selain itu, pemeriksaan awal di lapangan dengan metode TOTAPS dapat membantu menilai kondisi cedera sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Cedera yang dibiarkan tanpa evaluasi medis berisiko menyebabkan masalah yang menetap, termasuk instabilitas sendi dalam jangka panjang, sehingga dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup.

Aktif berolahraga tetap penting, tetapi jangan abaikan sinyal dari tubuh. Jika mengalami nyeri yang menetap, bengkak, sendi tidak stabil, sulit menahan beban, atau bunyi klik yang disertai nyeri, segera periksakan kondisi Anda.

Konsultasikan cedera olahraga Anda dan keluarga bersama dokter spesialis Orthopaedi di Sport Injury Center RS Islam Surabaya A. Yani untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1524.png

Halo, Sobat eRSIy!

Sudah dijadwalkan menjalani operasi sesar dengan metode ERACS? Mungkin Bunda masih bertanya-tanya, apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum masuk ruang operasi?

ERACS memiliki pendekatan yang berbeda dari operasi sesar konvensional. Persiapannya tidak hanya dilakukan saat akan masuk ruang operasi, tetapi juga memperhatikan kondisi tubuh dan kesiapan ibu sejak sebelum operasi.

Yuk, simak 5 hal yang perlu Bunda siapkan sebelum menjalani ERACS!

 

1. Puasa Lebih Singkat, Bukan Lebih Lama

Kalau mendengar kata operasi, mungkin yang terbayang adalah harus puasa dalam waktu yang panjang.

Namun, pada pendekatan ERACS, aturan puasa justru dirancang lebih fleksibel. Dalam materi protokol yang digunakan, makanan ringan masih dapat diperbolehkan hingga 6 jam sebelum operasi, sedangkan cairan bening hingga 2 jam sebelum anestesi diberikan.

Pengaturan ini bukan hanya bertujuan membuat ibu lebih nyaman. Salah satu tujuannya adalah membantu tubuh tidak mengalami stres metabolik yang berlebihan menjelang operasi.

Meski begitu, aturan puasa tetap harus mengikuti instruksi dari dokter dan tim medis yang menangani Bunda.

 

2. Mandi Antiseptik Sebelum Operasi

Hal sederhana seperti mandi juga menjadi bagian dari persiapan sebelum ERACS.

Bunda biasanya akan diminta mandi menggunakan sabun antiseptik sesuai instruksi, umumnya pada malam sebelum operasi dan kembali pada pagi hari sebelum tindakan.

Langkah ini menjadi bagian dari persiapan kulit sebelum dilakukan sayatan operasi dan membantu menurunkan risiko terjadinya infeksi setelah operasi.

Jadi, jangan anggap sepele persiapan yang satu ini ya, Bun. Setiap langkah sebelum operasi memiliki tujuan untuk membantu proses perawatan berjalan lebih optimal.

 

3. Kesiapan Mental Juga Penting

Persiapan ERACS bukan hanya tentang kondisi fisik. Kesiapan mental juga menjadi bagian dari persiapan medis.

Bunda bisa berdiskusi dengan dokter atau bidan mengenai apa yang akan terjadi sebelum, selama, dan setelah operasi. Mengetahui proses yang akan dijalani dapat membantu Bunda merasa lebih siap menghadapi persalinan.

Edukasi pasien sejak awal juga menjadi salah satu bagian penting dalam pendekatan pemulihan cepat setelah operasi sesar. Kecemasan yang tidak terkelola dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan nyeri setelah operasi.

Karena itu, jangan ragu untuk bertanya. Jika ada hal yang membuat Bunda khawatir, sampaikan kepada tim medis.

4. Siapkan Perlengkapan untuk Mobilisasi Lebih Cepat

Setelah operasi, Bunda akan didorong untuk mulai bergerak lebih cepat sesuai dengan kondisi dan penilaian tim medis.

Karena itu, perlengkapan yang nyaman juga perlu dipersiapkan sejak dari rumah. Baju yang longgar dan pembalut nifas bisa menjadi beberapa barang yang perlu disiapkan.

Pakaian yang nyaman akan membantu Bunda saat mulai bergerak dan menjalani aktivitas secara bertahap setelah operasi.

Mobilisasi lebih awal merupakan salah satu prinsip dalam ERACS. Tujuannya bukan membuat ibu terburu-buru beraktivitas, tetapi membantu proses pemulihan dilakukan secara bertahap dan terencana.

 

5. Cek Kondisi Tubuh, Terutama Hemoglobin

Ini salah satu hal yang sering dianggap sepele, padahal penting untuk diperhatikan sejak masa kehamilan.

Anemia selama kehamilan diketahui dapat meningkatkan risiko komplikasi selama periode sekitar operasi dan juga dapat memengaruhi proses pemulihan setelah melahirkan.

Bahkan pada masa nifas, anemia masih dapat dialami oleh sebagian ibu. Karena itu, pemeriksaan kondisi darah, termasuk kadar hemoglobin, menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kondisi tubuh sebelum operasi.

Jika ditemukan anemia, dokter dapat menentukan langkah penanganan yang sesuai sehingga kondisi ibu dapat dioptimalkan sebelum persalinan.

 

ERACS Bukan Sekadar Operasi Sesar

Dari lima persiapan tersebut, bisa dilihat bahwa ERACS bukan hanya tentang bagaimana operasi dilakukan.

Pendekatan ini mencakup berbagai hal, mulai dari persiapan sebelum operasi, pengaturan puasa, persiapan kulit, kesiapan mental, pengelolaan nyeri, hingga mobilisasi setelah operasi.

Tujuannya adalah membantu ibu menjalani proses persalinan dan pemulihan secara lebih terencana.

Jadi, kalau Bunda sudah dijadwalkan menjalani ERACS, jangan hanya fokus mempersiapkan barang untuk ke rumah sakit. Pastikan kondisi tubuh juga dipersiapkan, termasuk dengan melakukan pemeriksaan dan menyampaikan kondisi kesehatan kepada dokter.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1515.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar istilah ERACS, tetapi masih bingung apa bedanya dengan operasi sesar biasa? ERACS bukan sekadar istilah baru dalam persalinan. Pendekatan ini merupakan bagian dari perawatan berbasis bukti ilmiah yang dirancang untuk membantu ibu menjalani proses operasi sesar hingga masa pemulihan dengan lebih optimal.

Yuk, kenali lebih jauh apa itu ERACS dan bagaimana pendekatan ini dapat membantu proses pemulihan setelah operasi sesar!

 

Apa Itu ERACS?

ERACS merupakan singkatan dari Enhanced Recovery After Cesarean Surgery. Konsep ini diadaptasi dari prinsip Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) yang sebelumnya banyak digunakan dalam penanganan berbagai operasi besar, kemudian dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan khusus dalam bidang obstetri.

Sederhananya, ERACS merupakan pendekatan yang mengatur seluruh rangkaian perawatan ibu, mulai dari sebelum operasi, saat operasi, hingga setelah operasi.

Tujuannya adalah membantu mengurangi stres pada tubuh akibat operasi dan mendukung proses pemulihan ibu agar dapat berlangsung lebih baik.

 

Apa Bedanya dengan Operasi Sesar Konvensional?

Pendekatan ERACS membawa perubahan dalam berbagai tahapan perawatan sebelum dan sesudah operasi.

Jika sebelumnya ibu mungkin harus menjalani puasa lebih lama dan beristirahat di tempat tidur dalam waktu yang cukup panjang, pada pendekatan ERACS proses tersebut dirancang agar lebih terencana dan sesuai dengan kondisi ibu.

Dalam materi ERACS, periode puasa dapat dipersingkat. Makanan ringan masih dapat diperbolehkan hingga 6 jam sebelum operasi, sedangkan cairan bening hingga 2 jam sebelum anestesi, sesuai dengan protokol dan kondisi medis ibu.

Setelah operasi, ibu juga didorong untuk melakukan mobilisasi lebih awal. Manajemen nyeri direncanakan dengan lebih baik agar ibu dapat merasa nyaman selama proses pemulihan.

Selain itu, inisiasi menyusui secara dini juga menjadi salah satu bagian penting dalam pendekatan ERACS.

 

Kenapa Mobilisasi Lebih Cepat Penting?

Setelah menjalani operasi sesar, tubuh tentu membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Namun, terlalu lama tidak bergerak juga bukan bagian dari tujuan pemulihan yang optimal.

Dalam pendekatan ERACS, ibu didorong untuk melakukan mobilisasi lebih awal sesuai dengan kondisi dan penilaian tim medis.

Dengan pendekatan yang terencana, proses pemulihan tidak hanya berfokus pada luka operasi, tetapi juga bagaimana kondisi ibu secara keseluruhan dapat kembali beraktivitas secara bertahap.

 

Bukan Hanya Saat Operasi, Persiapan Dimulai Sejak Kehamilan

ERACS bukan hanya tentang apa yang dilakukan di ruang operasi.

Pembaruan panduan dari ERAS Society menekankan pentingnya mengoptimalkan kondisi ibu sejak masa kehamilan. Salah satunya adalah melakukan skrining dan penanganan anemia.

Mengapa anemia perlu diperhatikan?

Karena kondisi tubuh ibu sebelum operasi dapat berpengaruh terhadap proses pemulihan setelah persalinan. Bahkan setelah melahirkan, kondisi anemia pada masa nifas tetap perlu mendapatkan perhatian.

Artinya, pemulihan ibu tidak dimulai setelah operasi selesai. Persiapannya sudah dilakukan sejak sebelum persalinan.

 

ERACS Adalah Perawatan yang Menyeluruh

Jika disederhanakan, ERACS bukan hanya tentang “bagaimana operasi dilakukan”, tetapi juga tentang bagaimana ibu dipersiapkan dan didampingi selama proses pemulihan.

Mulai dari persiapan sebelum operasi, pengaturan puasa, manajemen nyeri, mobilisasi lebih awal, hingga dukungan menyusui setelah persalinan, semuanya menjadi bagian dari rangkaian perawatan.

Setiap langkah dirancang agar kebutuhan ibu selama proses persalinan dan pemulihan dapat diperhatikan secara menyeluruh.

 

Apakah ERACS Cocok untuk Semua Ibu?

ERACS merupakan pendekatan dalam perawatan operasi sesar, tetapi penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu.

Dokter dan tim medis akan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kehamilan, serta kebutuhan medis sebelum menentukan perawatan yang paling sesuai.

Karena itu, jika Bunda sedang mempersiapkan persalinan melalui operasi sesar dan ingin mengetahui apakah pendekatan ERACS sesuai untuk kondisi Bunda, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

 

Pemulihan yang Dipersiapkan Sejak Awal

Persalinan melalui operasi sesar bukan hanya tentang tindakan di ruang operasi. Proses sebelum dan sesudah operasi juga memiliki peran penting dalam membantu ibu menjalani masa pemulihan.

Melalui pendekatan ERACS, setiap tahapan dirancang secara lebih terencana agar ibu tidak hanya menjalani operasi, tetapi juga mendapatkan pendampingan selama proses pemulihan.

Layanan ERACS kami dirancang mengikuti standar dan pembaruan protokol terkini, sehingga Bunda tidak hanya “dioperasi”, tetapi juga dipersiapkan dan didampingi sepanjang proses pemulihan.

Jika Bunda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai ERACS dan apakah pendekatan ini sesuai dengan kondisi kehamilan Bunda, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter dan tim medis kami.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1514.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar berbagai mitos tentang imunisasi yang membuat Bunda ragu memberikan vaksin kepada si kecil? Mulai dari vaksin disebut bisa menyebabkan autisme, ASI dianggap sudah cukup sebagai perlindungan, hingga anggapan bahwa terlalu banyak vaksin dapat membuat sistem imun bayi kewalahan.

Informasi seperti ini masih sering beredar dan bahkan kembali ramai dibicarakan. Padahal, tidak semua informasi yang viral memiliki dasar yang benar. Yuk, kita bedah satu per satu!

 

Mitos #1: Vaksin Menyebabkan Autisme

Mitos bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi pada tahun 1998. Studi tersebut kemudian diketahui memiliki masalah serius dalam datanya hingga akhirnya ditarik dari jurnal dan penelitinya kehilangan izin praktik.

Salah satu alasan mitos ini masih sering muncul adalah karena tanda-tanda autisme dapat mulai terlihat pada usia yang berdekatan dengan waktu anak mendapatkan vaksin tertentu, seperti vaksin MMR. Kedekatan waktu tersebut kemudian membuat sebagian orang mengira keduanya saling berkaitan, padahal bukan berarti vaksin menjadi penyebabnya.

 

Mitos #2: ASI Eksklusif Sudah Cukup, Jadi Tidak Perlu Vaksin

ASI memang memiliki banyak manfaat bagi bayi. Salah satunya adalah memberikan antibodi dari ibu yang membantu memberikan perlindungan bagi tubuh si kecil.

Namun, perlindungan dari ASI tidak menggantikan fungsi imunisasi.

ASI tidak memberikan perlindungan yang cukup terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti polio, difteri, dan pertusis. Selain itu, antibodi yang diperoleh bayi dari ibu juga akan berkurang seiring berjalannya waktu.

Karena itu, bayi tetap membutuhkan vaksin untuk membantu sistem kekebalan tubuhnya belajar mengenali dan melawan berbagai penyakit.

 

Mitos #3: Terlalu Banyak Vaksin Membuat Sistem Imun Bayi Kewalahan

Bunda mungkin pernah berpikir, “Kalau beberapa vaksin diberikan sekaligus, apakah tubuh bayi tidak terlalu terbebani?”

Faktanya, pemberian beberapa vaksin dalam satu kunjungan dapat dilakukan dengan aman dan tidak membuat sistem imun bayi kewalahan.

Justru, pemberian vaksin sesuai jadwal membantu anak mendapatkan perlindungan lebih cepat sekaligus mengurangi jumlah kunjungan imunisasi.

Saat ini juga tersedia vaksin kombinasi, salah satunya vaksin heksavalen yang memberikan perlindungan terhadap enam penyakit dalam satu suntikan. Dengan begitu, anak tidak harus mendapatkan suntikan terpisah untuk setiap penyakit.

 

Mitos #4: Vaksin Membuat Anak Jadi Sakit-Sakitan

Anggapan bahwa vaksin membuat anak lebih sering sakit juga masih banyak ditemukan.

Padahal, tujuan utama vaksin justru membantu memberikan perlindungan terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kondisi serius.

Setelah imunisasi, beberapa anak memang dapat mengalami reaksi seperti demam ringan, rewel, atau bengkak di area bekas suntikan. Kondisi tersebut termasuk KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi.

Reaksi ringan seperti ini umumnya dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu sekitar 1–2 hari. Namun, jika Bunda menemukan reaksi yang berat atau kondisi anak tidak kunjung membaik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

 

Mitos #5: Penyakitnya Sudah Jarang, Jadi Tidak Perlu Vaksin Lagi

“Sekarang sudah jarang ada wabahnya, kenapa masih harus vaksin?”

Justru, pemikiran seperti ini perlu diwaspadai.

Ketika cakupan vaksinasi menurun, penyakit yang sebelumnya berhasil dikendalikan dapat kembali menyebar. Data terbaru menunjukkan beberapa penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin, seperti campak, kembali mengalami peningkatan kasus di sejumlah wilayah.

Di Indonesia sendiri, masih terdapat ratusan ribu anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap. Jika semakin banyak anak tidak mendapatkan perlindungan, risiko terjadinya kembali wabah juga dapat meningkat.

Karena itu, imunisasi bukan hanya tentang melindungi satu anak, tetapi juga membantu menjaga perlindungan di lingkungan sekitar.

 

Jangan Mudah Percaya Informasi yang Belum Terbukti

Mitos mengenai imunisasi bisa terdengar meyakinkan, terutama ketika disampaikan berulang kali di media sosial. Namun, informasi kesehatan sebaiknya tidak hanya dinilai dari seberapa sering informasi tersebut dibagikan.

Jika Bunda menemukan informasi tentang vaksin yang membuat ragu atau bingung, jangan langsung mengambil kesimpulan. Cari sumber yang terpercaya dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Imunisasi merupakan salah satu langkah penting untuk membantu melindungi si kecil dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.

Jangan biarkan informasi yang belum tentu benar membuat Bunda ragu melindungi si kecil. Kalau masih ada yang membuat bingung, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak di RS Islam Surabaya A. Yani.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1513.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah bertanya-tanya kenapa bayi perlu mendapatkan beberapa kali imunisasi, bahkan hingga beberapa kali di tahun pertamanya? Di usia ini, sistem kekebalan tubuh bayi masih belum matang sepenuhnya. Selain itu, antibodi yang diperoleh dari ibu juga mulai menurun, terutama saat bayi memasuki usia sekitar 2 bulan. Karena itu, imunisasi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu memberikan perlindungan sejak dini.

 

Mengapa Bayi Perlu Divaksin?

Sistem imun bayi masih dalam tahap perkembangan sehingga belum mampu memberikan perlindungan seoptimal orang dewasa. Vaksin membantu tubuh bayi mengenali kuman penyebab penyakit dan membentuk respons kekebalan terhadapnya.

Sederhananya, vaksin dapat diibaratkan seperti sesi latihan bagi sistem imun. Tubuh diperkenalkan pada bagian dari kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan, sehingga sistem imun dapat belajar mengenalinya. Ketika suatu saat tubuh bertemu dengan kuman penyebab penyakit yang sebenarnya, sistem imun sudah memiliki bekal untuk melawannya.

 

Imunisasi Sudah Menyelamatkan Jutaan Nyawa

Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua orang. Data menunjukkan bahwa imunisasi telah memberikan perlindungan bagi jutaan anak di seluruh dunia.

Studi WHO yang dimuat dalam The Lancet pada April 2024 memperkirakan bahwa selama 50 tahun terakhir, imunisasi rutin telah menyelamatkan sekitar 154 juta nyawa, dengan sekitar 101 juta di antaranya merupakan bayi.

Di Indonesia, laporan WHO-UNICEF melalui WUENIC 2025 yang dirilis pada Juli 2026 juga mencatat bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap meningkat dari sekitar 78 persen menjadi 82 persen. Peningkatan tersebut berarti lebih dari 3,6 juta anak mendapatkan perlindungan pada tahun sebelumnya.

Meski begitu, masih ada sekitar 657 ribu anak yang belum pernah mendapatkan vaksin sama sekali. Karena itu, memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal tetap menjadi hal yang penting.

 

Bagaimana dengan Jadwal Imunisasi?

Jadwal imunisasi anak tidak dibuat secara sembarangan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyusun jadwal imunisasi berdasarkan usia anak dan pola penyakit yang ada di Indonesia.

Jadwal tersebut membantu memastikan anak mendapatkan vaksin pada waktu yang sesuai. Jika ada imunisasi yang terlewat atau Bunda memiliki pertanyaan mengenai jadwal vaksin, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

 

Anak Rewel Setelah Imunisasi, Apakah Normal?

Setelah imunisasi, beberapa anak dapat mengalami reaksi seperti rewel, demam ringan, atau bengkak di area bekas suntikan.

Kondisi tersebut dikenal sebagai KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Reaksi ringan setelah imunisasi dapat terjadi sebagai bagian dari respons tubuh setelah mendapatkan vaksin.

Namun, jika anak mengalami reaksi yang berat atau kondisi yang membuat Bunda khawatir, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

 

Vaksin Seperti Simulasi Kebakaran

Vaksin dapat diibaratkan seperti simulasi kebakaran bagi tubuh.

Ketika latihan dilakukan dalam kondisi aman, tubuh memiliki kesempatan untuk belajar apa yang harus dilakukan. Begitu pula dengan vaksin. Sistem imun diberikan kesempatan untuk mengenali ancaman terlebih dahulu sehingga ketika menghadapi kuman penyebab penyakit yang sebenarnya, tubuh sudah memiliki respons untuk melawannya.

Jadi, setiap suntikan bukan sekadar membuat si kecil menangis sebentar. Ada proses penting yang sedang berlangsung di dalam tubuh untuk membantu memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

 

Jangan Lewatkan Imunisasi Si Kecil

Imunisasi merupakan salah satu langkah penting untuk membantu melindungi kesehatan anak sejak dini. Jadwal imunisasi yang cukup padat pada tahun pertama disesuaikan dengan kebutuhan perlindungan bayi ketika sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Dengan mengikuti jadwal imunisasi yang direkomendasikan IDAI, orang tua dapat membantu memberikan perlindungan kepada si kecil sejak awal kehidupannya.

Jika Bunda masih memiliki pertanyaan mengenai jadwal imunisasi, jenis vaksin, atau reaksi yang muncul setelah imunisasi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Yuk, pastikan imunisasi si kecil tidak terlewat. Karena setiap vaksin adalah bagian dari upaya memberikan perlindungan untuk kesehatan anak di masa depan.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Punya-Maag-Bolehkah-Minum-Air-Dingin-Ini-Faktanya.png

Halo, Sobat eRSIy!

Masih banyak yang percaya bahwa minum air dingin dapat membuat maag kambuh. Akibatnya, tidak sedikit penderita maag yang memilih menghindari air dingin karena khawatir keluhannya semakin parah. Benarkah anggapan tersebut? Yuk, simak faktanya!

 

Apakah Air Dingin Memicu Maag?

Pada dasarnya, air putih, baik dingin maupun hangat, tidak secara langsung menyebabkan asam lambung meningkat. Hingga saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa air dingin menjadi penyebab utama maag kambuh.

Namun, pada sebagian orang yang memiliki lambung lebih sensitif, minuman yang terlalu dingin dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Kondisi ini berbeda pada setiap orang, sehingga penting untuk mengenali respons tubuh masing-masing.

 

Apa yang Lebih Sering Memicu Maag?

Dibandingkan suhu air minum, ada beberapa kebiasaan yang lebih berisiko memicu keluhan maag, seperti:

  • Terlambat makan atau melewatkan waktu makan.
  • Mengonsumsi makanan pedas, asam, atau berlemak.
  • Terlalu banyak minum kopi atau minuman berkafein.
  • Merokok dan mengonsumsi alkohol.
  • Mengalami stres yang tidak terkelola.

Karena itu, menjaga pola makan dan gaya hidup sehat jauh lebih penting untuk mencegah maag kambuh.

 

Tips agar Lambung Tetap Nyaman

Agar keluhan maag tidak mudah muncul, Sobat eRSIy dapat menerapkan beberapa langkah berikut:

  • Makan secara teratur dan tidak menunda waktu makan.
  • Konsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering.
  • Minum air putih yang sesuai dengan kenyamanan tubuh.
  • Hindari makanan atau minuman yang selama ini terbukti memicu keluhan.
  • Kelola stres dan istirahat yang cukup.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Nyeri ulu hati yang semakin berat atau sering kambuh.
  • Muntah berulang atau muntah darah.
  • BAB berwarna hitam.
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
  • Keluhan tidak membaik meski sudah menjaga pola makan.

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang tepat.

 

Penutup

Minum air dingin tidak selalu menjadi penyebab maag kambuh. Yang lebih penting adalah menjaga pola makan, mengenali makanan atau minuman yang menjadi pemicu, serta menerapkan gaya hidup sehat agar lambung tetap nyaman.

Jika Sobat eRSIy sering mengalami keluhan maag atau asam lambung yang berulang, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Masih-Muda-Kok-Gampang-Ngos-Ngosan-Jangan-Langsung-Anggap-Karena-Kurang-Olahraga.jpg.jpeg

Halo Sobat eRSIy!

Pernah merasa baru naik beberapa anak tangga saja sudah kehabisan napas? Atau berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya langsung ngos-ngosan? Banyak orang menganggap kondisi ini hanya disebabkan karena kurang olahraga. Padahal, sesak napas di usia muda bisa menjadi sinyal adanya kondisi kesehatan tertentu yang tidak boleh diabaikan.

Yuk, kenali berbagai penyebabnya agar Sobat eRSIy bisa mengambil langkah yang tepat.

Ngos-Ngosan Tidak Selalu Karena Kurang Olahraga

Salah satu penyebab paling umum seseorang mudah merasa lelah saat beraktivitas adalah rendahnya VO2 Max, yaitu kemampuan tubuh dalam menggunakan oksigen secara maksimal saat beraktivitas. Semakin tinggi VO2 Max, semakin baik daya tahan tubuh sehingga tidak mudah kehabisan napas.

Namun, rendahnya kebugaran bukanlah satu-satunya penyebab. Ada beberapa faktor lain yang juga dapat memicu sesak napas, antara lain:

  • Jarang berolahraga.
  • Berat badan tidak ideal, baik terlalu kurus maupun obesitas.
  • Asma.
  • Kebiasaan merokok atau menggunakan vape.
  • Penyakit paru lainnya.
  • Penyakit asam lambung (GERD).
  • Stres, kecemasan, atau depresi.
  • Gangguan pada jantung.

Jadi, jika Sobat eRSIy sering ngos-ngosan meskipun hanya melakukan aktivitas ringan, jangan langsung menganggap penyebabnya hanya karena kurang berolahraga.

Kenali Gejala Asma

Salah satu penyebab sesak napas yang cukup sering ditemukan pada usia muda adalah asma. Penyakit ini terjadi ketika saluran napas mengalami peradangan dan penyempitan sehingga aliran udara menjadi terganggu.

Beberapa gejala asma yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Napas berbunyi mengi atau “ngik-ngik”.
  • Dada terasa sesak atau seperti terikat.
  • Mudah lelah saat beraktivitas.
  • Sesak napas yang dipicu oleh olahraga, debu, udara dingin, atau alergen tertentu.

Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami kesulitan berbicara karena sesak, bahkan bibir tampak membiru. Jika kondisi tersebut terjadi, segera cari pertolongan medis karena termasuk keadaan darurat.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, lebih dari 877 ribu penduduk Indonesia telah terdiagnosis asma oleh tenaga kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa asma bukanlah penyakit yang jarang terjadi dan dapat menyerang siapa saja, termasuk usia muda.

VO2 Max Bisa Ditingkatkan

Kabar baiknya, VO2 Max dapat ditingkatkan dengan melakukan olahraga secara rutin dan bertahap. Aktivitas seperti jalan cepat, jogging, bersepeda, atau berenang dapat membantu meningkatkan daya tahan jantung dan paru-paru.

Selain itu, menjaga berat badan tetap ideal, mengonsumsi makanan bergizi, serta menghindari rokok dan vape juga menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan sistem pernapasan.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Sobat eRSIy sebaiknya tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami kondisi berikut:

  • Mudah sesak saat melakukan aktivitas ringan.
  • Napas terasa pendek tanpa penyebab yang jelas.
  • Aktivitas yang sebelumnya terasa ringan kini menjadi lebih berat.
  • Keluhan sesak napas semakin sering muncul atau semakin parah.

Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mencari penyebabnya, mulai dari pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang seperti tes fungsi paru (spirometri), foto rontgen dada, atau pemeriksaan jantung apabila diperlukan.

Jaga Kesehatan Paru Mulai Sekarang

Agar paru-paru tetap sehat dan bekerja secara optimal, Sobat eRSIy dapat menerapkan beberapa kebiasaan berikut:

  • Berolahraga secara rutin sesuai kemampuan.
  • Berhenti merokok dan menghindari penggunaan vape.
  • Menjaga berat badan tetap ideal.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
  • Tidak mengabaikan keluhan sesak napas yang berulang.

Jangan Anggap Sepele Sesak Napas di Usia Muda

Sobat eRSIy, mudah ngos-ngosan bukan selalu berarti tubuh kurang fit. Keluhan ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebugaran yang rendah hingga penyakit seperti asma, gangguan paru, atau penyakit jantung. Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebabnya sejak dini agar dapat memperoleh penanganan yang tepat.

Apabila Sobat eRSIy sering mengalami sesak napas saat beraktivitas atau keluhan semakin sering muncul, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dini adalah langkah terbaik untuk menjaga kesehatan paru-paru dan memastikan aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan nyaman.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


BAB-Berdarah-dan-Nyeri-Saat-Duduk-Jangan-Abaikan-Tanda-Wasir.jpg.jpeg

Hallo, Sobat eRSIy!

Pernah merasakan nyeri saat duduk, gatal di area anus, atau melihat darah saat buang air besar? Banyak orang memilih diam karena merasa malu atau takut harus menjalani operasi. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda wasir (hemoroid) yang dapat ditangani dengan pemeriksaan dan terapi yang tepat. Semakin cepat diketahui penyebabnya, semakin besar peluang penanganan dilakukan dengan lebih nyaman.

 

Wasir, Keluhan yang Sering Dialami Orang Dewasa

Wasir merupakan pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus atau bagian bawah rektum. Kondisi ini bukanlah penyakit yang jarang terjadi. Diperkirakan 3 dari 4 orang dewasa pernah mengalami wasir selama hidupnya. Namun, masih banyak penderita yang menunda berobat karena malu atau menganggap satu-satunya solusi adalah operasi besar.

Padahal, perkembangan teknologi medis kini memungkinkan penanganan wasir dilakukan dengan metode yang lebih modern dan minim ketidaknyamanan.

 

Gejala Wasir yang Perlu Diwaspadai

Jangan abaikan jika Anda mengalami beberapa keluhan berikut:

  • Buang air besar disertai darah yang terjadi berulang.
  • Nyeri atau rasa gatal di area anus.
  • Muncul benjolan yang keluar saat BAB.
  • Perasaan BAB tidak tuntas meskipun sudah selesai.

Keluhan tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bila tidak segera mendapatkan penanganan. Risiko wasir juga cenderung meningkat pada usia 45 tahun ke atas.

 

Pemeriksaan yang Lebih Tepat dengan USG Hemoroid

Di RS Islam Surabaya A. Yani, pemeriksaan wasir dapat dilakukan menggunakan USG Hemoroid. Pemeriksaan ini membantu dokter melihat kondisi pembuluh darah penyebab wasir secara lebih jelas, menentukan tingkat keparahan, serta memilih metode terapi yang paling sesuai untuk setiap pasien.

Dengan diagnosis yang lebih akurat, penanganan menjadi lebih terarah dan efektif.

 

Penanganan Modern dengan Laser Hemoroid

Selain pemeriksaan yang lengkap, tersedia pula Laser Hemoroid, yaitu metode penanganan yang bekerja mengecilkan jaringan wasir tanpa sayatan besar maupun jahitan.

Beberapa keunggulan metode ini antara lain:

  • Minim nyeri dibandingkan operasi konvensional.
  • Risiko perdarahan lebih rendah.
  • Prosedur relatif singkat.
  • Masa pemulihan lebih cepat sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dalam waktu yang lebih singkat.

Seluruh tindakan dilakukan oleh dokter spesialis bedah berpengalaman dengan dukungan fasilitas medis yang memadai.

 

Jangan Tunda Pemeriksaan

Banyak orang baru memeriksakan diri ketika keluhan sudah semakin berat. Padahal, penanganan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi dan memberikan pilihan terapi yang lebih nyaman.

Jika Anda mengalami BAB berdarah, benjolan di area anus, atau nyeri yang mengganggu aktivitas, jangan ragu untuk berkonsultasi.

RS Islam Surabaya A. Yani siap membantu Anda dengan pemeriksaan yang akurat serta pilihan penanganan modern sesuai kondisi masing-masing pasien. Karena wasir bukanlah sesuatu yang perlu ditutupi melainkan kondisi yang bisa ditangani dengan tepat jika diperiksa sejak dini.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Gigi-Susu-Berlubang-Tidak-Perlu-Dirawat-Ini-Mitos-yang-Masih-Banyak-Dipercaya.jpg.jpeg

Hallo, Sobat eRSIy!

Masih menganggap gigi susu tidak perlu dirawat karena nantinya akan tanggal sendiri? Atau berpikir anak baru perlu menyikat gigi setelah semua gigi susunya tumbuh? Hati-hati, anggapan tersebut ternyata hanya mitos. Faktanya, kesehatan gigi susu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, mulai dari kemampuan mengunyah, berbicara, hingga menjadi penuntun tumbuhnya gigi permanen. Oleh karena itu, penting bagi Ayah dan Bunda untuk mengenali fakta seputar kesehatan gigi anak agar si kecil tumbuh dengan senyum yang sehat dan percaya diri.

 

Mitos dan Fakta Seputar Kesehatan Gigi Anak

Mitos: Gigi susu yang berlubang tidak perlu dirawat

Faktanya: Gigi susu tetap harus dirawat meskipun nantinya akan tanggal.

Gigi susu membantu anak mengunyah makanan, belajar berbicara, dan menjaga ruang bagi pertumbuhan gigi permanen. Jika gigi susu berlubang dibiarkan, anak dapat mengalami nyeri, kesulitan makan, gangguan tidur, hingga infeksi. Bahkan, kehilangan gigi susu terlalu dini dapat menyebabkan susunan gigi permanen menjadi tidak rapi.

 

Mitos: Anak baru perlu menyikat gigi setelah semua gigi susu tumbuh

Faktanya: Perawatan gigi dimulai sejak gigi pertama muncul.

Begitu gigi pertama erupsi, orang tua sudah perlu membersihkannya menggunakan sikat gigi anak dengan pasta gigi berfluoride sesuai usia. Kebiasaan ini membantu mencegah gigi berlubang sejak dini sekaligus membentuk rutinitas menjaga kebersihan mulut.

 

Mitos: Menyikat gigi terlalu keras membuat gigi lebih bersih

Faktanya: Menyikat terlalu keras justru dapat merusak gigi dan gusi.

Tekanan yang berlebihan tidak membuat gigi menjadi lebih bersih. Sebaliknya, kebiasaan ini dapat melukai gusi dan mengikis lapisan enamel gigi. Menyikat gigi dengan gerakan yang lembut dan teknik yang benar jauh lebih efektif.

 

Kapan Anak Perlu ke Dokter Gigi?

Organisasi American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) merekomendasikan agar anak menjalani pemeriksaan gigi pertama dalam enam bulan setelah gigi pertama tumbuh, atau paling lambat saat usia 1 tahun.

Pemeriksaan sejak dini membantu dokter menilai risiko gigi berlubang, memberikan edukasi kepada orang tua, serta mendeteksi masalah sebelum berkembang menjadi lebih serius.

Jangan Tunggu Anak Mengeluh Sakit Gigi

Anak sering kali belum mampu mengungkapkan keluhan pada giginya. Karena itu, pemeriksaan gigi secara rutin setiap 6 bulan sekali sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Selamat Hari Anak Nasional. Mari bersama wujudkan senyum sehat untuk masa depan yang lebih cerah. Ayah dan Bunda dapat berkonsultasi dengan dokter gigi spesialis anak di RS Islam Surabaya A. Yani untuk mendapatkan pemeriksaan dan edukasi yang tepat sesuai kebutuhan buah hati.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Apakah-Puasa-Aman-untuk-Penderita-GERD.jpg.jpeg

Banyak penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merasa khawatir saat mencoba berpuasa. Perut yang kosong dalam waktu lama sering dianggap dapat memicu naiknya asam lambung dan memperparah gejala. Lantas, apakah penderita GERD aman menjalani puasa?

Jawabannya adalah ya, pada umumnya penderita GERD tetap dapat berpuasa, selama kondisi penyakitnya ringan hingga sedang, terkontrol dengan baik, dan tidak sedang mengalami kekambuhan berat.

Puasa Tidak Selalu Memperburuk GERD

Bagi sebagian penderita, puasa justru dapat memberikan manfaat karena pola makan menjadi lebih teratur dan sistem pencernaan memiliki waktu untuk beristirahat. Namun, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan apabila sahur dan berbuka dilakukan dengan pola makan yang sehat serta tidak mengonsumsi makanan yang memicu naiknya asam lambung.

 

Tips Berpuasa bagi Penderita GERD

Agar ibadah puasa tetap nyaman, beberapa hal berikut dapat dilakukan:

  • Jangan melewatkan sahur agar lambung tidak kosong terlalu lama.
  • Berbuka secara bertahap, dimulai dengan air putih dan makanan ringan seperti kurma sebelum makan utama.
  • Hindari makan dalam porsi besar sekaligus. Lebih baik makan secukupnya dan tidak berlebihan.
  • Pilih makanan yang ramah bagi lambung, seperti nasi, oatmeal, roti gandum, lauk rebus atau kukus, serta buah seperti pisang dan pepaya.
  • Batasi makanan pedas, asam, berlemak, gorengan, cokelat, kopi, dan minuman bersoda karena dapat memicu gejala GERD.
  • Jangan langsung berbaring setelah makan. Berikan jeda sekitar 2–3 jam sebelum tidur.
  • Tetap konsumsi obat sesuai jadwal yang telah disesuaikan dengan anjuran dokter.

 

Kapan Sebaiknya Tidak Memaksakan Puasa?

Meski umumnya aman, ada kondisi tertentu yang membuat penderita GERD sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum berpuasa.

Segera periksakan diri apabila mengalami:

  • Nyeri ulu hati yang berat atau sering kambuh.
  • Muntah berulang.
  • Sulit atau nyeri saat menelan.
  • Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
  • Muntah darah atau buang air besar berwarna hitam.

Keluhan tersebut dapat menandakan adanya gangguan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

 

Konsultasikan dengan Dokter Sebelum Berpuasa

Setiap penderita GERD memiliki kondisi yang berbeda. Oleh karena itu, apabila Anda memiliki riwayat GERD dengan gejala yang sering kambuh atau sedang menjalani pengobatan rutin, sebaiknya lakukan konsultasi dengan dokter sebelum menjalankan puasa.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2026. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?