INFO UNTUK ANDA

Hipertensi-di-Usia-Muda_-Jangan-Anggap-Sepele.png

Halo, Sobat ERSIY!

Siapa bilang tekanan darah tinggi hanya dialami orang yang sudah lanjut usia? Hipertensi juga dapat terjadi pada usia muda, termasuk mereka yang masih berada di usia produktif.

Rutinitas yang padat, pola makan tinggi garam, kurang bergerak, berat badan berlebih, kebiasaan merokok, hingga stres berkepanjangan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Masalahnya, hipertensi sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas sehingga seseorang dapat merasa sehat meskipun tekanan darahnya sudah tinggi.

Karena itu, jangan menunggu sampai muncul keluhan. Mengetahui tekanan darah secara rutin merupakan langkah sederhana untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah sejak dini.

 

Mengapa Hipertensi di Usia Muda Perlu Diwaspadai?

Tekanan darah yang terus berada di atas batas normal dapat memberikan beban lebih besar pada pembuluh darah dan organ tubuh. Dalam jangka panjang, hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, hingga komplikasi pada organ lainnya.

Yang perlu diingat, usia muda bukan berarti bebas dari risiko. Kebiasaan hidup yang kurang sehat dan faktor tertentu dapat membuat tekanan darah meningkat lebih awal. Bahkan, seseorang bisa tidak menyadarinya karena hipertensi pada banyak kasus tidak menimbulkan gejala khas.

 

Apa Saja yang Bisa Memicu Hipertensi di Usia Muda?

Beberapa kebiasaan dan kondisi yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi antara lain :

1. Terlalu Banyak Mengonsumsi Garam

Makanan cepat saji, makanan olahan, mi instan, makanan kalengan, serta berbagai camilan asin dapat menjadi sumber natrium yang cukup tinggi. Asupan natrium berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

2. Jarang Bergerak

Terlalu banyak duduk dan minim aktivitas fisik dapat berkontribusi terhadap berat badan berlebih dan meningkatkan risiko hipertensi. Aktivitas fisik secara rutin membantu menjaga berat badan sekaligus membantu mengendalikan tekanan darah.

3. Berat Badan Berlebih atau Obesitas

Kelebihan berat badan dapat membuat sistem kardiovaskular bekerja lebih berat dan menjadi salah satu faktor risiko hipertensi. Menjaga berat badan tetap sehat dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

4. Merokok dan Konsumsi Alkohol

Nikotin dapat menyebabkan tekanan darah meningkat sementara dan penggunaan tembakau juga dapat merusak pembuluh darah. Sementara itu, konsumsi alkohol berlebihan juga berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi.

5. Stres Berkepanjangan dan Pola Hidup Tidak Teratur

Stres yang berlebihan dapat memengaruhi tekanan darah. Selain itu, stres terkadang diikuti kebiasaan lain yang kurang sehat, seperti pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, merokok, atau konsumsi alkohol.

6. Faktor Keturunan dan Kondisi Kesehatan Tertentu

Tidak semua penyebab hipertensi berasal dari gaya hidup. Riwayat keluarga, penyakit ginjal, diabetes, sleep apnea, dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

 

Bagaimana Cara Mencegah Hipertensi Sejak Muda?

Kabar baiknya, beberapa faktor risiko hipertensi dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup. Sobat ERSIY bisa mulai dari kebiasaan sederhana berikut :

1. Cek Tekanan Darah Secara Berkala

Jangan hanya mengukur tekanan darah ketika sedang merasa tidak enak badan. Pemeriksaan secara berkala membantu mengetahui kondisi tekanan darah lebih awal, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko atau riwayat keluarga hipertensi.

2. Batasi Garam dan Perbanyak Makanan Sehat

Kurangi makanan yang terlalu asin dan tinggi natrium. Perbanyak buah, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, serta makanan bergizi seimbang. Pola makan sehat seperti DASH juga direkomendasikan untuk membantu mencegah dan mengendalikan tekanan darah tinggi.

3. Rutin Melakukan Aktivitas Fisik

Usahakan tetap aktif setiap hari. Untuk orang dewasa, aktivitas fisik intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu dapat menjadi salah satu target yang baik, misalnya jalan cepat, bersepeda, berenang, atau aktivitas lain yang sesuai dengan kondisi tubuh.

4. Jaga Berat Badan Tetap Sehat

Bila memiliki berat badan berlebih, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu memperbaiki kesehatan secara keseluruhan dan membantu mengendalikan tekanan darah.

5. Berhenti Merokok dan Batasi Alkohol

Menghindari rokok dan membatasi atau menghindari alkohol merupakan bagian penting dari upaya menjaga tekanan darah serta kesehatan jantung dan pembuluh darah.

6. Kelola Stres dan Perbaiki Pola Istirahat

Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang membantu tubuh dan pikiran lebih rileks. Meditasi, latihan pernapasan, kegiatan positif, serta mengatur keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat dapat menjadi bagian dari pengelolaan stres.

 

Jangan Menunggu Gejala untuk Cek Tensi!

Hipertensi dikenal sebagai kondisi yang sering tidak menimbulkan gejala. Karena itu, merasa sehat bukan berarti tekanan darah pasti normal. Pemeriksaan tekanan darah tetap diperlukan untuk mengetahui kondisinya.

Pada tekanan darah yang sangat tinggi, seseorang dapat mengalami keluhan seperti sakit kepala berat, pusing, penglihatan kabur, sesak napas, atau nyeri dada. Bila tekanan darah sangat tinggi disertai keluhan tersebut, segera cari pertolongan medis.

Yuk, Sobat ERSIY, jangan tunggu sampai hipertensi menimbulkan komplikasi! Mulai dari hal sederhana dengan lebih aktif bergerak, pilih makanan yang lebih sehat, kurangi garam, hindari rokok, kelola stres, dan jangan lupa memeriksa tekanan darah secara berkala.

Jaga tekanan darah sejak muda, agar kesehatan jantung dan tubuh tetap terjaga hingga masa depan!

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Jaga-Tulang-Sejak-Dini-Cegah-Osteoporosis-di-Masa-Tua.png

Hai, Sobat eRSIy!

Tahukah kamu? Tulang yang kuat di usia lanjut sebenarnya mulai dibentuk sejak usia muda. Banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan tulang ketika mulai mengalami nyeri, tubuh menjadi lebih bungkuk, tinggi badan berkurang, atau bahkan patah tulang akibat benturan ringan.

Padahal, kesehatan tulang dapat dijaga sejak dini melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan yang tepat. Semakin awal kebiasaan baik dilakukan, semakin besar kesempatan untuk mempertahankan tulang tetap kuat hingga usia lanjut.

 

Apa Itu Osteoporosis?

Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah.

Osteoporosis sering disebut sebagai silent disease karena pada tahap awal biasanya tidak menimbulkan gejala yang khas. Seseorang bahkan bisa tidak menyadari bahwa kepadatan tulangnya sudah menurun sampai terjadi patah tulang.

Kondisi ini memang lebih sering ditemukan pada wanita setelah menopause, tetapi pria juga tetap memiliki risiko mengalami osteoporosis, terutama jika memiliki faktor risiko tertentu.

 

Mengapa Kesehatan Tulang Perlu Dijaga Sejak Dini?

Masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa muda merupakan periode penting untuk membangun kepadatan tulang. Setelah mencapai sekitar usia 30 tahun, massa tulang umumnya mulai berkurang secara perlahan.

Karena itu, menjaga kesehatan tulang sejak muda dapat membantu :

  • Mempertahankan kepadatan tulang seiring bertambahnya usia.
  • Mengurangi risiko tulang mudah patah.
  • Membantu menjaga postur tubuh tetap baik.
  • Mendukung tubuh agar tetap aktif saat memasuki usia lanjut.
  • Membantu meningkatkan kualitas hidup di masa tua.

 

Langkah Sederhana Menjaga Kesehatan Tulang

1. Konsumsi Makanan Kaya Kalsium dan Vitamin D

Kalsium berperan penting dalam pembentukan dan pemeliharaan tulang, sedangkan vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium dengan lebih baik.

Sumber kalsium dapat diperoleh dari susu dan produk olahannya, ikan tertentu, tahu, tempe, serta sayuran hijau. Pastikan kebutuhan nutrisi harian terpenuhi melalui pola makan yang seimbang.

2. Rutin Berolahraga

Aktivitas fisik membantu menjaga kekuatan tulang dan otot. Pilih olahraga yang sesuai dengan kondisi tubuh, seperti berjalan kaki, naik tangga, latihan kekuatan, atau aktivitas fisik lainnya.

Tidak perlu langsung melakukan olahraga berat. Yang terpenting adalah rutin dan dilakukan secara bertahap.

3. Hindari Rokok dan Batasi Alkohol

Kebiasaan merokok dapat berdampak buruk terhadap kesehatan tulang. Karena itu, berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Jika mengonsumsi alkohol, sebaiknya batasi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

4. Dapatkan Paparan Sinar Matahari yang Cukup

Tubuh membutuhkan vitamin D untuk membantu penyerapan kalsium. Salah satu sumber vitamin D adalah paparan sinar matahari.

Namun, tetap perhatikan waktu dan durasi paparan serta lindungi kulit dari paparan sinar matahari berlebihan.

5. Periksa Kesehatan Tulang Secara Berkala

Jangan menunggu sampai terjadi patah tulang untuk mulai memperhatikan kesehatan tulang. Pemeriksaan dapat dipertimbangkan terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko osteoporosis, seperti usia lanjut, riwayat patah tulang, berat badan rendah, atau faktor risiko lainnya.

Dengan pemeriksaan yang tepat, kondisi kepadatan tulang dapat diketahui lebih awal sehingga langkah pencegahan maupun penanganan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

 

Jangan Tunggu Tulang Rapuh!

Menjaga tulang bukan hanya dilakukan ketika memasuki usia lanjut. Kebiasaan yang dilakukan sejak sekarang dapat menjadi bekal untuk mempertahankan tulang tetap kuat di kemudian hari.

Jika Sobat eRSIy memiliki keluhan seperti nyeri tulang atau punggung, perubahan postur tubuh menjadi lebih bungkuk, pernah mengalami patah tulang akibat benturan ringan, atau memiliki faktor risiko osteoporosis, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Yuk, mulai jaga kesehatan tulang dari sekarang agar tetap kuat dan aktif di masa depan!

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Yuk-Kenali-Hepatitis-Pahami-Faktanya.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar tentang hepatitis? Penyakit ini berkaitan dengan peradangan pada hati dan dapat disebabkan oleh berbagai hal, termasuk infeksi virus, konsumsi alkohol berlebihan, penggunaan obat-obatan tertentu, hingga gangguan pada sistem kekebalan tubuh.

Hepatitis memiliki beberapa jenis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E. Setiap jenis memiliki cara penularan, gejala, serta risiko komplikasi yang berbeda.

Yuk, kenali jenis-jenis hepatitis dan cara mencegahnya agar kesehatan hati tetap terjaga!

 

Mengenal Jenis-Jenis Hepatitis

1. Hepatitis A

Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV). Penularannya dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi virus dari tinja orang yang terinfeksi.

Gejala yang dapat muncul antara lain :

  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Nyeri perut
  • Tubuh terasa lemas
  • Kulit dan mata menguning atau penyakit kuning

Pada umumnya, hepatitis A bersifat akut dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa menyebabkan infeksi kronis.

2. Hepatitis B

Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Virus ini dapat menular melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi, termasuk melalui hubungan seksual serta dari ibu kepada bayi saat proses persalinan.

Hepatitis B terkadang tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Jika muncul, gejalanya dapat berupa :

  • Mudah lelah
  • Penyakit kuning
  • Nyeri sendi
  • Mual
  • Nyeri perut

Jika berlangsung dalam jangka panjang, hepatitis B dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis, sirosis, hingga meningkatkan risiko kanker hati.

3. Hepatitis C

Hepatitis C disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV) dan terutama ditularkan melalui kontak dengan darah yang terinfeksi.

Sama seperti hepatitis B, hepatitis C sering kali tidak menimbulkan gejala pada awal infeksi. Namun, infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan hati yang serius.

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain sirosis dan kanker hati.

4. Hepatitis D

Hepatitis D disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV). Berbeda dari jenis hepatitis lainnya, virus ini hanya dapat menginfeksi orang yang juga memiliki infeksi hepatitis B.

Hepatitis D dapat menimbulkan gejala yang menyerupai hepatitis B. Namun, infeksi ini dapat memperburuk kerusakan hati dan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi.

5. Hepatitis E

Hepatitis E disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV). Penularannya umumnya berkaitan dengan konsumsi air atau makanan yang telah terkontaminasi.

Gejala yang dapat muncul meliputi :

  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Nyeri perut
  • Tubuh terasa lemas
  • Penyakit kuning

Pada sebagian besar orang, hepatitis E dapat sembuh tanpa menyebabkan penyakit kronis. Namun, infeksi ini dapat menjadi lebih serius pada kelompok tertentu, termasuk ibu hamil.

 

Bagaimana Cara Mencegah Hepatitis?

Pencegahan hepatitis dapat dilakukan dengan menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat serta menghindari perilaku yang meningkatkan risiko penularan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain :

  • Melakukan vaksinasi hepatitis A dan hepatitis B sesuai anjuran tenaga kesehatan
  • Menjaga kebersihan makanan dan minuman untuk membantu mencegah hepatitis A dan E
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet
  • Tidak menggunakan jarum suntik secara bersama-sama
  • Menghindari kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi
  • Menerapkan hubungan seksual yang aman untuk mengurangi risiko penularan hepatitis B
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan apabila memiliki faktor risiko hepatitis

 

Kapan Perlu Periksa ke Dokter?

Segera konsultasikan kondisi kesehatan kepada tenaga medis apabila mengalami gejala yang mengarah pada hepatitis, seperti :

  • Kulit atau mata tampak menguning
  • Urine berwarna lebih gelap
  • Mudah lelah
  • Mual atau muntah
  • Nyeri perut
  • Demam
  • Memiliki riwayat atau faktor risiko terpapar hepatitis

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai. Beberapa jenis hepatitis juga dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga pemeriksaan menjadi penting bagi orang yang memiliki faktor risiko.

Hepatitis bukan hanya satu jenis penyakit. Hepatitis A, B, C, D, dan E memiliki cara penularan serta risiko komplikasi yang berbeda. Dengan memahami perbedaannya, kita dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Yuk, jaga kesehatan hati mulai dari sekarang! Terapkan pola hidup bersih dan sehat, lakukan vaksinasi sesuai anjuran, serta jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika memiliki keluhan atau faktor risiko hepatitis.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mengenal-Penyakit-Kaki-Gajah-dan-Cara-Mencegahnya.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar tentang penyakit kaki gajah? Penyakit yang juga dikenal sebagai filariasis ini merupakan infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Jika tidak dicegah dan ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menyebabkan pembengkakan pada kaki maupun bagian tubuh lainnya.

Yuk, kenali gejalanya dan lakukan langkah pencegahan untuk melindungi diri dari penyakit kaki gajah!

 

Apa Itu Penyakit Kaki Gajah?

Penyakit kaki gajah atau filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi.

Infeksi ini dapat mengganggu sistem limfatik dan menyebabkan pembengkakan pada kaki, tangan, atau bagian tubuh tertentu. Pembengkakan yang berlangsung lama dapat membuat kulit menjadi lebih tebal dan berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari.

 

Gejala Penyakit Kaki Gajah

Gejala filariasis dapat berbeda pada setiap orang. Beberapa keluhan yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Demam yang dapat muncul berulang
  • Nyeri pada otot atau sendi
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Pembengkakan pada kaki, tangan, atau bagian tubuh tertentu
  • Kulit menjadi lebih tebal pada area yang mengalami pembengkakan

Gejala dapat berkembang secara bertahap. Pada awalnya, seseorang mungkin mengalami demam atau nyeri tubuh, kemudian dapat muncul pembengkakan pada bagian tubuh tertentu.

Jika pembengkakan terus berlangsung atau semakin parah, sebaiknya segera diperiksakan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

 

Apa Penyebab Penyakit Kaki Gajah?

Penyakit kaki gajah disebabkan oleh cacing filaria yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk yang membawa larva cacing tersebut.

Penularan dapat lebih mudah terjadi di lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk, terutama jika kebersihan lingkungan dan pengelolaan tempat penampungan air tidak terjaga.

Karena itu, mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk dan melindungi diri dari gigitan nyamuk merupakan bagian penting dalam pencegahan filariasis.

 

Cara Mencegah Penyakit Kaki Gajah

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit kaki gajah antara lain :

  • Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar
  • Menguras dan menutup tempat penampungan air
  • Menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan losion antinyamuk atau kelambu
  • Mengenakan pakaian yang menutupi tubuh, terutama saat beraktivitas di luar rumah pada malam hari
  • Mengikuti program pemberian obat pencegahan filariasis yang diselenggarakan pemerintah

Selain melindungi diri dari gigitan nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan juga penting untuk membantu mengurangi risiko penularan penyakit.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Pembengkakan pada kaki atau bagian tubuh yang tidak kunjung membaik
  • Demam yang terjadi berulang
  • Nyeri pada otot atau bagian tubuh tertentu
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Keluhan yang semakin memburuk

Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.

 

Penyakit kaki gajah atau filariasis merupakan penyakit menular akibat infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Kondisi ini dapat menyebabkan pembengkakan pada kaki dan bagian tubuh lainnya jika tidak dicegah dan ditangani dengan tepat.

 

Yuk, cegah penyakit kaki gajah dengan menjaga kebersihan lingkungan, melindungi diri dari gigitan nyamuk, dan mengikuti program pencegahan filariasis yang dianjurkan!

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Hantavirus.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah melihat banyak tikus di lingkungan sekitar atau membersihkan tempat yang kotor dan berdebu? Hati-hati, ya! Kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko penularan Hantavirus, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Infeksi ini dapat menyebabkan gejala seperti demam, nyeri otot, batuk, hingga sesak napas apabila tidak ditangani dengan baik. Yuk, kenali lebih lanjut tentang hantavirus agar kita bisa lebih waspada dan menjaga kebersihan lingkungan bersama!

 

Apa Itu Hantavirus?

Penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dalam kelompok genus Hantavirus dan famili Bunyaviridae serta ditularkan melalui rodensia seperti tikus dan mencit.

 

Bagaimana Hantavirus Menular? 

Penularan hantavirus biasanya terjadi melalui:

  • Menghirup debu yang tercampur kotoran atau urine tikus
  • Menyentuh benda yang terkontaminasi virus lalu menyentuh wajah
  • Gigitan tikus yang terinfeksi
  • Kontak dengan lingkungan yang kotor dan banyak tikus

Risiko penularan lebih tinggi pada lingkungan yang kurang bersih atau tempat penyimpanan barang yang jarang dibersihkan.

 

Gejala Hantavirus

Infeksi Hantavirus biasanya diawali dengan gejala ringan yang mirip flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, mual, dan muntah. Namun jika tidak segera ditangani, kondisi dapat berkembang menjadi lebih serius seperti:

  • Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

Pada tahap ini, penderita dapat mengalami gangguan ginjal, tekanan darah menurun, hingga perdarahan pada kondisi tertentu.

  • Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

Kondisi ini menyerang paru-paru dan pernapasan, ditandai dengan batuk, sesak napas, paru-paru terisi cairan, serta gangguan jantung dan aliran darah.

 

Bahaya Hantavirus

Jika tidak ditangani dengan cepat, hantavirus dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Gangguan paru-paru
  • Kesulitan bernapas
  • Penurunan tekanan darah
  • Gangguan fungsi organ tubuh

Karena itu, penting untuk mengenali gejala sejak dini agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

 

Cara Mencegah Hantavirus

Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan di antaranya :

 

  • Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
  • Menutup tempat makanan agar tidak didatangi tikus
  • Membuang sampah secara rutin
  • Menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area kotor
  • Menghindari kontak langsung dengan tikus atau kotorannya
  • Menutup lubang atau celah yang menjadi jalan masuk tikus

Lingkungan yang bersih dapat membantu mengurangi risiko berkembangnya tikus pembawa penyakit.

 

Kapan Harus Ke Dokter?

Segera periksa ke tenaga kesehatan jika mengalami:

  • Demam disertai sesak napas
  • Batuk yang semakin berat
  • Tubuh sangat lemas
  • Riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan yang kotor

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab penyakit dan mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Hantavirus merupakan infeksi zoonosis yang perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius. Menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, dan menerapkan pola hidup bersih merupakan langkah penting untuk mencegah penularan hantavirus.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


2.png

Halo, Sobat eRSIy! ????

Pernah merasa tidak percaya diri karena napas yang berbau tidak sedap? Kondisi tersebut dalam dunia medis disebut halitosis, atau lebih dikenal sebagai bau mulut. Meskipun sering dianggap masalah ringan, halitosis dapat memengaruhi kualitas hidup dan hubungan sosial jika tidak ditangani dengan tepat.

 

Apa itu Halitosis?

Halitosis atau bau mulut adalah kondisi bau atau odor yang tidak disukai sewaktu terhembus udara, tanpa melihat apakah substansi odor berasal dari oral ataupun berasal dari non-oral. Kondisi mulut yang memicu terjadi bau mulut ialah kurangnya aliran saliva, meningkatnya bakteri gram negatif Anaerob, meningkatnya jumlah protein makanan, pH rongga mulut yang lebih bersifat alkali / basa dan meningkatnya jumlah sel-sel mati dan sel epitel Nekrotik didalam mulut.

 

Penyebab Halitosis

  1. Makanan & Minuman
    Makanan berbau tajam seperti bawang, ikan, keju, dan makanan pedas dapat menyebabkan bau mulut.
  2. Kebersihan Mulut Buruk
     Jarang menyikat gigi menyebabkan sisa makanan dan plak menumpuk sehingga menimbulkan bau.
  3. Pola Makan Rendah Karbohidrat
    Pembakaran lemak sebagai sumber energi menghasilkan aroma napas asam.
  4. Infeksi Mulut
    Gigi berlubang, radang gusi, sariawan, atau gigi palsu tidak pas dapat memicu bau mulut.
  5. Mulut Kering
    Kurangnya air liur memudahkan bakteri berkembang dan menimbulkan bau.
  6. Merokok & Alkohol
    Menyebabkan mulut kering dan meninggalkan bau tidak sedap.
  7. Kondisi Kesehatan Tertentu
    Seperti radang tenggorokan, amandel, sinusitis, dan asam lambung.
  8. Penggunaan Obat-obatan
    Beberapa obat menyebabkan mulut kering sebagai efek samping.
  9. Kehamilan
    Perubahan hormon serta mual dan muntah dapat memicu bau mulut.

 

Cara Mengatasi Bau Mulut

  1. Atasi Penyebabnya
    Lakukan perawatan dan pengobatan gigi serta mulut bila terdapat infeksi atau penyakit.
  2. Tingkatkan Produksi Air Liur
     Kunyah permen karet tanpa gula untuk membantu membersihkan mulut secara alami.
  3. Cukupi Asupan Cairan
    Minum air putih minimal 8 gelas per hari agar mulut tetap lembap.
  4. Penuhi Vitamin C & Hindari Rokok
     Vitamin C membantu mengurangi bau mulut, sementara merokok justru memperparah kondisi.
  5. Jaga Kebersihan Gigi dan Lidah
    Sikat gigi dan lidah secara rutin, bisa menggunakan pasta gigi dengan baking soda.
  6. Bersihkan Sela Gigi
    Gunakan water flosser atau alat pembersih sela gigi.
  7. Gunakan Obat Kumur
    Pilih obat kumur yang mengandung penetral bau mulut.

  

Jenis Produk untuk Mengatasi Bau Mulut

  1. Penyegar Napas
    Mengandung mint atau kayu manis, berfungsi menutupi bau mulut sementara.
  2. Obat Pencuci Mulut
     Mengandung bahan antibakteri yang membantu mengurangi bau mulut dan plak gigi selama beberapa jam.
  3. Pencuci Mulut Antimikroba
    Mengandung zat aktif pembunuh bakteri, digunakan sesuai anjuran karena pemakaian berlebihan dapat mengiritasi gusi.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


cacingan.png

Halo, Sobat eRSIy!

Penyakit cacingan masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan di Indonesia , terutama pada anak-anak usia sekolah. Menurut Kementerian Kesehatan RI, cacingan terjadi akibat infeksi cacing parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, tanah, atau lingkungan yang terkontaminasi. Meski sering dianggap sepele, cacingan dapat berdampak pada kesehatan, pertumbuhan, dan kemampuan belajar anak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali penyakit cacingan dan cara efektif mencegah penularannya.

Apa itu Penyakit Cacingan?

Cacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit yang masuk ke tubuh manusia melalui tanah, makanan, atau permukaan yang terkontaminasi telur cacing. Ketika seseorang menderita cacingan, pemeriksaan tinja dapat menunjukkan adanya telur atau cacing.

 

Tanda dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Yuk, kenali tanda dan gejala penyakit cacingan agar dapat segera dicegah dan ditangani sejak dini:

  • Nafsu makan menurun
  • Berat badan sulit naik atau menurun
  • Perut sering terasa sakit atau kembung
  • Anak tampak lemas, mudah lelah, dan kurang aktif
  • Anemia (pucat) akibat kekurangan darah
  • Gatal di sekitar anus, terutama pada malam hari
  • Diare atau gangguan pencernaan
  • Konsentrasi menurun dan prestasi belajar terganggu

Gejala cacingan sering tidak disadari karena tampak ringan, namun jika dibiarkan dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

 

Dampak Penyakit Cacingan

  1. Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan
  • Nutrisi yang masuk diserap oleh cacing, bukan oleh tubuh
  • Anak mengalami berat badan rendah dan pertumbuhan terhambat
  • Risiko stunting meningkat bila berlangsung lama
  1. Anemia dan Kelelahan Kronis
  • Cacing menyebabkan kehilangan darah dan zat besi
  • Anak tampak pucat, lemas, mudah mengantuk, dan kurang bertenaga
  • Daya tahan tubuh menurun sehingga mudah sakit
  1. Penurunan Konsentrasi dan Prestasi Belajar
  • Kekurangan nutrisi memengaruhi fungsi otak
  • Anak sulit fokus, cepat lelah saat belajar
  • Prestasi akademik dan keaktifan di sekolah menurun
  1. Gangguan Sistem Pencernaan
  • Nyeri perut, diare, mual, dan perut kembung
  • Nafsu makan menurun atau tidak teratur
  • Dalam kasus berat, dapat menyebabkan sumbatan usus
  1. Penurunan Kualitas Hidup Anak
  • Anak menjadi kurang aktif bermain
  • Mengganggu aktivitas sehari-hari dan perkembangan sosial
  • Menurunkan rasa percaya diri anak

 

 

Cara Efektif Mencegah Penularan Cacingan

  1. Menjaga Kebersihan Diri
  • Cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan setelah buang air besar
  • Potong kuku secara rutin dan jaga kebersihannya
  • Hindari kebiasaan memasukkan tangan ke mulut
  1. Menggunakan Jamban Sehat
  • Buang air besar di jamban, bukan di tanah atau sungai
  • Jamban yang bersih mencegah pencemaran tanah oleh telur cacing
  1. Mengonsumsi Makanan dan Air Bersih
  • Cuci sayur dan buah hingga bersih sebelum dikonsumsi
  • Masak makanan sampai matang sempurna
  • Minum air yang sudah direbus atau air layak minum
  1. Menggunakan Alas Kaki
  • Selalu memakai sandal atau sepatu saat bermain di tanah
  • Mencegah larva cacing masuk melalui kulit kaki
  1. Pemberian Obat Cacing Secara Berkala
  • Minum obat cacing setiap 6 bulan sekali
  • Terutama untuk anak usia sekolah dan kelompok berisiko
  • Dilakukan sesuai anjuran petugas kesehatan
  1. Peran Keluarga dan Sekolah
  • Orang tua membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat
  • Sekolah menyediakan fasilitas sanitasi dan edukasi kesehatan
  • Edukasi rutin tentang pentingnya kebersihan

 

 

Cacingan bukan penyakit ringan jika dibiarkan tanpa penanganan. Dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan, risiko cacingan pada anak dapat diminimalkan. Mari bersama menjaga kesehatan anak demi tumbuh kembang yang optimal.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Gigi-Sehat-Senyum-Percaya-Diri.png

Hai Sobat ERSIY!
Senyum yang indah bukan hanya soal penampilan, tapi juga tentang kesehatan gigi dan mulut yang terjaga. Gigi yang sehat membuat kita percaya diri saat berbicara, tertawa, dan berinteraksi dengan orang lain. Namun, tahukah kamu bahwa menjaga gigi bukan hanya agar tampak putih dan rapi, tetapi juga untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh?

 

Kenapa Kesehatan Gigi Itu Penting?

Kesehatan gigi dan mulut memiliki hubungan erat dengan kesehatan organ lain. Infeksi pada gusi atau gigi berlubang bisa menjadi pintu masuk bakteri ke dalam aliran darah, memicu peradangan yang dapat mempengaruhi jantung, paru-paru, bahkan sistem metabolisme tubuh.. Masalah gigi seperti karang gigi, gusi berdarah, napas tak sedap, hingga gigi berlubang sering kali dianggap sepele. Padahal, jika dibiarkan, bisa menyebabkan infeksi serius dan menurunkan kepercayaan diri seseorang dalam berkomunikasi.

 

Langkah Sederhana Menuju Gigi Sehat dan Senyum Cerah

Menjaga kesehatan gigi tidak sulit, asal dilakukan dengan rutin dan benar. Yuk, mulai dari langkah kecil ini:

  1. Sikat gigi dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur) dengan pasta gigi berfluoride.
  2. Gunakan benang gigi untuk membersihkan sisa makanan disela gigi.
  3. Batasi konsumsi makanan manis dan minuman bersoda yang dapat merusak enamel gigi.
  4. Hindari kebiasaan merokok, karena dapat menyebabkan gigi kuning dan penyakit gusi.
  5. Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, bahkan jika tidak ada keluhan.

Senyum tulus mencerminkan rasa percaya diri dan kesehatan. Gigi yang bersih, nafas yang segar, dan gusi yang sehat membantu kita berkomunikasi dengan nyaman tanpa rasa khawatir. Ingat, menjaga gigi bukan hanya urusan estetika, tetapi bagian dari mencintai diri sendiri.

 

Jika kamu mengalami keluhan seperti gusi bengkak, gigi berlubang, nyeri saat mengunyah, atau karang gigi yang menumpuk, sebaiknya konsultasikan ke dokter gizi atau dokter penyakit dalam RSI Surabaya Ahmad Yani agar mendapatkan arahan yang tepat.

Untuk lebih lanjutnya hubungi kami +62 811-363-670 (Customer care) atau sobat ersiy bisa mengunjungi RSI Surabaya A.Yani di JL. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Batasi-Kafein-Sayangi-Jantungmu.png

Hai Sobat ERSIY!

Siapa yang tidak suka aroma kopi di pagi hari? Bagi banyak orang, secangkir kopi menjadi penyemangat untuk memulai aktivitas. Namun, dibalik kenikmatan rasa dan aromanya, terlalu banyak mengkonsumsi kafein bisa memberi dampak yang kurang baik bagi kesehatan, terutama untuk jantungmu.

 

Kopi dan Kafein

Kafein merupakan zat stimulan alami yang dapat meningkatkan fokus dan membuat tubuh terasa lebih segar. Meski memiliki manfaat, konsumsi berlebihan dapat mempengaruhi sistem kardiovaskular. Kafein berlebihan dapat memicu detak jantung tidak teratur (aritmia), peningkatan tekanan darah, dan gangguan tidur yang berujung pada stres tubuh. Orang yang sensitif terhadap kafein bahkan bisa merasakan jantung berdebar setelah hanya satu cangkir kopi. Kondisi ini bisa lebih berisiko bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi, penyakit jantung, atau gangguan kecemasan. Para ahli kesehatan menyarankan untuk tidak mengonsumsi lebih dari 400 mg kafein per hari — setara dengan sekitar 2-3 cangkir kopi seduh. Namun, setiap orang memiliki tingkat toleransi berbeda. Jika kamu merasa gelisah, sulit tidur, atau jantung berdebar setelah minum kopi, sebaiknya mulai mengurangi takaran atau memilih kopi rendah kafein.

 

Tips Aman Menikmati Kopi Tanpa Ganggu Jantung

Agar tetap bisa menikmati kopi tanpa khawatir, cobalah beberapa langkah sederhana ini:

1.     Pilih kopi tanpa tambahan gula atau krimer berlebih.

2.     Batasi konsumsi kopi maksimal 2 cangkir per hari.

3.     Hindari minum kopi sebelum tidur agar pola istirahat tetap terjaga.

4.     Minum air putih yang cukup untuk membantu metabolisme tubuh.

5.     Kombinasikan dengan gaya hidup sehat seperti olahraga teratur dan makan makanan bergizi.

 

Jika sobat ersiy  sering merasakan jantung berdebar, tekanan darah naik setelah minum kopi, atau mengalami gangguan tidur yang berkepanjangan,jangan ragu untuk berkonsultasi ke Poli Jantung RSI Surabaya Ahmad Yani.

Untuk lebih lanjutnya hubungi kami di:

0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


Pentingnya-Perawatan-Mata-Sehari-hari-di-Era-Digital.png

Hai Sobat Ersiy!

Pernahkah kamu merasa mata cepat lelah, kering, atau buram setelah menatap layar gadget terlalu lama?

Jika iya, kamu tidak sendirian! Di era digital seperti sekarang, hampir semua aktivitas — mulai dari bekerja, belajar, hingga hiburan — dilakukan di depan layar komputer atau ponsel. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa menyebabkan gangguan kesehatan mata, seperti mata kering, iritasi, bahkan rabun jauh (miopia) yang muncul lebih cepat.

 

Mengenal Dampak Era Digital terhadap Mata

Menatap layar terlalu lama membuat mata harus fokus secara terus-menerus.
Cahaya biru (blue light) dari layar ponsel, komputer, atau televisi dapat membuat mata cepat lelah dan mengganggu produksi air mata, sehingga menimbulkan keluhan:

  1. Mata terasa kering atau panas 
  2. Penglihatan kabur atau ganda 
  3. Kepala terasa pusing
  4. Mata berair dan sulit fokus

Kondisi ini dikenal sebagai Digital Eye Strain atau Computer Vision Syndrome gangguan mata yang kini banyak dialami masyarakat modern. 

 

Langkah Sederhana Menjaga Kesehatan Mata Setiap Hari

Tidak perlu khawatir! Ada beberapa cara mudah yang bisa kamu lakukan setiap hari untuk menjaga mata tetap sehat, bahkan di tengah kesibukan digital:

  1. Terapkan Aturan 20-20-20
    Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter).
  2. Jaga Jarak Pandang Aman
    Posisikan layar gadget sekitar 40–60 cm dari mata, dan atur ketinggian layar sejajar atau sedikit di bawah garis pandang.
  3. Hindari Menatap Layar Terlalu Lama Tanpa Berkedip
    Saat fokus, kita cenderung jarang berkedip — padahal berkedip membantu melembabkan mata secara alami.
  4. Gunakan Pencahayaan yang Cukup
    Hindari menatap layar di tempat gelap atau terlalu terang. Pencahayaan yang seimbang membantu mata tidak cepat lelah.
  5. Konsumsi Makanan Bergizi untuk Mata
    Perbanyak makanan yang mengandung vitamin A, C, dan E, serta omega-3, seperti wortel, bayam, ikan salmon, dan alpukat.
    Nutrisi ini membantu menjaga retina dan mencegah rabun.

Jika sobat ersiy  sering merasakan Penglihatan kabur atau menurun secara tiba-tiba, Mata terasa nyeri, merah, atau bengkak, Sering merasa silau atau sulit fokus dan Kelopak mata bengkak atau keluar kotoran berlebihan, jangan ragu untuk berkonsultasi ke Poli mata RSI Surabaya Ahmad Yani.

Untuk lebih lanjutnya hubungi kami +62 811-363-670 (Customer care) atau sobat ersiy bisa mengunjungi RSI Surabaya A.Yani di JL. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2026. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?