INFO UNTUK ANDA

IMG_1524.png

Halo, Sobat eRSIy!

Sudah dijadwalkan menjalani operasi sesar dengan metode ERACS? Mungkin Bunda masih bertanya-tanya, apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum masuk ruang operasi?

ERACS memiliki pendekatan yang berbeda dari operasi sesar konvensional. Persiapannya tidak hanya dilakukan saat akan masuk ruang operasi, tetapi juga memperhatikan kondisi tubuh dan kesiapan ibu sejak sebelum operasi.

Yuk, simak 5 hal yang perlu Bunda siapkan sebelum menjalani ERACS!

 

1. Puasa Lebih Singkat, Bukan Lebih Lama

Kalau mendengar kata operasi, mungkin yang terbayang adalah harus puasa dalam waktu yang panjang.

Namun, pada pendekatan ERACS, aturan puasa justru dirancang lebih fleksibel. Dalam materi protokol yang digunakan, makanan ringan masih dapat diperbolehkan hingga 6 jam sebelum operasi, sedangkan cairan bening hingga 2 jam sebelum anestesi diberikan.

Pengaturan ini bukan hanya bertujuan membuat ibu lebih nyaman. Salah satu tujuannya adalah membantu tubuh tidak mengalami stres metabolik yang berlebihan menjelang operasi.

Meski begitu, aturan puasa tetap harus mengikuti instruksi dari dokter dan tim medis yang menangani Bunda.

 

2. Mandi Antiseptik Sebelum Operasi

Hal sederhana seperti mandi juga menjadi bagian dari persiapan sebelum ERACS.

Bunda biasanya akan diminta mandi menggunakan sabun antiseptik sesuai instruksi, umumnya pada malam sebelum operasi dan kembali pada pagi hari sebelum tindakan.

Langkah ini menjadi bagian dari persiapan kulit sebelum dilakukan sayatan operasi dan membantu menurunkan risiko terjadinya infeksi setelah operasi.

Jadi, jangan anggap sepele persiapan yang satu ini ya, Bun. Setiap langkah sebelum operasi memiliki tujuan untuk membantu proses perawatan berjalan lebih optimal.

 

3. Kesiapan Mental Juga Penting

Persiapan ERACS bukan hanya tentang kondisi fisik. Kesiapan mental juga menjadi bagian dari persiapan medis.

Bunda bisa berdiskusi dengan dokter atau bidan mengenai apa yang akan terjadi sebelum, selama, dan setelah operasi. Mengetahui proses yang akan dijalani dapat membantu Bunda merasa lebih siap menghadapi persalinan.

Edukasi pasien sejak awal juga menjadi salah satu bagian penting dalam pendekatan pemulihan cepat setelah operasi sesar. Kecemasan yang tidak terkelola dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan nyeri setelah operasi.

Karena itu, jangan ragu untuk bertanya. Jika ada hal yang membuat Bunda khawatir, sampaikan kepada tim medis.

4. Siapkan Perlengkapan untuk Mobilisasi Lebih Cepat

Setelah operasi, Bunda akan didorong untuk mulai bergerak lebih cepat sesuai dengan kondisi dan penilaian tim medis.

Karena itu, perlengkapan yang nyaman juga perlu dipersiapkan sejak dari rumah. Baju yang longgar dan pembalut nifas bisa menjadi beberapa barang yang perlu disiapkan.

Pakaian yang nyaman akan membantu Bunda saat mulai bergerak dan menjalani aktivitas secara bertahap setelah operasi.

Mobilisasi lebih awal merupakan salah satu prinsip dalam ERACS. Tujuannya bukan membuat ibu terburu-buru beraktivitas, tetapi membantu proses pemulihan dilakukan secara bertahap dan terencana.

 

5. Cek Kondisi Tubuh, Terutama Hemoglobin

Ini salah satu hal yang sering dianggap sepele, padahal penting untuk diperhatikan sejak masa kehamilan.

Anemia selama kehamilan diketahui dapat meningkatkan risiko komplikasi selama periode sekitar operasi dan juga dapat memengaruhi proses pemulihan setelah melahirkan.

Bahkan pada masa nifas, anemia masih dapat dialami oleh sebagian ibu. Karena itu, pemeriksaan kondisi darah, termasuk kadar hemoglobin, menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kondisi tubuh sebelum operasi.

Jika ditemukan anemia, dokter dapat menentukan langkah penanganan yang sesuai sehingga kondisi ibu dapat dioptimalkan sebelum persalinan.

 

ERACS Bukan Sekadar Operasi Sesar

Dari lima persiapan tersebut, bisa dilihat bahwa ERACS bukan hanya tentang bagaimana operasi dilakukan.

Pendekatan ini mencakup berbagai hal, mulai dari persiapan sebelum operasi, pengaturan puasa, persiapan kulit, kesiapan mental, pengelolaan nyeri, hingga mobilisasi setelah operasi.

Tujuannya adalah membantu ibu menjalani proses persalinan dan pemulihan secara lebih terencana.

Jadi, kalau Bunda sudah dijadwalkan menjalani ERACS, jangan hanya fokus mempersiapkan barang untuk ke rumah sakit. Pastikan kondisi tubuh juga dipersiapkan, termasuk dengan melakukan pemeriksaan dan menyampaikan kondisi kesehatan kepada dokter.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1515.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar istilah ERACS, tetapi masih bingung apa bedanya dengan operasi sesar biasa? ERACS bukan sekadar istilah baru dalam persalinan. Pendekatan ini merupakan bagian dari perawatan berbasis bukti ilmiah yang dirancang untuk membantu ibu menjalani proses operasi sesar hingga masa pemulihan dengan lebih optimal.

Yuk, kenali lebih jauh apa itu ERACS dan bagaimana pendekatan ini dapat membantu proses pemulihan setelah operasi sesar!

 

Apa Itu ERACS?

ERACS merupakan singkatan dari Enhanced Recovery After Cesarean Surgery. Konsep ini diadaptasi dari prinsip Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) yang sebelumnya banyak digunakan dalam penanganan berbagai operasi besar, kemudian dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan khusus dalam bidang obstetri.

Sederhananya, ERACS merupakan pendekatan yang mengatur seluruh rangkaian perawatan ibu, mulai dari sebelum operasi, saat operasi, hingga setelah operasi.

Tujuannya adalah membantu mengurangi stres pada tubuh akibat operasi dan mendukung proses pemulihan ibu agar dapat berlangsung lebih baik.

 

Apa Bedanya dengan Operasi Sesar Konvensional?

Pendekatan ERACS membawa perubahan dalam berbagai tahapan perawatan sebelum dan sesudah operasi.

Jika sebelumnya ibu mungkin harus menjalani puasa lebih lama dan beristirahat di tempat tidur dalam waktu yang cukup panjang, pada pendekatan ERACS proses tersebut dirancang agar lebih terencana dan sesuai dengan kondisi ibu.

Dalam materi ERACS, periode puasa dapat dipersingkat. Makanan ringan masih dapat diperbolehkan hingga 6 jam sebelum operasi, sedangkan cairan bening hingga 2 jam sebelum anestesi, sesuai dengan protokol dan kondisi medis ibu.

Setelah operasi, ibu juga didorong untuk melakukan mobilisasi lebih awal. Manajemen nyeri direncanakan dengan lebih baik agar ibu dapat merasa nyaman selama proses pemulihan.

Selain itu, inisiasi menyusui secara dini juga menjadi salah satu bagian penting dalam pendekatan ERACS.

 

Kenapa Mobilisasi Lebih Cepat Penting?

Setelah menjalani operasi sesar, tubuh tentu membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Namun, terlalu lama tidak bergerak juga bukan bagian dari tujuan pemulihan yang optimal.

Dalam pendekatan ERACS, ibu didorong untuk melakukan mobilisasi lebih awal sesuai dengan kondisi dan penilaian tim medis.

Dengan pendekatan yang terencana, proses pemulihan tidak hanya berfokus pada luka operasi, tetapi juga bagaimana kondisi ibu secara keseluruhan dapat kembali beraktivitas secara bertahap.

 

Bukan Hanya Saat Operasi, Persiapan Dimulai Sejak Kehamilan

ERACS bukan hanya tentang apa yang dilakukan di ruang operasi.

Pembaruan panduan dari ERAS Society menekankan pentingnya mengoptimalkan kondisi ibu sejak masa kehamilan. Salah satunya adalah melakukan skrining dan penanganan anemia.

Mengapa anemia perlu diperhatikan?

Karena kondisi tubuh ibu sebelum operasi dapat berpengaruh terhadap proses pemulihan setelah persalinan. Bahkan setelah melahirkan, kondisi anemia pada masa nifas tetap perlu mendapatkan perhatian.

Artinya, pemulihan ibu tidak dimulai setelah operasi selesai. Persiapannya sudah dilakukan sejak sebelum persalinan.

 

ERACS Adalah Perawatan yang Menyeluruh

Jika disederhanakan, ERACS bukan hanya tentang “bagaimana operasi dilakukan”, tetapi juga tentang bagaimana ibu dipersiapkan dan didampingi selama proses pemulihan.

Mulai dari persiapan sebelum operasi, pengaturan puasa, manajemen nyeri, mobilisasi lebih awal, hingga dukungan menyusui setelah persalinan, semuanya menjadi bagian dari rangkaian perawatan.

Setiap langkah dirancang agar kebutuhan ibu selama proses persalinan dan pemulihan dapat diperhatikan secara menyeluruh.

 

Apakah ERACS Cocok untuk Semua Ibu?

ERACS merupakan pendekatan dalam perawatan operasi sesar, tetapi penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu.

Dokter dan tim medis akan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kehamilan, serta kebutuhan medis sebelum menentukan perawatan yang paling sesuai.

Karena itu, jika Bunda sedang mempersiapkan persalinan melalui operasi sesar dan ingin mengetahui apakah pendekatan ERACS sesuai untuk kondisi Bunda, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

 

Pemulihan yang Dipersiapkan Sejak Awal

Persalinan melalui operasi sesar bukan hanya tentang tindakan di ruang operasi. Proses sebelum dan sesudah operasi juga memiliki peran penting dalam membantu ibu menjalani masa pemulihan.

Melalui pendekatan ERACS, setiap tahapan dirancang secara lebih terencana agar ibu tidak hanya menjalani operasi, tetapi juga mendapatkan pendampingan selama proses pemulihan.

Layanan ERACS kami dirancang mengikuti standar dan pembaruan protokol terkini, sehingga Bunda tidak hanya “dioperasi”, tetapi juga dipersiapkan dan didampingi sepanjang proses pemulihan.

Jika Bunda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai ERACS dan apakah pendekatan ini sesuai dengan kondisi kehamilan Bunda, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter dan tim medis kami.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1514.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar berbagai mitos tentang imunisasi yang membuat Bunda ragu memberikan vaksin kepada si kecil? Mulai dari vaksin disebut bisa menyebabkan autisme, ASI dianggap sudah cukup sebagai perlindungan, hingga anggapan bahwa terlalu banyak vaksin dapat membuat sistem imun bayi kewalahan.

Informasi seperti ini masih sering beredar dan bahkan kembali ramai dibicarakan. Padahal, tidak semua informasi yang viral memiliki dasar yang benar. Yuk, kita bedah satu per satu!

 

Mitos #1: Vaksin Menyebabkan Autisme

Mitos bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi pada tahun 1998. Studi tersebut kemudian diketahui memiliki masalah serius dalam datanya hingga akhirnya ditarik dari jurnal dan penelitinya kehilangan izin praktik.

Salah satu alasan mitos ini masih sering muncul adalah karena tanda-tanda autisme dapat mulai terlihat pada usia yang berdekatan dengan waktu anak mendapatkan vaksin tertentu, seperti vaksin MMR. Kedekatan waktu tersebut kemudian membuat sebagian orang mengira keduanya saling berkaitan, padahal bukan berarti vaksin menjadi penyebabnya.

 

Mitos #2: ASI Eksklusif Sudah Cukup, Jadi Tidak Perlu Vaksin

ASI memang memiliki banyak manfaat bagi bayi. Salah satunya adalah memberikan antibodi dari ibu yang membantu memberikan perlindungan bagi tubuh si kecil.

Namun, perlindungan dari ASI tidak menggantikan fungsi imunisasi.

ASI tidak memberikan perlindungan yang cukup terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti polio, difteri, dan pertusis. Selain itu, antibodi yang diperoleh bayi dari ibu juga akan berkurang seiring berjalannya waktu.

Karena itu, bayi tetap membutuhkan vaksin untuk membantu sistem kekebalan tubuhnya belajar mengenali dan melawan berbagai penyakit.

 

Mitos #3: Terlalu Banyak Vaksin Membuat Sistem Imun Bayi Kewalahan

Bunda mungkin pernah berpikir, “Kalau beberapa vaksin diberikan sekaligus, apakah tubuh bayi tidak terlalu terbebani?”

Faktanya, pemberian beberapa vaksin dalam satu kunjungan dapat dilakukan dengan aman dan tidak membuat sistem imun bayi kewalahan.

Justru, pemberian vaksin sesuai jadwal membantu anak mendapatkan perlindungan lebih cepat sekaligus mengurangi jumlah kunjungan imunisasi.

Saat ini juga tersedia vaksin kombinasi, salah satunya vaksin heksavalen yang memberikan perlindungan terhadap enam penyakit dalam satu suntikan. Dengan begitu, anak tidak harus mendapatkan suntikan terpisah untuk setiap penyakit.

 

Mitos #4: Vaksin Membuat Anak Jadi Sakit-Sakitan

Anggapan bahwa vaksin membuat anak lebih sering sakit juga masih banyak ditemukan.

Padahal, tujuan utama vaksin justru membantu memberikan perlindungan terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kondisi serius.

Setelah imunisasi, beberapa anak memang dapat mengalami reaksi seperti demam ringan, rewel, atau bengkak di area bekas suntikan. Kondisi tersebut termasuk KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi.

Reaksi ringan seperti ini umumnya dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu sekitar 1–2 hari. Namun, jika Bunda menemukan reaksi yang berat atau kondisi anak tidak kunjung membaik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

 

Mitos #5: Penyakitnya Sudah Jarang, Jadi Tidak Perlu Vaksin Lagi

“Sekarang sudah jarang ada wabahnya, kenapa masih harus vaksin?”

Justru, pemikiran seperti ini perlu diwaspadai.

Ketika cakupan vaksinasi menurun, penyakit yang sebelumnya berhasil dikendalikan dapat kembali menyebar. Data terbaru menunjukkan beberapa penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin, seperti campak, kembali mengalami peningkatan kasus di sejumlah wilayah.

Di Indonesia sendiri, masih terdapat ratusan ribu anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap. Jika semakin banyak anak tidak mendapatkan perlindungan, risiko terjadinya kembali wabah juga dapat meningkat.

Karena itu, imunisasi bukan hanya tentang melindungi satu anak, tetapi juga membantu menjaga perlindungan di lingkungan sekitar.

 

Jangan Mudah Percaya Informasi yang Belum Terbukti

Mitos mengenai imunisasi bisa terdengar meyakinkan, terutama ketika disampaikan berulang kali di media sosial. Namun, informasi kesehatan sebaiknya tidak hanya dinilai dari seberapa sering informasi tersebut dibagikan.

Jika Bunda menemukan informasi tentang vaksin yang membuat ragu atau bingung, jangan langsung mengambil kesimpulan. Cari sumber yang terpercaya dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Imunisasi merupakan salah satu langkah penting untuk membantu melindungi si kecil dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.

Jangan biarkan informasi yang belum tentu benar membuat Bunda ragu melindungi si kecil. Kalau masih ada yang membuat bingung, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak di RS Islam Surabaya A. Yani.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1513.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah bertanya-tanya kenapa bayi perlu mendapatkan beberapa kali imunisasi, bahkan hingga beberapa kali di tahun pertamanya? Di usia ini, sistem kekebalan tubuh bayi masih belum matang sepenuhnya. Selain itu, antibodi yang diperoleh dari ibu juga mulai menurun, terutama saat bayi memasuki usia sekitar 2 bulan. Karena itu, imunisasi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu memberikan perlindungan sejak dini.

 

Mengapa Bayi Perlu Divaksin?

Sistem imun bayi masih dalam tahap perkembangan sehingga belum mampu memberikan perlindungan seoptimal orang dewasa. Vaksin membantu tubuh bayi mengenali kuman penyebab penyakit dan membentuk respons kekebalan terhadapnya.

Sederhananya, vaksin dapat diibaratkan seperti sesi latihan bagi sistem imun. Tubuh diperkenalkan pada bagian dari kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan, sehingga sistem imun dapat belajar mengenalinya. Ketika suatu saat tubuh bertemu dengan kuman penyebab penyakit yang sebenarnya, sistem imun sudah memiliki bekal untuk melawannya.

 

Imunisasi Sudah Menyelamatkan Jutaan Nyawa

Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua orang. Data menunjukkan bahwa imunisasi telah memberikan perlindungan bagi jutaan anak di seluruh dunia.

Studi WHO yang dimuat dalam The Lancet pada April 2024 memperkirakan bahwa selama 50 tahun terakhir, imunisasi rutin telah menyelamatkan sekitar 154 juta nyawa, dengan sekitar 101 juta di antaranya merupakan bayi.

Di Indonesia, laporan WHO-UNICEF melalui WUENIC 2025 yang dirilis pada Juli 2026 juga mencatat bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap meningkat dari sekitar 78 persen menjadi 82 persen. Peningkatan tersebut berarti lebih dari 3,6 juta anak mendapatkan perlindungan pada tahun sebelumnya.

Meski begitu, masih ada sekitar 657 ribu anak yang belum pernah mendapatkan vaksin sama sekali. Karena itu, memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal tetap menjadi hal yang penting.

 

Bagaimana dengan Jadwal Imunisasi?

Jadwal imunisasi anak tidak dibuat secara sembarangan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyusun jadwal imunisasi berdasarkan usia anak dan pola penyakit yang ada di Indonesia.

Jadwal tersebut membantu memastikan anak mendapatkan vaksin pada waktu yang sesuai. Jika ada imunisasi yang terlewat atau Bunda memiliki pertanyaan mengenai jadwal vaksin, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

 

Anak Rewel Setelah Imunisasi, Apakah Normal?

Setelah imunisasi, beberapa anak dapat mengalami reaksi seperti rewel, demam ringan, atau bengkak di area bekas suntikan.

Kondisi tersebut dikenal sebagai KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Reaksi ringan setelah imunisasi dapat terjadi sebagai bagian dari respons tubuh setelah mendapatkan vaksin.

Namun, jika anak mengalami reaksi yang berat atau kondisi yang membuat Bunda khawatir, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

 

Vaksin Seperti Simulasi Kebakaran

Vaksin dapat diibaratkan seperti simulasi kebakaran bagi tubuh.

Ketika latihan dilakukan dalam kondisi aman, tubuh memiliki kesempatan untuk belajar apa yang harus dilakukan. Begitu pula dengan vaksin. Sistem imun diberikan kesempatan untuk mengenali ancaman terlebih dahulu sehingga ketika menghadapi kuman penyebab penyakit yang sebenarnya, tubuh sudah memiliki respons untuk melawannya.

Jadi, setiap suntikan bukan sekadar membuat si kecil menangis sebentar. Ada proses penting yang sedang berlangsung di dalam tubuh untuk membantu memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

 

Jangan Lewatkan Imunisasi Si Kecil

Imunisasi merupakan salah satu langkah penting untuk membantu melindungi kesehatan anak sejak dini. Jadwal imunisasi yang cukup padat pada tahun pertama disesuaikan dengan kebutuhan perlindungan bayi ketika sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Dengan mengikuti jadwal imunisasi yang direkomendasikan IDAI, orang tua dapat membantu memberikan perlindungan kepada si kecil sejak awal kehidupannya.

Jika Bunda masih memiliki pertanyaan mengenai jadwal imunisasi, jenis vaksin, atau reaksi yang muncul setelah imunisasi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Yuk, pastikan imunisasi si kecil tidak terlewat. Karena setiap vaksin adalah bagian dari upaya memberikan perlindungan untuk kesehatan anak di masa depan.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mata-Bayi-Tampak-Berair-Terus-Bisa-Jadi-Obstruksi-Ductus-Nasolakrimalis.jpeg
23/Jan/2026

Hai Sobat Ersiy, Mata bayi yang terus berair memang sering bikin orang tua cemas. Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi adalah obstruksi ductus nasolakrimalis atau yang dikenal sebagai dakriostenosis. Meski umumnya tidak berbahaya dan bisa membaik seiring pertumbuhan si kecil, kondisi ini tetap perlu dikenali sejak dini agar tidak menimbulkan masalah lanjutan. Yuk, kenali lebih dekat penyebab mata bayi berair agar penanganannya tepat

 

Apa Itu Obstruksi Ductus Nasolakrimalis?

Obstruksi ductus nasolakrimalis adalah kondisi tersumbat atau menyempitnya saluran air mata (duktus nasolakrimal), sehingga air mata tidak dapat mengalir dengan normal ke rongga hidung. Akibatnya, air mata menumpuk dan keluar berlebihan dari mata.

Kondisi ini paling sering bersifat kongenital (sejak lahir) akibat sistem drainase air mata yang belum berkembang sempurna. Namun, pada beberapa kasus dapat pula terjadi karena faktor yang didapat, seperti trauma atau peradangan sistemik.

 

Seberapa Sering Terjadi?

Obstruksi ductus nasolakrimalis tergolong cukup sering ditemukan pada bayi. Sekitar 6–20% bayi mengalami gangguan aliran air mata pada tahun pertama kehidupan. Bahkan, sekitar 20% bayi sehat dapat menunjukkan gejala mata berair pada usia awal.

Kabar baiknya, kondisi ini memiliki angka kesembuhan spontan yang tinggi. Sekitar 70% bayi bebas gejala pada usia 3 bulan, dan lebih dari 90% sembuh sebelum usia 1 tahun tanpa tindakan operasi.

 

Tanda dan Gejala yang Perlu Diperhatikan

Gejala biasanya mulai muncul beberapa hari hingga minggu setelah bayi lahir dan dapat memburuk saat bayi mengalami infeksi saluran napas atas atau terpapar udara dingin. Beberapa tanda yang sering ditemukan meliputi:

  • Mata berair terus-menerus meskipun bayi tidak menangis
  • Air mata berlebihan hingga tampak “banjir”
  • Penumpukan cairan mukoid atau mukopurulen (mirip nanah)
  • Timbul kerak pada kelopak mata
  • Kemerahan atau iritasi kulit di sekitar mata akibat gesekan air mata

 

Penyebab Terjadinya Sumbatan

Pada sebagian besar bayi, obstruksi disebabkan oleh saluran nasolakrimal yang belum terbuka sempurna. Kondisi ini biasanya akan membaik secara alami seiring pertumbuhan. Namun, bila terjadi sumbatan menetap, air mata yang tertahan dapat memicu infeksi, seperti dakriosistitis.

Penanganan dan Perawatan di Rumah

Penanganan utama obstruksi ductus nasolakrimalis tanpa komplikasi adalah pijat nasolakrimal, yang bertujuan membantu membuka sumbatan agar air mata dapat mengalir normal.

Selain itu, perawatan yang dianjurkan meliputi:

  • Pijat nasolakrimal secara rutin
  • Membersihkan kelopak mata dengan air hangat
  • Pemberian antibiotik topikal bila terdapat tanda infeksi, sesuai anjuran dokter

 

Cara Melakukan Pijat Nasolakrimal

Pijat dapat dilakukan oleh orang tua di rumah dengan langkah-langkah berikut:

  1. Cuci tangan hingga bersih
  2. Posisikan bayi dengan kepala sedikit menengadah
  3. Temukan titik pijat di atas kantung lakrimal (sudut dalam mata)
  4. Gunakan jari telunjuk atau kelingking, lalu tekan perlahan ke arah bawah mengikuti sisi hidung
  5. Lakukan gerakan memijat dari sudut mata ke bawah sebanyak 5–10 kali per sesi
  6. Pijat dapat dilakukan 2–4 kali sehari secara rutin

 

Ingat ya, Sobat Ersiy, meski obstruksi ductus nasolakrimalis tergolong kondisi yang sering terjadi pada bayi dan umumnya bisa membaik dengan sendirinya, perawatan yang tepat dan pemantauan rutin tetap sangat penting. Dengan pemahaman yang baik, orang tua dapat membantu meminimalkan risiko komplikasi sejak dini. Jika mata si kecil terus berair atau muncul tanda infeksi, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter agar penanganannya lebih optimal

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


anak-picky-eater.jpeg
11/Dec/2025

Halo Sobat Ersiy,Si kecil suka pilih-pilih makanan? Tenang, ini fase normal kok! Tapi, jangan sampai dibiarkan ya, karena bisa memengaruhi tumbuh kembangnya. Yuk, kita bahas cara tepat menghadapi anak picky eater.!

Picky eater atau kecenderungan memilih milih makanan pada anak-anak. Kondisi ketika anak mencoba jenis makanan baru dikenal atau jenis makanan yang sudah dikenal tetapi menolak konsumsi dalam jumlah yang cukup.

 

Normal ga sih?

Kebiasaan pilih pilih makanan ini normal dan sering terjadi pada usia 1-3 tahun, pada awal tahap pengenalan makanan atau proses transisi dari ASI dan MPASI. Walaupun normal tetapi hal ini akan membuat orang tua takut mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anaknya terganggu karena kekurangan zat gizi tertentu; takut stunting, takut tidak pintar dan tidak bisa tinggi. anak enggan untuk makan buah dan sayur, sukanya makanan instan atau jajanan kemasan yang banyak pengawet, penyedap dan pewarna.

 

Apa sih picky eater itu sebenarnya ?

Picky eater sebenarnya adalah fase normal pada tahap awal perkembangan anak, tetapi kebiasaan memilih milih makanan jika dibiarkan terus menerus akan menjadi penolakan makanan atau enggan makan makanan tertentu (selective eater) ketika remaja dan dewasa.

 

sikap orang tua yang bagaimana sih yang salah dalam menghadapi anak picky eater?

Sebagai orang tua ketika menghadapi anak yang memilih milih makanan, tidak boleh dengan amarah, memasukkan makanan dengan paksa ke mulut anak, hal ini akan membuat anak trauma.

 

Apa Solusinya ?

Carilah faktor penyebab mengapa anak demikian, apa karena rasa, tekstur, pengaruh lingkungan, kepribadian anak dan paparan makanan lainnya.

 

Bagaimana Peran Orang tua menghadapi anak picky eater yang benar?

  1. Menyajikan makanan dalam porsi kecil agar tidak terlalu banyak atau enek, lebih baik nambah lagi jika kurang daripada membuang sisanya
  2. Berikan contoh teladan ke anak, anak biasanya melihat kebiasaan orang tua. Ketika seorang anak melihat orang tuanya tidak suka sayur dan buah maka ada kecenderungan anak untuk mencontoh kebiasaan orang tuanya
  3. Memberikan akses yang mudah ke anak untuk mengambil makanan, misalkan menaruh makanan di meja yang tidak tinggi dan terlihat
  4. Memberikan contoh makan yang menyenangkan, misalkan ketika makan dengan ekspresi senang (lahap) dan merasa menikmati makanan lezat. Bisa juga dengan memberikan contoh saudara atau  kakak yang sedang makan makanan yang sama
  5. Mengenalkan makanan baru harus sabar dan berkali-kali, jika terjadi penolakan harus terus dicoba
  6. Konsultasi ke dokter anak atau ahli gizi

Penutup

Itu dia, Sobat eRSIy, kunci menghadapi anak picky eater adalah sabar, jangan memaksa, dan beri contoh yang baik. Jika mengalami keluhan atau ingin berkonsultasi, jangan ragu untuk datang ke Poli Anak Rumah Sakit Islam Surabaya A Yani.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Tanda-Bahaya-kehamilan.jpeg
08/Dec/2025

Kehamilan adalah anugerah yang ditunggu oleh setiap pasangan suami istri, yang tentunya membawa harapan dan kebahagiaan. Namun, tidak semua kehamilan berjalan lancar. Beberapa kondisi tertentu bisa menjadi tanda bahaya yang perlu dikenali sejak dini.

Apa yang Dimaksud dengan Tanda Bahaya Kehamilan?

Tanda bahaya kehamilan adalah gejala atau kondisi yang menunjukkan adanya gangguan pada kehamilan yang bisa berisiko tinggi bagi keselamatan ibu dan bayi dalam kandungan.

Jenis Tanda Bahaya Kehamilan

1. Perdarahan dari Jalan Lahir

Perdarahan selama kehamilan, terutama dalam jumlah banyak atau disertai nyeri, bisa menjadi pertanda keguguran, plasenta previa (plasenta menutupi sebagian/seluruh jalan lahir), atau solusio plasenta (plasenta terlepas sebelum bayi lahir).

2. Nyeri Perut Hebat atau Kram Terus-Menerus

Nyeri hebat yang menetap di perut bagian bawah, jika disertai dengan perdarahan, risikonya menjadi lebih tinggi.

3. Gerakan Janin Berkurang atau Tidak Terasa

Janin mulai aktif bergerak di usia kehamilan 18–24 minggu. Jika ibu merasakan penurunan atau tidak ada gerakan janin sama sekali selama lebih dari 12 jam setelah usia kehamilan 24 minggu, segera periksakan diri.

4. Sakit Kepala Berat, Pandangan Kabur, dan Bengkak Parah

Gejala tersebut bisa menunjukkan preeklamsia, yaitu kondisi tekanan darah tinggi yang berbahaya pada kehamilan. Jika tidak ditangani, dapat berkembang menjadi eklamsia yang mengancam jiwa.

5. Demam Tinggi

Demam yang tidak kunjung reda bisa menandakan adanya infeksi yang berbahaya bagi ibu dan janin, termasuk infeksi saluran kemih atau infeksi sistemik lainnya.

6. Keluar Cairan dari Vagina Sebelum Waktunya

Jika cairan ketuban keluar sebelum waktu persalinan, ini bisa menjadi tanda ketuban pecah dini yang meningkatkan risiko infeksi dan kelahiran prematur.

7. Kejang atau Keadaan Tidak Sadar

Kejang selama kehamilan merupakan tanda bahaya serius, terutama jika berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Kondisi ini dapat menjadi pertanda eklamsia dan memerlukan penanganan segera.

8. Mual dan Muntah Berlebihan

Meski mual dan muntah umum terjadi di awal kehamilan, jika terjadi secara berlebihan hingga ibu tidak bisa makan atau minum sama sekali (hiperemesis gravidarum), maka perlu penanganan medis agar tidak terjadi dehidrasi dan gangguan elektrolit.

 

Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Tanda Bahaya?

Jika ibu mengalami satu atau lebih dari tanda di atas:

  • Jangan menunggu : segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.
  • Catat gejala dan waktunya : hal ini membantu tenaga medis memahami kondisi lebih cepat.
  • Bawa buku KIA atau catatan kehamilan : untuk memudahkan penanganan.

Setiap ibu hamil dan keluarga perlu memahami gejala-gejala yang mengindikasikan tanda bahaya kehamilan. Jangan ragu untuk periksakan kehamilan bunda secara rutin di Poli Kandungan Rumah Sakit Islam Surabaya A Yani.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Yuk-Ketahui-Manfaat-Sensory-Play-untuk-Anak.jpg
27/Nov/2025

Apa Itu Sensory Play?

Sensory play merupakan permainan atau aktivitas yang merangsang satu atau lebih indera anak, termasuk juga indera keseimbangan dan kesadaran tubuh.

 

Mengapa Kegiatan Sensory Play Penting untuk Anak?

  1. Sebagian besar perkembangan otak terjadi sebelum usia 3 tahun
  2. Sensory play memperkuat koneksi saraf, meningkatkan fungsi ngatan, fokus, regulasi emosi, dan membantu anak dalam pemecahan masalahnya
  3. Bermain sensory membantu otak memproses rangsangan pancaindra, sekaligus melatih motorik halus dan kasar

Contoh Aktivitas Sensory Play yang Bisa Diberikan kepada Anak

  • Bermain dengan adonan kue, slime, atau pasir, untuk mengajarkan anak beragam tekstur
  • Bermain dengan jenis kacang yang berbeda bentuk dan warna, untuk mengajarkan anak beragam warna dan bentuk
  • Membiarkan anak untuk makan sendiri, bermain tebak rasa, bentuk, atau warna buah, untuk mengenalkan bau, tekstur, warna, hingga rasa makanan
  • Bermain dengan menumpuk gelas plastik berwarna untuk mengajarkan anak tentang beragam warna
  • Bermain dengan alat musik atau benda yang bisa mengeluarkan suara ketika dipukul, misalnya panci, ember, atau baskom

Manfaat Utama Sensory Play

  1. Interaksi dengan berbagai media (warna, tekstur, rasa) memperluas kosakata dan kemampuan deskriptif saat anak dan orang tua berdiskusi .
  2. Aktivitas seperti mencubit, menuang, atau memindahkan benda memperkuat koordinasi tangan-mata, sedangkan bermain di luar (lompat, lari, naik sepeda) memperbaiki keseimbangan dan kekuatan otot besar
  3. Sensory play mendorong pemecahan masalah (misal, mengelompokkan bentuk/warna), meningkatkan ingatan, konsentrasi, dan kemampuan berpikir fleksibel

Bermain bersama teman atau orang tua mengasah empati, kerjasama, keterampilan regulasi emosi seperti kesabaran dan kepercayaan diri

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Cuci-Hidung-Anak-Aman-Gak-Ya.jpeg
12/Nov/2025

Cuci hidung atau irigasi nasal merupakan metode yang aman dan efektif untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan anak. Praktik ini direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sebagai bagian dari penanganan berbagai gangguan pernapasan.

Manfaat Cuci Hidung pada Anak

  1. Mengurangi Gejala Hidung Tersumbat
     Cuci hidung membantu membersihkan lendir, debu, dan alergen dari rongga hidung, sehingga mengurangi gejala hidung tersumbat akibat selesma, rinitis alergi, dan rhinosinusitis akut maupun kronik.
  2. Menurunkan Risiko Infeksi
     Dengan membersihkan rongga hidung secara rutin, cuci hidung dapat mencegah pertumbuhan bakteri dan virus penyebab infeksi saluran pernapasan atas.
  3. Mengurangi Penggunaan Obat-obatan
     Praktik ini dapat mengurangi kebutuhan akan obat-obatan seperti dekongestan dan antibiotik, karena membantu meredakan gejala secara alami.
  4. Meningkatkan Fungsi Mukosiliar
     Cuci hidung memperbaiki fungsi mukosiliar hidung, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan partikel asing, sehingga meningkatkan pertahanan terhadap infeksi.
  5. Membantu Penyaluran Obat
     Dalam beberapa kasus, cuci hidung dapat membantu dalam penyaluran obat ke dalam sinus, meningkatkan efektivitas pengobatan.

Cara Melakukan Cuci Hidung pada Anak

  • Persiapan: Gunakan larutan salin isotonik (NaCl 0,9%) yang steril. Siapkan alat seperti spuit atau alat semprot khusus cuci hidung.
  • Prosedur: Dengan anak dalam posisi duduk atau sedikit menunduk, semprotkan larutan ke salah satu lubang hidung dan biarkan cairan keluar melalui lubang hidung lainnya. Ulangi pada sisi yang berlawanan.
  • Frekuensi: Lakukan 1–2 kali sehari atau sesuai anjuran dokter, terutama saat anak mengalami gejala hidung tersumbat.

Kesimpulan

Cuci hidung adalah metode yang aman dan bermanfaat untuk anak dalam menjaga kesehatan saluran pernapasan. Dengan melakukan cuci hidung secara rutin, dapat membantu mengurangi gejala hidung tersumbat, menurunkan risiko infeksi, dan meningkatkan kualitas hidup anak. Konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan panduan yang sesuai dengan kondisi anak Anda

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Jangan-Sepelekan-Glaukoma-Kongenital-Bisa-Ganggu-Penglihatan-Si-Kecil-Sejak-Lahir.jpeg
27/Oct/2025

Tidak semua gangguan penglihatan muncul saat seseorang beranjak dewasa. Ada penyakit mata bawaan yang bisa menyerang bahkan sejak bayi lahir, salah satunya adalah glaukoma kongenital.

Kondisi ini memang jarang terjadi, tetapi dampaknya bisa sangat serius bila tidak segera ditangani mulai dari gangguan penglihatan hingga kebutaan permanen.

 

Apa Itu Glaukoma Kongenital?

Glaukoma kongenital adalah penyakit mata bawaan yang muncul sejak bayi lahir atau di awal masa kehidupannya.

Penyakit ini terjadi karena gangguan pada saluran pembuangan cairan mata (aqueous humor), sehingga tekanan di dalam bola mata meningkat. Tekanan tinggi inilah yang dapat merusak saraf optik, bagian penting yang mengirimkan sinyal visual ke otak.

Jika dibiarkan, peningkatan tekanan ini dapat menyebabkan penurunan penglihatan permanen bahkan kebutaan.

“Glaukoma kongenital bukan disebabkan oleh infeksi atau kesalahan perawatan orang tua. Ini murni akibat gangguan perkembangan saluran cairan mata,” jelas tim dokter muda dari FK UNUSA – RSI Surabaya dalam presentasinya.

 

Apa Penyebabnya?

Penyebab utama glaukoma kongenital adalah gangguan perkembangan pada sudut drainase mata (trabekular meshwork) saluran tempat cairan mata seharusnya keluar.

Beberapa kasus berkaitan dengan faktor genetik atau keturunan, meski sebagian besar penyebabnya belum diketahui secara pasti.

Hal penting untuk diketahui: penyakit ini tidak menular dan tidak disebabkan oleh kebersihan bayi atau tindakan orang tua.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda berikut pada bayi atau anak kecil:

  • Mata sering berair dan tampak sensitif terhadap cahaya (fotofobia).
  • Bayi sering menutup kelopak mata atau terlihat tidak nyaman.
  • Pandangan tidak fokus, bayi tidak mengikuti arah benda atau wajah orang.
  • Pada tahap lanjut bisa muncul:
    • Kornea tampak keruh atau membesar.
    • Mata merah dan terlihat lebih besar dari normal.

Jika satu atau lebih tanda tersebut muncul, segera periksakan anak ke dokter spesialis mata anak.

 

Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?

Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati menggunakan alat khusus untuk mengukur tekanan bola mata (tonometri) dan melihat struktur dalam mata.

Karena pasiennya masih bayi, pemeriksaan ini biasanya dilakukan dalam kondisi bius ringan agar anak tidak bergerak.

Deteksi dini sangat penting, semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar peluang penglihatan anak dapat diselamatkan.

 

Cara Mengobati Glaukoma Kongenital

Berbeda dengan glaukoma pada orang dewasa, penanganan utama pada glaukoma kongenital adalah operasi.

Beberapa prosedur yang biasa dilakukan meliputi:

  • Goniotomi dan trabekulotomi, yaitu operasi untuk memperbaiki saluran pembuangan cairan mata agar tekanan berkurang.
  • Obat tetes mata biasanya hanya digunakan sebagai terapi pendukung, bukan pengobatan utama.

Setelah operasi, anak perlu menjalani kontrol rutin untuk memantau hasil operasi dan mencegah tekanan bola mata naik kembali.

 

Peran Penting Orang Tua

Dukungan orang tua menjadi kunci keberhasilan perawatan glaukoma kongenital. Hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:

  • Waspada sejak dini terhadap tanda-tanda kelainan mata pada bayi.
  • Segera konsultasi ke dokter mata anak bila ada gejala mencurigakan.
  • Rutin kontrol setelah operasi sesuai jadwal.
  • Memberikan obat sesuai anjuran dokter, tidak menghentikan terapi tanpa izin.

 

Glaukoma kongenital memang penyakit yang serius, tetapi bukan tanpa harapan. Dengan deteksi dini, tindakan medis yang tepat, dan peran aktif orang tua, anak dapat memiliki penglihatan yang lebih baik di masa depan.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2026. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?