Saat musim hujan, tubuh akan lebih mudah terserang penyakit. Hal ini terjadi dikarenakan adanya perubahan suhu pada lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kita harus lebih bekerja keras untuk menjaga kesehatan. Ada beberapa penyakit yang mengintai saat musim hujan berlangsung. Penyakit yang perlu diwaspadai antara lain :
Tipes adalah infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thyphi atau Salmonella parathypi. Sama seperti kedua penyakit di atas, bakteri tersebut dapat ditemukan pada makanan atau minuman yang terkontaminasi. Orang yang terserang tipes biasanya akan mengalami demam tinggi, sakit kepala, hilang nafsu makan, kelelahan, dan sakit pada bagian perut. Dalam kasus tertentu, tipes juga menyebabkan ruam dan sembelit.
Penyakit yang satu ini merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Leptospira interrogans atau ‘penyakit kencing tikus’. Penyakit ini menular akibat kontak kulit dengan tanah, air, atau tanaman yang terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi. Selain tikus, hewan lain yang bisa menularkan leptospirosis adalah sapi, babi, anjing, reptil, dan hewan amfibi.
Diare merupakan penyakit yang menyebabkan mencairnya feses dan meningkatkan frekuensi buang air besar. Meski terkesan sepele, diare bakal menjadi masalah serius hingga menyebabkan dehidrasi akut. Penyakit yang satu ini kerap menimpa masyarakat di dataran rendah, khususnya mereka yang tinggal di kawasan rawan banjir. Musim hujan menyebabkan penurunan kualitas kebersihan, yang ujung-ujungnya meningkatkan perkembangan virus, bakteri, dan parasit. Bakteri yang hidup dalam keadaan basah lebih mudah menyebar dan menular kepada manusia. Untuk mengatasin diare, bisa mengonsumsi oralit atau minuman lain yang mengandung elektrolit.
Flu atau influenza adalah infeksi virus yang menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Penderita flu dapat mengalami demam, sakit kepala, pilek, hidung tersumbat, serta batuk.
ISPA atau biasa disebut infeksi saluran pernapasan merupakan penyakit saluran pernapasan yang mengakibatkan seseorang mengalami batuk, bersin-bersin, dan demam. ISPA juga menjadi penyakit musim penghujan yang banyak dialami orang.
Hepatitis A adalah peradangan pada organ hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A. Hepatitis A disebabkan oleh virus yang berasal dari makanan yang telah terkontaminasi. Beberapa gejala hepatitis A yang muncul di antaranya demam, linu pada persendian, kehilangan nafsu makan, pusing, dan perut tidak nyaman.
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yang terjadi di daerah tropis dan subtropis di dunia. Untuk demam berdarah ringan, maka ia akan menyebabkan demam tinggi dan gejala seperti flu. Sementara untuk demam berdarah yang parah, ia bisa menyebabkan pendarahan serius, penurunan tekanan darah secara tiba-tiba dan bahkan kematian.
Berdasarkan fenomena yang ada dari berbagai macam kendala permasalahan tingkat kecemasan pasien, yang mempengaruhi tingkat kecemasan yang ada terutama informasi yang tidak jelas dari tim medis tentang penyakitnya yang kurang diuraikan oleh perawat atau dokter terhadap pasien yang mempengaruhi terjadinya ketidak tahuan pasien dan mempengaruhi kecemasan pasien terhadap penyakit yang dideritanya. Hal ini memberikan perilaku caring perawat yang tidak baik seperti komunikasi yang tidak baik, kasar, perawat yang tidak sigap dalam memberikan pengobatan pada pasien, tidak empati, lambat dalam bertindak sehingga 8 terkesan kurang professional. Dan masih banyak lagi contoh prilaku perawat dalam memberikan pelayanan pada pasien yang jauh dari apa yang diinginkan pasien. Dari beberapa situasi yang ditemui pasien pertama kali datang ke Rumah Sakit bisa memunculkan reaksi emosional dalam diri pasien. Reaksi emosional akan timbul oleh beberapa keadaan yang dilami pasien seperti kemarahan, berduka, harapan, cinta, depresi, tidak berdaya, kesepian atau kesetiaan. Salah satu reaksi emosional yang sering dialami pasien di Rumah Sakit yaitu kecemasan dengan berbagai tingkatan kecemasan yang berbeda dari setiap reaksi kecemasan yang dialami pasien. Kecemasan merupakan suatu perasaan yang tidak tereskpresikan dan tidak terarah karena suatu sumber ancaman atau pikiran yang tidak jelas dan tidak terindentifikasi. 9 Lebih dari dua pertiga pasien di Rumah Sakit yang memiliki gejala kecemasan dan depresi selam hari-hari pertama perawatan dan dapat berubah seiring dengan kondisi pasien selama perawatan. Kecemasan juga timbul sebagai akibat hasil perawatan yang tidak pasti, gejolak emosi, masalah keuangan, perubahan peran, gangguan rutinitas dan lingkungan rumah sakit yang asing. Salah satu penyebab kecemasan pasien adalah prilaku caring perawat yang kurang baik. Disini peneliti akan focus pada prilaku caring perawat yang diharapkan bisa menurunkan tingkat kecemasan pasien..Ketidak tahuan perawat tentang perilaku caring yang benar dapat berpengaruh terhadap motivasi perawat dalam menerapkan perilaku caring. Prilaku terbuka overt behavior seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dan caring kepada pasien dapat menumbuhkan rasa percaya yang tinggi pasien 10 demi kesembuhannya dalam perawatan diruang rawat inap. Tenaga keperawatan sebagai pemberi pelayanan di rumah sakit, mempunyai daya ungkit yang besar dalam pelayanan keperawatan, karena didukung oleh proporsi tenaga terbesar dibandingkan dengan tenaga kesehatan lain. Tenaga keperawatan sebagai tenaga profesional memiliki kontribusi besar terhadap pelayanan prima yang diharapkan pasien di rumah sakit, karena perawat bertugas 24 jam setiap harinya dalam memantau perkembangan pasien. Perawat adalah orang yang paling dekat dengan pasien, yang tahu kondisi dan masalah yang dihadapi pasien, serta yang dapat menilai respon pasien secara terus.
Perilaku caring harus ditanamkan dan menjadi budaya yang melekat disetiap diri perawat, karena caring merupakan inti dalam praktek keperawatan. Setiap tindakan atau asuhan yang diberikan oleh perawat bukan hanya sekedar orientasi pada tugas semata (terselesaikannya pekerjaan), tetapi pada pemuasan kebutuhan pasien. Pemahaman perawat tentang perilaku caring perlu ditingkatkan, agar perawat dapat menerapkan perilaku caring tersebut pada pasien. Peningkatan pemahaman perawat tentang perilaku caring, salah satunya dapat melalui pelatihan. Pelatihan adalah metode terorganisasi yang memastikan bahwa seseorang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan untuk tujuan khusus yaitu mereka mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas kerja. Asuhan keperawatan tergambar pada sepuluh faktor carative yang digunakan oleh perawat dalam pemberian pelayanan 65 keperawatan pada klien (Watson, 1987). Dari salah satu atau beberapa sepuluh factor. Struktur ilmu caring dibangun dari sepuluh faktor karatif yang dikenal dengan Watson’s Ten Carative Factors yang meliputi:










Menurut Mcdaniel dalam Watson (2012), perilaku caring mempunyai tiga hal yang tidak dapat dipisahkan yaitu perhatian, tanggung jawab, dan dilakukan dengan iklas. Sikap caring juga akan meningkatkan kepercayaan klien terhadap perawat dan mengurangi kecemasan klien. Kedua hal tersebut dapat memperkuat mekanisme koping klien s e h i n g g a m e m a k s i m a l k a n p r o s e s penyembuhaan. Kunci dari kualitas pelayanan asuhan keperawatan adalah perhatian, empati dan kepedulian perawat. Aktifitas yang Menunjukkan Caring Perawattor caratif diharapkan dapat mengidentifikasi tingkat kecemasan pasien dirawat inap. Peran perawat dalam meningkatkan hubungan antara perawatklien yang lebih efektif dalam meningkatkan kesehatan dan menolong klien beradaptasi dengan keadaan sehat sakit. Faktor ini merupakan gabungan dari nilai humanisticaltruistik dalam memfasilitasi promosi kesehatan melalui pemberian asuhan keperawatan secara holistik. Perawat harus mampu menjalin hubungan yang baik dengan klien, memperoleh informasi klien yang dibutuhkan selama merawat klien, dan perawat harus mampu mendorong klien untuk menemukan harapan.
oleh SULISTYORINI, S.Kep.,Ns

