INFO UNTUK ANDA

Jerawat-Masalah-Kulit-Sejuta-Umat-yang-Tak-Boleh-Diremehkan.jpg
17/Oct/2025

Jerawat atau acne vulgaris bukan sekadar gangguan kecil di wajah. Kondisi ini merupakan peradangan kulit akibat produksi minyak (sebum) berlebih dari kelenjar sebaceous yang bercampur dengan sel kulit mati dan bakteri, menyumbat pori-pori, lalu menimbulkan benjolan meradang.

Meski umum terjadi terutama pada remaja, jerawat bisa memengaruhi kepercayaan diri bahkan meninggalkan bekas permanen bila tidak ditangani dengan benar.

 

Faktor Pemicu Jerawat

Penyebab pasti jerawat memang belum diketahui, namun ada sejumlah faktor yang berperan besar dalam kemunculannya:

  • Hormon — Perubahan hormon, terutama saat pubertas, menstruasi, atau stres, dapat meningkatkan produksi minyak.
  • Faktor keturunan — Bila orang tua memiliki riwayat jerawat, risiko anak mengalaminya juga lebih tinggi.
  • Stres — Tekanan emosional dapat memperparah peradangan kulit.
  • Bakteri — Infeksi Propionibacterium acnes bisa memicu jerawat bernanah.
  • Kosmetik komedogenik — Produk perawatan wajah yang menyumbat pori.
  • Pola makan dan lingkungan — Konsumsi tinggi lemak, gula, serta paparan udara panas atau polusi dapat memperburuk kondisi kulit.

 

Jenis-Jenis Jerawat

Jerawat muncul dalam berbagai bentuk, tergantung tingkat keparahan peradangan:

  • Komedo – Pori tersumbat yang bisa berupa komedo hitam (blackhead) atau putih (whitehead).
  • Papul – Benjolan merah kecil yang terasa nyeri saat disentuh.
  • Pustul – Jerawat berisi nanah berwarna putih atau kekuningan.
  • Nodul dan kista – Benjolan besar, keras, dan dalam yang bisa meninggalkan bekas permanen.

 

Risiko dan Dampak Jerawat

Selain mengganggu penampilan, jerawat juga dapat menimbulkan:

  • Bekas luka dan bopeng yang sulit hilang
  • Infeksi kulit bila sering dipencet
  • Gangguan psikologis seperti minder atau depresi

 

Cara Mengatasi dan Merawat Kulit Berjerawat

Perawatan jerawat memerlukan konsistensi dan kesabaran. Beberapa langkah sederhana bisa membantu:

  • Bersihkan wajah dua hingga tiga kali sehari dengan sabun lembut
  • Hindari kebiasaan memencet jerawat
  • Gunakan produk perawatan sesuai jenis kulit
  • Pilih kosmetik non-komedogenik
  • Konsumsi makanan sehat dan perbanyak air putih
  • Kelola stres dengan baik

Bila jerawat tak kunjung membaik atau justru makin parah, segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit. Dokter dapat menentukan derajat keparahan jerawat ringan, sedang, atau berat dan memberikan terapi sesuai kebutuhan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri jika:

  • Jerawat meradang parah dan menyebar luas
  • Muncul kista besar atau bernanah
  • Terjadi nyeri dan bengkak berlebihan
  • Bekas jerawat mulai menghitam atau meninggalkan jaringan parut

 

Jerawat bisa menyerang siapa saja, tapi kabar baiknya bisa dikendalikan dengan perawatan yang tepat. Jadi, jangan sepelekan jerawat, dan jangan tergoda untuk memencetnya. Kulit sehat bukan hanya soal penampilan, tapi juga cerminan gaya hidup yang baik.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


waspadai-flu-singapore.jpeg
13/Oct/2025

Penyakit tangan, kaki, dan mulut atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) yang sering disebut Flu Singapore menjadi salah satu penyakit yang umum menyerang anak-anak, terutama usia di bawah lima tahun. Meski terlihat ringan, penyakit ini sangat mudah menular dan bisa menimbulkan komplikasi bila tidak ditangani dengan baik.

 

Penyebab dan Cara Penularan

HFMD disebabkan oleh virus enterovirus nonpolio, terutama Coxsackievirus A16 dan Enterovirus 71. Virus ini dapat menyebar dengan cepat melalui kontak langsung dengan air liur, ingus, feses, atau cairan dari lepuhan penderita.
Selain itu, penularan juga bisa terjadi lewat permukaan benda yang terkontaminasi atau droplet dari batuk dan bersin. Bahkan setelah sembuh, virus masih bisa menular lewat feses selama beberapa minggu.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala awal HFMD sering kali mirip flu biasa, seperti:

  • Demam ringan hingga sedang
  • Sakit tenggorokan dan hilang nafsu makan
  • Sariawan atau luka di dalam mulut
  • Ruam dan lepuhan merah di telapak tangan, kaki, atau bokong
  • Anak menjadi rewel dan mudah menangis

Biasanya, penyakit ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 7–10 hari, namun tetap perlu pemantauan agar tidak timbul dehidrasi akibat sulit makan dan minum.

 

Siapa yang Paling Rentan?

Anak-anak usia di bawah 5 tahun paling sering terinfeksi, terutama yang beraktivitas di lingkungan padat seperti daycare atau taman kanak-kanak. Anak dengan daya tahan tubuh rendah juga memiliki risiko lebih tinggi.

 

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Meskipun sebagian besar kasus ringan, HFMD dapat menyebabkan:

  • Dehidrasi
  • Infeksi sekunder pada luka
  • Radang otak (ensefalitis) atau meningitis virus, meski jarang terjadi

Pencegahan HFMD

Menjaga kebersihan adalah langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran virus ini:

  1. Cuci tangan dengan sabun secara rutin.
  2. Gunakan hand sanitizer jika air tidak tersedia.
  3. Bersihkan mainan dan benda yang sering disentuh anak.
  4. Jauhkan anak yang sakit dari keramaian selama masa menular (5–7 hari).
  5. Ajarkan etika batuk dan bersin yang benar.

Selain itu, vaksin EV71 kini telah tersedia di beberapa negara, termasuk Indonesia, dan terbukti aman serta efektif dalam mencegah kasus berat HFMD.

 

Fakta Penting yang Perlu Diketahui

  • HFMD bisa terjadi lebih dari sekali, karena disebabkan oleh berbagai jenis virus.
  • Penyakit ini dapat menular lewat toilet umum jika kebersihannya tidak terjaga.

 

Flu Singapore bukan penyakit berbahaya bila ditangani dengan cepat dan tepat. Namun, karena tingkat penularannya tinggi, pencegahan menjadi kunci utama.
Jika anak mengalami gejala seperti sariawan, ruam, atau demam, segera periksakan ke dokter agar mendapat diagnosis dan penanganan yang sesuai.

Menjaga kebersihan dan membiasakan perilaku hidup sehat bukan hanya mencegah HFMD, tapi juga membantu melindungi anak dari berbagai penyakit menular lainnya.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mengenal-Peran-Pentingnya-Insulin-Bagi-Penderita-Diabets.jpeg
11/Oct/2025

Bagi sebagian orang, terutama penyandang diabetes, istilah insulin mungkin sudah tak asing lagi. Namun, tak sedikit pula yang belum memahami betapa pentingnya peran insulin dalam menjaga kadar gula darah tetap normal. Padahal, pengelolaan diabetes tidak hanya bergantung pada pola makan dan gaya hidup, tetapi juga pada keseimbangan insulin di dalam tubuh.

 

Apa Itu Insulin?

Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berfungsi membantu tubuh memanfaatkan glukosa (gula darah) sebagai sumber energi. Ketika insulin tidak diproduksi dengan cukup atau tubuh tidak mampu meresponsnya dengan baik, kadar gula dalam darah akan meningkat. Kondisi inilah yang menjadi ciri utama diabetes mellitus.

Terdapat tiga jenis diabetes yang umum terjadi, yaitu:

  • Diabetes tipe 1, ketika tubuh sama sekali tidak memproduksi insulin sehingga pasien harus mendapat suntikan insulin seumur hidup.
  • Diabetes tipe 2, di mana tubuh masih menghasilkan insulin namun tidak bekerja secara optimal.
  • Diabetes gestasional, yaitu diabetes yang muncul saat kehamilan.

 

Mengapa Insulin Diperlukan?

Terapi insulin menjadi pilihan utama ketika kadar gula darah tidak bisa dikontrol dengan obat minum atau perubahan gaya hidup. Tujuannya adalah menurunkan kadar gula darah dan mencegah komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan ginjal, saraf, atau mata.

Pada banyak kasus, penggunaan insulin juga membantu tubuh kembali seimbang dan mencegah kelelahan pankreas akibat produksi insulin yang berlebihan.

 

Jenis-jenis Insulin

Insulin dibedakan berdasarkan kecepatan dan lamanya bekerja di dalam tubuh, antara lain:

  • Insulin kerja cepat (rapid-acting): mulai bekerja dalam 5–15 menit, cocok digunakan sebelum makan.
  • Insulin kerja panjang (long-acting): bekerja perlahan hingga 24 jam, menjaga kadar gula darah tetap stabil.
  • Insulin campuran (premix): kombinasi kerja cepat dan menengah, menjaga kestabilan sepanjang hari.

Dokter akan menyesuaikan jenis dan dosis insulin berdasarkan kebutuhan serta kondisi masing-masing pasien.

 

Cara Menggunakan Insulin Pen

penggunaan insulin pen dapat dikatakan mudah dan nyaman, terutama bagi pasien yang harus menyuntik setiap hari.
Langkah penggunaannya meliputi:

  1. Memeriksa kondisi insulin (tidak boleh keruh atau menggumpal).
  2. Memasang jarum baru dan mengatur dosis sesuai anjuran dokter.
  3. Menyuntik di area perut, paha, atau lengan bagian luar.
  4. Mengganti lokasi suntikan secara bergantian untuk mencegah penebalan kulit.

 

Efek Samping dan Cara Mengatasinya

Meski aman digunakan, insulin dapat menimbulkan efek samping ringan seperti:

  • Hipoglikemia, yaitu kadar gula darah yang terlalu rendah.
  • Lipodistrofi, perubahan jaringan lemak di bawah kulit akibat suntikan berulang di tempat yang sama.

Jika gejala hipoglikemia muncul seperti pusing, gemetar, atau keringat dingin segera konsumsi makanan atau minuman manis, lalu periksa kadar gula darah.

 

Penyimpanan Insulin yang Benar

Agar kualitasnya tetap terjaga, insulin perlu disimpan dengan cara yang tepat:

  • Insulin yang belum digunakan disimpan di lemari pendingin (2–8°C).
  • Insulin yang sudah digunakan dapat disimpan di suhu ruang (<30°C) dan sebaiknya habis dalam 28 hari.

Hindari menyimpan insulin di tempat panas atau terkena sinar matahari langsung.

 

Hidup Sehat Bersama Insulin

Penggunaan insulin hanyalah salah satu bagian dari pengelolaan diabetes. Gaya hidup sehat tetap menjadi kunci utama agar kadar gula darah stabil.
Penderita diabetes disarankan untuk:

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan rendah gula.
  • Rutin berolahraga minimal 30 menit per hari.
  • Memantau kadar gula darah secara berkala.
  • Menjaga berat badan ideal dan mengelola stres dengan baik.

 

Insulin bukan berarti tanda kelemahan, tetapi justru bentuk kendali diri untuk hidup lebih sehat. Dengan pemahaman yang benar dan disiplin menjalani terapi, penderita diabetes tetap bisa beraktivitas normal, produktif, dan menikmati hidup dengan penuh energi.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


HEPATITIS.jpg
07/Oct/2025

Hepatitis adalah peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, konsumsi alkohol berlebihan, obat-obatan tertentu, atau gangguan autoimun. Penyakit ini memiliki berbagai jenis, masing-masing dengan karakteristik, penyebab, dan tingkat keparahan yang berbeda.

Jenis-Jenis Hepatitis

1. Hepatitis A (HAV)

  • Penyebab: Virus hepatitis A.
  • Penularan: Melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi feses penderita.
  • Gejala: Demam, mual, muntah, nyeri perut, dan penyakit kuning.
  • Keparahan: Mayoritas ringan dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus.

2. Hepatitis B (HBV)

  • Penyebab: Virus hepatitis B.
  • Penularan: Melalui darah, cairan tubuh, hubungan seksual, dan dari ibu ke bayi saat persalinan.
  • Gejala: Sering tanpa gejala awal; dapat berkembang menjadi penyakit kuning, kelelahan, dan nyeri sendi.
  • Keparahan: Dapat menjadi kronis, menyebabkan sirosis, dan meningkatkan risiko kanker hati.

3. Hepatitis C (HCV)

  • Penyebab: Virus hepatitis C.
  • Penularan: Kontak dengan darah yang terinfeksi, seperti melalui transfusi darah atau penggunaan jarum suntik bersama.
  • Gejala: Sering tanpa gejala; jika kronis, dapat menyebabkan kerusakan hati serius.
  • Keparahan: Sering menjadi kronis dan merupakan penyebab utama sirosis dan kanker hati.

4. Hepatitis D (HDV)

  • Penyebab: Virus hepatitis D.
  • Penularan: Hanya terjadi pada individu yang sudah terinfeksi hepatitis B.
  • Gejala: Mirip dengan hepatitis B, tetapi lebih parah.
  • Keparahan: Dapat memperburuk kondisi hepatitis B dan meningkatkan risiko komplikasi hati.

5. Hepatitis E (HEV)

  • Penyebab: Virus hepatitis E.
  • Penularan: Melalui konsumsi air yang terkontaminasi feses penderita.
  • Gejala: Demam, mual, muntah, dan penyakit kuning.
  • Keparahan: Biasanya ringan, tetapi dapat berbahaya bagi ibu hamil.

Pencegahan dan Pengobatan

  • Vaksinasi: Tersedia untuk hepatitis A dan B.
  • Higiene: Menjaga kebersihan makanan dan minuman untuk mencegah hepatitis A dan E.
  • Penggunaan Jarum Suntik: Menghindari penggunaan jarum suntik bersama untuk mencegah hepatitis B dan C.
  • Pengobatan: Tergantung pada jenis hepatitis; beberapa memerlukan pengobatan antivirus atau transplantasi hati.

Memahami perbedaan jenis-jenis hepatitis penting untuk pencegahan dan penanganan yang tepat. Jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan atau memiliki faktor risiko, konsultasikan dengan tenaga medis untuk pemeriksaan lebih lanjut

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Kerap-Menimbulkan-Perdebatan-Sebenarnya-Kapan-Waktu-Paling-Tepat-untuk-Tummy-Time.jpeg
02/Oct/2025

Tummy Time atau latihan tengkurap pada bayi sering kali menjadi perdebatan di kalangan orang tua, terutama mengenai kapan waktu yang tepat untuk memulainya. Namun, berdasarkan rekomendasi dari berbagai sumber medis terpercaya, tummy time sebaiknya dimulai sejak dini dan dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan bayi.

Apa Itu Tummy Time?

Tummy time adalah aktivitas menempatkan bayi dalam posisi tengkurap saat ia terjaga dan diawasi. Tujuannya adalah untuk memperkuat otot leher, bahu, lengan, dan punggung, serta mencegah kondisi kepala datar (plagiocephaly) akibat terlalu lama dalam posisi telentang. Aktivitas ini juga membantu perkembangan motorik kasar bayi, seperti kemampuan untuk berguling, duduk, merangkak, dan berjalan.

 

Kapan Waktu yang Tepat untuk Memulai Tummy Time?

Menurut American Academy of Pediatrics, tummy time dapat dimulai beberapa hari setelah bayi lahir, bahkan saat usia 2 minggu, asalkan bayi dalam kondisi sehat dan diawasi dengan baik.

Untuk bayi yang lahir prematur atau memiliki kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum memulai tummy time.

 

Durasi Tummy Time Sesuai Usia

Durasi tummy time sebaiknya ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan usia dan toleransi bayi. Berikut adalah panduan umum :

  • Usia 0–1 bulan: 2–3 menit per sesi, 2–3 kali sehari.
  • Usia 2–3 bulan: 20–30 menit per hari, dibagi dalam beberapa sesi.
  • Usia 4–6 bulan: 1–2 jam per hari, dibagi dalam beberapa sesi.
  • Usia >6 bulan: Lebih dari 2 jam per hari, tergantung kenyamanan bayi.

Durasi ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kenyamanan serta kesiapan bayi.

 

Tips Melakukan Tummy Time

Agar tummy time menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat bagi bayi, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan:

  1. Pilih Waktu yang Tepat: Lakukan tummy time saat bayi dalam kondisi terjaga dan tenang, seperti setelah bangun tidur atau mengganti popok. Hindari melakukannya setelah menyusui untuk mencegah risiko muntah.
  2. Gunakan Alas yang Nyaman: Letakkan bayi di atas permukaan datar yang aman dan nyaman, seperti matras atau selimut tebal.
  3. Pendekatan Bertahap: Mulailah dengan durasi singkat dan tingkatkan secara bertahap sesuai dengan toleransi bayi.
  4. Interaksi Positif: Ajak bayi berbicara, bernyanyi, atau gunakan mainan berwarna cerah untuk menarik perhatiannya selama tummy time.
  5. Gunakan Cermin: Meletakkan cermin di depan bayi dapat merangsang minatnya dan mendorongnya untuk mengangkat kepala.
  6. Pengawasan Ketat: Selalu awasi bayi selama tummy time dan jangan biarkan ia tertidur dalam posisi tengkurap untuk menghindari risiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).

Kesimpulan

Tummy time merupakan aktivitas penting yang mendukung perkembangan motorik dan fisik bayi. Memulainya sejak dini, dengan durasi dan frekuensi yang sesuai, dapat memberikan manfaat optimal bagi tumbuh kembang Si Kecil. Namun, selalu perhatikan kenyamanan dan respons bayi, serta konsultasikan dengan dokter jika terdapat kekhawatiran atau kondisi kesehatan khusus.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Kenali-Ikterus-Neonatorum-Penyakit-Kuning-pada-Bayi-Baru-Lahir.jpeg
27/Sep/2025

Sobat eRSIy, pernahkah melihat bayi baru lahir yang kulitnya tampak kuning? Kondisi ini dikenal dengan istilah ikterus neonatorum atau penyakit kuning pada bayi. Ikterus neonatorum atau kondisi bayi kuning adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan perubahan warna kuning pada kulit atau bagian putih mata akibat penumpukan bilirubin (zat berwarna kuning) dalam darah. Secara klinis, warna kuning ini mulai terlihat di area wajah ketika kadar bilirubin mencapai 5–7 mg/dL.

Walaupun umumnya merupakan kondisi yang normal dan dapat membaik dengan sendirinya, orang tua tetap perlu memahami penyebab bayi kuning agar dapat memberikan perawatan yang sesuai. Beberapa penyebab umum ikterus neonatorum antara lain:

  • Ikterus fisiologis: Jenis yang paling sering terjadi, biasanya muncul pada hari ke-2 hingga ke-4 setelah lahir dan hilang dalam 1–2 minggu.
  • Ikterus akibat ASI: Bisa disebabkan oleh faktor dalam ASI (ikterus ASI) atau karena bayi tidak cukup menyusu.
  • Inkompatibilitas golongan darah: Jika golongan darah ibu dan bayi berbeda, bisa terjadi pemecahan sel darah merah yang berlebihan.
  • Infeksi atau gangguan hati: Pada kasus tertentu, ikterus bisa menjadi tanda adanya infeksi, kelainan hati, atau penyakit metabolik.
  • Kelahiran Prematur: Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu lebih berisiko mengalami kuning karena fungsi hati mereka belum sepenuhnya matang. Selain itu, sel darah merah pada bayi prematur cenderung lebih mudah pecah, sehingga produksi bilirubin menjadi lebih tinggi.

Bayi yang mengalami kuning umumnya tidak membutuhkan pengobatan khusus dan kondisi ini biasanya akan membaik dalam waktu 10 hingga 14 hari. Namun, jika pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar bilirubin dalam darah terlalu tinggi, maka perawatan medis perlu segera diberikan.

Beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kuning pada bayi antara lain:

  1. Memberikan ASI atau susu secara rutin, minimal 8–12 kali dalam sehari untuk membantu proses pengeluaran bilirubin.
  2. Fototerapi (filtered sunlight), yaitu terapi menggunakan cahaya khusus berwarna biru yang disinarkan ke tubuh bayi, baik melalui lampu maupun selimut khusus.
  3. Transfusi tukar, yaitu prosedur medis untuk mengganti darah bayi dengan darah donor yang memiliki kadar bilirubin normal.

Meski dalam beberapa kasus paparan sinar matahari dapat membantu mengurangi gejala kuning, menjemur bayi di pagi hari sebenarnya kurang efektif dalam menurunkan kadar bilirubin. Selain itu, bayi usia 0–6 bulan yang terkena sinar matahari langsung tanpa pelindung berisiko mengalami iritasi atau luka bakar pada kulit. Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk memantau kondisi kuning pada bayi dua kali sehari, terutama dengan melihat perubahan warna pada putih mata dan kulit, guna memastikan apakah kondisinya membaik atau justru semakin parah.

Kondisi Bayi yang Memerlukan Pemeriksaan Dokter Segera:

  1. Warna kuning pada kulit bayi tampak semakin intens atau menyebar luas.
  2. Bayi tampak lemah, tidak mengalami pertambahan berat badan, atau menolak untuk menyusu.
  3. Bayi menangis dengan suara yang nyaring, melengking, dan tidak biasa.
  4. Gejala kuning tidak menghilang setelah lebih dari tiga minggu sejak kelahiran.

 

 

Sobat eRSIy dapat berkonsultasi di Poli Anak RSI Surabaya A Yani apabila buah hati mengalami gejala seperti di atas.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
082133222246 / 47 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Kulit-Mengeras-dan-Terasa-ketat-ini-bisa-jadi-tanda-scleroderma-kulit.jpeg
24/Sep/2025

Sobat eRSIy, kulit yang terasa kencang dan mengeras bisa menjadi tanda scleroderma, penyakit langka yang mempengaruhi kualitas hidup. Skleroderma terjadi ketika sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melawan infeksi, malah menyerang jaringan ikat. Hal ini menyebabkan sel-sel dalam jaringan ikat menghasilkan kolagen secara berlebihan. Kolagen adalah protein penting yang membentuk struktur jaringan ikat.

Scleroderma diduga dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, seperti masalah pada sistem kekebalan tubuh, faktor genetik, dan faktor lingkungan. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya scleroderma antara lain:

  • Jenis kelamin wanita
  • Usia antara 35–55 tahun
  • Memiliki riwayat keluarga dengan scleroderma atau penyakit autoimun lainnya
  • Mengalami kondisi autoimun lain, seperti lupus atau sindrom Sjögren (penyakit autoimun yang memengaruhi kelenjar air mata dan saliva)
  • Sedang menjalani kemoterapi
  • Terpapar senyawa kimia berbahaya dalam jangka panjang

Gejala pertama muncul pada kulit, yang ditandai dengan pengerasan dan penebalan kulit, terutama di area mulut, hidung, jari, dan kulit yang melapisi tulang. Seiring perkembangan penyakit, gejala lainnya yang dapat muncul antara lain:

  • Rambut rontok
  • Deposit kalsium di bawah kulit yang muncul sebagai benjolan putih
  • Pembuluh darah membesar di bawah permukaan kulit
  • Nyeri sendi
  • Sesak napas dan batuk kering
  • Gangguan pencernaan, seperti diare, konstipasi, dan kesulitan menelan
  • Refluks esophagus (asam lambung naik ke kerongkongan)

Gejala khas lainnya adalah spasme pembuluh darah di jari tangan dan kaki, yang menyebabkan perubahan warna menjadi putih dan pucat, terutama saat stres atau terpapar udara dingin.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan scleroderma sepenuhnya. Namun, penderita dapat melakukan perawatan untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Beberapa metode penanganan untuk skleroderma antara lain:

  • Perawatan kulit: Krim dan pelembab untuk mencegah kulit kering.
  • Terapi fisik (fisioterapi): Membantu mengembalikan fungsi gerak anggota tubuh.
  • Fototerapi: Terapi cahaya UV untuk mengobati kondisi kulit.
  • Transplantasi sel punca: Mengganti sel darah yang rusak dengan sel donor yang sehat.
  • Gaya hidup sehat: Olahraga rutin, Menghindari angkat beban berat, Menggunakan pelembab kulit,Tidur cukup, Makan makanan sehat dan bergizi seimbang, Menghindari makanan yang dapat memicu asam lambung naik

Scleroderma adalah kondisi jangka panjang yang memerlukan penanganan karena berpotensi menyebabkan komplikasi serius. Penderita perlu mengelola gejalanya untuk waktu yang lama, bahkan mungkin sepanjang hidup.

Oleh karena itu sobat eRSIy apabila mengalami gejala scleroderma segera konsultasikan ke Poli Penyakit Dalam Sub Spesialis Alergi dan Imunologi RSI Surabaya A Yani

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
082133222246 / 47 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Sulit-Mengontrol-Gerakan-Tubuh-Kenali-Lebih-Dekat-Penyakit-Huntington.jpeg
22/Sep/2025

Sobat eRSIy, pernah merasa tubuh bergerak tanpa kendali atau suasana hati berubah tiba-tiba? Bisa jadi itu gejala penyakit Huntington. Penyakit Huntington merupakan kelainan genetik yang mengakibatkan kerusakan pada sel-sel saraf di otak. Kondisi ini berdampak pada kemampuan gerak, fungsi kognitif, serta emosi penderitanya. Penyakit ini diturunkan secara autosomal dominan, artinya cukup satu salinan gen yang bermutasi untuk menyebabkan seseorang mengembangkan gangguan ini.

 

Penyebab

Penyakit Huntington disebabkan oleh kelainan pada gen yang berperan dalam produksi protein di otak. Kondisi ini diwariskan dari orang tua yang memiliki riwayat penyakit Huntington. Berbeda dari kebanyakan kelainan genetik yang membutuhkan gen cacat dari kedua orang tua, penyakit Huntington bisa diwariskan meskipun hanya satu orang tua yang membawa gen tersebut. Dengan demikian, anak yang memiliki salah satu atau kedua orang tua penderita penyakit Huntington memiliki kemungkinan sekitar 50% untuk mengalami penyakit ini.

 

Walaupun penyakit Huntington adalah kelainan genetik, gejalanya biasanya tidak langsung tampak sejak lahir. Kebanyakan kasus menunjukkan gejala saat penderita memasuki usia 30 tahun ke atas. Karena penyakit ini menimbulkan kerusakan pada otak, tanda-tanda yang muncul bisa beragam, seperti:

  • Gangguan memori dan kesulitan dalam mengambil keputusan
  • Masalah keseimbangan serta gerakan tubuh yang tidak terkendali
  • Kesulitan berbicara dan menelan
  • Perubahan kepribadian, depresi, serta rasa cemas yang berlebihan

Penyakit Huntington bersifat progresif, yang berarti kerusakan otak akan semakin meluas seiring waktu. Dalam jangka panjang, penderita biasanya memerlukan bantuan penuh untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Pada tahap lanjut, penderita lebih sering terbaring di tempat tidur, mengalami kesulitan menelan, mengalami penurunan berat badan drastis, malnutrisi, dan berisiko tinggi untuk tersedak.

Metode penanganan penyakit Huntington yang bisa dilakukan oleh dokter meliputi:

  • Penggunaan obat-obatan untuk mengurangi gangguan gerak, seperti obat untuk mengendalikan gerakan tak terkendali (chorea) dan meningkatkan kenyamanan pasien.
  • Psikoterapi dapat membantu pasien penyakit Huntington yang kesulitan mengontrol emosi. Terapi ini mengajarkan cara mengelola emosi dan berpikir lebih positif.
  • Terapi Fisik Pasien akan disarankan menjalani terapi fisik untuk meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan tubuh, sehingga bisa bergerak lebih aktif dan mengurangi risiko cedera.
  • Terapi Okupasi membantu pasien belajar melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri dengan bantuan alat khusus, seperti alat makan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika:

  • Mengalami gejala yang mirip dengan penyakit Huntington d
  • Memiliki orang tua yang menderita penyakit Huntington, dan
  • Memiliki riwayat keluarga penyakit Huntington dan sedang merencanakan kehamilan.

Apabila sobat eRSIy ingin berkonsultasi mengenai penyakit huntington, konsultasikan dengan Poli Saraf RSI Surabaya A Yani, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
082133222246 / 47 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Nyeri-Siku-yang-Mengganggu-Aktivitas-Sehari-hari-Waspadai-Tennis-Elbow.jpg
17/Sep/2025

Sobat eRSIy, nyeri pada siku yang tak kunjung hilang bisa menjadi tanda adanya tennis elbow, sebuah kondisi yang sering terabaikan namun bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Tennis elbow adalah kondisi medis yang menyebabkan rasa sakit pada bagian luar siku, terutama di tendon yang menghubungkan otot ke tulang. Kondisi ini, yang dikenal sebagai lateral epicondylitis, biasanya terjadi akibat penggunaan siku yang berlebihan, menyebabkan ketegangan, peradangan, dan robekan pada tendon.

Penggunaan berlebihan ini dapat merusak atau menyebabkan peradangan pada tendon, yang berujung pada rasa sakit dan ketidaknyamanan. beberapa faktor risikonya antara lain:

  1. Melakukan olahraga tertentu: Olahraga yang melibatkan gerakan berulang pada siku dan lengan atas, seperti tenis atau bulu tangkis.
  2. Melakukan pekerjaan tertentu: Pekerjaan yang melibatkan gerakan berulang pada siku dan lengan atas, seperti pekerjaan mekanik atau konstruksi, dapat meningkatkan risiko terjadinya tennis elbow.
  3. Faktor usia: Risiko terkena tennis elbow meningkat seiring bertambahnya usia, karena tendon dan otot menjadi lebih rentan terhadap kerusakan seiring waktu.

Penderita tennis elbow umumnya merasakan gejala nyeri di bagian luar siku yang dapat menjalar ke lengan bawah hingga pergelangan tangan. Rasa nyeri ini biasanya dimulai ringan dan bisa memburuk seiring waktu, berlangsung antara 6 bulan hingga 2 tahun. Nyeri tersebut sering muncul saat melakukan aktivitas seperti:

  • Nyeri yang memburuk saat melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan siku dan lengan atas.
  • Kesulitan saat melakukan gerakan, seperti memegang benda atau menekan tombol ponsel.
  • Kekakuan pada area siku dan lengan bagian atas.

Meskipun tennis elbow tergolong sulit dicegah karena siku merupakan bagian tubuh yang sering digunakan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah gejala memburuk dan menghindari kekambuhan. Beberapa langkah pencegahannya antara lain:

  • Hindari penggunaan siku secara berlebihan, terutama dalam gerakan yang berulang.
  • Gunakan alat kerja atau raket yang ringan untuk mengurangi beban pada siku.
  • Kenakan kain penahan (brace) khusus saat berolahraga, terutama tenis atau bulu tangkis.
  • Tingkatkan kekuatan otot lengan bawah dengan latihan yang dibimbing oleh fisioterapis.
  • Batasi aktivitas yang memicu nyeri atau memberi tekanan berlebih pada siku dan pergelangan tangan.
  • Lakukan latihan rutin untuk menjaga kekuatan dan fleksibilitas otot lengan bawah.
  • Lakukan pemanasan dan peregangan dengan benar sebelum olahraga.
  • Setelah aktivitas fisik yang berat, gunakan kompres dingin pada area siku untuk mengurangi peradangan.

Dengan langkah-langkah ini, sobat eRSIy dapat mengurangi risiko kekambuhan dan menjaga fungsi siku tetap optimal.

 

Jika sobat eRSIy mengalami tanda-tanda tennis elbow dan keluhannya tidak membaik dalam beberapa hari, sebaiknya segera periksakan diri ke Poli Ortopedi RSI Surabaya A Yani.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
082133222246 / 47 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


buah-yang-rasanya-masam.jpeg
15/Sep/2025

Sobat eRSIy pasti masih ada yang beranggapan bahwa rasa masam pada buah menandakan kandungan vitamin C yang tinggi. Padahal, tidak semua buah asam otomatis mengandung vitamin C dalam jumlah besar. Rasa masam bisa berasal dari jenis asam organik seperti asam sitrat atau asam malat, bukan semata-mata karena kandungan vitamin C. Vitamin C, yang juga dikenal sebagai asam askorbat (AA), merupakan senyawa larut air yang terdapat pada makhluk hidup. Peran vitamin C sangat penting bagi kesehatan tubuh karena mengandung berbagai nutrisi penting yang mendukung proses metabolisme tubuh.

 

Agar kebutuhan vitamin C terpenuhi, sobat eRSIy bisa konsumsi buah-buahan berikut ini:

  1. Strawberry
    merupakan salah satu sumber vitamin C yang cukup baik. Dalam 125 ml stroberi, terkandung sekitar 52 mg vitamin C. Vitamin C dalam stroberi berfungsi sebagai antioksidan yang penting untuk memperkuat sistem imun dan menjaga kesehatan kulit, menjaga kesehatan gusi serta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai infeksi.
  2. Jambu Klutuk / Jambu Biji
    mengandung vitamin C dalam jumlah sangat tinggi, yaitu sekitar 228,3 mg per 100 gram. Vitamin C dalam jambu ini berperan dalam pembentukan kolagen dan berfungsi sebagai antioksidan, yang membantu mencegah penuaan dini pada kulit.
  3. Kiwi
    Dalam setiap 100 gram buah kiwi, terkandung sekitar 92,7 mg vitamin C, hampir dua kali lebih banyak dibandingkan kandungan vitamin C pada jeruk. Kandungan vitamin C yang tinggi ini membuat kiwi sangat bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu tubuh melawan penyakit, termasuk flu dan infeksi ringan lainnya.
  4. Pepaya
    Pepaya mengandung sekitar 88,3 mg vitamin C per porsi. Vitamin C dalam pepaya bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kesehatan kulit, serta melindungi dari penuaan dini karena sifat antioksidannya. Selain itu, serat dalam pepaya membantu melancarkan pencernaan dan menjaga kesehatan jantung.
  5. Nanas
    Nanas mengandung sekitar 78,9 mg vitamin C, yang berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu melawan infeksi. Buah ini juga mengandung enzim bromelain yang bersifat antiinflamasi, bermanfaat untuk mengurangi peradangan. Selain itu, serat dalam nanas mendukung kesehatan pencernaan, membantu mencegah sembelit, dan bisa mendukung program penurunan berat badan.
  6. Mangga
    Mangga mengandung sekitar 122,3 mg vitamin C per porsi, yang berperan penting dalam meningkatkan kekebalan tubuh dengan merangsang produksi sel imun. Selain itu, vitamin A dalam mangga bermanfaat untuk kesehatan mata, sedangkan seratnya mendukung pencernaan sehat dan mencegah sembelit. Mangga juga kaya antioksidan seperti beta-karoten yang membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
  7. Jeruk
    Jeruk mengandung vitamin C yang dapat membantu menurunkan kadar hormon stres kortisol dan tekanan darah saat merasa cemas. Selain itu, vitamin C dalam jeruk juga memiliki sifat antiinflamasi, yang penting untuk mencegah peradangan kronis yang dapat memicu kondisi serius seperti diabetes, penyakit jantung, radang sendi, kanker, dan penyakit Alzheimer.

 

Dengan mengonsumsi berbagai buah tersebut secara rutin, kita tidak hanya mendapatkan asupan vitamin C yang optimal, tetapi juga manfaat lain seperti melawan radikal bebas, memperbaiki fungsi organ, dan mengurangi risiko penyakit kronis. Jadi, pastikan untuk menambahkannya dalam pola makan sehat sehari-hari agar tubuh tetap bugar dan terlindungi dari gangguan kesehatan.

Jika sobat eRSIy ingin berkonsultasi lebih lanjut tentang konsumsi vitamin c hingga dosis vitamin c yang sesuai, silahkan berknsultasi ke klinik gizi RSI Suarbaya A Yani.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
082133222246 / 47 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2025. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?