Dokter Menjawab: Benarkah Vaksin Bisa Menyebabkan Autisme?

August 21, 2026 by Chondik faradilla
IMG_1514.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar berbagai mitos tentang imunisasi yang membuat Bunda ragu memberikan vaksin kepada si kecil? Mulai dari vaksin disebut bisa menyebabkan autisme, ASI dianggap sudah cukup sebagai perlindungan, hingga anggapan bahwa terlalu banyak vaksin dapat membuat sistem imun bayi kewalahan.

Informasi seperti ini masih sering beredar dan bahkan kembali ramai dibicarakan. Padahal, tidak semua informasi yang viral memiliki dasar yang benar. Yuk, kita bedah satu per satu!

 

Mitos #1: Vaksin Menyebabkan Autisme

Mitos bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi pada tahun 1998. Studi tersebut kemudian diketahui memiliki masalah serius dalam datanya hingga akhirnya ditarik dari jurnal dan penelitinya kehilangan izin praktik.

Salah satu alasan mitos ini masih sering muncul adalah karena tanda-tanda autisme dapat mulai terlihat pada usia yang berdekatan dengan waktu anak mendapatkan vaksin tertentu, seperti vaksin MMR. Kedekatan waktu tersebut kemudian membuat sebagian orang mengira keduanya saling berkaitan, padahal bukan berarti vaksin menjadi penyebabnya.

 

Mitos #2: ASI Eksklusif Sudah Cukup, Jadi Tidak Perlu Vaksin

ASI memang memiliki banyak manfaat bagi bayi. Salah satunya adalah memberikan antibodi dari ibu yang membantu memberikan perlindungan bagi tubuh si kecil.

Namun, perlindungan dari ASI tidak menggantikan fungsi imunisasi.

ASI tidak memberikan perlindungan yang cukup terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti polio, difteri, dan pertusis. Selain itu, antibodi yang diperoleh bayi dari ibu juga akan berkurang seiring berjalannya waktu.

Karena itu, bayi tetap membutuhkan vaksin untuk membantu sistem kekebalan tubuhnya belajar mengenali dan melawan berbagai penyakit.

 

Mitos #3: Terlalu Banyak Vaksin Membuat Sistem Imun Bayi Kewalahan

Bunda mungkin pernah berpikir, “Kalau beberapa vaksin diberikan sekaligus, apakah tubuh bayi tidak terlalu terbebani?”

Faktanya, pemberian beberapa vaksin dalam satu kunjungan dapat dilakukan dengan aman dan tidak membuat sistem imun bayi kewalahan.

Justru, pemberian vaksin sesuai jadwal membantu anak mendapatkan perlindungan lebih cepat sekaligus mengurangi jumlah kunjungan imunisasi.

Saat ini juga tersedia vaksin kombinasi, salah satunya vaksin heksavalen yang memberikan perlindungan terhadap enam penyakit dalam satu suntikan. Dengan begitu, anak tidak harus mendapatkan suntikan terpisah untuk setiap penyakit.

 

Mitos #4: Vaksin Membuat Anak Jadi Sakit-Sakitan

Anggapan bahwa vaksin membuat anak lebih sering sakit juga masih banyak ditemukan.

Padahal, tujuan utama vaksin justru membantu memberikan perlindungan terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kondisi serius.

Setelah imunisasi, beberapa anak memang dapat mengalami reaksi seperti demam ringan, rewel, atau bengkak di area bekas suntikan. Kondisi tersebut termasuk KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi.

Reaksi ringan seperti ini umumnya dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu sekitar 1–2 hari. Namun, jika Bunda menemukan reaksi yang berat atau kondisi anak tidak kunjung membaik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

 

Mitos #5: Penyakitnya Sudah Jarang, Jadi Tidak Perlu Vaksin Lagi

“Sekarang sudah jarang ada wabahnya, kenapa masih harus vaksin?”

Justru, pemikiran seperti ini perlu diwaspadai.

Ketika cakupan vaksinasi menurun, penyakit yang sebelumnya berhasil dikendalikan dapat kembali menyebar. Data terbaru menunjukkan beberapa penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin, seperti campak, kembali mengalami peningkatan kasus di sejumlah wilayah.

Di Indonesia sendiri, masih terdapat ratusan ribu anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap. Jika semakin banyak anak tidak mendapatkan perlindungan, risiko terjadinya kembali wabah juga dapat meningkat.

Karena itu, imunisasi bukan hanya tentang melindungi satu anak, tetapi juga membantu menjaga perlindungan di lingkungan sekitar.

 

Jangan Mudah Percaya Informasi yang Belum Terbukti

Mitos mengenai imunisasi bisa terdengar meyakinkan, terutama ketika disampaikan berulang kali di media sosial. Namun, informasi kesehatan sebaiknya tidak hanya dinilai dari seberapa sering informasi tersebut dibagikan.

Jika Bunda menemukan informasi tentang vaksin yang membuat ragu atau bingung, jangan langsung mengambil kesimpulan. Cari sumber yang terpercaya dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Imunisasi merupakan salah satu langkah penting untuk membantu melindungi si kecil dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.

Jangan biarkan informasi yang belum tentu benar membuat Bunda ragu melindungi si kecil. Kalau masih ada yang membuat bingung, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak di RS Islam Surabaya A. Yani.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2026. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?