INFO UNTUK ANDA

Yuk-ketahui-rekomendasi-nutrisi-pasien-kanker-dan-penyakit-kronis-apa-yang-boleh-dan-tidak.png

Sobat eRSIy, Makan bukan sekadar mengisi perut — bagi pasien kanker, penyakit ginjal, atau liver, asupan makanan bisa menjadi bagian dari terapi. Nutrisi yang baik membantu memperkuat tubuh, mendukung efek obat, dan mengurangi efek samping. Di sini, kita akan bahas panduan apa yang boleh & tidak agar tubuh tetap berdaya saat menjalani pengobatan.

Apa yang Boleh Dimakan & Disarankan

  1. Protein Berkualitas
    • Ikan, ayam tanpa kulit, telur, tahu, tempe — pilih yang mudah dicerna.
    • Memberi “bahan baku” untuk memperbaiki sel tubuh.
  2. Karbohidrat Kompleks
    • Beras merah, oatmeal, ubi, kentang yang dimasak dengan baik.
    • Energi stabil dan tidak meningkatkan gula darah drastis.
  3. Buah & Sayur Ringan
    • Pilih buah rendah gula bila pasien juga punya masalah gula darah.
    • Sayuran yang dimasak ringan agar mudah dicerna dan tetap kandungan nutrisinya.
  4. Cukup Cairan
    • Air putih, sup bening, air perasan buah (tanpa gula tambahan).
    • Bagi pasien ginjal, perlu disesuaikan dengan instruksi dokter.
  5. Makanan Antioksidan & Mineral Seimbang
    • Kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran warna-warni.
    • Membantu melawan radikal bebas yang dihasilkan proses pengobatan.

Pantangan & Makanan yang Harus Diwaspadai

  1. Makanan Tinggi Gula atau Pemanis Tambahan
    • Kue manis, minuman bersoda, sirup manis.
    • Bisa membebani metabolisme dan memperparah kondisi gula darah.
  2. Makanan Terlalu Asin / Garam Tinggi
    • Makanan kaleng, makanan cepat saji, keripik kemasan.
    • Menambah beban ginjal dan tekanan darah.
  3. Lemak Jenuh & Makanan Gorengan
    • Daging berlemak, makanan cepat saji, santan kental, gorengan.
    • Bisa memicu radang dan membebani liver.
  4. Makanan Mentah / Kurang Higienis
    • Salad mentah, sushi, telur setengah matang, makanan dari luar tanpa kebersihan.
    • Pasien kanker & mereka yang menjalani kemoterapi punya imunitas menurun — rawan infeksi.
  5. Minuman Alkohol & Kafein Berlebihan
    • Jika diperbolehkan, konsumsi sangat dibatasi atau dihindari.
    • Alkohol & kafein bisa memicu efek samping obat atau memperberat kerja organ.

Tips Praktis Agar Nutrisi Terjaga

  • Bagi porsi kecil, waktu makan sering (misalnya 5–6 kali porsi kecil).
  • Memasak dengan metode sehat: kukus, rebus, panggang ringan.
  • Gunakan bumbu alami, hindari MSG/penyedap berlebihan.
  • Konsultasi rutin dengan dokter gizi/ahli gizi agar menu disesuaikan kondisi pasien.
  • Catat reaksi tubuh: jika mual, diare, atau tak bisa makan — laporkan ke tim medis.

Nutrisi bukan hanya soal “boleh atau tidak” tetapi soal memilih apa yang mendukung tubuh melawan penyakit. Dengan pola makan yang tepat, pasien kanker atau penyakit kronis bisa lebih kuat, mengurangi komplikasi, dan mendukung proses pengobatan.

 

Apabila Anda atau keluarga menghadapi kondisi seperti kanker, penyakit ginjal, atau liver, sebaiknya konsultasikan segera ke dokter gizi atau tim medis di RSI Surabaya A. Yani agar menu makanan Anda disesuaikan secara personal.

Untuk informasi lebih lanjut, Bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505

+62 811-363-670 (customer care)

 

Atau anda bisa mengunjungi RSI Surabaya A.Yani di JL. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


Asap-Debu-Diam-diam-Mengancam-Paru.png

Sobat eRSIy, Asap dan debu di Perkotaan seperti Surabaya yang setiap hari terpapar partikel debu, asap kendaraan, dan polutan dari aktivitas industri. Meskipun “terlihat biasa”, polusi udara ini adalah ancaman yang serius bagi sistem pernapasan kita. Perlahan memicu penyakit akut hingga kronis.

 

Apa itu polusi Udara?

Polusi udara adalah campuran partikel padat, cair, an gas berbahaya di udara. Beberapa komponen utama polusi yang berdampak terhadap kesehatan adalah. Partikulat halus sangat berbahaya karena mampu menembus hingga alveoli paru dan gas-gas pencemar seperti nitrogen, dioksida, sulfur dioksida, karbon monoksida, dan ozon.

 

Sumber sumber polusi sangat beragam antara lain :

  1. Emisi kendaraan bermotor
  2. Asap dari industri atau pembakaran
  3. Debu jalanan yang bertebangan akibat aktvitas transportasi dan pembuangan
  4. Pembakaran sampah yang masih banyak terjadi di perkotaan

 

Dampak polusi udara

  • Iritasi saluran pernapasan -> batuk, bersin, tenggorokan gatal
  • Asma Kambuh atau memperparah gejala asma
  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
  • Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terutama pada anak-anak
  • Risiko jangka panjang berupa kerusakan paru, penurunan fungsi paru, hingga kanker paru.

Tenang Sobat eRSIy, ada langkah pencegahan yang bisa dilakukan loh, yaitu

  1. Memperbanyak penggunaan masker
  2. Menjaga jarak (jika berada di area polusi)
  3. Menutup ventilasi saat kondisi polusi
  4. Mengurangi aktivitas luar
  5. Memantau kualitas udara
  6. Menjaga ketahanan tubuh
  7. Siaga gejala penyakit pernapasan

 

Asap dan debu kota mungkin tampak sepele, tapi efeknya bisa jauh lebih besar dari yang kita kira, terutama terhadap paru-paru dan jalan napas. Dengan mengetahui bahaya, mengenali gejala, dan menerapkan langkah perlindungan sederhana, kita bisa meminimalkan risiko.

 

Oleh karena itu sobat eRSIy apabila anda mengalami gejala seperti batuk terus menerus, dahak berlebih, sesak nafas, suara napas “mengi”, atau gejala ISPA yang berkepanjangan konsultasikan ke Poli Paru RSI Surabaya A.Yani

 

JIka anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI Surabaya A.Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit anda.

Untuk informasi lebih lanjut, Bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505

+62 811-363-670  (customer care)

Atau anda bisa mengunjungi RSI Surabaya A.Yani di JL. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


IMG_1570.png

Mendengar kata operasi tulang belakang mungkin langsung membuat sebagian orang merasa takut. Salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul adalah kemungkinan mengalami kelumpuhan setelah operasi. Kekhawatiran ini wajar, mengingat tulang belakang memiliki hubungan erat dengan saraf dan sumsum tulang belakang.

Namun, anggapan bahwa operasi tulang belakang pasti menyebabkan kelumpuhan adalah mitos.

 

Risiko Kelumpuhan Memang Ada, tetapi Rendah

Setiap tindakan operasi memiliki risiko, termasuk operasi tulang belakang. Namun, kelumpuhan permanen setelah operasi bukanlah sesuatu yang pasti terjadi.

Sebuah studi terhadap 11.817 operasi tulang belakang pada pasien dewasa menemukan 21 kasus defisit neurologis mayor yang muncul segera setelah operasi, atau sekitar 0,178 persen. Dalam studi tersebut, angkanya berbeda berdasarkan lokasi operasi: sekitar 0,293 persen pada area servikal, 0,488 persen pada torakal, dan 0,0745 persen pada lumbal atau sakral.

Artinya, risiko komplikasi neurologis serius memang ada, tetapi relatif rendah dan jauh dari anggapan bahwa operasi tulang belakang pasti membuat seseorang lumpuh.

 

Mengapa Risiko Bisa Rendah?

Perkembangan teknologi dan teknik operasi turut membantu dokter melakukan tindakan dengan lebih terarah. Dalam operasi tulang belakang, dokter dapat menggunakan berbagai pendekatan sesuai kondisi pasien, termasuk teknik minimal invasif dan neuromonitoring untuk membantu memantau fungsi saraf selama tindakan.

Namun, teknologi bukan berarti risiko dapat dihilangkan sepenuhnya. Setiap operasi tetap memiliki kemungkinan komplikasi dan membutuhkan pertimbangan medis yang matang.

Area Operasi Juga Berpengaruh

Risiko komplikasi neurologis dapat berbeda tergantung bagian tulang belakang yang ditangani dan jenis operasinya. Data penelitian menunjukkan adanya perbedaan angka defisit neurologis antara operasi pada area servikal, torakal, dan lumbal.

Karena itu, risiko tidak bisa disamaratakan untuk semua pasien. Kondisi penyakit, lokasi masalah, jenis tindakan, riwayat kesehatan, dan kompleksitas operasi perlu dipertimbangkan secara individual.

 

Jangan Menunda Pengobatan karena Takut

Ketakutan terhadap kelumpuhan memang dapat membuat seseorang ragu menjalani operasi. Hal ini juga terlihat dalam pemberitaan mengenai Hotman Paris yang mengaku sempat takut lumpuh sebelum menjalani operasi tulang belakang akibat saraf terjepit. Setelah operasi, ia mengalami masa pemulihan dan tetap membutuhkan pemeriksaan lanjutan karena keluhan nyeri kembali muncul setelah beraktivitas terlalu cepat.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa proses operasi dan pemulihan setiap pasien dapat berbeda. Bahkan setelah tindakan, mengikuti instruksi dokter selama masa pemulihan tetap menjadi bagian penting dari proses penyembuhan.

 

Jadi, operasi tulang belakang tidak berarti pasti lumpuh. Risiko memang tetap ada, tetapi besarnya bergantung pada kondisi dan jenis operasi yang dilakukan.

Jika Anda atau keluarga memiliki masalah tulang belakang dan dokter menyarankan tindakan operasi, jangan hanya mengambil keputusan berdasarkan rasa takut. Diskusikan risiko, manfaat, pilihan terapi, serta kemungkinan komplikasi secara langsung dengan dokter spesialis Orthopaedi di RS Islam Surabaya A. Yani agar dapat menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1571.png

Masih mengira laparoskopi hanya digunakan untuk operasi ringan seperti usus buntu? Anggapan tersebut sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan teknologi bedah saat ini. Laparoskopi telah digunakan untuk berbagai jenis tindakan operasi, termasuk pada organ pencernaan, kandungan, hingga urologi.

Dengan teknik ini, dokter melakukan tindakan melalui beberapa sayatan kecil menggunakan alat khusus dan kamera untuk melihat area yang akan ditangani.

Laparoskopi Bisa untuk Operasi Apa Saja?

Penggunaan laparoskopi kini semakin luas. Tidak hanya untuk usus buntu, metode ini dapat digunakan dalam berbagai kondisi.

  1. Operasi pada Sistem Pencernaan

Dalam bidang digestif, laparoskopi dapat digunakan untuk menangani berbagai kondisi, seperti:

  • Pengangkatan kandung empedu.
  • Sebagian operasi usus besar, termasuk pada kasus tertentu seperti divertikulitis dan kanker kolorektal.
  • Penanganan GERD kronis yang tidak membaik dengan obat.
  • Prosedur pada lambung, hati, dan pankreas.

Bahkan, untuk pengangkatan kandung empedu, teknik laparoskopi telah menjadi salah satu pendekatan standar dalam dunia medis.

  1. Operasi di Bidang Kandungan

Laparoskopi juga dapat digunakan dalam berbagai tindakan ginekologi, antara lain untuk menangani:

  • Kista ovarium.
  • Mioma.
  • Endometriosis.
  • Kondisi tertentu yang berkaitan dengan gangguan menstruasi dan masalah kesuburan.

Sayatan yang lebih kecil membuat metode ini menjadi salah satu pilihan dalam berbagai prosedur kandungan tertentu.

  1. Kondisi Lain

Penggunaan laparoskopi juga mencakup sejumlah prosedur lain, seperti penanganan hernia yang kambuh, pengangkatan limpa, serta berbagai tindakan dalam bidang urologi.

Artinya, penggunaan laparoskopi tidak terbatas pada satu jenis penyakit atau satu organ saja.

Mengapa Laparoskopi Banyak Dipilih?

Dibandingkan dengan metode bedah terbuka konvensional, laparoskopi memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya:

  • Nyeri setelah operasi cenderung lebih ringan.
  • Waktu rawat inap dapat lebih singkat.
  • Risiko infeksi dapat lebih rendah.
  • Bekas luka operasi lebih kecil.
  • Pemulihan dapat berlangsung lebih cepat sehingga pasien dapat kembali beraktivitas lebih cepat.

Meski begitu, hasil dan proses pemulihan setiap pasien dapat berbeda, tergantung kondisi dan jenis operasi yang dilakukan.

Tidak Semua Pasien Bisa Menjalani Laparoskopi

Meskipun menawarkan berbagai keunggulan, laparoskopi bukan berarti selalu menjadi pilihan untuk semua pasien dan semua kondisi.

Dokter perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien, riwayat operasi sebelumnya, tingkat kompleksitas penyakit, serta hasil pemeriksaan penunjang sebelum menentukan metode operasi yang paling sesuai.

Karena itu, jangan menentukan pilihan tindakan hanya berdasarkan anggapan bahwa operasi dengan sayatan kecil pasti lebih baik untuk semua kondisi.

Teknologi laparoskopi terus berkembang dan telah digunakan untuk berbagai prosedur medis. Jika Anda atau keluarga membutuhkan tindakan operasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis untuk mengetahui metode yang paling sesuai dengan kondisi Anda.

Konsultasikan kebutuhan kesehatan Anda dan keluarga bersama dokter spesialis di RS Islam Surabaya A. Yani.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1525.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah merasa kurang percaya diri karena muncul garis-garis pembuluh darah yang terlihat jelas di kaki? Banyak orang menganggap varises hanya masalah penampilan dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Padahal, varises bukan sekadar membuat kaki terlihat kurang mulus. Kondisi ini berkaitan dengan fungsi pembuluh darah balik yang tidak bekerja secara optimal. Yuk, kenali varises lebih jauh!

 

Apa Itu Varises?

Varises terjadi ketika pembuluh darah vena, terutama di kaki, mengalami pelebaran dan tidak dapat mengalirkan darah kembali ke jantung secara optimal.

Di dalam pembuluh darah vena terdapat katup yang membantu menjaga agar darah tetap mengalir ke arah jantung. Ketika katup tersebut melemah atau tidak berfungsi dengan baik, darah dapat lebih mudah menumpuk di kaki.

Akibatnya, pembuluh darah vena dapat menjadi lebih melebar dan terlihat menonjol di permukaan kulit.

Jadi, varises bukan hanya persoalan estetika. Kondisi ini dapat menjadi tanda bahwa sistem pembuluh darah balik di kaki sedang tidak bekerja sebagaimana mestinya.

 

Varises Bukan Kondisi yang Jarang

Mungkin ada yang mengira varises hanya dialami oleh sebagian kecil orang.

Padahal, berdasarkan materi kesehatan global yang digunakan, sekitar 10–30 persen populasi dunia mengalami varises sepanjang hidupnya.

Dalam studi klasifikasi CEAP, varises juga termasuk salah satu gangguan vena yang sering ditemukan, dengan prevalensi varises sekitar 19 persen dalam klasifikasi tersebut.

Artinya, varises merupakan kondisi yang cukup umum dan dapat dialami oleh banyak orang.

Apa yang Terjadi Jika Varises Dibiarkan?

Varises tidak selalu langsung menimbulkan keluhan. Namun, pada sebagian orang, kondisi ini dapat berkembang dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:

  • Nyeri dan rasa tidak nyaman pada kaki
  • Kaki terasa bengkak
  • Kram, terutama pada malam hari
  • Kulit terasa gatal
  • Perubahan warna kulit
  • Pada kondisi tertentu, muncul luka yang sulit sembuh

Karena itu, jangan hanya melihat varises dari tampilannya. Keluhan yang muncul juga perlu diperhatikan, terutama jika mulai mengganggu aktivitas atau semakin bertambah.

 

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Varises?

Varises dapat dialami oleh siapa saja. Namun, ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risikonya.

  1. Terlalu Lama Berdiri atau Duduk

Pekerjaan yang membuat seseorang berada dalam posisi berdiri atau duduk dalam waktu lama dapat menjadi salah satu faktor risiko.

Misalnya guru, kasir, perawat, hingga pekerja kantoran yang banyak menghabiskan waktu dalam posisi yang sama.

  1. Memiliki Riwayat Keluarga

Jika anggota keluarga memiliki varises, seseorang dapat memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa.

  1. Kehamilan

Kehamilan dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di area kaki sehingga risiko terjadinya varises juga dapat meningkat.

  1. Kelebihan Berat Badan

Berat badan berlebih dapat memberikan tekanan tambahan pada pembuluh darah vena di kaki.

  1. Bertambahnya Usia

Seiring bertambahnya usia, fungsi katup pada pembuluh darah vena dapat mengalami perubahan sehingga risiko varises juga meningkat.

Varises juga diketahui lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Kondisi ini juga lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut dan orang yang pekerjaannya menuntut posisi statis dalam waktu lama.

 

Jangan Tunggu Sampai Mengganggu Aktivitas

Varises mungkin awalnya hanya terlihat seperti garis atau pembuluh darah yang menonjol di kaki. Namun, jika mulai disertai nyeri, bengkak, kram, perubahan kulit, atau luka yang sulit sembuh, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

Mengenali tanda dan faktor risikonya sejak awal dapat membantu seseorang lebih memperhatikan kesehatan pembuluh darahnya.

Jadi, varises bukan sekadar “penampilan kaki yang kurang mulus”. Kondisi ini merupakan sinyal dari tubuh yang layak diperhatikan lebih awal, sebelum keluhan berkembang dan semakin mengganggu kenyamanan sehari-hari.

Jika Bunda atau Sobat eRSIy memiliki keluhan yang mengarah pada varises, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar kondisi dapat diperiksa dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1526.png

Olahraga rutin memang baik untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Namun, semakin aktif berolahraga, risiko mengalami cedera juga tetap ada. Sayangnya, cedera olahraga sering dianggap sepele dan dibiarkan begitu saja karena berharap keluhan akan membaik dengan sendirinya.

Padahal, cedera pada sendi dan ligamen dapat mengganggu aktivitas jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Salah satu cedera yang cukup sering terjadi adalah keseleo pada pergelangan kaki, terutama pada olahraga yang melibatkan banyak gerakan dan benturan seperti sepak bola.

 

Kenali 5 Tanda Cedera yang Perlu Diperiksa

Tidak semua rasa sakit setelah olahraga berarti cedera serius. Namun, Anda sebaiknya lebih waspada jika mengalami beberapa tanda berikut.

  1. Nyeri Tidak Kunjung Reda

Jika nyeri pada sendi tetap terasa dan tidak membaik setelah lebih dari 3 hari, sebaiknya jangan terus memaksakan aktivitas. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab nyeri dan kondisi jaringan yang mengalami cedera.

  1. Bengkak dan Memar Semakin Meluas

Bengkak atau memar setelah benturan memang dapat terjadi. Namun, jika pembengkakan dan memar justru semakin meluas, kondisi tersebut sebaiknya diperiksakan, terutama jika disertai nyeri atau keterbatasan gerak.

  1. Sendi Terasa Tidak Stabil

Pernah merasa sendi seperti mudah “lepas” atau tidak mampu menopang gerakan dengan baik? Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada struktur sendi atau ligamen dan perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

  1. Sulit Menahan Beban Tubuh

Jika setelah cedera Anda kesulitan berdiri, berjalan, atau menahan beban tubuh pada bagian yang cedera, jangan memaksakan diri untuk kembali berolahraga. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui tingkat cedera.

  1. Terdengar Bunyi “Klik” Disertai Nyeri

Bunyi klik pada sendi tidak selalu menandakan masalah. Namun, jika bunyi tersebut muncul bersamaan dengan rasa nyeri saat bergerak, sebaiknya jangan diabaikan dan lakukan pemeriksaan.

 

Jangan Tunggu Cedera Menjadi Lebih Parah

Penanganan awal yang tepat dapat membantu mengurangi dampak cedera. Salah satu prinsip pertolongan awal yang dapat digunakan adalah PRICE, yaitu Protection, Rest, Ice, Compression, dan Elevation.

Selain itu, pemeriksaan awal di lapangan dengan metode TOTAPS dapat membantu menilai kondisi cedera sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Cedera yang dibiarkan tanpa evaluasi medis berisiko menyebabkan masalah yang menetap, termasuk instabilitas sendi dalam jangka panjang, sehingga dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup.

Aktif berolahraga tetap penting, tetapi jangan abaikan sinyal dari tubuh. Jika mengalami nyeri yang menetap, bengkak, sendi tidak stabil, sulit menahan beban, atau bunyi klik yang disertai nyeri, segera periksakan kondisi Anda.

Konsultasikan cedera olahraga Anda dan keluarga bersama dokter spesialis Orthopaedi di Sport Injury Center RS Islam Surabaya A. Yani untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1524.png

Halo, Sobat eRSIy!

Sudah dijadwalkan menjalani operasi sesar dengan metode ERACS? Mungkin Bunda masih bertanya-tanya, apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum masuk ruang operasi?

ERACS memiliki pendekatan yang berbeda dari operasi sesar konvensional. Persiapannya tidak hanya dilakukan saat akan masuk ruang operasi, tetapi juga memperhatikan kondisi tubuh dan kesiapan ibu sejak sebelum operasi.

Yuk, simak 5 hal yang perlu Bunda siapkan sebelum menjalani ERACS!

 

1. Puasa Lebih Singkat, Bukan Lebih Lama

Kalau mendengar kata operasi, mungkin yang terbayang adalah harus puasa dalam waktu yang panjang.

Namun, pada pendekatan ERACS, aturan puasa justru dirancang lebih fleksibel. Dalam materi protokol yang digunakan, makanan ringan masih dapat diperbolehkan hingga 6 jam sebelum operasi, sedangkan cairan bening hingga 2 jam sebelum anestesi diberikan.

Pengaturan ini bukan hanya bertujuan membuat ibu lebih nyaman. Salah satu tujuannya adalah membantu tubuh tidak mengalami stres metabolik yang berlebihan menjelang operasi.

Meski begitu, aturan puasa tetap harus mengikuti instruksi dari dokter dan tim medis yang menangani Bunda.

 

2. Mandi Antiseptik Sebelum Operasi

Hal sederhana seperti mandi juga menjadi bagian dari persiapan sebelum ERACS.

Bunda biasanya akan diminta mandi menggunakan sabun antiseptik sesuai instruksi, umumnya pada malam sebelum operasi dan kembali pada pagi hari sebelum tindakan.

Langkah ini menjadi bagian dari persiapan kulit sebelum dilakukan sayatan operasi dan membantu menurunkan risiko terjadinya infeksi setelah operasi.

Jadi, jangan anggap sepele persiapan yang satu ini ya, Bun. Setiap langkah sebelum operasi memiliki tujuan untuk membantu proses perawatan berjalan lebih optimal.

 

3. Kesiapan Mental Juga Penting

Persiapan ERACS bukan hanya tentang kondisi fisik. Kesiapan mental juga menjadi bagian dari persiapan medis.

Bunda bisa berdiskusi dengan dokter atau bidan mengenai apa yang akan terjadi sebelum, selama, dan setelah operasi. Mengetahui proses yang akan dijalani dapat membantu Bunda merasa lebih siap menghadapi persalinan.

Edukasi pasien sejak awal juga menjadi salah satu bagian penting dalam pendekatan pemulihan cepat setelah operasi sesar. Kecemasan yang tidak terkelola dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan nyeri setelah operasi.

Karena itu, jangan ragu untuk bertanya. Jika ada hal yang membuat Bunda khawatir, sampaikan kepada tim medis.

4. Siapkan Perlengkapan untuk Mobilisasi Lebih Cepat

Setelah operasi, Bunda akan didorong untuk mulai bergerak lebih cepat sesuai dengan kondisi dan penilaian tim medis.

Karena itu, perlengkapan yang nyaman juga perlu dipersiapkan sejak dari rumah. Baju yang longgar dan pembalut nifas bisa menjadi beberapa barang yang perlu disiapkan.

Pakaian yang nyaman akan membantu Bunda saat mulai bergerak dan menjalani aktivitas secara bertahap setelah operasi.

Mobilisasi lebih awal merupakan salah satu prinsip dalam ERACS. Tujuannya bukan membuat ibu terburu-buru beraktivitas, tetapi membantu proses pemulihan dilakukan secara bertahap dan terencana.

 

5. Cek Kondisi Tubuh, Terutama Hemoglobin

Ini salah satu hal yang sering dianggap sepele, padahal penting untuk diperhatikan sejak masa kehamilan.

Anemia selama kehamilan diketahui dapat meningkatkan risiko komplikasi selama periode sekitar operasi dan juga dapat memengaruhi proses pemulihan setelah melahirkan.

Bahkan pada masa nifas, anemia masih dapat dialami oleh sebagian ibu. Karena itu, pemeriksaan kondisi darah, termasuk kadar hemoglobin, menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kondisi tubuh sebelum operasi.

Jika ditemukan anemia, dokter dapat menentukan langkah penanganan yang sesuai sehingga kondisi ibu dapat dioptimalkan sebelum persalinan.

 

ERACS Bukan Sekadar Operasi Sesar

Dari lima persiapan tersebut, bisa dilihat bahwa ERACS bukan hanya tentang bagaimana operasi dilakukan.

Pendekatan ini mencakup berbagai hal, mulai dari persiapan sebelum operasi, pengaturan puasa, persiapan kulit, kesiapan mental, pengelolaan nyeri, hingga mobilisasi setelah operasi.

Tujuannya adalah membantu ibu menjalani proses persalinan dan pemulihan secara lebih terencana.

Jadi, kalau Bunda sudah dijadwalkan menjalani ERACS, jangan hanya fokus mempersiapkan barang untuk ke rumah sakit. Pastikan kondisi tubuh juga dipersiapkan, termasuk dengan melakukan pemeriksaan dan menyampaikan kondisi kesehatan kepada dokter.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1515.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar istilah ERACS, tetapi masih bingung apa bedanya dengan operasi sesar biasa? ERACS bukan sekadar istilah baru dalam persalinan. Pendekatan ini merupakan bagian dari perawatan berbasis bukti ilmiah yang dirancang untuk membantu ibu menjalani proses operasi sesar hingga masa pemulihan dengan lebih optimal.

Yuk, kenali lebih jauh apa itu ERACS dan bagaimana pendekatan ini dapat membantu proses pemulihan setelah operasi sesar!

 

Apa Itu ERACS?

ERACS merupakan singkatan dari Enhanced Recovery After Cesarean Surgery. Konsep ini diadaptasi dari prinsip Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) yang sebelumnya banyak digunakan dalam penanganan berbagai operasi besar, kemudian dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan khusus dalam bidang obstetri.

Sederhananya, ERACS merupakan pendekatan yang mengatur seluruh rangkaian perawatan ibu, mulai dari sebelum operasi, saat operasi, hingga setelah operasi.

Tujuannya adalah membantu mengurangi stres pada tubuh akibat operasi dan mendukung proses pemulihan ibu agar dapat berlangsung lebih baik.

 

Apa Bedanya dengan Operasi Sesar Konvensional?

Pendekatan ERACS membawa perubahan dalam berbagai tahapan perawatan sebelum dan sesudah operasi.

Jika sebelumnya ibu mungkin harus menjalani puasa lebih lama dan beristirahat di tempat tidur dalam waktu yang cukup panjang, pada pendekatan ERACS proses tersebut dirancang agar lebih terencana dan sesuai dengan kondisi ibu.

Dalam materi ERACS, periode puasa dapat dipersingkat. Makanan ringan masih dapat diperbolehkan hingga 6 jam sebelum operasi, sedangkan cairan bening hingga 2 jam sebelum anestesi, sesuai dengan protokol dan kondisi medis ibu.

Setelah operasi, ibu juga didorong untuk melakukan mobilisasi lebih awal. Manajemen nyeri direncanakan dengan lebih baik agar ibu dapat merasa nyaman selama proses pemulihan.

Selain itu, inisiasi menyusui secara dini juga menjadi salah satu bagian penting dalam pendekatan ERACS.

 

Kenapa Mobilisasi Lebih Cepat Penting?

Setelah menjalani operasi sesar, tubuh tentu membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Namun, terlalu lama tidak bergerak juga bukan bagian dari tujuan pemulihan yang optimal.

Dalam pendekatan ERACS, ibu didorong untuk melakukan mobilisasi lebih awal sesuai dengan kondisi dan penilaian tim medis.

Dengan pendekatan yang terencana, proses pemulihan tidak hanya berfokus pada luka operasi, tetapi juga bagaimana kondisi ibu secara keseluruhan dapat kembali beraktivitas secara bertahap.

 

Bukan Hanya Saat Operasi, Persiapan Dimulai Sejak Kehamilan

ERACS bukan hanya tentang apa yang dilakukan di ruang operasi.

Pembaruan panduan dari ERAS Society menekankan pentingnya mengoptimalkan kondisi ibu sejak masa kehamilan. Salah satunya adalah melakukan skrining dan penanganan anemia.

Mengapa anemia perlu diperhatikan?

Karena kondisi tubuh ibu sebelum operasi dapat berpengaruh terhadap proses pemulihan setelah persalinan. Bahkan setelah melahirkan, kondisi anemia pada masa nifas tetap perlu mendapatkan perhatian.

Artinya, pemulihan ibu tidak dimulai setelah operasi selesai. Persiapannya sudah dilakukan sejak sebelum persalinan.

 

ERACS Adalah Perawatan yang Menyeluruh

Jika disederhanakan, ERACS bukan hanya tentang “bagaimana operasi dilakukan”, tetapi juga tentang bagaimana ibu dipersiapkan dan didampingi selama proses pemulihan.

Mulai dari persiapan sebelum operasi, pengaturan puasa, manajemen nyeri, mobilisasi lebih awal, hingga dukungan menyusui setelah persalinan, semuanya menjadi bagian dari rangkaian perawatan.

Setiap langkah dirancang agar kebutuhan ibu selama proses persalinan dan pemulihan dapat diperhatikan secara menyeluruh.

 

Apakah ERACS Cocok untuk Semua Ibu?

ERACS merupakan pendekatan dalam perawatan operasi sesar, tetapi penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu.

Dokter dan tim medis akan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kehamilan, serta kebutuhan medis sebelum menentukan perawatan yang paling sesuai.

Karena itu, jika Bunda sedang mempersiapkan persalinan melalui operasi sesar dan ingin mengetahui apakah pendekatan ERACS sesuai untuk kondisi Bunda, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

 

Pemulihan yang Dipersiapkan Sejak Awal

Persalinan melalui operasi sesar bukan hanya tentang tindakan di ruang operasi. Proses sebelum dan sesudah operasi juga memiliki peran penting dalam membantu ibu menjalani masa pemulihan.

Melalui pendekatan ERACS, setiap tahapan dirancang secara lebih terencana agar ibu tidak hanya menjalani operasi, tetapi juga mendapatkan pendampingan selama proses pemulihan.

Layanan ERACS kami dirancang mengikuti standar dan pembaruan protokol terkini, sehingga Bunda tidak hanya “dioperasi”, tetapi juga dipersiapkan dan didampingi sepanjang proses pemulihan.

Jika Bunda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai ERACS dan apakah pendekatan ini sesuai dengan kondisi kehamilan Bunda, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter dan tim medis kami.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1514.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah mendengar berbagai mitos tentang imunisasi yang membuat Bunda ragu memberikan vaksin kepada si kecil? Mulai dari vaksin disebut bisa menyebabkan autisme, ASI dianggap sudah cukup sebagai perlindungan, hingga anggapan bahwa terlalu banyak vaksin dapat membuat sistem imun bayi kewalahan.

Informasi seperti ini masih sering beredar dan bahkan kembali ramai dibicarakan. Padahal, tidak semua informasi yang viral memiliki dasar yang benar. Yuk, kita bedah satu per satu!

 

Mitos #1: Vaksin Menyebabkan Autisme

Mitos bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi pada tahun 1998. Studi tersebut kemudian diketahui memiliki masalah serius dalam datanya hingga akhirnya ditarik dari jurnal dan penelitinya kehilangan izin praktik.

Salah satu alasan mitos ini masih sering muncul adalah karena tanda-tanda autisme dapat mulai terlihat pada usia yang berdekatan dengan waktu anak mendapatkan vaksin tertentu, seperti vaksin MMR. Kedekatan waktu tersebut kemudian membuat sebagian orang mengira keduanya saling berkaitan, padahal bukan berarti vaksin menjadi penyebabnya.

 

Mitos #2: ASI Eksklusif Sudah Cukup, Jadi Tidak Perlu Vaksin

ASI memang memiliki banyak manfaat bagi bayi. Salah satunya adalah memberikan antibodi dari ibu yang membantu memberikan perlindungan bagi tubuh si kecil.

Namun, perlindungan dari ASI tidak menggantikan fungsi imunisasi.

ASI tidak memberikan perlindungan yang cukup terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti polio, difteri, dan pertusis. Selain itu, antibodi yang diperoleh bayi dari ibu juga akan berkurang seiring berjalannya waktu.

Karena itu, bayi tetap membutuhkan vaksin untuk membantu sistem kekebalan tubuhnya belajar mengenali dan melawan berbagai penyakit.

 

Mitos #3: Terlalu Banyak Vaksin Membuat Sistem Imun Bayi Kewalahan

Bunda mungkin pernah berpikir, “Kalau beberapa vaksin diberikan sekaligus, apakah tubuh bayi tidak terlalu terbebani?”

Faktanya, pemberian beberapa vaksin dalam satu kunjungan dapat dilakukan dengan aman dan tidak membuat sistem imun bayi kewalahan.

Justru, pemberian vaksin sesuai jadwal membantu anak mendapatkan perlindungan lebih cepat sekaligus mengurangi jumlah kunjungan imunisasi.

Saat ini juga tersedia vaksin kombinasi, salah satunya vaksin heksavalen yang memberikan perlindungan terhadap enam penyakit dalam satu suntikan. Dengan begitu, anak tidak harus mendapatkan suntikan terpisah untuk setiap penyakit.

 

Mitos #4: Vaksin Membuat Anak Jadi Sakit-Sakitan

Anggapan bahwa vaksin membuat anak lebih sering sakit juga masih banyak ditemukan.

Padahal, tujuan utama vaksin justru membantu memberikan perlindungan terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kondisi serius.

Setelah imunisasi, beberapa anak memang dapat mengalami reaksi seperti demam ringan, rewel, atau bengkak di area bekas suntikan. Kondisi tersebut termasuk KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi.

Reaksi ringan seperti ini umumnya dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu sekitar 1–2 hari. Namun, jika Bunda menemukan reaksi yang berat atau kondisi anak tidak kunjung membaik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

 

Mitos #5: Penyakitnya Sudah Jarang, Jadi Tidak Perlu Vaksin Lagi

“Sekarang sudah jarang ada wabahnya, kenapa masih harus vaksin?”

Justru, pemikiran seperti ini perlu diwaspadai.

Ketika cakupan vaksinasi menurun, penyakit yang sebelumnya berhasil dikendalikan dapat kembali menyebar. Data terbaru menunjukkan beberapa penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin, seperti campak, kembali mengalami peningkatan kasus di sejumlah wilayah.

Di Indonesia sendiri, masih terdapat ratusan ribu anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap. Jika semakin banyak anak tidak mendapatkan perlindungan, risiko terjadinya kembali wabah juga dapat meningkat.

Karena itu, imunisasi bukan hanya tentang melindungi satu anak, tetapi juga membantu menjaga perlindungan di lingkungan sekitar.

 

Jangan Mudah Percaya Informasi yang Belum Terbukti

Mitos mengenai imunisasi bisa terdengar meyakinkan, terutama ketika disampaikan berulang kali di media sosial. Namun, informasi kesehatan sebaiknya tidak hanya dinilai dari seberapa sering informasi tersebut dibagikan.

Jika Bunda menemukan informasi tentang vaksin yang membuat ragu atau bingung, jangan langsung mengambil kesimpulan. Cari sumber yang terpercaya dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Imunisasi merupakan salah satu langkah penting untuk membantu melindungi si kecil dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.

Jangan biarkan informasi yang belum tentu benar membuat Bunda ragu melindungi si kecil. Kalau masih ada yang membuat bingung, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak di RS Islam Surabaya A. Yani.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


IMG_1513.png

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah bertanya-tanya kenapa bayi perlu mendapatkan beberapa kali imunisasi, bahkan hingga beberapa kali di tahun pertamanya? Di usia ini, sistem kekebalan tubuh bayi masih belum matang sepenuhnya. Selain itu, antibodi yang diperoleh dari ibu juga mulai menurun, terutama saat bayi memasuki usia sekitar 2 bulan. Karena itu, imunisasi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu memberikan perlindungan sejak dini.

 

Mengapa Bayi Perlu Divaksin?

Sistem imun bayi masih dalam tahap perkembangan sehingga belum mampu memberikan perlindungan seoptimal orang dewasa. Vaksin membantu tubuh bayi mengenali kuman penyebab penyakit dan membentuk respons kekebalan terhadapnya.

Sederhananya, vaksin dapat diibaratkan seperti sesi latihan bagi sistem imun. Tubuh diperkenalkan pada bagian dari kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan, sehingga sistem imun dapat belajar mengenalinya. Ketika suatu saat tubuh bertemu dengan kuman penyebab penyakit yang sebenarnya, sistem imun sudah memiliki bekal untuk melawannya.

 

Imunisasi Sudah Menyelamatkan Jutaan Nyawa

Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua orang. Data menunjukkan bahwa imunisasi telah memberikan perlindungan bagi jutaan anak di seluruh dunia.

Studi WHO yang dimuat dalam The Lancet pada April 2024 memperkirakan bahwa selama 50 tahun terakhir, imunisasi rutin telah menyelamatkan sekitar 154 juta nyawa, dengan sekitar 101 juta di antaranya merupakan bayi.

Di Indonesia, laporan WHO-UNICEF melalui WUENIC 2025 yang dirilis pada Juli 2026 juga mencatat bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap meningkat dari sekitar 78 persen menjadi 82 persen. Peningkatan tersebut berarti lebih dari 3,6 juta anak mendapatkan perlindungan pada tahun sebelumnya.

Meski begitu, masih ada sekitar 657 ribu anak yang belum pernah mendapatkan vaksin sama sekali. Karena itu, memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal tetap menjadi hal yang penting.

 

Bagaimana dengan Jadwal Imunisasi?

Jadwal imunisasi anak tidak dibuat secara sembarangan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyusun jadwal imunisasi berdasarkan usia anak dan pola penyakit yang ada di Indonesia.

Jadwal tersebut membantu memastikan anak mendapatkan vaksin pada waktu yang sesuai. Jika ada imunisasi yang terlewat atau Bunda memiliki pertanyaan mengenai jadwal vaksin, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

 

Anak Rewel Setelah Imunisasi, Apakah Normal?

Setelah imunisasi, beberapa anak dapat mengalami reaksi seperti rewel, demam ringan, atau bengkak di area bekas suntikan.

Kondisi tersebut dikenal sebagai KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Reaksi ringan setelah imunisasi dapat terjadi sebagai bagian dari respons tubuh setelah mendapatkan vaksin.

Namun, jika anak mengalami reaksi yang berat atau kondisi yang membuat Bunda khawatir, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

 

Vaksin Seperti Simulasi Kebakaran

Vaksin dapat diibaratkan seperti simulasi kebakaran bagi tubuh.

Ketika latihan dilakukan dalam kondisi aman, tubuh memiliki kesempatan untuk belajar apa yang harus dilakukan. Begitu pula dengan vaksin. Sistem imun diberikan kesempatan untuk mengenali ancaman terlebih dahulu sehingga ketika menghadapi kuman penyebab penyakit yang sebenarnya, tubuh sudah memiliki respons untuk melawannya.

Jadi, setiap suntikan bukan sekadar membuat si kecil menangis sebentar. Ada proses penting yang sedang berlangsung di dalam tubuh untuk membantu memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

 

Jangan Lewatkan Imunisasi Si Kecil

Imunisasi merupakan salah satu langkah penting untuk membantu melindungi kesehatan anak sejak dini. Jadwal imunisasi yang cukup padat pada tahun pertama disesuaikan dengan kebutuhan perlindungan bayi ketika sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Dengan mengikuti jadwal imunisasi yang direkomendasikan IDAI, orang tua dapat membantu memberikan perlindungan kepada si kecil sejak awal kehidupannya.

Jika Bunda masih memiliki pertanyaan mengenai jadwal imunisasi, jenis vaksin, atau reaksi yang muncul setelah imunisasi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Yuk, pastikan imunisasi si kecil tidak terlewat. Karena setiap vaksin adalah bagian dari upaya memberikan perlindungan untuk kesehatan anak di masa depan.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2026. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?