INFO UNTUK ANDA

Overstimulation-dan-Brain-Rot_-Dampak-Konsumsi-Konten-Digital-Berlebihan-terhadap-Kesehatan-Mental.jpg.jpeg

Halo, Sobat eRSIy!
Pernah merasa sulit fokus, cepat lelah, atau tanpa sadar terus menggulir media sosial dalam waktu lama? Di era digital seperti sekarang, berbagai informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat. Namun, jika tidak dikendalikan dengan baik, kebiasaan ini dapat berdampak pada kesehatan mental. Salah satunya adalah kondisi yang sering dikenal sebagai overstimulation dan brain rot. Yuk, kita bahas bersama!

Apa Itu Overstimulation dan Brain Rot?

Overstimulation adalah kondisi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu yang singkat, misalnya dari video pendek, notifikasi, atau berbagai konten digital yang terus berganti.

Sementara itu, brain rot merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan penurunan kemampuan fokus dan konsentrasi akibat terlalu sering mengonsumsi konten ringan secara berlebihan.

Meskipun bukan istilah medis, kondisi ini berkaitan dengan kelelahan mental yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Penyebab Overstimulation dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa kebiasaan yang dapat memicu kondisi ini antara lain:

  • Terlalu lama menggunakan media sosial tanpa jeda
  • Sering berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain
  • Mengonsumsi konten digital secara terus-menerus
  • Kurangnya waktu istirahat dari penggunaan gadget

Kebiasaan tersebut dapat membuat otak terus bekerja tanpa waktu untuk beristirahat secara optimal.

Dampak terhadap Kesehatan Mental

Paparan konten digital yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi mental, di antaranya:

  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah terdistraksi
  • Kelelahan mental
  • Penurunan produktivitas
  • Gangguan kualitas tidur
  • Perubahan suasana hati

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan aktivitas dan kualitas hidup.

Cara Mengelola Konsumsi Konten Digital

Penggunaan gadget tetap dapat dilakukan dengan bijak apabila disertai pengaturan yang tepat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Membatasi waktu penggunaan media sosial
  • Memberikan jeda istirahat dari layar secara berkala
  • Mengurangi konsumsi konten digital yang berlebihan
  • Mengatur waktu tidur yang cukup dan teratur
  • Melakukan aktivitas tanpa gadget, seperti olahraga atau membaca

Selain itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dalam menggunakan teknologi agar tidak berlebihan dan tetap menjaga kesehatan mental.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Sulit berkonsentrasi dalam jangka waktu lama
  • Gangguan tidur yang tidak kunjung membaik
  • Kelelahan mental yang mengganggu aktivitas sehari-hari

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dapat berdampak pada kesehatan mental.

Dengan mengatur konsumsi konten digital secara bijak serta menjaga keseimbangan aktivitas, risiko kelelahan mental dapat diminimalkan. Jika keluhan mulai dirasakan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Perbedaan-Demam-Biasa-dan-Malaria_-Kapan-Harus-Waspada.jpg.jpeg

Sobat eRSIy

Demam adalah keluhan yang sering dialami banyak orang. Biasanya demam terjadi karena infeksi ringan seperti flu atau kelelahan, dan dapat membaik dengan istirahat serta obat penurun panas. Namun, tidak semua demam bisa dianggap sepele. Dalam beberapa kasus, demam dapat menjadi tanda penyakit serius seperti Malaria.

Lalu, bagaimana cara membedakan demam biasa dengan demam akibat malaria? Yuk, kita pahami bersama agar Sobat eRSIy bisa lebih waspada.

Apa Itu Malaria?

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles mosquito yang terinfeksi. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan di berbagai negara tropis, termasuk beberapa wilayah di Indonesia.

Menurut World Health Organization, malaria dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian apabila tidak segera ditangani dengan tepat.

Ciri-Ciri Demam Biasa

Demam biasa umumnya terjadi akibat infeksi virus seperti flu. Gejalanya relatif ringan dan sering membaik dalam beberapa hari. Beberapa tanda demam biasa antara lain:

  • Suhu tubuh meningkat tetapi tidak terlalu tinggi
  • Disertai pilek atau batuk
  • Badan terasa pegal dan lelah
  • Nafsu makan sedikit menurun
  • Biasanya membaik dalam 2–3 hari dengan istirahat dan obat penurun panas

Demam jenis ini umumnya tidak disertai gejala menggigil hebat atau keringat berlebihan secara tiba-tiba.

Ciri-Ciri Demam Akibat Malaria

Berbeda dengan demam biasa, demam akibat malaria memiliki pola dan gejala yang lebih khas.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Demam tinggi yang muncul secara berulang atau periodik
  • Menggigil hebat sebelum demam muncul
  • Setelah demam tinggi, biasanya diikuti keringat berlebihan
  • Sakit kepala hebat
  • Mual dan muntah
  • Tubuh terasa sangat lemas
  • Pada beberapa kasus dapat terjadi nyeri otot dan sendi

Kapan Harus Waspada?

Sobat eRSIy sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami:

  • Demam tinggi lebih dari 2–3 hari
  • Demam disertai menggigil hebat
  • Riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria
  • Tubuh sangat lemas atau sulit beraktivitas
  • Mual, muntah, atau sakit kepala berat

Pemeriksaan darah diperlukan untuk memastikan apakah demam tersebut disebabkan oleh malaria atau penyakit lain.

Mengapa Penting Ditangani Sejak Dini?

Jika tidak segera diobati, malaria dapat menyebabkan komplikasi serius seperti:

  • anemia berat
  • gangguan organ
  • bahkan malaria berat yang mengancam nyawa

Namun kabar baiknya, malaria dapat diobati dan dicegah jika terdeteksi sejak dini dan ditangani dengan tepat oleh tenaga medis.

Cara Mencegah Malaria

Beberapa langkah sederhana yang bisa Sobat eRSIy lakukan antara lain:

  • Menggunakan obat anti nyamuk atau lotion anti nyamuk
  • Tidur menggunakan kelambu
  • Menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk
  • Menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari di daerah berisiko

???? Sobat eRSIy, jangan abaikan demam yang berlangsung lama atau disertai gejala tidak biasa. Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin cepat pula penanganan yang bisa dilakukan.

Jika mengalami keluhan demam yang tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke Poli Penyakit Dalam RSI Surabaya A Yani.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


DBD-pada-Anak-Apakah-Lebih-Berbahaya.jpg.jpeg

Halo, Sobat eRSIy! ????

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit yang sering menyerang anak-anak di Indonesia, terutama saat musim hujan. Banyak orang tua yang bertanya, apakah DBD pada anak lebih berbahaya dibandingkan pada orang dewasa?

Jawabannya, DBD pada anak memang perlu mendapat perhatian khusus, karena kondisi tubuh anak berbeda dengan orang dewasa dan gejalanya sering kali tidak disadari sejak awal.

Mengapa Anak Rentan Terkena DBD?

DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi.

Anak-anak lebih rentan terkena DBD karena:

  • Sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang
  • Sering beraktivitas di luar rumah
  • Kurang menyadari gejala awal penyakit

Akibatnya, penyakit sering terlambat dikenali sehingga penanganannya menjadi lebih lambat.

Gejala DBD pada Anak

Sobat eRSIy perlu mengenali tanda-tanda DBD pada anak sejak dini. Gejala yang sering muncul antara lain:

????️ Demam tinggi mendadak hingga 39–40°C
???? Sakit kepala atau nyeri di belakang mata
???? Mual dan muntah
???? Nyeri otot dan sendi
???? Bintik-bintik merah pada kulit
???? Anak terlihat lemas dan kurang aktif

Pada beberapa kasus, anak juga dapat mengalami mimisan atau gusi berdarah.

Mengapa DBD Bisa Lebih Berbahaya pada Anak?

Pada anak, DBD dapat berkembang lebih cepat menjadi kondisi yang serius, seperti kebocoran plasma darah yang menyebabkan penurunan tekanan darah atau yang dikenal sebagai syok dengue.

Kondisi ini dapat menyebabkan:

  • Anak menjadi sangat lemas
  • Tangan dan kaki terasa dingin
  • Nyeri perut hebat
  • Muntah terus-menerus
  • Penurunan kesadaran

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berbahaya bagi keselamatan anak.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami:
⚠️ Demam tinggi lebih dari 2 hari
⚠️ Anak sangat lemas atau tidak mau makan dan minum
⚠️ Muntah terus-menerus
⚠️ Muncul perdarahan seperti mimisan atau bintik merah di kulit

Pemeriksaan dokter dan tes darah sangat penting untuk memastikan diagnosis dan memantau kondisi anak.

Cara Mencegah DBD pada Anak

Sobat eRSIy, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik untuk melindungi anak dari DBD. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:

✔️ Melakukan 3M: menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air
✔️ Menggunakan kelambu atau lotion anti nyamuk
✔️ Memasang kawat kasa pada ventilasi rumah
✔️ Menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk

Penutup

Sobat eRSIy, DBD pada anak bisa menjadi kondisi yang berbahaya jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali gejala awal serta segera memeriksakan anak ke tenaga kesehatan jika muncul tanda-tanda yang mencurigakan.

RSI Surabaya A. Yani siap memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi anak, mulai dari pemeriksaan hingga penanganan penyakit secara optimal.

Mari bersama menjaga kesehatan buah hati agar tetap tumbuh sehat dan aktif. ????

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Sering-Demam-dan-Lemas-Waspadai-Tifoid-Tipes-Sebelum-Menjadi-Parah-1.jpg.jpeg

Demam yang tidak kunjung turun, tubuh terasa lemas, hingga nafsu makan menurun sering kali dianggap sebagai kelelahan biasa. Tidak sedikit orang memilih untuk beristirahat tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda tifoid (tipes) yang, jika tidak ditangani dengan baik, berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

Apa Itu Tifoid (Tipes)?

Tifoid atau demam tifoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang menyerang saluran pencernaan.

Penyakit ini umumnya menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, serta berkaitan erat dengan kebersihan lingkungan dan higiene individu.

Seberapa Sering Tifoid Terjadi di Indonesia?

Tifoid masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang cukup sering terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, ratusan ribu kasus tifoid dilaporkan setiap tahunnya, dengan angka kejadian yang cukup tinggi di negara berkembang.

Indonesia termasuk negara dengan tingkat endemisitas tifoid yang masih tinggi, terutama pada daerah dengan sanitasi yang kurang baik.

Kelompok yang paling rentan antara lain:

  • Anak-anak dan remaja
  • Individu dengan kebersihan makanan yang kurang terjaga
  • Masyarakat dengan akses sanitasi terbatas

Tingginya angka kejadian ini menunjukkan bahwa tifoid masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu perhatian serius.

Apa Penyebab Tifoid?

Tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang masuk ke dalam tubuh melalui:

  • Konsumsi makanan yang terkontaminasi
  • Minuman yang tidak bersih
  • Air yang tercemar
  • Kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan

Faktor lingkungan seperti sanitasi yang buruk dan kebersihan makanan yang tidak terjaga sangat berperan dalam penyebaran penyakit ini.

Gejala Tifoid yang Perlu Diketahui

Gejala tifoid biasanya berkembang secara bertahap, antara lain:

  • Demam tinggi yang berlangsung beberapa hari
  • Tubuh lemas
  • Sakit kepala
  • Nyeri perut
  • Mual dan muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Diare atau justru sembelit

Pada kondisi tertentu, gejala dapat semakin berat jika tidak segera ditangani.

Kapan Harus Waspada?

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami:

  • Demam tinggi lebih dari 3 hari
  • Tubuh sangat lemas
  • Nyeri perut yang semakin berat
  • Muntah terus-menerus
  • Gangguan kesadaran
  • Tidak mampu makan atau minum dengan baik

Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Jika tidak ditangani dengan baik, tifoid dapat menyebabkan:

  • Perdarahan saluran cerna
  • Kebocoran usus (perforasi)
  • Infeksi berat (sepsis)
  • Risiko kematian pada kondisi yang tidak tertangani

Bagaimana Tifoid Menular?

Tifoid menular melalui jalur fekal-oral, yaitu:

  • Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi
  • Kontak dengan tangan yang tidak bersih
  • Lingkungan dengan sanitasi yang buruk

Kebersihan diri dan makanan menjadi faktor utama dalam pencegahan penularan.

Cara Mencegah Tifoid

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah tifoid:

  • Mencuci tangan sebelum makan dan setelah dari toilet
  • Mengonsumsi makanan yang matang dan bersih
  • Menghindari jajanan yang tidak terjamin kebersihannya
  • Menggunakan air bersih untuk minum
  • Menjaga kebersihan lingkungan
  • Melakukan vaksinasi tifoid sesuai anjuran

Penanganan Awal Tifoid

Jika mengalami gejala tifoid, beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Segera periksa ke tenaga kesehatan
  • Istirahat yang cukup
  • Mengonsumsi obat sesuai resep dokter
  • Menjaga asupan cairan dan nutrisi

Penting untuk tidak mengobati sendiri tanpa diagnosis yang jelas, karena tifoid memerlukan penanganan medis yang tepat.

Kesimpulan

Tifoid adalah penyakit infeksi yang masih sering terjadi di Indonesia dan berkaitan erat dengan kebersihan makanan serta lingkungan. Meskipun gejalanya sering dianggap ringan, tifoid dapat berkembang menjadi kondisi serius jika tidak ditangani dengan baik.

Mengenali gejala sejak dini dan menjaga pola hidup bersih dan sehat merupakan langkah penting untuk mencegah penyakit ini.

Jika Anda atau keluarga mengalami gejala yang mengarah pada tifoid, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah komplikasi yang lebih berbahaya.

Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


Screen-Time-Berlebih.png

Halo, Sobat eRSIy!
Pernah merasa mata cepat lelah, perih, atau sulit fokus setelah terlalu lama menatap layar gadget? Di era digital seperti sekarang, penggunaan gadget sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, baik untuk belajar, bekerja, maupun hiburan. Namun, jika digunakan secara berlebihan tanpa pengaturan yang baik, screen time dapat berdampak pada kesehatan, terutama pada mata dan kondisi mental. Yuk, kita bahas bersama!

Apa Itu Screen Time?

Screen time adalah jumlah waktu yang dihabiskan seseorang untuk menatap layar perangkat digital, seperti ponsel, komputer, tablet, atau televisi. Aktivitas ini meliputi berbagai kegiatan, mulai dari bekerja, belajar, bermain media sosial, hingga menonton.

Dalam batas tertentu, penggunaan gadget tidak menjadi masalah. Namun, screen time yang berlebihan tanpa disertai istirahat yang cukup dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.

Dampak Screen Time terhadap Kesehatan Mata

Penggunaan layar dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan pada mata yang dikenal sebagai digital eye strain. Kondisi ini sering terjadi akibat mata terus-menerus fokus pada layar dalam jarak dekat.

Beberapa keluhan yang umum dirasakan antara lain:

  • Mata terasa lelah dan kering
  • Penglihatan kabur
  • Mata perih atau terasa panas
  • Sakit kepala

Selain itu, saat menatap layar, frekuensi berkedip cenderung menurun, sehingga mata menjadi lebih mudah kering dan tidak nyaman.

Dampak Screen Time terhadap Kondisi Mental

Selain berdampak pada mata, screen time yang berlebihan juga dapat memengaruhi kondisi mental. Hubungan ini umumnya terjadi secara tidak langsung, terutama melalui pola kebiasaan sehari-hari.

Paparan layar yang terlalu lama, terutama pada malam hari, dapat mengganggu kualitas tidur. Kurangnya waktu istirahat yang cukup dapat membuat seseorang menjadi mudah lelah, sulit berkonsentrasi, serta lebih rentan mengalami stres atau perubahan suasana hati.

Di sisi lain, penggunaan gadget yang berlebihan juga dapat mengurangi interaksi sosial secara langsung dan meningkatkan kelelahan mental. Oleh karena itu, penting untuk mengatur penggunaan gadget secara bijak agar keseimbangan aktivitas tetap terjaga.

Cara Mengelola Screen Time dengan Sehat

Penggunaan gadget tetap dapat dilakukan dengan aman selama disertai dengan pengaturan yang baik. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki selama 20 detik
  • Memberikan waktu istirahat pada mata secara berkala
  • Mengurangi penggunaan gadget sebelum tidur
  • Mengatur pencahayaan layar agar tidak terlalu terang atau terlalu redup
  • Membatasi penggunaan gadget sesuai kebutuhan
  • Menyeimbangkan dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial

Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran dalam penggunaan gadget agar tidak berlebihan dan tetap memperhatikan kesehatan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Mata terasa sangat kering atau nyeri
  • Penglihatan kabur yang tidak membaik
  • Sakit kepala yang sering muncul
  • Gangguan tidur yang berkepanjangan

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mencegah gangguan kesehatan yang lebih serius.

Penutup

Penggunaan gadget merupakan bagian dari kehidupan modern yang sulit dihindari. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dapat berdampak pada kesehatan mata dan kondisi mental.

Dengan mengatur screen time secara bijak serta menerapkan kebiasaan yang sehat, risiko gangguan kesehatan dapat diminimalkan. Jika keluhan mulai mengganggu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Batuk-Tak-Kunjung-Sembuh-Waspadai-ISPA-Sebelum-Menjadi-Parah.jpg.jpeg

Batuk, pilek, atau tenggorokan terasa sakit sering kali dianggap sebagai penyakit ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya. Tidak sedikit orang memilih untuk mengabaikannya atau hanya mengandalkan obat bebas tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang, jika tidak ditangani dengan baik, berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti pneumonia.

Apa Itu ISPA?

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan, baik bagian atas seperti hidung dan tenggorokan, maupun bagian bawah seperti paru-paru.

ISPA umumnya disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus dan bakteri, serta dapat dipicu oleh faktor lingkungan seperti polusi udara dan asap rokok.

Seberapa Sering ISPA Terjadi?

ISPA merupakan salah satu penyakit paling umum di Indonesia. Setiap tahunnya, jutaan kasus dilaporkan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan daya tahan tubuh yang lemah.

Tingginya angka kejadian ini menunjukkan bahwa ISPA bukan sekadar penyakit biasa, melainkan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Apa Penyebab ISPA?

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan atau memicu ISPA antara lain:

  • Infeksi virus (penyebab paling umum)
  • Infeksi bakteri
  • Paparan polusi udara
  • Asap rokok, baik aktif maupun pasif
  • Perubahan cuaca yang ekstrem
  • Lingkungan padat dan kurang ventilasi

Gejala ISPA yang Perlu Diketahui

Gejala ISPA dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, antara lain:

  • Batuk
  • Pilek atau hidung tersumbat
  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Nyeri kepala
  • Sesak napas (pada kondisi lebih berat)

Pada kasus ringan, gejala biasanya menyerupai flu biasa. Namun, pada kondisi yang lebih berat, dapat terjadi gangguan pernapasan yang memerlukan penanganan medis segera.

Kapan Harus Waspada?

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami:

  • Batuk yang tidak membaik lebih dari 3 hari
  • Demam tinggi
  • Napas cepat atau terasa sesak
  • Tubuh terasa sangat lemas
  • Pada anak: tampak rewel, sulit makan, atau napas tidak normal
  • Pada lansia: kondisi umum menurun secara signifikan

Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Jika tidak ditangani dengan baik, ISPA dapat berkembang menjadi:

  • Pneumonia (infeksi paru-paru)
  • Infeksi saluran pernapasan berat
  • Gangguan pernapasan kronis
  • Risiko kematian, terutama pada kelompok rentan

Bagaimana ISPA Menular?

ISPA dapat menular dengan mudah melalui:

  • Percikan droplet saat batuk atau bersin
  • Kontak langsung dengan penderita
  • Menyentuh permukaan yang terkontaminasi, kemudian menyentuh wajah

Lingkungan tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk meningkatkan risiko penularan.

Cara Mencegah ISPA

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah ISPA:

  • Rutin mencuci tangan dengan sabun
  • Menggunakan masker saat sedang sakit
  • Menghindari paparan asap rokok
  • Menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Melakukan vaksinasi sesuai anjuran (seperti vaksin influenza dan pneumonia)

Penanganan Awal ISPA

Jika mengalami gejala ringan, beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Istirahat yang cukup
  • Memperbanyak konsumsi air putih
  • Mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan
  • Tidak menggunakan antibiotik tanpa resep dokter

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru dapat menyebabkan resistensi dan memperburuk kondisi di kemudian hari.

Kesimpulan

ISPA adalah penyakit yang sering dianggap sepele, namun memiliki potensi menjadi serius jika tidak ditangani dengan baik. Mengenali gejala sejak dini, memahami faktor risiko, serta melakukan pencegahan adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Call to Action

Jika Anda atau keluarga mengalami gejala ISPA yang tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan yang tepat dan cepat dapat mencegah komplikasi yang lebih berbahaya.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Lonjakan-campak-di-indonesia.jpeg

Halo, Sobat eRSIy!

Pernah dengar kabar tentang campak yang kembali meningkat belakangan ini? Mungkin terdengar seperti penyakit lama, tetapi nyatanya campak masih menjadi ancaman yang perlu diwaspadai. Padahal, penyakit ini sebenarnya dapat dicegah. Lalu, kenapa kasusnya bisa muncul kembali? Yuk, kita pahami bersama!

Apa Itu Campak?

Campak adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dan sangat mudah menular. Penularannya terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin, serta dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu sehingga meningkatkan risiko penularan.

Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat, terutama pada individu yang belum memiliki kekebalan tubuh terhadap virus campak.

Kenapa Kasus Campak Bisa Meningkat Lagi?

Meningkatnya kasus campak dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, antara lain:

  • Penurunan cakupan imunisasi rutin pada anak
  • Tertundanya layanan imunisasi selama pandemi COVID-19
  • Adanya keraguan terhadap vaksin akibat informasi yang tidak tepat
  • Tingginya mobilitas masyarakat yang mempercepat penyebaran virus

Kondisi tersebut menyebabkan kekebalan kelompok (herd immunity), yaitu perlindungan tidak langsung dalam masyarakat, menjadi menurun. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi serta aktif mencari informasi kesehatan yang benar dari tenaga kesehatan.

Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai

Gejala campak biasanya muncul sekitar 7–14 hari setelah terpapar virus. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Demam tinggi
  • Batuk dan pilek
  • Mata merah dan berair
  • Muncul ruam kemerahan yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh
  • Bercak putih kecil di dalam mulut (Koplik spot)

Pada tahap awal, gejala campak dapat menyerupai infeksi ringan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya dan segera memeriksakan diri apabila kondisi tidak membaik.

Komplikasi yang Dapat Terjadi

Campak tidak boleh dianggap sepele karena dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

  • Pneumonia (infeksi paru)
  • Diare berat
  • Infeksi telinga
  • Ensefalitis (radang otak)

Risiko komplikasi lebih tinggi pada balita, anak dengan kondisi gizi kurang, serta individu dengan daya tahan tubuh yang lemah. Pemantauan kondisi kesehatan sejak dini sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Cara Pencegahan yang Efektif

Pencegahan campak yang paling utama adalah melalui imunisasi MR (Measles-Rubella) sesuai jadwal yang dianjurkan. Imunisasi berperan penting dalam membentuk kekebalan tubuh, baik pada individu maupun masyarakat.

Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga menjadi langkah penting dalam mencegah penularan, seperti mencuci tangan secara rutin, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menghindari kontak dengan penderita campak. Edukasi yang tepat juga diperlukan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak benar terkait imunisasi.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Demam tinggi yang tidak kunjung membaik
  • Kondisi tubuh lemas atau penurunan nafsu makan dan minum
  • Sesak napas atau kejang

Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.

Penutup

Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan perilaku hidup sehat. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk tetap waspada, meningkatkan pengetahuan, serta menerapkan langkah pencegahan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala yang mengarah ke campak, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Konsultasi dengan tenaga kesehatan akan membantu mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah risiko yang lebih serius.

 


Sering-Pakai-Headset-Ini-Batas-Aman-Volume-Durasi-yang-Wajib-Kamu-Tahu.jpg.jpeg

Halo Sobat eRSIy

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Pendengaran Sedunia yang diperingati setiap tanggal 3 Maret oleh World Health Organization, yuk kita lebih peduli terhadap kesehatan telinga kita.

Di era sekarang, penggunaan headset dan earphone sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan kebutuhan kerja, mulai dari meeting online, nonton film, hingga mendengarkan musik. Tapi, tahukah Sobat eRSIy bahwa penggunaan yang tidak tepat bisa menyebabkan gangguan pendengaran permanen?

Kenapa Headset Bisa Berbahaya?

Paparan suara keras dalam waktu lama dapat merusak sel rambut halus di dalam koklea (rumah siput) telinga. Sayangnya, sel ini tidak bisa tumbuh kembali jika sudah rusak.

Kondisi yang sering terjadi akibat kebiasaan ini disebut :

  • Noise-Induced Hearing Loss (NIHL)
  • Tinnitus (telinga berdenging)
  • Penurunan pendengaran bertahap

Batas Aman Penggunaan Headset per Hari

Para ahli menyarankan aturan sederhana:

Aturan 60–60

  • Maksimal 60% dari volume tertinggi

  • Digunakan tidak lebih dari 60 menit dalam sekali pemakaian

Setelah 60 menit, istirahatkan telinga minimal 5–10 menit.

Batas Volume yang Aman

Sebagai gambaran:

  • 60 dB → suara percakapan normal (aman)
  • 85 dB → mulai berisiko jika lebih dari 8 jam
  • 100 dB → bisa merusak dalam 15 menit

Sebagian besar smartphone pada volume maksimal bisa mencapai 100–110 dB. Idealnya, volume berada di bawah 80 dB untuk penggunaan harian.

Tanda Telinga Mulai Bermasalah

Segera waspada jika mengalami:

  • Telinga berdenging setelah pakai headset
  • Suara terasa teredam
  • Harus menaikkan volume lebih tinggi dari biasanya
  • Sulit mendengar percakapan di tempat ramai

Jika gejala ini sering muncul, sebaiknya periksa ke dokter spesialis THT di RSI Surabaya A Yani.

Tips Aman Menggunakan Earphone

  • Gunakan fitur pembatas volume di smartphone
  • Pilih headset dengan noise-cancelling agar tidak perlu volume tinggi
  • Hindari tidur dengan earphone terpasang
  • Jangan gunakan di tempat sangat bising
  • Rutin periksa pendengaran jika sering menggunakan headset

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


perut-buncit-padahal-badan-kecil-bisa-jadi-karena-visceral.jpeg

Halo, Sobat eRSIy!
Tubuh terlihat kurus belum tentu bebas dari risiko penumpukan lemak berbahaya. Pernah melihat seseorang dengan badan kecil tetapi perut tampak buncit? Kondisi ini bisa jadi disebabkan oleh visceral fat atau lemak visceral.

Berbeda dengan lemak biasa yang berada di bawah kulit, visceral fat tersimpan jauh di dalam rongga perut dan mengelilingi organ-organ penting tubuh. Jika jumlahnya berlebihan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Yuk, kenali lebih jauh tentang visceral fat dan cara mencegahnya!

 

Apa Itu Visceral Fat?

Visceral fat adalah lemak yang berada di dalam rongga perut dan mengelilingi organ vital seperti hati, pankreas, dan usus.

Dalam jumlah normal, lemak ini sebenarnya membantu melindungi organ tubuh. Namun, jika menumpuk berlebihan, visceral fat dapat memicu gangguan metabolisme dan meningkatkan risiko penyakit kronis.

Karena letaknya tidak selalu terlihat jelas dari luar, banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki penumpukan visceral fat.

 

Mengapa Visceral Fat Berbahaya?

Sobat eRSIy, visceral fat bukan sekadar lemak biasa. Lemak ini aktif menghasilkan zat pemicu peradangan dan hormon tertentu yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh.

Jika berlebihan, visceral fat dapat meningkatkan risiko:

  • Resistensi insulin
  • Diabetes
  • Penyakit jantung
  • Tekanan darah tinggi
  • Peradangan kronis
  • Gangguan metabolisme

Itulah sebabnya perut buncit tidak boleh dianggap sepele, meskipun berat badan terlihat normal.

 

Apa Penyebab Visceral Fat Menumpuk?

Ada beberapa kebiasaan yang dapat memicu penumpukan visceral fat, antara lain:

Pola Makan Tinggi Gula dan Lemak

Terlalu sering mengonsumsi makanan manis, minuman tinggi gula, serta makanan olahan dapat mempercepat penumpukan lemak di area perut.

Kurang Aktivitas Fisik

Jarang bergerak atau terlalu lama duduk membuat pembakaran kalori tidak optimal sehingga lemak lebih mudah menumpuk.

Stres Berkepanjangan

Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang dapat memicu penumpukan lemak visceral.

Kurang Tidur

Kurang tidur dapat mengganggu metabolisme tubuh dan meningkatkan nafsu makan.

Gaya Hidup Sedentari

Kebiasaan rebahan atau duduk terlalu lama tanpa aktivitas fisik juga meningkatkan risiko visceral fat.

 

Tanda yang Perlu Diwaspadai

Beberapa tanda yang sering dikaitkan dengan visceral fat antara lain:

  • Lingkar perut membesar
  • Perut tampak buncit meski badan tidak gemuk
  • Mudah Lelah
  • Berat badan sulit terkontrol
  • Pola makan kurang sehat dan jarang olahraga

Jika mengalami kondisi tersebut, penting untuk mulai memperbaiki pola hidup sejak dini.

 

Cara Mencegah Visceral Fat

Kabar baiknya, visceral fat dapat dikurangi dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Rutin olahraga, terutama kardio dan latihan kekuatan
  • Perbanyak makanan tinggi protein dan serat
  • Kurangi makanan ultra-proses dan tinggi gula
  • Tidur cukup 7–8 jam per hari
  • Kelola stres dengan baik
  • Perbanyak aktivitas fisik harian

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan tubuh.

 

Sobat eRSIy, badan kurus bukan berarti bebas dari risiko penumpukan lemak berbahaya. Visceral fat dapat menumpuk secara diam-diam dan meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.

Karena itu, penting untuk menjaga pola makan, aktif bergerak, dan menerapkan gaya hidup sehat sejak dini. Jangan tunggu sampai muncul gangguan kesehatan, yuk mulai perhatikan kesehatan tubuh dari sekarang!

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Si-kecil-Siap-MPASI.jpeg

Halo, Sobat eRSIy!

Memasuki usia 6 bulan, banyak orang tua mulai bertanya-tanya: “Apakah si kecil sudah siap makan selain ASI?” Momen pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) memang penting, karena menjadi langkah awal bayi belajar mengenal rasa, tekstur, dan pola makan yang sehat.

Namun, MPASI tidak hanya soal usia. Ada beberapa tanda kesiapan yang perlu diperhatikan agar proses makan berjalan aman dan menyenangkan.

Yuk, kenali tanda-tandanya!

1. Usia Sudah Menginjak 6 Bulan

Menurut rekomendasi organisasi kesehatan dunia seperti World Health Organization, bayi dianjurkan mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan. Setelah itu, kebutuhan energi dan zat gizi meningkat sehingga perlu tambahan MPASI.

Jika usia si kecil sudah 6 bulan, ini adalah waktu yang tepat untuk mulai memperhatikan tanda kesiapan lainnya.

2. Kepala Sudah Tegak dan Leher Kuat

Sobat eRSIy, bayi yang siap MPASI biasanya sudah mampu menegakkan kepala dan duduk dengan bantuan. Kontrol kepala dan leher yang baik penting untuk mencegah risiko tersedak saat makan.

3. Refleks Menjulurkan Lidah Berkurang

Bayi baru lahir memiliki refleks mendorong benda keluar dari mulut dengan lidah (tongue thrust reflex). Jika refleks ini mulai berkurang, artinya si kecil sudah lebih siap menerima makanan dengan sendok.

4. Tertarik dengan Makanan

Pernahkah si kecil memperhatikan makanan yang Sobat eRSIy pegang? Atau mencoba meraih makanan di piring? Ketertarikan ini menjadi salah satu tanda bahwa ia mulai ingin mencoba makanan selain ASI.

5. Membuka Mulut Saat Disuapi

Saat diberikan sendok kosong atau makanan, bayi yang siap MPASI biasanya akan membuka mulut dan tampak antusias. Ini tanda koordinasi mulut dan kesiapan makan mulai berkembang.

6. Berat Badan Meningkat Dua Kali Lipat dari Berat Lahir

Secara umum, kesiapan juga dapat dilihat dari pertumbuhan. Jika berat badan bayi sudah sekitar dua kali berat lahir dan pertumbuhannya baik sesuai kurva, biasanya ia sudah siap menerima makanan pendamping.

7.  Jangan Terlalu Cepat atau Terlambat

Sobat eRSIy, memberikan MPASI terlalu dini (sebelum 6 bulan) bisa meningkatkan risiko gangguan pencernaan dan alergi. Sebaliknya, jika terlalu terlambat, bayi bisa mengalami kekurangan zat gizi seperti zat besi.

Yang terpenting, perhatikan tanda kesiapan, bukan hanya usia semata.

Tips Awal Memulai MPASI

✔️ Mulai dengan tekstur lembut (puree atau lumat halus)
✔️ Berikan satu jenis makanan baru setiap 2–3 hari
✔️ Hindari gula dan garam berlebih
✔️ Perhatikan tanda alergi seperti ruam atau muntah
✔️ Tetap lanjutkan pemberian ASI

Kesimpulan

Sobat eRSIy, kesiapan MPASI bukan hanya soal umur, tetapi juga perkembangan motorik dan minat si kecil terhadap makanan. Dengan mengenali tanda-tandanya, proses MPASI bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan aman.

Jika masih ragu, jangan sungkan berkonsultasi dengan dokter anak untuk memastikan tumbuh kembang si kecil optimal.

Yuk, dampingi buah hati belajar makan dengan penuh cinta dan kesabaran ????

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2025. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?