INFO UNTUK ANDA

Yuk-Ketahui-Manfaat-Sensory-Play-untuk-Anak.jpg
27/Nov/2025

Apa Itu Sensory Play?

Sensory play merupakan permainan atau aktivitas yang merangsang satu atau lebih indera anak, termasuk juga indera keseimbangan dan kesadaran tubuh.

 

Mengapa Kegiatan Sensory Play Penting untuk Anak?

  1. Sebagian besar perkembangan otak terjadi sebelum usia 3 tahun
  2. Sensory play memperkuat koneksi saraf, meningkatkan fungsi ngatan, fokus, regulasi emosi, dan membantu anak dalam pemecahan masalahnya
  3. Bermain sensory membantu otak memproses rangsangan pancaindra, sekaligus melatih motorik halus dan kasar

Contoh Aktivitas Sensory Play yang Bisa Diberikan kepada Anak

  • Bermain dengan adonan kue, slime, atau pasir, untuk mengajarkan anak beragam tekstur
  • Bermain dengan jenis kacang yang berbeda bentuk dan warna, untuk mengajarkan anak beragam warna dan bentuk
  • Membiarkan anak untuk makan sendiri, bermain tebak rasa, bentuk, atau warna buah, untuk mengenalkan bau, tekstur, warna, hingga rasa makanan
  • Bermain dengan menumpuk gelas plastik berwarna untuk mengajarkan anak tentang beragam warna
  • Bermain dengan alat musik atau benda yang bisa mengeluarkan suara ketika dipukul, misalnya panci, ember, atau baskom

Manfaat Utama Sensory Play

  1. Interaksi dengan berbagai media (warna, tekstur, rasa) memperluas kosakata dan kemampuan deskriptif saat anak dan orang tua berdiskusi .
  2. Aktivitas seperti mencubit, menuang, atau memindahkan benda memperkuat koordinasi tangan-mata, sedangkan bermain di luar (lompat, lari, naik sepeda) memperbaiki keseimbangan dan kekuatan otot besar
  3. Sensory play mendorong pemecahan masalah (misal, mengelompokkan bentuk/warna), meningkatkan ingatan, konsentrasi, dan kemampuan berpikir fleksibel

Bermain bersama teman atau orang tua mengasah empati, kerjasama, keterampilan regulasi emosi seperti kesabaran dan kepercayaan diri

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


waspada-hiperkolesterolemia.jpeg
21/Nov/2025

Hiperkolesterolemia terjadi saat kadar kolesterol darah (terutama LDL atau “jahat”) melewati batas normal, memperbesar risiko timbulnya aterosklerosis, penyakit jantung koroner, pankreatitis, diabetes, gangguan tiroid, hingga penyakit hati dan ginjal

Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kolesterol

  • Usia dan jenis kelamin: Risiko kolesterol meningkat seiring bertambahnya usia dan lebih rentan pada pria dan wanita usia 40–60 tahun .
  • IMT tinggi (obesitas): Peningkatan berat badan berbanding lurus dengan kenaikan kadar LDL dan total kolesterol
  • Tekanan darah tinggi: Hipertensi sering bersamaan dengan kadar kolesterol yang tinggi
  • Merokok & aktivitas fisik rendah: Kedua faktor ini meningkatkan risiko hiperkolesterolemia

Strategi Mengendalikan Kolesterol

Perubahan Gaya Hidup (Therapeutic Lifestyle Changes – TLC), Strategi ini meliputi :

  1. Kurangi lemak jenuh dan kolesterol makanan
     Setiap pengurangan 1% kalori dari lemak jenuh dapat menurunkan LDL sebesar ~2%
  2. Pilih bahan yang bantu kadar LDL
     Konsumsi sterol/tanaman stanol, serat larut, dan protein kedelai dapat menurunkan LDL
  3. Turunkan berat badan bila perlu
     Menurunkan berat badan membantu memperbaiki profil lipid .
  4. Aktivitas fisik rutin
     Latihan aerobik moderat hingga intensif secara konsisten membantu membakar lemak dan menurunkan LDL

Pencegahan dan  pengelolaan Kolesterol

  • Jaga berat badan ideal (IMT 18,5–24,9 kg/m²).
  • Rutin olahraga minimal 150 menit/minggu.
  • Kurangi merokok dan asupan lemak jenuh.
  • Perlu deteksi dini melalui pemeriksaan kolesterol darah secara berkala.

Kesimpulan

Mengendalikan kolesterol tinggi membutuhkan pendekatan terpadu: perubahan pola makan, penurunan berat badan & peningkatan aktivitas fisik, serta pengobatan bila diperlukan. Strategi TLC dan dukungan dari Kemenkes serta jurnal medis telah menunjukkan efektivitas dalam menurunkan LDL dan risiko penyakit kardiovaskular.

Jika sobat eRSIy mengalami keluhan atau ingin berkonsultasi dapat mengunjungi Poli Penyakit Dalam RSI Surabaya A Yani

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


sering-pusing-merasa-berputar-saat-berjalan-waspadai-gejala-vertigo.jpeg
19/Nov/2025

Apa Itu Vertigo?

Pernahkah Anda merasakan dunia “berputar” padahal Anda diam? Itulah vertigo: ilusi gerakan tubuh sendiri atau lingkungan sekitarnya—yang bukan disebabkan oleh gerakan nyata . Ini berbeda dari pusing ringan: vertigo disertai mual, kesulitan menyeimbangkan diri, dan gerakan mata tak terkendali (nistagmus)

 

Penyebab Vertigo

Vertigo muncul ketika sistem keseimbangan terganggu, baik di telinga dalam, otak, maupun indera proprioseptif (otot dan sendi). Secara umum, vertigo dibagi menjadi dua:

1. Vertigo perifer – masalah pada telinga bagian dalam seperti:

  • BPPV (Benign Paroxysmal Positional Vertigo): kristal otolit lepas menyebabkan sensasi berputar saat ganti posisi
  • Vestibular neuritis/labyrinthitis: peradangan saraf vestibular, biasanya akibat virus .
  • Penyakit Meniere: kelebihan cairan di telinga dalam, ditandai dengan vertigo, tinnitus, dan gangguan pendengaran .

 

2. Vertigo sentral – gangguan di batang otak atau serebelum, misalnya akibat stroke atau tumor.

Gejala Vertigo yang Harus Diwaspadai

Tanda khas vertigo mencakup:

  • Sensasi berputar atau ruang seperti bergoyang
  • Mual atau muntah
  • Mata bergerak tak terkendali (nistagmus)
  • Sulit berjalan lurus atau koordinasi buruk (ataxia)
  • Gejala timbul saat bergerak atau berganti posisi

Pencegahan & Manajemen Jangka Panjang

  • Ikuti Latihan Vestibular secara rutin
  • Hindari perubahan posisi leher dan kepala yang cepat
  • Diet sehat: rendah garam, hindari pemicu Meniere atau migrain vestibular
  • Kurangi stres dan konsumsi kafein/alkohol
  • Segera konsultasi bila gejala persisten atau disertai tanda bahaya

Kesimpulan

Vertigo adalah kondisi medis serius yang mempengaruhi sistem keseimbangan. Diagnosis tepat dan penanganan seperti manuver reposisi BPPV, rehabilitasi vestibular, dan obat sesuai penyebabnya terbukti efektif. Untuk hasil terbaik, segeralah periksakan diri ke dokter dan jalani terapi rutin. Jika vertigo disertai tanda neurologis (misalnya kesulitan bicara, mati rasa, kelemahan otot), segera konsultasikan ke poli saraf RSI Surabaya A Yani.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


Mengapa-Minum-Teh-Setelah-Makan-Tidak-Dianjurkan.jpeg
17/Nov/2025

Minum teh setelah makan adalah kebiasaan yang umum di Indonesia. Namun, para ahli kesehatan menyarankan untuk menghindari kebiasaan ini karena dapat berdampak negatif pada penyerapan nutrisi dan kesehatan pencernaan. Berikut penjelasannya

1. Menghambat Penyerapan Zat Besi

Teh mengandung senyawa tanin dan polifenol yang dapat mengikat zat besi non-heme (zat besi dari sumber nabati) dalam makanan, sehingga menghambat penyerapannya oleh tubuh. Hal ini dapat meningkatkan risiko anemia defisiensi besi, terutama pada remaja putri dan wanita usia subur yang memiliki kebutuhan zat besi lebih tinggi.

2. Meningkatkan Risiko Anemia

Kebiasaan minum teh setelah makan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko anemia. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh setelah makan dapat menurunkan penyerapan zat besi hingga 64%.

3. Memicu Gangguan Pencernaan

Kandungan kafein dalam teh dapat merangsang produksi asam lambung berlebih, yang berpotensi menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Hal ini dapat memicu gejala seperti mual, mulas, dan diare, terutama jika teh dikonsumsi dalam jumlah besar atau saat perut kosong.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Minum Teh?

Untuk meminimalkan dampak negatif terhadap penyerapan nutrisi, disarankan untuk memberikan jeda waktu antara makan dan minum teh. Idealnya, konsumsi teh dilakukan setidaknya satu jam setelah makan. Hal ini memungkinkan tubuh menyerap nutrisi penting dari makanan sebelum tanin dalam teh mengikatnya.

 

Kesimpulan

Meskipun teh memiliki berbagai manfaat kesehatan, seperti kandungan antioksidan dan efek relaksasi, konsumsi teh segera setelah makan dapat menghambat penyerapan zat besi dan meningkatkan risiko anemia serta gangguan pencernaan. Oleh karena itu, sebaiknya hindari minum teh langsung setelah makan dan berikan jeda waktu untuk memastikan penyerapan nutrisi yang optimal.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Cuci-Hidung-Anak-Aman-Gak-Ya.jpeg
12/Nov/2025

Cuci hidung atau irigasi nasal merupakan metode yang aman dan efektif untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan anak. Praktik ini direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sebagai bagian dari penanganan berbagai gangguan pernapasan.

Manfaat Cuci Hidung pada Anak

  1. Mengurangi Gejala Hidung Tersumbat
     Cuci hidung membantu membersihkan lendir, debu, dan alergen dari rongga hidung, sehingga mengurangi gejala hidung tersumbat akibat selesma, rinitis alergi, dan rhinosinusitis akut maupun kronik.
  2. Menurunkan Risiko Infeksi
     Dengan membersihkan rongga hidung secara rutin, cuci hidung dapat mencegah pertumbuhan bakteri dan virus penyebab infeksi saluran pernapasan atas.
  3. Mengurangi Penggunaan Obat-obatan
     Praktik ini dapat mengurangi kebutuhan akan obat-obatan seperti dekongestan dan antibiotik, karena membantu meredakan gejala secara alami.
  4. Meningkatkan Fungsi Mukosiliar
     Cuci hidung memperbaiki fungsi mukosiliar hidung, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan partikel asing, sehingga meningkatkan pertahanan terhadap infeksi.
  5. Membantu Penyaluran Obat
     Dalam beberapa kasus, cuci hidung dapat membantu dalam penyaluran obat ke dalam sinus, meningkatkan efektivitas pengobatan.

Cara Melakukan Cuci Hidung pada Anak

  • Persiapan: Gunakan larutan salin isotonik (NaCl 0,9%) yang steril. Siapkan alat seperti spuit atau alat semprot khusus cuci hidung.
  • Prosedur: Dengan anak dalam posisi duduk atau sedikit menunduk, semprotkan larutan ke salah satu lubang hidung dan biarkan cairan keluar melalui lubang hidung lainnya. Ulangi pada sisi yang berlawanan.
  • Frekuensi: Lakukan 1–2 kali sehari atau sesuai anjuran dokter, terutama saat anak mengalami gejala hidung tersumbat.

Kesimpulan

Cuci hidung adalah metode yang aman dan bermanfaat untuk anak dalam menjaga kesehatan saluran pernapasan. Dengan melakukan cuci hidung secara rutin, dapat membantu mengurangi gejala hidung tersumbat, menurunkan risiko infeksi, dan meningkatkan kualitas hidup anak. Konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan panduan yang sesuai dengan kondisi anak Anda

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Sistitis-Ketika-Buang-Air-Kecil-Jadi-Tidak-Nyaman-1200x1200.jpeg
11/Nov/2025

Pernahkah Anda merasa ingin terus-menerus buang air kecil, tetapi setiap kali ke kamar mandi justru hanya keluar sedikit dan terasa nyeri atau panas? Bila iya, bisa jadi itu adalah sistitis kondisi radang kandung kemih yang sering disebabkan infeksi bakteri.

Sistitis bukan hanya sekadar “anyang-anyangan” dan sebaiknya tidak dianggap sepele. Jika tidak ditangani, infeksi bisa menjalar hingga ginjal dan memicu komplikasi serius.

 

Apa Itu Sistitis?

Sistitis adalah peradangan pada lapisan kandung kemih yang paling sering disebabkan infeksi bakteri, khususnya Escherichia coli (E. coli).

Bakteri ini biasanya berasal dari area anus dan naik ke saluran kemih hingga ke kandung kemih.

 

Penyebab dan Faktor Risiko

Sebagian besar kasus sistitis terjadi karena infeksi bakteri, terutama E. coli. Namun bakteri lain seperti Staphylococcus, Klebsiella, dan Pseudomonas juga bisa menjadi penyebab.

Hal-hal berikut meningkatkan risiko sistitis:

  • Aktivitas seksual
  • Penggunaan spermisida atau diafragma
  • Kehamilan atau menopause
  • Diabetes Mellitus
  • Riwayat infeksi saluran kemih (ISK)
  • Kurang minum air putih
  • Menahan kencing
  • Penggunaan kateter urine
  • Batu ginjal atau kelainan saluran kencing

 

Bagaimana Gejalanya?

Sistitis biasanya ditandai dengan:

  • Dorongan kuat untuk buang air kecil
  • Rasa terbakar saat buang air kecil
  • Buang air kecil sedikit namun sering
  • Urin keruh atau berbau menyengat
  • Darah dalam urin (hematuria)
  • Nyeri panggul atau rasa tertekan di bawah pusar

Pada beberapa orang, gejalanya mungkin tidak tajam, sehingga sering disangka masalah ringan.

 

Apa yang Harus Dilakukan Saat Mengalami Sistitis?

Jika merasakan gejala sistitis, lakukan langkah berikut:

  1. Jangan menahan buang air kecil
  2. Minum banyak air untuk membantu “membilas” bakteri
  3. Jangan minum antibiotik sembarangan harus dengan resep dokter
  4. Segera ke fasilitas kesehatan jika gejala menetap
  5. Bila sering kambuh, konsultasikan ke dokter spesialis urologi

 

Pencegahan Sistitis

Cara sederhana untuk mencegah sistitis:

  • Jaga kebersihan area genital (bersihkan dari depan ke belakang)
  • Minum 8 gelas air per hari
  • Jangan menahan kencing
  • Buang air kecil sebelum dan setelah hubungan seksual
  • Bilas area kelamin sebelum dan sesudah berhubungan

Mitos vs Fakta Sistitis

MitosFakta
Sistitis sembuh sendiriSalah — bisa menyebar ke ginjal jika tidak diobati
Makanan pedas penyebab sistitisTidak — hanya memperburuk gejala
Minum banyak air tidak membantuFaktanya membantu membilas bakteri
Sistitis selalu menyebabkan nyeri hebatTidak, gejala bisa bervariasi

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera ke dokter bila:

  • Nyeri semakin berat
  • Demam dan menggigil
  • Urin berdarah
  • Gejala berulang
  • Anda sedang hamil atau memiliki penyakit kronis seperti diabetes

 

Sistitis adalah kondisi yang umum, terutama pada wanita, namun jangan disepelekan. Dengan kebiasaan hidup bersih, cukup minum, dan pemeriksaan tepat waktu, kita dapat mencegah dan mengatasinya sebelum menjadi lebih parah

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Menjaga-Cahaya-Si-Kecil-Kenali-Retinopati-Prematuritas-pada-Bayi-Prematur.jpeg
03/Nov/2025

Tak banyak orang tua yang menyadari bahwa bayi yang lahir terlalu cepat (prematur) memiliki risiko tinggi mengalami gangguan penglihatan serius. Salah satu kondisi yang paling sering terjadi adalah Retinopati Prematuritas atau ROP gangguan pertumbuhan pembuluh darah pada retina yang dapat menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani dengan cepat.

Menurut data medis, ROP merupakan penyebab utama kebutaan pada anak-anak di seluruh dunia, terutama di negara berkembang di mana fasilitas deteksi dini belum merata.

 

Apa Itu Retinopati Prematuritas (ROP)?

Retinopati Prematuritas adalah kondisi di mana pembuluh darah di retina bayi prematur berkembang secara tidak normal. Retina sendiri adalah jaringan tipis di bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya dan meneruskannya ke otak agar kita bisa melihat.

Pada bayi yang lahir cukup bulan, pembuluh darah retina berkembang sempurna di dalam kandungan. Namun pada bayi yang lahir sebelum waktunya terutama sebelum usia kehamilan 32 minggu atau dengan berat badan di bawah 1.500 gram proses perkembangan pembuluh darah ini belum selesai.

Akibatnya, pembuluh darah bisa tumbuh secara tidak terkendali dan menyebabkan kerusakan pada retina, bahkan lepasnya retina dari posisinya, yang dapat berujung pada kebutaan permanen.

 

Penyebab dan Faktor Risiko ROP

Beberapa faktor utama yang meningkatkan risiko bayi mengalami ROP antara lain:

  1. Kelahiran prematur (< 32 minggu)
  2. Berat badan lahir rendah (< 1.500 gram)
  3. Paparan oksigen tinggi atau terlalu lama di inkubator
  4. Infeksi sistemik atau gangguan pernapasan
  5. Kekurangan nutrisi selama masa perawatan
  6. Transfusi darah berulang

Bayi dengan kombinasi faktor-faktor tersebut perlu mendapatkan pemantauan ketat sejak dini.

 

Gejala ROP yang Perlu Diperhatikan

Pada tahap awal, ROP sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan mata rutin sangat penting. Namun, beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  • Mata juling
  • Bayi tidak merespons cahaya
  • Gangguan penglihatan yang berlanjut hingga kebutaan

 

Tahapan atau Stadium ROP

Berdasarkan tingkat keparahannya, ROP dibagi menjadi lima stadium:

  1. Stadium 1: Muncul garis pemisah antara bagian retina yang sudah memiliki pembuluh darah dan yang belum.
  2. Stadium 2: Garis tersebut makin menonjol seperti tonjolan kecil. Kadang muncul bintik-bintik putih di retina.
  3. Stadium 3: Pembuluh darah baru tumbuh tidak normal dan mengarah keluar retina.
  4. Stadium 4: Sebagian retina mulai terlepas dari tempatnya.
  5. Stadium 5: Retina terlepas seluruhnya, yang berisiko menyebabkan kebutaan total.

Deteksi sejak stadium awal sangat penting agar pengobatan dapat mencegah kerusakan permanen.

 

Bagaimana Cara Mendiagnosis ROP?

Diagnosis ROP dilakukan oleh dokter spesialis mata (Sp.M) melalui pemeriksaan retina bayi prematur.
Beberapa metode pemeriksaan meliputi:

  • Screening rutin pada bayi berisiko tinggi, biasanya dilakukan saat berat badan bayi mencapai sekitar 2.000 gram atau pada usia kehidupan 4–6 minggu.
  • Funduskopi indirect, yaitu pemeriksaan retina menggunakan alat khusus untuk melihat bagian dalam mata.
  • RetCam (Retinal Camera), alat modern yang dapat memotret retina bayi untuk dokumentasi dan penilaian lebih akurat.

 

Penanganan Retinopati Prematuritas

Jika ROP terdeteksi, ada beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan sesuai tingkat keparahannya:

  1. Terapi Laser (Fotokoagulasi) — untuk menghentikan pertumbuhan pembuluh darah abnormal.
  2. Pemberian obat anti-VEGF — membantu menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru yang merusak retina.
  3. Operasi atau tindakan bedah retina — dilakukan pada kasus berat di mana retina sudah mulai atau telah terlepas.

Semakin dini ROP terdeteksi, semakin besar peluang bayi untuk mempertahankan penglihatan normal.

 

Pencegahan: Lebih Baik dari Pengobatan

Langkah pencegahan ROP sangat bergantung pada perawatan bayi sejak awal.
Beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Mencegah kelahiran prematur melalui perawatan kehamilan yang optimal.
  • Pemantauan intensif di ruang perawatan neonatal, terutama terkait penggunaan oksigen.
  • Skrining mata rutin pada semua bayi prematur sesuai usia kehamilan dan berat badan.
  • Konsultasi rutin dengan dokter spesialis anak dan mata untuk pemantauan jangka panjang.

 

Retinopati Prematuritas bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele. Banyak kasus kebutaan pada anak sebenarnya dapat dicegah jika pemeriksaan dini dan pengawasan rutin dilakukan sejak awal kehidupan bayi.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Jangan-Sepelekan-Glaukoma-Kongenital-Bisa-Ganggu-Penglihatan-Si-Kecil-Sejak-Lahir.jpeg
27/Oct/2025

Tidak semua gangguan penglihatan muncul saat seseorang beranjak dewasa. Ada penyakit mata bawaan yang bisa menyerang bahkan sejak bayi lahir, salah satunya adalah glaukoma kongenital.

Kondisi ini memang jarang terjadi, tetapi dampaknya bisa sangat serius bila tidak segera ditangani mulai dari gangguan penglihatan hingga kebutaan permanen.

 

Apa Itu Glaukoma Kongenital?

Glaukoma kongenital adalah penyakit mata bawaan yang muncul sejak bayi lahir atau di awal masa kehidupannya.

Penyakit ini terjadi karena gangguan pada saluran pembuangan cairan mata (aqueous humor), sehingga tekanan di dalam bola mata meningkat. Tekanan tinggi inilah yang dapat merusak saraf optik, bagian penting yang mengirimkan sinyal visual ke otak.

Jika dibiarkan, peningkatan tekanan ini dapat menyebabkan penurunan penglihatan permanen bahkan kebutaan.

“Glaukoma kongenital bukan disebabkan oleh infeksi atau kesalahan perawatan orang tua. Ini murni akibat gangguan perkembangan saluran cairan mata,” jelas tim dokter muda dari FK UNUSA – RSI Surabaya dalam presentasinya.

 

Apa Penyebabnya?

Penyebab utama glaukoma kongenital adalah gangguan perkembangan pada sudut drainase mata (trabekular meshwork) saluran tempat cairan mata seharusnya keluar.

Beberapa kasus berkaitan dengan faktor genetik atau keturunan, meski sebagian besar penyebabnya belum diketahui secara pasti.

Hal penting untuk diketahui: penyakit ini tidak menular dan tidak disebabkan oleh kebersihan bayi atau tindakan orang tua.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda berikut pada bayi atau anak kecil:

  • Mata sering berair dan tampak sensitif terhadap cahaya (fotofobia).
  • Bayi sering menutup kelopak mata atau terlihat tidak nyaman.
  • Pandangan tidak fokus, bayi tidak mengikuti arah benda atau wajah orang.
  • Pada tahap lanjut bisa muncul:
    • Kornea tampak keruh atau membesar.
    • Mata merah dan terlihat lebih besar dari normal.

Jika satu atau lebih tanda tersebut muncul, segera periksakan anak ke dokter spesialis mata anak.

 

Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?

Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati menggunakan alat khusus untuk mengukur tekanan bola mata (tonometri) dan melihat struktur dalam mata.

Karena pasiennya masih bayi, pemeriksaan ini biasanya dilakukan dalam kondisi bius ringan agar anak tidak bergerak.

Deteksi dini sangat penting, semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar peluang penglihatan anak dapat diselamatkan.

 

Cara Mengobati Glaukoma Kongenital

Berbeda dengan glaukoma pada orang dewasa, penanganan utama pada glaukoma kongenital adalah operasi.

Beberapa prosedur yang biasa dilakukan meliputi:

  • Goniotomi dan trabekulotomi, yaitu operasi untuk memperbaiki saluran pembuangan cairan mata agar tekanan berkurang.
  • Obat tetes mata biasanya hanya digunakan sebagai terapi pendukung, bukan pengobatan utama.

Setelah operasi, anak perlu menjalani kontrol rutin untuk memantau hasil operasi dan mencegah tekanan bola mata naik kembali.

 

Peran Penting Orang Tua

Dukungan orang tua menjadi kunci keberhasilan perawatan glaukoma kongenital. Hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:

  • Waspada sejak dini terhadap tanda-tanda kelainan mata pada bayi.
  • Segera konsultasi ke dokter mata anak bila ada gejala mencurigakan.
  • Rutin kontrol setelah operasi sesuai jadwal.
  • Memberikan obat sesuai anjuran dokter, tidak menghentikan terapi tanpa izin.

 

Glaukoma kongenital memang penyakit yang serius, tetapi bukan tanpa harapan. Dengan deteksi dini, tindakan medis yang tepat, dan peran aktif orang tua, anak dapat memiliki penglihatan yang lebih baik di masa depan.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mengenal-Gangguan-Cemas-Menyeluruh-Saat-Pikiran-Tak-Pernah-Benar-Benar-Tenang.png
23/Oct/2025

Pernahkah kamu merasa cemas tanpa henti, bahkan untuk hal-hal kecil yang belum tentu terjadi? Jika rasa khawatir itu muncul hampir setiap hari dan sulit dikendalikan, bisa jadi kamu mengalami gangguan cemas menyeluruh atau dalam istilah medis disebut Generalized Anxiety Disorder (GAD).

Gangguan ini bukan sekadar gugup menjelang ujian atau khawatir menghadapi pekerjaan. Pada penderita GAD, kecemasan hadir hampir terus-menerus bahkan ketika tidak ada ancaman nyata.

 

Apa Itu Gangguan Cemas Menyeluruh?

Gangguan cemas menyeluruh adalah kondisi ketika seseorang mengalami kekhawatiran berlebihan, tidak realistis, dan sulit dikendalikan yang berlangsung hampir setiap hari selama berbulan-bulan.

Rasa cemas ini sering kali disertai berbagai keluhan fisik dan emosional yang membuat penderitanya sulit fokus, mudah lelah, dan tidak bisa menikmati kehidupan sehari-hari.

 

Gejala yang Perlu Diperhatikan

Ciri khas gangguan ini bukan hanya perasaan takut atau panik, tapi kombinasi gejala fisik dan psikis yang sering muncul bersamaan.

Beberapa gejala umum meliputi:

  • Kekhawatiran berlebihan terhadap hal kecil maupun besar.
  • Sulit berkonsentrasi dan merasa “selalu di ujung tanduk”.
  • Gelisah, mudah lelah, atau sulit untuk benar-benar rileks.
  • Keluhan fisik seperti sakit kepala, gemetaran, jantung berdebar, sesak napas, pusing, atau gangguan pencernaan.
  • Gangguan tidur seperti sulit tidur atau mudah terbangun.

Gejala-gejala ini sering disalahartikan sebagai “lelah” atau “banyak pikiran”, padahal bisa jadi menandakan masalah kesehatan mental yang lebih serius.

 

Penyebab Gangguan Cemas Menyeluruh

Menurut para ahli, penyebab GAD bersifat multifaktorial artinya, tidak ada satu penyebab tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai faktor seperti:

  1. Ketidakseimbangan zat kimia otak yang memengaruhi suasana hati dan respons stres.
  2. Trauma atau stres berkepanjangan, seperti kehilangan, tekanan pekerjaan, atau konflik keluarga.
  3. Pola pikir negatif yang membuat seseorang sulit melihat hal dari sisi positif.
  4. Faktor genetik, jika dalam keluarga ada riwayat gangguan kecemasan atau depresi.

 

Apa yang Terjadi Jika Dibiarkan?

Bila tidak ditangani, gangguan cemas menyeluruh bisa berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks.
Kecemasan kronis dapat menyebabkan:

  • Gangguan tidur dan kelelahan fisik.
  • Masalah pencernaan seperti maag atau mual kronis.
  • Penurunan konsentrasi dan produktivitas.
  • Gangguan hubungan sosial karena penderita cenderung menarik diri.
  • Bahkan berisiko berkembang menjadi depresi, gangguan panik, atau penyalahgunaan zat.

 

Cara Mengatasi Gangguan Cemas Menyeluruh

Kabar baiknya, GAD bisa diatasi dengan kombinasi terapi psikologis, pengobatan, dan perubahan gaya hidup.

  1. Konsultasi dengan profesional kesehatan mental
    Psikiater atau psikolog dapat membantu mendiagnosis dan memberikan terapi yang sesuai.
  2. Terapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
    Terapi ini membantu mengubah pola pikir negatif menjadi lebih rasional dan positif.
  3. Manajemen stres
    Lakukan kegiatan relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, yoga, atau jalan santai.
  4. Pola hidup sehat
    Tidur cukup, makan bergizi, dan hindari konsumsi kafein atau alkohol berlebihan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui profesional kesehatan mental jika kamu mengalami hal berikut:

  • Merasa cemas hampir setiap hari selama lebih dari enam bulan.
  • Sulit menjalani aktivitas harian karena kecemasan.
  • Mengalami gangguan tidur, nyeri, atau keluhan fisik tanpa penyebab jelas.
  • Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau perasaan putus asa.

 

Tips Menghadapi Kecemasan Sehari-hari

Bagi kamu yang sering merasa cemas, beberapa langkah sederhana ini bisa membantu:

  • Atur waktu istirahat dan beri tubuh kesempatan untuk pulih.
  • Bicarakan perasaanmu dengan orang yang kamu percaya.
  • Hindari overthinking, fokus pada hal yang bisa kamu kendalikan hari ini.

 

Gangguan cemas menyeluruh bukan akhir dari segalanya. Dengan kesadaran, dukungan, dan penanganan yang tepat, setiap orang memiliki kesempatan untuk hidup lebih tenang dan bermakna.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mengenal-Pterigium-Sayap-Daging-pada-Mata-yang-Sering-Dianggap-Sepele.jpeg
20/Oct/2025

Pernahkah kamu melihat seseorang dengan bagian putih matanya tampak tumbuh jaringan seperti selaput atau “daging tipis” yang menjalar ke arah hitam mata? Kondisi tersebut dikenal sebagai pterigium. Meski terlihat ringan, pterigium bisa mengganggu penglihatan jika dibiarkan tanpa penanganan.

 

Apa Itu Pterigium?

Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular (gabungan jaringan ikat dan pembuluh darah) yang berbentuk seperti segitiga atau sayap. Jaringan ini tumbuh dari konjungtiva  selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan dapat meluas hingga ke kornea, yaitu bagian bening di depan bola mata.

Menurut penelitian oleh Shahraki dkk. (2021), pterigium paling sering ditemukan di daerah beriklim tropis, termasuk Indonesia, karena paparan sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun.

 

Apa Bedanya Pterigium dengan Katarak?

Meski sama-sama bisa mengganggu penglihatan, pterigium berbeda dari katarak.

  • Pterigium tumbuh di permukaan mata (konjungtiva menuju kornea).
  • Katarak terjadi di bagian dalam mata, tepatnya pada lensa, yang menjadi keruh dan menghalangi cahaya.

Jadi, bila kamu melihat adanya selaput tipis yang tumbuh dari sisi putih mata menuju bagian hitam, kemungkinan besar itu adalah pterigium, bukan katarak.

 

Mengapa Pterigium Bisa Terjadi?

Penyebab pasti pterigium belum sepenuhnya dipahami, namun ada beberapa faktor utama yang diketahui memicu pertumbuhannya:

  1. Paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari – faktor terbesar.
    Orang yang sering beraktivitas di luar ruangan tanpa pelindung mata berisiko lebih tinggi.
  2. Iritasi kronis akibat debu, angin, atau asap.
  3. Kondisi lingkungan tropis yang menyebabkan stres oksidatif dan peradangan berulang pada permukaan mata.

Secara ilmiah, paparan UV berlebih dapat merusak DNA sel-sel epitel mata. Akibatnya, terjadi proses peradangan dan pembentukan jaringan baru yang abnormal inilah yang akhirnya membentuk pterigium.

 

Tingkatan atau Derajat Pterigium

Kondisi pterigium dibagi menjadi empat grade (tingkatan) berdasarkan seberapa jauh jaringan tumbuh ke kornea:

  • Grade 1: Jaringan baru mencapai batas antara konjungtiva dan kornea (limbus).
  • Grade 2: Menutupi kornea sekitar 2 mm.
  • Grade 3: Mencapai tepi pupil.
  • Grade 4: Melewati batas pupil dan dapat mengganggu penglihatan secara signifikan.

 

Cara Mengobati Pterigium

Pterigium tidak selalu memerlukan operasi, terutama jika masih kecil dan tidak mengganggu penglihatan. Namun, bila jaringan tumbuh semakin besar, menyebabkan mata merah kronis, atau menutupi pupil, tindakan medis perlu dilakukan.

Beberapa metode penanganan yang biasa digunakan antara lain:

  1. Teknik Bare Sclera

Metode ini cukup sederhana, yaitu mengangkat jaringan pterigium lalu membiarkan area bekasnya terbuka.
Namun, kekurangannya adalah tingkat kekambuhan bisa mencapai 90%, sehingga jarang digunakan sebagai pilihan utama.

  1. Transplantasi Membran Amnion (AMT)

Pada teknik ini, membran amnion digunakan untuk menutupi area bekas pterigium. Jaringan ini menyerupai konjungtiva normal dan dapat mengurangi rasa nyeri pascaoperasi serta mempercepat penyembuhan.
Meski demikian, risiko kambuh tetap ada, biasanya dalam waktu 3–6 bulan setelah operasi.

  1. Autograft Konjungtiva

Merupakan metode yang paling banyak direkomendasikan karena menggunakan jaringan konjungtiva pasien sendiri untuk menutup area bekas pterigium.
Kelebihannya:

  • Risiko kekambuhan lebih rendah dibanding teknik lain.
  • Penampilan mata pascaoperasi lebih baik secara kosmetik.
  • Reaksi penolakan imun hampir tidak ada.

Selain itu, penggunaan obat tambahan seperti Mitomycin-C, Anti-VEGF (Bevacizumab), atau Siklosporin A juga dapat membantu menekan risiko kambuh setelah operasi.

 

Pencegahan Pterigium

Meski bisa diobati, pencegahan tentu lebih baik. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

  1. Gunakan kacamata hitam dengan perlindungan UV dan topi lebar saat beraktivitas di luar ruangan.
  2. Hindari paparan debu dan polusi secara berlebihan.
  3. Segera periksa ke dokter mata bila muncul keluhan seperti mata merah, berair, atau terasa ada “sesuatu” di mata.

 

Pterigium memang bukan penyakit yang langsung membahayakan, tetapi jika dibiarkan dapat menurunkan kualitas penglihatan dan menimbulkan keluhan kronis.
Kuncinya adalah melindungi mata dari paparan sinar matahari dan iritasi lingkungan, serta memeriksakan diri lebih awal bila muncul gejala.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2025. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?