INFO UNTUK ANDA

Waspada-Penyakit-Leptospirosis.jpeg
30/Jan/2026

Sobat eRSIy, leptospirosis adalah penyakit yang dapat menyerang manusia melalui kontak dengan hewan yang terkontaminasi bakteri Leptospira. Lingkungan yang kotor dan tidak sehat bisa menjadi sarang bakteri ini, yang sering ditemukan di urine hewan seperti tikus, air kotor, atau lumpur. Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan sangat penting untuk mencegah penularan penyakit ini.

 

Leptospirosis merupakan infeksi bakteri yang bisa masuk ke tubuh melalui luka atau selaput lendir ketika kita bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan yang membawa bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat bertahan lama di lingkungan yang basah dan kotor, terutama selama musim hujan dan ketika terjadi banjir.

 

Gejala Leptospirosis

Pada awalnya, leptospirosis sering kali tidak menunjukkan gejala atau bisa mirip flu, antara lain:

  • Demam tinggi dan menggigil
  • Sakit kepala dan nyeri otot, terutama pada betis dan punggung bawah
  • Mual, muntah, dan diare
  • Mata merah dan nyeri perut

Jika tidak diobati, penyakit ini dapat berkembang menjadi lebih serius, menyebabkan kuning pada kulit dan mata (jaundice), gangguan pernapasan, hingga kerusakan organ hati dan ginjal.

Langkah Mencegah Leptospirosis

  1. Menjaga Kebersihan Lingkungan
    Pastikan lingkungan rumah dan sekitarnya bersih dari kotoran hewan dan tumpukan sampah yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya tikus.
  2. Hindari Kontak dengan Air dan Tanah Tercemar
    Ketika banjir atau berada di area rawan leptospirosis, hindari kontak langsung dengan air dan lumpur yang berpotensi terkontaminasi.
  3. Gunakan Pelindung Diri
    Memakai alas kaki dan sarung tangan saat membersihkan area kotor atau saat bekerja di pertanian dan peternakan.
  4. Mengendalikan Populasi Tikus
    Lakukan pembersihan yang rutin dan pasang perangkap untuk mengurangi populasi tikus di sekitar rumah.
  5. Konsumsi Makanan dan Minuman Bersih
    Pastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi bebas dari kontaminasi kotoran hewan.

Manfaat Menjaga Lingkungan dari Leptospirosis

  1. Mencegah Penularan Penyakit Berbasis Lingkungan
    Lingkungan yang bersih mengurangi risiko kejadian leptospirosis dan penyakit infeksi lainnya.
  2. Mendukung Kesehatan Masyarakat Secara Keseluruhan
    Lingkungan yang sehat meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi beban penyakit.
  3. Menjamin Keamanan dan Kenyamanan Tempat Tinggal
    Dengan mengelola sampah dan hewan pengerat, lingkungan menjadi aman dan nyaman untuk dihuni.

 

Itulah pentingnya menjaga lingkungan agar terhindar dari leptospirosis. Jika Sobat eRSIy mengalami gejala leptospirosis atau memerlukan informasi lebih lanjut, segera konsultasikan dengan dokter.

Terus jaga kesehatan otak dengan gaya hidup sehat agar tetap aktif dan produktif setiap hari

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505

0811363670 / 47 (customer care)

Atau anda bisa mengunjungi RSI Surabaya A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya.


Ancaman-Serangan-Jantung.jpeg
29/Jan/2026

Dulu, serangan jantung dikenal sebagai penyakit orang tua. Namun, kini anak muda usia 20-40 tahun juga mulai terancam. Gaya hidup modern seperti pola makan tidak sehat, kurang olahraga, stres, serta kebiasaan merokok dan begadang membuat serangan jantung bisa datang lebih cepat. Serangan jantung tak lagi menunggu usia tua; ia bisa menyerang siapa saja yang abai menjaga kesehatannya.

 

Penyebab Utama Ada di Kebiasaan Sehari-hari

  • Pola makan cepat saji, konsumsi kopi berlebih, begadang, dan kurang olahraga.
  • Stres kronis dari pekerjaan, sosial, dan tekanan hidup.
  • Kebiasaan merokok dan vaping yang mempercepat kerusakan pembuluh darah.
  • Faktor genetik & kolesterol tinggi tetap berisiko meski tubuh terlihat sehat.

 Gejala Sering Tidak Terasa Berat

  • Nyeri dada ringan, lengan kiri pegal, napas pendek, mual.
  • Sering disangka masuk angin atau kelelahan.

Akibat Keterlambatan Penanganan

  • Banyak kasus anak muda kolaps mendadak di tempat kerja atau saat berolahraga.
  • Keterlambatan mengenali gejala menyebabkan kondisi memburuk cepat.

Edukasi & Pencegahan Sejak Dini Sangat Penting

  • Rutin periksa kesehatan dan kenali riwayat keluarga.
  • Terapkan pola hidup sehat (makan bergizi, olahraga rutin, tidur cukup).
  • Hindari rokok, alkohol, dan kebiasaan duduk terlalu lama.

Jaga Ritme Jantung, Dengarkan Tanda Tubuh

  • Jantung memberi tanda, tapi sering diabaikan.
  • Kesehatan adalah kebutuhan saat ini, bukan investasi masa depan saja.
  • Generasi muda adalah aset, jangan sampai potensinya hilang sia-sia.

 

PENUTUP

Sobat eRSIy, serangan jantung di usia muda adalah ancaman nyata yang sering kali datang tanpa tanda besar. Jangan tunggu sampai tubuh memberi alarm bahaya. Mulailah peduli sejak dini dengan menerapkan pola hidup sehat, rutin memeriksa kesehatan, dan mendengarkan setiap sinyal dari tubuh. Jantung sehat adalah kunci agar masa depan penuh potensi tidak terhenti tiba-tiba. Karena menjaga jantung berarti menjaga hidup.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Kenali-Hipotermia.jpeg
28/Jan/2026

Hipotermia saat mendaki gunung adalah kondisi tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya untuk memproduksinya, menyebabkan suhu tubuh turun drastis di bawah normal (di bawah 35°C). Kondisi ini sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

 

Penyebab Hipotermia:

Hipotermia umumnya terjadi akibat paparan suhu dingin dalam waktu lama, baik di lingkungan terbuka maupun tertutup. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hipotermia meliputi:

  1. Paparan cuaca dingin (misalnya saat mendaki gunung atau tersesat di lingkungan bersalju).
  2. Terendam air dingin (seperti jatuh ke laut atau sungai yang bersuhu rendah).
  3. Pakaian yang tidak memadai dalam cuaca dingin.
  4. Gangguan kesehatan tertentu, seperti diabetes, hipotiroidisme, atau malnutrisi, yang dapat menghambat produksi panas tubuh.
  5. Konsumsi alkohol atau obat-obatan yang dapat mengganggu regulasi suhu tubuh.

 

MENGAPA PENDAKI GUNUNG RENTAN TERKENA HIPOTERMIA?

Pendaki gunung termasuk kelompok yang paling rentan mengalami hipotermia karena beberapa faktor, antara lain:

  • Kondisi Cuaca yang Tidak Terduga: Suhu di pegunungan dapat berubah secara drastis, terutama pada malam hari atau saat terjadi badai.
  • Pakaian yang Tidak Sesuai: Pendaki pemula sering kali kurang memahami pentingnya pakaian berlapis (layering) yang mampu menjaga suhu tubuh.
  • Kelelahan Fisik: Aktivitas fisik yang berat membuat tubuh lebih cepat kehilangan panas, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan makanan dan minuman yang cukup.
  • Efek Ketinggian: Pada ketinggian tertentu, tubuh mengalami kesulitan dalam mengatur suhu dan produksi panas, meningkatkan risiko hipotermia.
  • Kurangnya Adaptasi terhadap Dingin: Pendaki yang tidak terbiasa dengan lingkungan bersuhu rendah lebih cepat mengalami kehilangan panas tubuh.

Gejala Hipotermia

Gejala hipotermia berkembang secara bertahap dan dapat bervariasi tergantung tingkat keparahannya:

  • Ringan (32–35°C): Menggigil, kulit pucat, kelelahan, kebingungan ringan, bicara melantur, dan kesulitan menggerakkan tubuh.
  • Sedang (28–32°C): Berhenti menggigil, gangguan koordinasi yang parah, kantuk berlebihan, denyut jantung dan pernapasan melambat.
  • Parah (<28°C): Hilang kesadaran, denyut jantung dan pernapasan hampir tidak terdeteksi, pupil melebar, dan berisiko henti jantung.

Penanganan Hipotermia

Jika seseorang mengalami hipotermia, segera lakukan langkah-langkah berikut sebelum bantuan medis datang :

  1. Pindahkan ke tempat yang lebih hangat dan kering.
  2. Lepaskan pakaian basah dan ganti dengan pakaian kering dan hangat.
  3. Gunakan selimut tebal atau sumber panas seperti botol air hangat yang dibungkus kain di area leher, dada, atau selangkangan.
  4. Berikan minuman hangat yang tidak mengandung alkohol atau kafein.
  5. Hindari pemanasan langsung seperti menggunakan penghangat ruangan dengan suhu tinggi karena dapat menyebabkan syok.
  6. Jika korban tidak sadar, segera lakukan CPR jika tidak ada detak jantung atau napas.

Pencegahan Hipotermia

Untuk mencegah hipotermia, penting untuk:

  • Gunakan pakaian yang sesuai saat berada di lingkungan dingin, termasuk pakaian berlapis, jaket tahan air, dan topi.
  • Tetap kering dan hindari kontak langsung dengan air dingin.
  • Konsumsi makanan bergizi untuk menjaga energi tubuh
  • Hindari konsumsi alkohol.
  • Selalu bawa perlengkapan darurat, terutama jika beraktivitas di alam terbuka.

Pastikan tubuh pendaki dalam keadaan yang prima sebelum memutuskan untuk mendaki gunung dengan melakukan MCU di RSI Surabaya A Yani.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Rokok-Elektrik.jpeg
26/Jan/2026

Hai Sobat Ersiy,Rokok elektrik kini semakin populer dengan berbagai varian rasa yang menggoda. Banyak yang mengira rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok tembakau. Padahal, di balik rasa manis dan aroma menarik, rokok elektrik menyimpan bahaya yang tak kalah serius. Yuk, kenali bahaya terselubung dibalik rokok elektrik!

 

Rokok Sebagai Ancaman Kesehatan:

  • Menyebabkan ±6 juta kematian/tahun.
  • 600 ribu kematian akibat asap rokok (perokok pasif).
  • Efek adiksi rokok sangat kuat, bahkan melebihi kebutuhan primer.

Rokok Elektrik Sebagai Alternatif:

  • Populer sebagai “cara aman” berhenti merokok.
  • Diklaim lebih ramah lingkungan dan lebih aman dari tembakau.
  • Perokok pemula tertarik karena dianggap tidak berbahaya.

Fakta Kandungan Rokok Elektrik:

  • Mengandung nikotin cair, propilen glikol, gliserol, asam benzoate, dan penambah rasa.
  • Takaran kandungan tidak jelas karena tidak melewati uji BPOM.
  • Regulasi di Indonesia masih belum jelas.

Bahaya Konsumsi Berlebihan:

  • Konsumsi harian rokok elektrik sulit diukur (tidak seperti batang rokok).
  • Perokok cenderung tidak sadar jumlah hisapan karena merasa “aman”.
  • Potensi konsumsi zat berbahaya lebih tinggi dari rokok tembakau.

Rasa dan Bentuk yang Menjebak:

  • Varian rasa membuat perokok lebih percaya diri merokok di mana saja.
  • Residu rokok elektrik meningkatkan perokok pasif.
  • Bentuk dan rasa menarik meningkatkan perokok pemula, terutama remaja.

 

Ingat ya, Sobat Ersiy, baik rokok tembakau maupun elektrik, keduanya sama-sama berbahaya bagi kesehatan. Jangan sampai tertipu dengan rasa dan bentuknya yang menarik. Berhenti merokok adalah pilihan terbaik untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitar kita. jIka merasa sulit, jangan ragu memeriksakan diri di poli paru Rumah Sakit Islam Surabaya A Yani

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mata-Bayi-Tampak-Berair-Terus-Bisa-Jadi-Obstruksi-Ductus-Nasolakrimalis.jpeg
23/Jan/2026

Hai Sobat Ersiy, Mata bayi yang terus berair memang sering bikin orang tua cemas. Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi adalah obstruksi ductus nasolakrimalis atau yang dikenal sebagai dakriostenosis. Meski umumnya tidak berbahaya dan bisa membaik seiring pertumbuhan si kecil, kondisi ini tetap perlu dikenali sejak dini agar tidak menimbulkan masalah lanjutan. Yuk, kenali lebih dekat penyebab mata bayi berair agar penanganannya tepat

 

Apa Itu Obstruksi Ductus Nasolakrimalis?

Obstruksi ductus nasolakrimalis adalah kondisi tersumbat atau menyempitnya saluran air mata (duktus nasolakrimal), sehingga air mata tidak dapat mengalir dengan normal ke rongga hidung. Akibatnya, air mata menumpuk dan keluar berlebihan dari mata.

Kondisi ini paling sering bersifat kongenital (sejak lahir) akibat sistem drainase air mata yang belum berkembang sempurna. Namun, pada beberapa kasus dapat pula terjadi karena faktor yang didapat, seperti trauma atau peradangan sistemik.

 

Seberapa Sering Terjadi?

Obstruksi ductus nasolakrimalis tergolong cukup sering ditemukan pada bayi. Sekitar 6–20% bayi mengalami gangguan aliran air mata pada tahun pertama kehidupan. Bahkan, sekitar 20% bayi sehat dapat menunjukkan gejala mata berair pada usia awal.

Kabar baiknya, kondisi ini memiliki angka kesembuhan spontan yang tinggi. Sekitar 70% bayi bebas gejala pada usia 3 bulan, dan lebih dari 90% sembuh sebelum usia 1 tahun tanpa tindakan operasi.

 

Tanda dan Gejala yang Perlu Diperhatikan

Gejala biasanya mulai muncul beberapa hari hingga minggu setelah bayi lahir dan dapat memburuk saat bayi mengalami infeksi saluran napas atas atau terpapar udara dingin. Beberapa tanda yang sering ditemukan meliputi:

  • Mata berair terus-menerus meskipun bayi tidak menangis
  • Air mata berlebihan hingga tampak “banjir”
  • Penumpukan cairan mukoid atau mukopurulen (mirip nanah)
  • Timbul kerak pada kelopak mata
  • Kemerahan atau iritasi kulit di sekitar mata akibat gesekan air mata

 

Penyebab Terjadinya Sumbatan

Pada sebagian besar bayi, obstruksi disebabkan oleh saluran nasolakrimal yang belum terbuka sempurna. Kondisi ini biasanya akan membaik secara alami seiring pertumbuhan. Namun, bila terjadi sumbatan menetap, air mata yang tertahan dapat memicu infeksi, seperti dakriosistitis.

Penanganan dan Perawatan di Rumah

Penanganan utama obstruksi ductus nasolakrimalis tanpa komplikasi adalah pijat nasolakrimal, yang bertujuan membantu membuka sumbatan agar air mata dapat mengalir normal.

Selain itu, perawatan yang dianjurkan meliputi:

  • Pijat nasolakrimal secara rutin
  • Membersihkan kelopak mata dengan air hangat
  • Pemberian antibiotik topikal bila terdapat tanda infeksi, sesuai anjuran dokter

 

Cara Melakukan Pijat Nasolakrimal

Pijat dapat dilakukan oleh orang tua di rumah dengan langkah-langkah berikut:

  1. Cuci tangan hingga bersih
  2. Posisikan bayi dengan kepala sedikit menengadah
  3. Temukan titik pijat di atas kantung lakrimal (sudut dalam mata)
  4. Gunakan jari telunjuk atau kelingking, lalu tekan perlahan ke arah bawah mengikuti sisi hidung
  5. Lakukan gerakan memijat dari sudut mata ke bawah sebanyak 5–10 kali per sesi
  6. Pijat dapat dilakukan 2–4 kali sehari secara rutin

 

Ingat ya, Sobat Ersiy, meski obstruksi ductus nasolakrimalis tergolong kondisi yang sering terjadi pada bayi dan umumnya bisa membaik dengan sendirinya, perawatan yang tepat dan pemantauan rutin tetap sangat penting. Dengan pemahaman yang baik, orang tua dapat membantu meminimalkan risiko komplikasi sejak dini. Jika mata si kecil terus berair atau muncul tanda infeksi, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter agar penanganannya lebih optimal

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Perdarahan-Subkonjungtiva-Kondisi-Mata-Merah-yang-Umumnya-Tidak-Berbahaya.jpeg
22/Jan/2026

Perdarahan subkonjungtiva merupakan kondisi mata yang ditandai dengan munculnya bercak merah terang pada bagian putih mata (sklera). Kondisi ini terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil yang berada di bawah lapisan konjungtiva. Meski tampak mencolok dan sering menimbulkan kekhawatiran, perdarahan subkonjungtiva pada umumnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya.

 

Penyebab Perdarahan Subkonjungtiva

Beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya perdarahan subkonjungtiva antara lain:

  • Batuk, bersin, atau muntah yang kuat
  • Mengejan berlebihan
  • Cedera ringan pada mata
  • Mengucek mata terlalu keras
  • Tekanan darah tinggi
  • Penggunaan obat pengencer darah
  • Gangguan pembekuan darah
  • Operasi mata atau trauma sebelumnya

Pada sebagian kasus, perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi tanpa penyebab yang jelas.

 

Gejala yang Umum Dirasakan

Gejala utama perdarahan subkonjungtiva adalah:

  • Bercak merah terang pada bagian putih mata
  • Tidak disertai nyeri
  • Tidak mengganggu penglihatan
  • Tidak terasa gatal atau perih yang berat

Warna merah dapat berubah menjadi kecokelatan atau kekuningan seiring proses penyembuhan, mirip seperti memar pada kulit.

 

Penanganan dan Perawatan

Sebagian besar kasus perdarahan subkonjungtiva tidak memerlukan pengobatan khusus. Darah akan diserap kembali oleh tubuh secara bertahap dalam waktu sekitar 1–2 minggu.

Langkah perawatan yang dapat dilakukan meliputi:

  • Menghindari mengucek mata
  • Menggunakan obat tetes mata pelumas bila mata terasa tidak nyaman
  • Mengontrol tekanan darah secara rutin
  • Menghindari aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan secara tiba-tiba

 

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun umumnya tidak berbahaya, pemeriksaan medis dianjurkan apabila:

  • Perdarahan sering berulang
  • Disertai nyeri hebat atau gangguan penglihatan
  • Terjadi setelah cedera berat pada mata
  • Disertai memar di bagian tubuh lain tanpa sebab yang jelas
  • Pasien memiliki riwayat gangguan pembekuan darah atau mengonsumsi obat pengencer darah

 

Perdarahan subkonjungtiva merupakan kondisi mata yang sering terlihat mengkhawatirkan namun umumnya tidak berbahaya. Dengan pemahaman yang tepat dan perawatan sederhana, kondisi ini dapat sembuh secara alami. Namun, pemeriksaan ke dokter mata tetap disarankan untuk memastikan tidak terdapat gangguan kesehatan lain yang mendasari.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


cacar-air.jpg
14/Jan/2026

Cacar air atau varicella adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak, namun juga bisa terjadi pada orang dewasa yang belum pernah terinfeksi atau belum mendapat vaksin cacar air. Meski sering tergolong ringan, cacar air tetap perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan komplikasi bila tidak ditangani dengan baik

 

Gejala Cacar Air

Gejala awal biasanya berupa demam, badan terasa lemas, dan nafsu makan menurun. Setelah itu muncul ruam yang berkembang bertahap, mulai dari bintik merah, lenting berisi cairan, hingga akhirnya mengering menjadi keropeng. Ruam umumnya menyebar dari badan ke wajah dan anggota tubuh lain

 

Cara Penularan

Cacar air sangat mudah menular melalui percikan batuk atau bersin, kontak langsung dengan cairan lenting, serta benda yang terkontaminasi. Penularan dapat terjadi sejak dua hari sebelum ruam muncul hingga semua bintik mengering

 

Perawatan dan Pencegahan

Perawatan cacar air bertujuan meredakan gejala, seperti istirahat cukup, menjaga kebersihan tubuh, dan menghindari menggaruk bintik cacar. Pencegahan terbaik adalah vaksinasi varicella, disertai perilaku hidup bersih dan menghindari kontak dengan penderita

 

Cacar air merupakan penyakit menular yang umumnya sembuh sendiri, namun tetap perlu perhatian agar tidak menimbulkan komplikasi dan penularan lebih luas. Mengenali gejala sejak dini dan melakukan pencegahan yang tepat menjadi langkah penting untuk melindungi diri dan keluarga

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


presbiakusis.jpeg
06/Jan/2026

 

Presbiakusis adalah gangguan pendengaran yang terjadi secara bertahap akibat proses penuaan. Kondisi ini umum dialami oleh lansia dan ditandai dengan menurunnya kemampuan mendengar, terutama terhadap suara bernada tinggi. Meski sering dianggap sebagai bagian alami dari bertambahnya usia, presbiakusis tetap perlu dikenali dan ditangani agar tidak menurunkan kualitas hidup penderitanya

 

Apa Itu Presbiakusis?

Presbiakusis merupakan jenis gangguan pendengaran sensorineural yang disebabkan oleh kerusakan sel-sel rambut halus di telinga bagian dalam atau jalur saraf pendengaran. Kerusakan ini bersifat progresif dan umumnya terjadi pada kedua telinga secara bersamaan. Seiring waktu, kemampuan telinga untuk menangkap dan menerjemahkan suara menjadi sinyal ke otak akan semakin berkurang

 

Penyebab Presbiakusis

Beberapa faktor berperan dalam terjadinya presbiakusis, antara lain:

  • Proses penuaan alami, yang menyebabkan penurunan fungsi sel-sel pendengaran.
  • Paparan suara bising jangka panjang, seperti lingkungan kerja yang bising.
  • Faktor genetik, di mana riwayat gangguan pendengaran dalam keluarga meningkatkan risiko.
  • Penyakit tertentu, seperti diabetes atau gangguan pembuluh darah.
  • Efek samping obat-obatan ototoksik yang dapat merusak saraf pendengaran

 

Gejala yang Sering Dirasakan

Presbiakusis berkembang secara perlahan, sehingga sering tidak disadari pada tahap awal. Gejala yang umum meliputi:

  • Sulit mendengar percakapan, terutama di tempat ramai
  • Kesulitan memahami ucapan meski suara terdengar cukup keras
  • Lebih sering meminta lawan bicara mengulang perkataan
  • Telinga terasa berdenging (tinnitus)
  • Cenderung menaikkan volume televisi atau radio

 

Dampak Presbiakusis terhadap Kualitas Hidup

Gangguan pendengaran yang tidak ditangani dapat berdampak luas, mulai dari kesulitan berkomunikasi, penurunan interaksi sosial, hingga meningkatkan risiko depresi dan penurunan fungsi kognitif pada lansia. Oleh karena itu, presbiakusis tidak sebaiknya dianggap sepele

 

Cara Diagnosis Presbiakusis

Diagnosis presbiakusis dilakukan melalui pemeriksaan pendengaran oleh tenaga medis, seperti tes audiometri. Pemeriksaan ini bertujuan menilai tingkat dan jenis gangguan pendengaran serta membantu menentukan penanganan yang tepat

 

Penanganan dan Pencegahan

Hingga saat ini, kerusakan pendengaran akibat presbiakusis tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Namun, beberapa langkah dapat membantu memperbaiki fungsi komunikasi, antara lain:

  • Penggunaan alat bantu dengar
  • Latihan komunikasi dan rehabilitasi pendengaran
  • Menghindari paparan suara bising berlebihan
  • Menjaga kesehatan secara umum, termasuk mengontrol penyakit kronis

 

Pemeriksaan ke dokter dianjurkan jika gangguan pendengaran mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, komunikasi, atau menyebabkan ketidaknyamanan seperti telinga berdenging terus-menerus. Deteksi dan penanganan dini dapat membantu mencegah dampak yang lebih serius.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


toxic-neurophaty.jpg
29/Dec/2025

Toxic neuropathy atau neuropati toksik adalah kondisi gangguan saraf tepi yang terjadi akibat paparan zat beracun tertentu. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan saraf dalam menghantarkan sinyal ke otot maupun organ sensorik, sehingga menimbulkan berbagai keluhan seperti kesemutan, nyeri, hingga kelemahan otot.

Neuropati toksik umumnya berkembang secara bertahap, terutama bila seseorang terpapar zat berbahaya dalam jangka waktu lama, baik melalui lingkungan kerja, obat-obatan, maupun konsumsi zat tertentu.

 

Apa Itu Toxic Neuropathy?

Toxic neuropathy merupakan kerusakan saraf yang disebabkan oleh paparan bahan kimia atau toksin yang bersifat neurotoksik. Zat-zat ini dapat merusak struktur atau fungsi sel saraf, terutama saraf tepi (peripheral nerve), yang berperan dalam sensasi dan gerakan tubuh.

Berdasarkan mekanismenya, toksin dapat:

  • Mengganggu metabolisme sel saraf
  • Merusak mielin (selubung pelindung saraf)
  • Menyebabkan degenerasi akson saraf

 

Penyebab Toxic Neuropathy

Beberapa penyebab umum neuropati toksik meliputi:

  1. Paparan logam berat
    Seperti timbal, merkuri, arsenik, dan talium yang sering ditemukan di lingkungan industri atau akibat kontaminasi lingkungan.
  2. Zat kimia industri
    Termasuk pelarut organik (misalnya n-heksana), pestisida, dan bahan kimia tertentu yang dapat merusak saraf bila terhirup atau terserap kulit.
  3. Obat-obatan tertentu
    Beberapa obat kemoterapi, antibiotik, dan obat antikejang dapat menimbulkan efek samping neuropati bila digunakan jangka panjang atau dosis tinggi.
  4. Alkohol
    Konsumsi alkohol kronis dapat menyebabkan kerusakan saraf secara langsung serta memperburuk kekurangan nutrisi penting bagi saraf.

 

Gejala yang Dapat Muncul

Gejala toxic neuropathy bervariasi tergantung jenis toksin, lama paparan, dan saraf yang terdampak. Keluhan yang sering dialami antara lain:

  • Kesemutan atau rasa baal di tangan dan kaki
  • Nyeri seperti terbakar atau tertusuk
  • Kelemahan otot
  • Gangguan koordinasi dan keseimbangan
  • Penurunan refleks
  • Sensitivitas berkurang terhadap suhu atau nyeri

Pada kondisi berat, gangguan dapat berkembang menjadi kesulitan berjalan atau aktivitas sehari-hari terganggu secara signifikan.

 

Bagaimana Toxic Neuropathy Didiagnosis?

Diagnosis dilakukan melalui kombinasi:

  • Riwayat paparan toksin, termasuk pekerjaan dan penggunaan obat
  • Pemeriksaan fisik dan neurologis
  • Pemeriksaan penunjang, seperti elektromiografi (EMG), nerve conduction study (NCS), serta tes laboratorium untuk mendeteksi zat beracun dalam tubuh

Pemeriksaan menyeluruh penting untuk membedakan neuropati toksik dengan jenis neuropati lain.

 

Penanganan dan Pengobatan

Penanganan toxic neuropathy berfokus pada:

  1. Menghentikan paparan toksin
    Langkah paling penting untuk mencegah kerusakan saraf lebih lanjut.
  2. Terapi simptomatik
    Pemberian obat untuk mengurangi nyeri saraf, seperti analgesik atau obat neuropatik.
  3. Rehabilitasi dan fisioterapi
    Membantu mempertahankan kekuatan otot dan fungsi gerak.
  4. Perbaikan status nutrisi
    Terutama vitamin B kompleks yang berperan penting dalam kesehatan saraf.

Pemulihan dapat berlangsung lambat dan bergantung pada tingkat kerusakan saraf serta kecepatan penghentian paparan toksin.

 

Pencegahan Toxic Neuropathy

Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menggunakan alat pelindung diri di lingkungan kerja berisiko
  • Menghindari paparan zat kimia berbahaya tanpa pengamanan
  • Mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter
  • Membatasi konsumsi alkohol
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, terutama bagi pekerja industri

 

Toxic neuropathy adalah gangguan saraf serius yang disebabkan oleh paparan zat beracun, baik dari lingkungan, obat-obatan, maupun kebiasaan tertentu. Deteksi dini dan penghentian paparan toksin menjadi kunci utama dalam mencegah kerusakan saraf yang lebih berat. Dengan penanganan yang tepat dan gaya hidup sehat, gejala dapat dikendalikan dan kualitas hidup tetap terjaga.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Ulkus-Kornea-Luka-pada-Mata-yang-Bisa-Berujung-Kebutaan.jpeg
24/Dec/2025

Ulkus kornea merupakan salah satu penyakit mata serius yang perlu diwaspadai. Kondisi ini ditandai dengan luka terbuka pada kornea, yaitu lapisan bening di bagian depan mata yang berperan penting dalam proses penglihatan. Ulkus kornea dapat disebabkan oleh infeksi maupun cedera, dan jika tidak ditangani dengan tepat, berisiko menimbulkan gangguan penglihatan permanen.

 

Apa Itu Ulkus Kornea?

Ulkus kornea adalah kerusakan atau luka pada selaput bening mata (kornea) yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, parasit, atau akibat trauma pada mata. Luka ini membuat kornea tidak lagi jernih sehingga cahaya tidak dapat masuk dengan baik ke dalam mata.

 

Penyebab Ulkus Kornea

Berdasarkan infografik, beberapa penyebab utama ulkus kornea meliputi:

  • Cedera atau trauma pada mata
  • Paparan bahan kimia
  • Infeksi bakteri, virus, atau jamur
  • Penggunaan lensa kontak yang tidak higienis

Cedera mata akibat kemasukan benda asing, tusukan lidi, sedotan, atau goresan tanaman juga dapat menjadi pintu masuk kuman penyebab infeksi.

 

Siapa yang Berisiko Mengalami Ulkus Kornea?

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Kelompok yang lebih rentan mengalami ulkus kornea antara lain:

  • Pengguna lensa kontak
  • Orang yang sering berenang atau mencuci lensa kontak dengan air tidak steril
  • Penderita gangguan saraf yang membuat kelopak mata tidak bisa menutup sempurna
  • Orang dengan riwayat infeksi mata sebelumnya
  • Penderita penyakit mata tertentu seperti grave oftalmopati

 

Tanda dan Gejala Ulkus Kornea

Gejala ulkus kornea biasanya muncul cukup jelas dan tidak boleh diabaikan, antara lain:

  • Mata terasa nyeri
  • Mata merah dan berair
  • Pandangan kabur atau mengganjal
  • Sensitif terhadap cahaya (silau)
  • Kelopak mata membengkak
  • Muncul bercak putih pada kornea

Jika mengalami keluhan tersebut, segera periksakan diri ke dokter mata.

 

Jenis-Jenis Ulkus Kornea

Ulkus kornea dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya, di antaranya:

  • Ulkus kornea bakterialis
  • Ulkus kornea virus
  • Ulkus kornea jamur
  • Ulkus kornea Acanthamoeba
  • Ulkus kornea Mooren
  • Ulkus kornea marginalis

Setiap jenis memerlukan penanganan yang berbeda sesuai penyebabnya.

 

Bahaya Ulkus Kornea Jika Tidak Diobati

Ulkus kornea yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti:

  • Infeksi yang semakin menyebar
  • Kornea berlubang
  • Membutuhkan operasi transplantasi kornea
  • Risiko kebutaan permanen

Oleh karena itu, ulkus kornea tidak boleh dianggap sebagai iritasi mata biasa.

 

Peran Lensa Kontak dalam Ulkus Kornea

Lensa kontak merupakan alat bantu penglihatan yang diletakkan langsung di permukaan kornea. Namun, penggunaan dan perawatan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko ulkus kornea.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:

  • Tidak mencuci tangan sebelum memakai lensa kontak
  • Membersihkan atau menyimpan lensa dengan cairan yang tidak sesuai
  • Mengganti lensa tidak sesuai jadwal
  • Tidur menggunakan lensa kontak
  • Perawatan dan kebersihan lensa yang kurang baik

 

Cara Merawat Lensa Kontak dengan Benar

Untuk mengurangi risiko infeksi mata, pengguna lensa kontak disarankan untuk:

  • Selalu mencuci tangan sebelum menyentuh lensa
  • Menggunakan cairan pembersih khusus lensa kontak
  • Membersihkan dan menyimpan lensa dengan benar
  • Rutin mengganti tempat penyimpanan lensa
  • Menghindari penggunaan lensa terlalu lama
  • Melakukan pemeriksaan mata secara berkala

 

Ulkus kornea adalah penyakit mata serius yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan jika tidak ditangani dengan cepat. Menjaga kebersihan mata, menggunakan lensa kontak dengan benar, serta segera memeriksakan mata saat muncul keluhan merupakan langkah penting untuk mencegah kondisi ini. Edukasi dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan mata.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2025. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?