INFO UNTUK ANDA

Menjaga-Cahaya-Si-Kecil-Kenali-Retinopati-Prematuritas-pada-Bayi-Prematur.jpeg
03/Nov/2025

Tak banyak orang tua yang menyadari bahwa bayi yang lahir terlalu cepat (prematur) memiliki risiko tinggi mengalami gangguan penglihatan serius. Salah satu kondisi yang paling sering terjadi adalah Retinopati Prematuritas atau ROP gangguan pertumbuhan pembuluh darah pada retina yang dapat menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani dengan cepat.

Menurut data medis, ROP merupakan penyebab utama kebutaan pada anak-anak di seluruh dunia, terutama di negara berkembang di mana fasilitas deteksi dini belum merata.

 

Apa Itu Retinopati Prematuritas (ROP)?

Retinopati Prematuritas adalah kondisi di mana pembuluh darah di retina bayi prematur berkembang secara tidak normal. Retina sendiri adalah jaringan tipis di bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya dan meneruskannya ke otak agar kita bisa melihat.

Pada bayi yang lahir cukup bulan, pembuluh darah retina berkembang sempurna di dalam kandungan. Namun pada bayi yang lahir sebelum waktunya terutama sebelum usia kehamilan 32 minggu atau dengan berat badan di bawah 1.500 gram proses perkembangan pembuluh darah ini belum selesai.

Akibatnya, pembuluh darah bisa tumbuh secara tidak terkendali dan menyebabkan kerusakan pada retina, bahkan lepasnya retina dari posisinya, yang dapat berujung pada kebutaan permanen.

 

Penyebab dan Faktor Risiko ROP

Beberapa faktor utama yang meningkatkan risiko bayi mengalami ROP antara lain:

  1. Kelahiran prematur (< 32 minggu)
  2. Berat badan lahir rendah (< 1.500 gram)
  3. Paparan oksigen tinggi atau terlalu lama di inkubator
  4. Infeksi sistemik atau gangguan pernapasan
  5. Kekurangan nutrisi selama masa perawatan
  6. Transfusi darah berulang

Bayi dengan kombinasi faktor-faktor tersebut perlu mendapatkan pemantauan ketat sejak dini.

 

Gejala ROP yang Perlu Diperhatikan

Pada tahap awal, ROP sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan mata rutin sangat penting. Namun, beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  • Mata juling
  • Bayi tidak merespons cahaya
  • Gangguan penglihatan yang berlanjut hingga kebutaan

 

Tahapan atau Stadium ROP

Berdasarkan tingkat keparahannya, ROP dibagi menjadi lima stadium:

  1. Stadium 1: Muncul garis pemisah antara bagian retina yang sudah memiliki pembuluh darah dan yang belum.
  2. Stadium 2: Garis tersebut makin menonjol seperti tonjolan kecil. Kadang muncul bintik-bintik putih di retina.
  3. Stadium 3: Pembuluh darah baru tumbuh tidak normal dan mengarah keluar retina.
  4. Stadium 4: Sebagian retina mulai terlepas dari tempatnya.
  5. Stadium 5: Retina terlepas seluruhnya, yang berisiko menyebabkan kebutaan total.

Deteksi sejak stadium awal sangat penting agar pengobatan dapat mencegah kerusakan permanen.

 

Bagaimana Cara Mendiagnosis ROP?

Diagnosis ROP dilakukan oleh dokter spesialis mata (Sp.M) melalui pemeriksaan retina bayi prematur.
Beberapa metode pemeriksaan meliputi:

  • Screening rutin pada bayi berisiko tinggi, biasanya dilakukan saat berat badan bayi mencapai sekitar 2.000 gram atau pada usia kehidupan 4–6 minggu.
  • Funduskopi indirect, yaitu pemeriksaan retina menggunakan alat khusus untuk melihat bagian dalam mata.
  • RetCam (Retinal Camera), alat modern yang dapat memotret retina bayi untuk dokumentasi dan penilaian lebih akurat.

 

Penanganan Retinopati Prematuritas

Jika ROP terdeteksi, ada beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan sesuai tingkat keparahannya:

  1. Terapi Laser (Fotokoagulasi) — untuk menghentikan pertumbuhan pembuluh darah abnormal.
  2. Pemberian obat anti-VEGF — membantu menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru yang merusak retina.
  3. Operasi atau tindakan bedah retina — dilakukan pada kasus berat di mana retina sudah mulai atau telah terlepas.

Semakin dini ROP terdeteksi, semakin besar peluang bayi untuk mempertahankan penglihatan normal.

 

Pencegahan: Lebih Baik dari Pengobatan

Langkah pencegahan ROP sangat bergantung pada perawatan bayi sejak awal.
Beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Mencegah kelahiran prematur melalui perawatan kehamilan yang optimal.
  • Pemantauan intensif di ruang perawatan neonatal, terutama terkait penggunaan oksigen.
  • Skrining mata rutin pada semua bayi prematur sesuai usia kehamilan dan berat badan.
  • Konsultasi rutin dengan dokter spesialis anak dan mata untuk pemantauan jangka panjang.

 

Retinopati Prematuritas bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele. Banyak kasus kebutaan pada anak sebenarnya dapat dicegah jika pemeriksaan dini dan pengawasan rutin dilakukan sejak awal kehidupan bayi.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Jangan-Sepelekan-Glaukoma-Kongenital-Bisa-Ganggu-Penglihatan-Si-Kecil-Sejak-Lahir.jpeg
27/Oct/2025

Tidak semua gangguan penglihatan muncul saat seseorang beranjak dewasa. Ada penyakit mata bawaan yang bisa menyerang bahkan sejak bayi lahir, salah satunya adalah glaukoma kongenital.

Kondisi ini memang jarang terjadi, tetapi dampaknya bisa sangat serius bila tidak segera ditangani mulai dari gangguan penglihatan hingga kebutaan permanen.

 

Apa Itu Glaukoma Kongenital?

Glaukoma kongenital adalah penyakit mata bawaan yang muncul sejak bayi lahir atau di awal masa kehidupannya.

Penyakit ini terjadi karena gangguan pada saluran pembuangan cairan mata (aqueous humor), sehingga tekanan di dalam bola mata meningkat. Tekanan tinggi inilah yang dapat merusak saraf optik, bagian penting yang mengirimkan sinyal visual ke otak.

Jika dibiarkan, peningkatan tekanan ini dapat menyebabkan penurunan penglihatan permanen bahkan kebutaan.

“Glaukoma kongenital bukan disebabkan oleh infeksi atau kesalahan perawatan orang tua. Ini murni akibat gangguan perkembangan saluran cairan mata,” jelas tim dokter muda dari FK UNUSA – RSI Surabaya dalam presentasinya.

 

Apa Penyebabnya?

Penyebab utama glaukoma kongenital adalah gangguan perkembangan pada sudut drainase mata (trabekular meshwork) saluran tempat cairan mata seharusnya keluar.

Beberapa kasus berkaitan dengan faktor genetik atau keturunan, meski sebagian besar penyebabnya belum diketahui secara pasti.

Hal penting untuk diketahui: penyakit ini tidak menular dan tidak disebabkan oleh kebersihan bayi atau tindakan orang tua.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda berikut pada bayi atau anak kecil:

  • Mata sering berair dan tampak sensitif terhadap cahaya (fotofobia).
  • Bayi sering menutup kelopak mata atau terlihat tidak nyaman.
  • Pandangan tidak fokus, bayi tidak mengikuti arah benda atau wajah orang.
  • Pada tahap lanjut bisa muncul:
    • Kornea tampak keruh atau membesar.
    • Mata merah dan terlihat lebih besar dari normal.

Jika satu atau lebih tanda tersebut muncul, segera periksakan anak ke dokter spesialis mata anak.

 

Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?

Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati menggunakan alat khusus untuk mengukur tekanan bola mata (tonometri) dan melihat struktur dalam mata.

Karena pasiennya masih bayi, pemeriksaan ini biasanya dilakukan dalam kondisi bius ringan agar anak tidak bergerak.

Deteksi dini sangat penting, semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar peluang penglihatan anak dapat diselamatkan.

 

Cara Mengobati Glaukoma Kongenital

Berbeda dengan glaukoma pada orang dewasa, penanganan utama pada glaukoma kongenital adalah operasi.

Beberapa prosedur yang biasa dilakukan meliputi:

  • Goniotomi dan trabekulotomi, yaitu operasi untuk memperbaiki saluran pembuangan cairan mata agar tekanan berkurang.
  • Obat tetes mata biasanya hanya digunakan sebagai terapi pendukung, bukan pengobatan utama.

Setelah operasi, anak perlu menjalani kontrol rutin untuk memantau hasil operasi dan mencegah tekanan bola mata naik kembali.

 

Peran Penting Orang Tua

Dukungan orang tua menjadi kunci keberhasilan perawatan glaukoma kongenital. Hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:

  • Waspada sejak dini terhadap tanda-tanda kelainan mata pada bayi.
  • Segera konsultasi ke dokter mata anak bila ada gejala mencurigakan.
  • Rutin kontrol setelah operasi sesuai jadwal.
  • Memberikan obat sesuai anjuran dokter, tidak menghentikan terapi tanpa izin.

 

Glaukoma kongenital memang penyakit yang serius, tetapi bukan tanpa harapan. Dengan deteksi dini, tindakan medis yang tepat, dan peran aktif orang tua, anak dapat memiliki penglihatan yang lebih baik di masa depan.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mengenal-Gangguan-Cemas-Menyeluruh-Saat-Pikiran-Tak-Pernah-Benar-Benar-Tenang.png
23/Oct/2025

Pernahkah kamu merasa cemas tanpa henti, bahkan untuk hal-hal kecil yang belum tentu terjadi? Jika rasa khawatir itu muncul hampir setiap hari dan sulit dikendalikan, bisa jadi kamu mengalami gangguan cemas menyeluruh atau dalam istilah medis disebut Generalized Anxiety Disorder (GAD).

Gangguan ini bukan sekadar gugup menjelang ujian atau khawatir menghadapi pekerjaan. Pada penderita GAD, kecemasan hadir hampir terus-menerus bahkan ketika tidak ada ancaman nyata.

 

Apa Itu Gangguan Cemas Menyeluruh?

Gangguan cemas menyeluruh adalah kondisi ketika seseorang mengalami kekhawatiran berlebihan, tidak realistis, dan sulit dikendalikan yang berlangsung hampir setiap hari selama berbulan-bulan.

Rasa cemas ini sering kali disertai berbagai keluhan fisik dan emosional yang membuat penderitanya sulit fokus, mudah lelah, dan tidak bisa menikmati kehidupan sehari-hari.

 

Gejala yang Perlu Diperhatikan

Ciri khas gangguan ini bukan hanya perasaan takut atau panik, tapi kombinasi gejala fisik dan psikis yang sering muncul bersamaan.

Beberapa gejala umum meliputi:

  • Kekhawatiran berlebihan terhadap hal kecil maupun besar.
  • Sulit berkonsentrasi dan merasa “selalu di ujung tanduk”.
  • Gelisah, mudah lelah, atau sulit untuk benar-benar rileks.
  • Keluhan fisik seperti sakit kepala, gemetaran, jantung berdebar, sesak napas, pusing, atau gangguan pencernaan.
  • Gangguan tidur seperti sulit tidur atau mudah terbangun.

Gejala-gejala ini sering disalahartikan sebagai “lelah” atau “banyak pikiran”, padahal bisa jadi menandakan masalah kesehatan mental yang lebih serius.

 

Penyebab Gangguan Cemas Menyeluruh

Menurut para ahli, penyebab GAD bersifat multifaktorial artinya, tidak ada satu penyebab tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai faktor seperti:

  1. Ketidakseimbangan zat kimia otak yang memengaruhi suasana hati dan respons stres.
  2. Trauma atau stres berkepanjangan, seperti kehilangan, tekanan pekerjaan, atau konflik keluarga.
  3. Pola pikir negatif yang membuat seseorang sulit melihat hal dari sisi positif.
  4. Faktor genetik, jika dalam keluarga ada riwayat gangguan kecemasan atau depresi.

 

Apa yang Terjadi Jika Dibiarkan?

Bila tidak ditangani, gangguan cemas menyeluruh bisa berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks.
Kecemasan kronis dapat menyebabkan:

  • Gangguan tidur dan kelelahan fisik.
  • Masalah pencernaan seperti maag atau mual kronis.
  • Penurunan konsentrasi dan produktivitas.
  • Gangguan hubungan sosial karena penderita cenderung menarik diri.
  • Bahkan berisiko berkembang menjadi depresi, gangguan panik, atau penyalahgunaan zat.

 

Cara Mengatasi Gangguan Cemas Menyeluruh

Kabar baiknya, GAD bisa diatasi dengan kombinasi terapi psikologis, pengobatan, dan perubahan gaya hidup.

  1. Konsultasi dengan profesional kesehatan mental
    Psikiater atau psikolog dapat membantu mendiagnosis dan memberikan terapi yang sesuai.
  2. Terapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
    Terapi ini membantu mengubah pola pikir negatif menjadi lebih rasional dan positif.
  3. Manajemen stres
    Lakukan kegiatan relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, yoga, atau jalan santai.
  4. Pola hidup sehat
    Tidur cukup, makan bergizi, dan hindari konsumsi kafein atau alkohol berlebihan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui profesional kesehatan mental jika kamu mengalami hal berikut:

  • Merasa cemas hampir setiap hari selama lebih dari enam bulan.
  • Sulit menjalani aktivitas harian karena kecemasan.
  • Mengalami gangguan tidur, nyeri, atau keluhan fisik tanpa penyebab jelas.
  • Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau perasaan putus asa.

 

Tips Menghadapi Kecemasan Sehari-hari

Bagi kamu yang sering merasa cemas, beberapa langkah sederhana ini bisa membantu:

  • Atur waktu istirahat dan beri tubuh kesempatan untuk pulih.
  • Bicarakan perasaanmu dengan orang yang kamu percaya.
  • Hindari overthinking, fokus pada hal yang bisa kamu kendalikan hari ini.

 

Gangguan cemas menyeluruh bukan akhir dari segalanya. Dengan kesadaran, dukungan, dan penanganan yang tepat, setiap orang memiliki kesempatan untuk hidup lebih tenang dan bermakna.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mengenal-Pterigium-Sayap-Daging-pada-Mata-yang-Sering-Dianggap-Sepele.jpeg
20/Oct/2025

Pernahkah kamu melihat seseorang dengan bagian putih matanya tampak tumbuh jaringan seperti selaput atau “daging tipis” yang menjalar ke arah hitam mata? Kondisi tersebut dikenal sebagai pterigium. Meski terlihat ringan, pterigium bisa mengganggu penglihatan jika dibiarkan tanpa penanganan.

 

Apa Itu Pterigium?

Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular (gabungan jaringan ikat dan pembuluh darah) yang berbentuk seperti segitiga atau sayap. Jaringan ini tumbuh dari konjungtiva  selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan dapat meluas hingga ke kornea, yaitu bagian bening di depan bola mata.

Menurut penelitian oleh Shahraki dkk. (2021), pterigium paling sering ditemukan di daerah beriklim tropis, termasuk Indonesia, karena paparan sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun.

 

Apa Bedanya Pterigium dengan Katarak?

Meski sama-sama bisa mengganggu penglihatan, pterigium berbeda dari katarak.

  • Pterigium tumbuh di permukaan mata (konjungtiva menuju kornea).
  • Katarak terjadi di bagian dalam mata, tepatnya pada lensa, yang menjadi keruh dan menghalangi cahaya.

Jadi, bila kamu melihat adanya selaput tipis yang tumbuh dari sisi putih mata menuju bagian hitam, kemungkinan besar itu adalah pterigium, bukan katarak.

 

Mengapa Pterigium Bisa Terjadi?

Penyebab pasti pterigium belum sepenuhnya dipahami, namun ada beberapa faktor utama yang diketahui memicu pertumbuhannya:

  1. Paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari – faktor terbesar.
    Orang yang sering beraktivitas di luar ruangan tanpa pelindung mata berisiko lebih tinggi.
  2. Iritasi kronis akibat debu, angin, atau asap.
  3. Kondisi lingkungan tropis yang menyebabkan stres oksidatif dan peradangan berulang pada permukaan mata.

Secara ilmiah, paparan UV berlebih dapat merusak DNA sel-sel epitel mata. Akibatnya, terjadi proses peradangan dan pembentukan jaringan baru yang abnormal inilah yang akhirnya membentuk pterigium.

 

Tingkatan atau Derajat Pterigium

Kondisi pterigium dibagi menjadi empat grade (tingkatan) berdasarkan seberapa jauh jaringan tumbuh ke kornea:

  • Grade 1: Jaringan baru mencapai batas antara konjungtiva dan kornea (limbus).
  • Grade 2: Menutupi kornea sekitar 2 mm.
  • Grade 3: Mencapai tepi pupil.
  • Grade 4: Melewati batas pupil dan dapat mengganggu penglihatan secara signifikan.

 

Cara Mengobati Pterigium

Pterigium tidak selalu memerlukan operasi, terutama jika masih kecil dan tidak mengganggu penglihatan. Namun, bila jaringan tumbuh semakin besar, menyebabkan mata merah kronis, atau menutupi pupil, tindakan medis perlu dilakukan.

Beberapa metode penanganan yang biasa digunakan antara lain:

  1. Teknik Bare Sclera

Metode ini cukup sederhana, yaitu mengangkat jaringan pterigium lalu membiarkan area bekasnya terbuka.
Namun, kekurangannya adalah tingkat kekambuhan bisa mencapai 90%, sehingga jarang digunakan sebagai pilihan utama.

  1. Transplantasi Membran Amnion (AMT)

Pada teknik ini, membran amnion digunakan untuk menutupi area bekas pterigium. Jaringan ini menyerupai konjungtiva normal dan dapat mengurangi rasa nyeri pascaoperasi serta mempercepat penyembuhan.
Meski demikian, risiko kambuh tetap ada, biasanya dalam waktu 3–6 bulan setelah operasi.

  1. Autograft Konjungtiva

Merupakan metode yang paling banyak direkomendasikan karena menggunakan jaringan konjungtiva pasien sendiri untuk menutup area bekas pterigium.
Kelebihannya:

  • Risiko kekambuhan lebih rendah dibanding teknik lain.
  • Penampilan mata pascaoperasi lebih baik secara kosmetik.
  • Reaksi penolakan imun hampir tidak ada.

Selain itu, penggunaan obat tambahan seperti Mitomycin-C, Anti-VEGF (Bevacizumab), atau Siklosporin A juga dapat membantu menekan risiko kambuh setelah operasi.

 

Pencegahan Pterigium

Meski bisa diobati, pencegahan tentu lebih baik. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

  1. Gunakan kacamata hitam dengan perlindungan UV dan topi lebar saat beraktivitas di luar ruangan.
  2. Hindari paparan debu dan polusi secara berlebihan.
  3. Segera periksa ke dokter mata bila muncul keluhan seperti mata merah, berair, atau terasa ada “sesuatu” di mata.

 

Pterigium memang bukan penyakit yang langsung membahayakan, tetapi jika dibiarkan dapat menurunkan kualitas penglihatan dan menimbulkan keluhan kronis.
Kuncinya adalah melindungi mata dari paparan sinar matahari dan iritasi lingkungan, serta memeriksakan diri lebih awal bila muncul gejala.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Jerawat-Masalah-Kulit-Sejuta-Umat-yang-Tak-Boleh-Diremehkan.jpg
17/Oct/2025

Jerawat atau acne vulgaris bukan sekadar gangguan kecil di wajah. Kondisi ini merupakan peradangan kulit akibat produksi minyak (sebum) berlebih dari kelenjar sebaceous yang bercampur dengan sel kulit mati dan bakteri, menyumbat pori-pori, lalu menimbulkan benjolan meradang.

Meski umum terjadi terutama pada remaja, jerawat bisa memengaruhi kepercayaan diri bahkan meninggalkan bekas permanen bila tidak ditangani dengan benar.

 

Faktor Pemicu Jerawat

Penyebab pasti jerawat memang belum diketahui, namun ada sejumlah faktor yang berperan besar dalam kemunculannya:

  • Hormon — Perubahan hormon, terutama saat pubertas, menstruasi, atau stres, dapat meningkatkan produksi minyak.
  • Faktor keturunan — Bila orang tua memiliki riwayat jerawat, risiko anak mengalaminya juga lebih tinggi.
  • Stres — Tekanan emosional dapat memperparah peradangan kulit.
  • Bakteri — Infeksi Propionibacterium acnes bisa memicu jerawat bernanah.
  • Kosmetik komedogenik — Produk perawatan wajah yang menyumbat pori.
  • Pola makan dan lingkungan — Konsumsi tinggi lemak, gula, serta paparan udara panas atau polusi dapat memperburuk kondisi kulit.

 

Jenis-Jenis Jerawat

Jerawat muncul dalam berbagai bentuk, tergantung tingkat keparahan peradangan:

  • Komedo – Pori tersumbat yang bisa berupa komedo hitam (blackhead) atau putih (whitehead).
  • Papul – Benjolan merah kecil yang terasa nyeri saat disentuh.
  • Pustul – Jerawat berisi nanah berwarna putih atau kekuningan.
  • Nodul dan kista – Benjolan besar, keras, dan dalam yang bisa meninggalkan bekas permanen.

 

Risiko dan Dampak Jerawat

Selain mengganggu penampilan, jerawat juga dapat menimbulkan:

  • Bekas luka dan bopeng yang sulit hilang
  • Infeksi kulit bila sering dipencet
  • Gangguan psikologis seperti minder atau depresi

 

Cara Mengatasi dan Merawat Kulit Berjerawat

Perawatan jerawat memerlukan konsistensi dan kesabaran. Beberapa langkah sederhana bisa membantu:

  • Bersihkan wajah dua hingga tiga kali sehari dengan sabun lembut
  • Hindari kebiasaan memencet jerawat
  • Gunakan produk perawatan sesuai jenis kulit
  • Pilih kosmetik non-komedogenik
  • Konsumsi makanan sehat dan perbanyak air putih
  • Kelola stres dengan baik

Bila jerawat tak kunjung membaik atau justru makin parah, segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit. Dokter dapat menentukan derajat keparahan jerawat ringan, sedang, atau berat dan memberikan terapi sesuai kebutuhan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri jika:

  • Jerawat meradang parah dan menyebar luas
  • Muncul kista besar atau bernanah
  • Terjadi nyeri dan bengkak berlebihan
  • Bekas jerawat mulai menghitam atau meninggalkan jaringan parut

 

Jerawat bisa menyerang siapa saja, tapi kabar baiknya bisa dikendalikan dengan perawatan yang tepat. Jadi, jangan sepelekan jerawat, dan jangan tergoda untuk memencetnya. Kulit sehat bukan hanya soal penampilan, tapi juga cerminan gaya hidup yang baik.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


waspadai-flu-singapore.jpeg
13/Oct/2025

Penyakit tangan, kaki, dan mulut atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) yang sering disebut Flu Singapore menjadi salah satu penyakit yang umum menyerang anak-anak, terutama usia di bawah lima tahun. Meski terlihat ringan, penyakit ini sangat mudah menular dan bisa menimbulkan komplikasi bila tidak ditangani dengan baik.

 

Penyebab dan Cara Penularan

HFMD disebabkan oleh virus enterovirus nonpolio, terutama Coxsackievirus A16 dan Enterovirus 71. Virus ini dapat menyebar dengan cepat melalui kontak langsung dengan air liur, ingus, feses, atau cairan dari lepuhan penderita.
Selain itu, penularan juga bisa terjadi lewat permukaan benda yang terkontaminasi atau droplet dari batuk dan bersin. Bahkan setelah sembuh, virus masih bisa menular lewat feses selama beberapa minggu.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala awal HFMD sering kali mirip flu biasa, seperti:

  • Demam ringan hingga sedang
  • Sakit tenggorokan dan hilang nafsu makan
  • Sariawan atau luka di dalam mulut
  • Ruam dan lepuhan merah di telapak tangan, kaki, atau bokong
  • Anak menjadi rewel dan mudah menangis

Biasanya, penyakit ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 7–10 hari, namun tetap perlu pemantauan agar tidak timbul dehidrasi akibat sulit makan dan minum.

 

Siapa yang Paling Rentan?

Anak-anak usia di bawah 5 tahun paling sering terinfeksi, terutama yang beraktivitas di lingkungan padat seperti daycare atau taman kanak-kanak. Anak dengan daya tahan tubuh rendah juga memiliki risiko lebih tinggi.

 

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Meskipun sebagian besar kasus ringan, HFMD dapat menyebabkan:

  • Dehidrasi
  • Infeksi sekunder pada luka
  • Radang otak (ensefalitis) atau meningitis virus, meski jarang terjadi

Pencegahan HFMD

Menjaga kebersihan adalah langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran virus ini:

  1. Cuci tangan dengan sabun secara rutin.
  2. Gunakan hand sanitizer jika air tidak tersedia.
  3. Bersihkan mainan dan benda yang sering disentuh anak.
  4. Jauhkan anak yang sakit dari keramaian selama masa menular (5–7 hari).
  5. Ajarkan etika batuk dan bersin yang benar.

Selain itu, vaksin EV71 kini telah tersedia di beberapa negara, termasuk Indonesia, dan terbukti aman serta efektif dalam mencegah kasus berat HFMD.

 

Fakta Penting yang Perlu Diketahui

  • HFMD bisa terjadi lebih dari sekali, karena disebabkan oleh berbagai jenis virus.
  • Penyakit ini dapat menular lewat toilet umum jika kebersihannya tidak terjaga.

 

Flu Singapore bukan penyakit berbahaya bila ditangani dengan cepat dan tepat. Namun, karena tingkat penularannya tinggi, pencegahan menjadi kunci utama.
Jika anak mengalami gejala seperti sariawan, ruam, atau demam, segera periksakan ke dokter agar mendapat diagnosis dan penanganan yang sesuai.

Menjaga kebersihan dan membiasakan perilaku hidup sehat bukan hanya mencegah HFMD, tapi juga membantu melindungi anak dari berbagai penyakit menular lainnya.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mengenal-Peran-Pentingnya-Insulin-Bagi-Penderita-Diabets.jpeg
11/Oct/2025

Bagi sebagian orang, terutama penyandang diabetes, istilah insulin mungkin sudah tak asing lagi. Namun, tak sedikit pula yang belum memahami betapa pentingnya peran insulin dalam menjaga kadar gula darah tetap normal. Padahal, pengelolaan diabetes tidak hanya bergantung pada pola makan dan gaya hidup, tetapi juga pada keseimbangan insulin di dalam tubuh.

 

Apa Itu Insulin?

Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berfungsi membantu tubuh memanfaatkan glukosa (gula darah) sebagai sumber energi. Ketika insulin tidak diproduksi dengan cukup atau tubuh tidak mampu meresponsnya dengan baik, kadar gula dalam darah akan meningkat. Kondisi inilah yang menjadi ciri utama diabetes mellitus.

Terdapat tiga jenis diabetes yang umum terjadi, yaitu:

  • Diabetes tipe 1, ketika tubuh sama sekali tidak memproduksi insulin sehingga pasien harus mendapat suntikan insulin seumur hidup.
  • Diabetes tipe 2, di mana tubuh masih menghasilkan insulin namun tidak bekerja secara optimal.
  • Diabetes gestasional, yaitu diabetes yang muncul saat kehamilan.

 

Mengapa Insulin Diperlukan?

Terapi insulin menjadi pilihan utama ketika kadar gula darah tidak bisa dikontrol dengan obat minum atau perubahan gaya hidup. Tujuannya adalah menurunkan kadar gula darah dan mencegah komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan ginjal, saraf, atau mata.

Pada banyak kasus, penggunaan insulin juga membantu tubuh kembali seimbang dan mencegah kelelahan pankreas akibat produksi insulin yang berlebihan.

 

Jenis-jenis Insulin

Insulin dibedakan berdasarkan kecepatan dan lamanya bekerja di dalam tubuh, antara lain:

  • Insulin kerja cepat (rapid-acting): mulai bekerja dalam 5–15 menit, cocok digunakan sebelum makan.
  • Insulin kerja panjang (long-acting): bekerja perlahan hingga 24 jam, menjaga kadar gula darah tetap stabil.
  • Insulin campuran (premix): kombinasi kerja cepat dan menengah, menjaga kestabilan sepanjang hari.

Dokter akan menyesuaikan jenis dan dosis insulin berdasarkan kebutuhan serta kondisi masing-masing pasien.

 

Cara Menggunakan Insulin Pen

penggunaan insulin pen dapat dikatakan mudah dan nyaman, terutama bagi pasien yang harus menyuntik setiap hari.
Langkah penggunaannya meliputi:

  1. Memeriksa kondisi insulin (tidak boleh keruh atau menggumpal).
  2. Memasang jarum baru dan mengatur dosis sesuai anjuran dokter.
  3. Menyuntik di area perut, paha, atau lengan bagian luar.
  4. Mengganti lokasi suntikan secara bergantian untuk mencegah penebalan kulit.

 

Efek Samping dan Cara Mengatasinya

Meski aman digunakan, insulin dapat menimbulkan efek samping ringan seperti:

  • Hipoglikemia, yaitu kadar gula darah yang terlalu rendah.
  • Lipodistrofi, perubahan jaringan lemak di bawah kulit akibat suntikan berulang di tempat yang sama.

Jika gejala hipoglikemia muncul seperti pusing, gemetar, atau keringat dingin segera konsumsi makanan atau minuman manis, lalu periksa kadar gula darah.

 

Penyimpanan Insulin yang Benar

Agar kualitasnya tetap terjaga, insulin perlu disimpan dengan cara yang tepat:

  • Insulin yang belum digunakan disimpan di lemari pendingin (2–8°C).
  • Insulin yang sudah digunakan dapat disimpan di suhu ruang (<30°C) dan sebaiknya habis dalam 28 hari.

Hindari menyimpan insulin di tempat panas atau terkena sinar matahari langsung.

 

Hidup Sehat Bersama Insulin

Penggunaan insulin hanyalah salah satu bagian dari pengelolaan diabetes. Gaya hidup sehat tetap menjadi kunci utama agar kadar gula darah stabil.
Penderita diabetes disarankan untuk:

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan rendah gula.
  • Rutin berolahraga minimal 30 menit per hari.
  • Memantau kadar gula darah secara berkala.
  • Menjaga berat badan ideal dan mengelola stres dengan baik.

 

Insulin bukan berarti tanda kelemahan, tetapi justru bentuk kendali diri untuk hidup lebih sehat. Dengan pemahaman yang benar dan disiplin menjalani terapi, penderita diabetes tetap bisa beraktivitas normal, produktif, dan menikmati hidup dengan penuh energi.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


HEPATITIS.jpg
07/Oct/2025

Hepatitis adalah peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, konsumsi alkohol berlebihan, obat-obatan tertentu, atau gangguan autoimun. Penyakit ini memiliki berbagai jenis, masing-masing dengan karakteristik, penyebab, dan tingkat keparahan yang berbeda.

Jenis-Jenis Hepatitis

1. Hepatitis A (HAV)

  • Penyebab: Virus hepatitis A.
  • Penularan: Melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi feses penderita.
  • Gejala: Demam, mual, muntah, nyeri perut, dan penyakit kuning.
  • Keparahan: Mayoritas ringan dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus.

2. Hepatitis B (HBV)

  • Penyebab: Virus hepatitis B.
  • Penularan: Melalui darah, cairan tubuh, hubungan seksual, dan dari ibu ke bayi saat persalinan.
  • Gejala: Sering tanpa gejala awal; dapat berkembang menjadi penyakit kuning, kelelahan, dan nyeri sendi.
  • Keparahan: Dapat menjadi kronis, menyebabkan sirosis, dan meningkatkan risiko kanker hati.

3. Hepatitis C (HCV)

  • Penyebab: Virus hepatitis C.
  • Penularan: Kontak dengan darah yang terinfeksi, seperti melalui transfusi darah atau penggunaan jarum suntik bersama.
  • Gejala: Sering tanpa gejala; jika kronis, dapat menyebabkan kerusakan hati serius.
  • Keparahan: Sering menjadi kronis dan merupakan penyebab utama sirosis dan kanker hati.

4. Hepatitis D (HDV)

  • Penyebab: Virus hepatitis D.
  • Penularan: Hanya terjadi pada individu yang sudah terinfeksi hepatitis B.
  • Gejala: Mirip dengan hepatitis B, tetapi lebih parah.
  • Keparahan: Dapat memperburuk kondisi hepatitis B dan meningkatkan risiko komplikasi hati.

5. Hepatitis E (HEV)

  • Penyebab: Virus hepatitis E.
  • Penularan: Melalui konsumsi air yang terkontaminasi feses penderita.
  • Gejala: Demam, mual, muntah, dan penyakit kuning.
  • Keparahan: Biasanya ringan, tetapi dapat berbahaya bagi ibu hamil.

Pencegahan dan Pengobatan

  • Vaksinasi: Tersedia untuk hepatitis A dan B.
  • Higiene: Menjaga kebersihan makanan dan minuman untuk mencegah hepatitis A dan E.
  • Penggunaan Jarum Suntik: Menghindari penggunaan jarum suntik bersama untuk mencegah hepatitis B dan C.
  • Pengobatan: Tergantung pada jenis hepatitis; beberapa memerlukan pengobatan antivirus atau transplantasi hati.

Memahami perbedaan jenis-jenis hepatitis penting untuk pencegahan dan penanganan yang tepat. Jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan atau memiliki faktor risiko, konsultasikan dengan tenaga medis untuk pemeriksaan lebih lanjut

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Kerap-Menimbulkan-Perdebatan-Sebenarnya-Kapan-Waktu-Paling-Tepat-untuk-Tummy-Time.jpeg
02/Oct/2025

Tummy Time atau latihan tengkurap pada bayi sering kali menjadi perdebatan di kalangan orang tua, terutama mengenai kapan waktu yang tepat untuk memulainya. Namun, berdasarkan rekomendasi dari berbagai sumber medis terpercaya, tummy time sebaiknya dimulai sejak dini dan dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan bayi.

Apa Itu Tummy Time?

Tummy time adalah aktivitas menempatkan bayi dalam posisi tengkurap saat ia terjaga dan diawasi. Tujuannya adalah untuk memperkuat otot leher, bahu, lengan, dan punggung, serta mencegah kondisi kepala datar (plagiocephaly) akibat terlalu lama dalam posisi telentang. Aktivitas ini juga membantu perkembangan motorik kasar bayi, seperti kemampuan untuk berguling, duduk, merangkak, dan berjalan.

 

Kapan Waktu yang Tepat untuk Memulai Tummy Time?

Menurut American Academy of Pediatrics, tummy time dapat dimulai beberapa hari setelah bayi lahir, bahkan saat usia 2 minggu, asalkan bayi dalam kondisi sehat dan diawasi dengan baik.

Untuk bayi yang lahir prematur atau memiliki kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum memulai tummy time.

 

Durasi Tummy Time Sesuai Usia

Durasi tummy time sebaiknya ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan usia dan toleransi bayi. Berikut adalah panduan umum :

  • Usia 0–1 bulan: 2–3 menit per sesi, 2–3 kali sehari.
  • Usia 2–3 bulan: 20–30 menit per hari, dibagi dalam beberapa sesi.
  • Usia 4–6 bulan: 1–2 jam per hari, dibagi dalam beberapa sesi.
  • Usia >6 bulan: Lebih dari 2 jam per hari, tergantung kenyamanan bayi.

Durasi ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kenyamanan serta kesiapan bayi.

 

Tips Melakukan Tummy Time

Agar tummy time menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat bagi bayi, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan:

  1. Pilih Waktu yang Tepat: Lakukan tummy time saat bayi dalam kondisi terjaga dan tenang, seperti setelah bangun tidur atau mengganti popok. Hindari melakukannya setelah menyusui untuk mencegah risiko muntah.
  2. Gunakan Alas yang Nyaman: Letakkan bayi di atas permukaan datar yang aman dan nyaman, seperti matras atau selimut tebal.
  3. Pendekatan Bertahap: Mulailah dengan durasi singkat dan tingkatkan secara bertahap sesuai dengan toleransi bayi.
  4. Interaksi Positif: Ajak bayi berbicara, bernyanyi, atau gunakan mainan berwarna cerah untuk menarik perhatiannya selama tummy time.
  5. Gunakan Cermin: Meletakkan cermin di depan bayi dapat merangsang minatnya dan mendorongnya untuk mengangkat kepala.
  6. Pengawasan Ketat: Selalu awasi bayi selama tummy time dan jangan biarkan ia tertidur dalam posisi tengkurap untuk menghindari risiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).

Kesimpulan

Tummy time merupakan aktivitas penting yang mendukung perkembangan motorik dan fisik bayi. Memulainya sejak dini, dengan durasi dan frekuensi yang sesuai, dapat memberikan manfaat optimal bagi tumbuh kembang Si Kecil. Namun, selalu perhatikan kenyamanan dan respons bayi, serta konsultasikan dengan dokter jika terdapat kekhawatiran atau kondisi kesehatan khusus.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Kenali-Ikterus-Neonatorum-Penyakit-Kuning-pada-Bayi-Baru-Lahir.jpeg
27/Sep/2025

Sobat eRSIy, pernahkah melihat bayi baru lahir yang kulitnya tampak kuning? Kondisi ini dikenal dengan istilah ikterus neonatorum atau penyakit kuning pada bayi. Ikterus neonatorum atau kondisi bayi kuning adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan perubahan warna kuning pada kulit atau bagian putih mata akibat penumpukan bilirubin (zat berwarna kuning) dalam darah. Secara klinis, warna kuning ini mulai terlihat di area wajah ketika kadar bilirubin mencapai 5–7 mg/dL.

Walaupun umumnya merupakan kondisi yang normal dan dapat membaik dengan sendirinya, orang tua tetap perlu memahami penyebab bayi kuning agar dapat memberikan perawatan yang sesuai. Beberapa penyebab umum ikterus neonatorum antara lain:

  • Ikterus fisiologis: Jenis yang paling sering terjadi, biasanya muncul pada hari ke-2 hingga ke-4 setelah lahir dan hilang dalam 1–2 minggu.
  • Ikterus akibat ASI: Bisa disebabkan oleh faktor dalam ASI (ikterus ASI) atau karena bayi tidak cukup menyusu.
  • Inkompatibilitas golongan darah: Jika golongan darah ibu dan bayi berbeda, bisa terjadi pemecahan sel darah merah yang berlebihan.
  • Infeksi atau gangguan hati: Pada kasus tertentu, ikterus bisa menjadi tanda adanya infeksi, kelainan hati, atau penyakit metabolik.
  • Kelahiran Prematur: Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu lebih berisiko mengalami kuning karena fungsi hati mereka belum sepenuhnya matang. Selain itu, sel darah merah pada bayi prematur cenderung lebih mudah pecah, sehingga produksi bilirubin menjadi lebih tinggi.

Bayi yang mengalami kuning umumnya tidak membutuhkan pengobatan khusus dan kondisi ini biasanya akan membaik dalam waktu 10 hingga 14 hari. Namun, jika pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar bilirubin dalam darah terlalu tinggi, maka perawatan medis perlu segera diberikan.

Beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kuning pada bayi antara lain:

  1. Memberikan ASI atau susu secara rutin, minimal 8–12 kali dalam sehari untuk membantu proses pengeluaran bilirubin.
  2. Fototerapi (filtered sunlight), yaitu terapi menggunakan cahaya khusus berwarna biru yang disinarkan ke tubuh bayi, baik melalui lampu maupun selimut khusus.
  3. Transfusi tukar, yaitu prosedur medis untuk mengganti darah bayi dengan darah donor yang memiliki kadar bilirubin normal.

Meski dalam beberapa kasus paparan sinar matahari dapat membantu mengurangi gejala kuning, menjemur bayi di pagi hari sebenarnya kurang efektif dalam menurunkan kadar bilirubin. Selain itu, bayi usia 0–6 bulan yang terkena sinar matahari langsung tanpa pelindung berisiko mengalami iritasi atau luka bakar pada kulit. Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk memantau kondisi kuning pada bayi dua kali sehari, terutama dengan melihat perubahan warna pada putih mata dan kulit, guna memastikan apakah kondisinya membaik atau justru semakin parah.

Kondisi Bayi yang Memerlukan Pemeriksaan Dokter Segera:

  1. Warna kuning pada kulit bayi tampak semakin intens atau menyebar luas.
  2. Bayi tampak lemah, tidak mengalami pertambahan berat badan, atau menolak untuk menyusu.
  3. Bayi menangis dengan suara yang nyaring, melengking, dan tidak biasa.
  4. Gejala kuning tidak menghilang setelah lebih dari tiga minggu sejak kelahiran.

 

 

Sobat eRSIy dapat berkonsultasi di Poli Anak RSI Surabaya A Yani apabila buah hati mengalami gejala seperti di atas.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
082133222246 / 47 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2025. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?