INFO UNTUK ANDA

Migrain-Jangan-Disepelekan.jpg.jpeg

Hallo, Sobat eRSIy!

Pernah mengalami sakit kepala hebat? Disertai sensasi mual serta tidak tahan terhadap cahaya atau suara? Ini bisa menjadi tanda migrain, sebuah kondisi sakit kepala yang lebih dari sekadar nyeri biasa. Meski sering disepelekan, migrain dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kesehatan secara keselurhan jika tidak diperhatikan dengan baik.

 

Apa Itu Migrain?

Migrain adalah jenis sakit kepala parah yang biasanya terjadi berulang dengan gejala yang berbeda. Migrain seringkali disertai dengan nyeri yang parah, pulsa di sekitar kepala, dan dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan. Penyakit ini lebih umum terjadi pada perempuan daripada laki-laki dan dapat mempengaruhi individu di segala usia.

 

Penyebab Migrain

Penyebab pasti migrain belum sepenuhnya dipahami, tetapi ada beberapa faktor yang dapat memicu serangan migrain, antara lain:

  • Perubahan hormon, terutama pada perempuan saat siklus menstruasi atau menopause
  • Faktor genetik yang menunjukkan migrain dapat menurun dalam keluarga
  • Paparan lingkungan, seperti cahaya terang atau suara bising
  • Stres dan kelelahan fisik atau emosional
  • Pola makan dan minum, misalnya konsumsi alkohol, MSG, cokelat, atau kafein berlebihan

 

Jenis- Jenis Migrain

Jenis Migrain dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan gejala yang dialami oleh penderita. Beberapa jenis migrain yang umum meliputi:

  1. Migrain Tanpa Aura

Merupakan jenis migrain yang paling sering terjadi. Ditandai dengan sakit kepala berdenyut di satu sisi kepala, disertai mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara. Serangan dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari.

  1. Migrain Dengan Aura

Migrain ini disertai gejala neurologis yang muncul sebelum atau saat sakit kepala terjadi. Gejala aura dapat berupa gangguan penglihatan (kilatan cahaya, garis zigzag), kesemutan, mati rasa, atau kesulitan berbicara. Aura biasanya berlangsung singkat sebelum nyeri kepala muncul.

  1. Migrain Kronis

Migrain yang terjadi secara berulang dan sering, yaitu lebih dari 15 hari dalam sebulan selama lebih dari 3 bulan. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.

  1. Migrain Menstruasi

Jenis migrain yang berkaitan dengan perubahan hormon pada perempuan, terutama sebelum atau saat menstruasi. Gejalanya mirip migrain tanpa aura, namun sering terasa lebih berat.

 

Gejala Migrain

Gejala migrain dapat bervariasi antara individu, tetapi beberapa gejala umum yang dapat terjadi meliputi:

  • Nyeri kepala parah, sering di satu sisi kepala
  • Sensitivitas terhadap cahaya, suara, dan bau
  • Mual atau muntah
  • Pusing atau ingin pingsan
  • Gangguan penglihatan atau sensasi kesemutan pada tubuh

 

Dampak Migrain Terhadap Kesehatan

Migrain yang sering kambuh dan tidak terkontrol dapat memberikan dampak yang luas, seperti:

  • Gangguan aktivitas harian dan produktivitas
  • Kualitas tidur menurun
  • Perubahan suasana hati atau stres emosional
  • Risiko meningkatnya kecemasan dan depresi bila migrain menjadi kronis

 

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila kamu mengalami:

  • Serangan migrain yang sering berlangsung atau semakin berat
  • Nyeri kepala yang mengganggu aktivitas sehari-hari
  • Gejala lain seperti gangguan penglihatan atau kesulitan bicara
  • Nyeri kepala yang tidak membaik dengan pengobatan biasa

Pemeriksaan oleh dokter dapat membantu mendiagnosis kondisi dengan tepat dan menentukan penanganan yang sesuai.

 

Cara Mengelola dan Mencegah Migrain

Untuk membantu mencegah dan mengurangi frekuensi migrain, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Kenali dan hindari faktor pemicu migrain
  • Tidur cukup dan tetap teratur
  • Hindari stres berlebihan dan kelola waktu istirahat
  • Perhatikan pola makan dan hidrasi tubuh

Selalu konsultasikan pada dokter mengenai strategi pencegahan migrain yang tepat sesuai kebutuhanmu.

 

Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mempengaruhi emosi, serta menurunkan kualitas hidup. Dengan memahami penyebab, gejala, dan cara mengelola migrain secara tepat, migrain dapat dikendalikan sehingga aktivitas tetap berjalan dengan nyaman dan produktif. Apabila keluhan migrain sering muncul atau terasa semakin berat, segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Bahaya-Mikroplastik.jpg.jpeg

Plastik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari kemasan makanan hingga botol minuman. Namun di balik kemudahannya, terdapat ancaman yang sering tidak disadari, yaitu mikroplastik.

Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia tanpa disadari. Paparan yang terus-menerus menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.

Apa Itu Mikroplastik?

Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari degradasi plastik yang lebih besar atau dari produk tertentu seperti kosmetik dan serat sintetis.

Partikel ini dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk air, tanah, udara, bahkan dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Bagaimana Mikroplastik Masuk ke Tubuh?

Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui beberapa jalur utama:

  • Makanan dan minuman (air minum, seafood, garam)
  • Udara yang dihirup
  • Kemasan makanan berbahan plastik

Penelitian menunjukkan bahwa manusia dapat mengonsumsi ribuan partikel mikroplastik setiap tahunnya tanpa disadari.

Seberapa Besar Masalahnya? (Data Global & Indonesia)

Isu mikroplastik semakin mendapat perhatian global:

  • Studi menunjukkan manusia dapat mengonsumsi hingga 000–100.000 partikel mikroplastik per tahun
  • Mikroplastik telah ditemukan dalam:
    • Darah manusia
    • Paru-paru
    • Plasenta ibu hamil
  • Penelitian di Indonesia menemukan mikroplastik dalam:
    • Air minum kemasan
    • Ikan laut yang dikonsumsi masyarakat

Temuan ini menunjukkan bahwa paparan mikroplastik sudah meluas dan sulit dihindari.

Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Walaupun penelitian masih terus berkembang, beberapa potensi dampak mikroplastik terhadap kesehatan meliputi:

1. Peradangan dalam Tubuh

Partikel mikroplastik dapat memicu respons inflamasi pada jaringan tubuh.

2. Gangguan Sistem Pencernaan

Mikroplastik yang tertelan dapat mengiritasi saluran cerna.

3. Paparan Zat Berbahaya

Mikroplastik dapat membawa bahan kimia beracun seperti BPA dan ftalat yang berpotensi mengganggu hormon.

4. Gangguan Sistem Imun

Paparan jangka panjang dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

5. Potensi Risiko Jangka Panjang

Beberapa studi mengaitkan mikroplastik dengan risiko penyakit kronis, meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Siapa yang Paling Berisiko?

Paparan mikroplastik dapat terjadi pada semua orang, tetapi risiko lebih tinggi pada:

  • Individu dengan konsumsi tinggi makanan olahan atau kemasan plastik
  • Masyarakat pesisir dengan konsumsi seafood tinggi
  • Pekerja di lingkungan industri plastik
  • Bayi dan anak-anak (melalui botol atau alat makan plastik tertentu)

Kenapa Mikroplastik Sulit Dihindari?

Beberapa faktor yang membuat mikroplastik sulit dihindari:

  • Penggunaan plastik sekali pakai yang tinggi
  • Degradasi plastik di lingkungan
  • Kurangnya kesadaran masyarakat
  • Minimnya regulasi spesifik terkait mikroplastik

 

Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik

Meskipun sulit dihindari sepenuhnya, paparan mikroplastik dapat dikurangi dengan langkah berikut:

1. Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Gunakan botol minum dan wadah makanan yang dapat digunakan ulang.

2. Hindari Memanaskan Makanan dalam Plastik

Pemanasan dapat meningkatkan pelepasan partikel mikroplastik.

3. Pilih Produk Ramah Lingkungan

Gunakan produk berbahan alami atau biodegradable.

4. Saring Air Minum

Gunakan filter air untuk mengurangi kontaminasi.

5. Perhatikan Pola Konsumsi

Kurangi konsumsi makanan olahan dan kemasan.

Kapan Harus Waspada?

Saat ini belum ada gejala spesifik yang langsung menunjukkan paparan mikroplastik. Namun, penting untuk waspada terhadap:

  • Gangguan pencernaan kronis
  • Alergi atau inflamasi tanpa sebab jelas
  • Paparan lingkungan tinggi terhadap plastik

Kesimpulan

Mikroplastik merupakan ancaman kesehatan yang tidak terlihat tetapi nyata. Paparan yang terus-menerus dapat berdampak pada berbagai sistem dalam tubuh.

Dengan meningkatkan kesadaran dan mengurangi penggunaan plastik, masyarakat dapat berperan dalam melindungi kesehatan diri dan lingkungan.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Overstimulasi-Dopamin-Kenapa-Kita-Gampang-Bosan.jpg.jpeg

Pendahuluan

Pernah merasa cepat bosan, sulit fokus, atau terus-menerus ingin mengecek ponsel tanpa alasan jelas? Fenomena ini semakin sering terjadi, terutama di era digital yang serba cepat.

Di balik kondisi tersebut, ada peran penting dari dopamin, yaitu zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi. Paparan stimulus yang berlebihan dari media sosial, game, dan konten digital dapat menyebabkan apa yang dikenal sebagai overstimulasi dopamin.

Apa Itu Dopamin?

Dopamin adalah neurotransmitter yang berperan dalam sistem penghargaan (reward system) di otak. Zat ini dilepaskan ketika seseorang melakukan aktivitas yang menyenangkan, seperti makan, berolahraga, atau mencapai suatu tujuan.

Dopamin membantu meningkatkan motivasi, fokus, dan perasaan puas. Namun, keseimbangan dopamin sangat penting agar fungsi otak tetap optimal.

Apa yang Dimaksud dengan Overstimulasi Dopamin?

Overstimulasi dopamin terjadi ketika otak terlalu sering mendapatkan rangsangan yang memicu pelepasan dopamin dalam jumlah besar, terutama dari aktivitas instan seperti:

  • Scroll media sosial tanpa henti
  • Bermain game secara berlebihan
  • Menonton video pendek secara terus-menerus
  • Konsumsi konten digital yang cepat dan repetitif

Akibatnya, otak menjadi “terbiasa” dengan stimulus tinggi dan membutuhkan rangsangan yang lebih besar untuk merasakan kepuasan yang sama.

Seberapa Besar Masalahnya? (Data Indonesia & Global)

Fenomena ini berkaitan erat dengan peningkatan penggunaan gadget:

  • Rata-rata waktu penggunaan internet di Indonesia mencapai lebih dari 7 jam per hari (laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia/APJII)
  • Secara global, penggunaan media sosial mencapai 2–3 jam per hari pada rata-rata pengguna
  • Studi menunjukkan paparan konten digital cepat (short-form content) berkaitan dengan penurunan rentang perhatian (attention span)

Meskipun belum diklasifikasikan sebagai penyakit, dampaknya terhadap kesehatan mental dan kognitif semakin menjadi perhatian.

Tanda-Tanda Overstimulasi Dopamin

Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:

  • Mudah bosan, bahkan pada aktivitas yang sebelumnya disukai
  • Sulit fokus dalam waktu lama
  • Ketergantungan pada gadget
  • Sering menunda pekerjaan (prokrastinasi)
  • Kehilangan motivasi untuk aktivitas produktif

Kondisi ini sering tidak disadari karena dianggap sebagai kebiasaan biasa.

Kenapa Bisa Terjadi?

Beberapa faktor yang memicu overstimulasi dopamin antara lain:

1. Paparan Konten Instan

Video pendek dan notifikasi memberikan “reward cepat” yang terus-menerus.

2. Sistem Algoritma Media Sosial

Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

3. Multitasking Berlebihan

Melakukan banyak aktivitas digital sekaligus membuat otak terus berpindah fokus.

4. Kurangnya Aktivitas Offline

Minimnya aktivitas fisik dan interaksi sosial nyata memperparah ketergantungan pada stimulus digital.

Dampak Jika Dibiarkan

Jika tidak dikontrol, kondisi ini dapat menyebabkan:

  • Penurunan konsentrasi
  • Produktivitas menurun
  • Gangguan tidur
  • Ketergantungan digital
  • Risiko masalah kesehatan mental seperti stres dan kecemasan

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

 

Cara Mengatasi dan Menjaga Keseimbangan Dopamin

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

1. Batasi Screen Time

Atur waktu penggunaan gadget secara bijak.

2. Terapkan “Digital Detox”

Luangkan waktu tanpa gadget, misalnya beberapa jam dalam sehari.

3. Fokus pada Aktivitas Berkualitas

Seperti membaca, olahraga, atau hobi kreatif.

4. Latih Fokus (Deep Work)

Biasakan melakukan satu aktivitas dalam satu waktu.

5. Perbaiki Pola Tidur

Tidur yang cukup membantu menjaga keseimbangan fungsi otak.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika:

  • Ketergantungan gadget mengganggu aktivitas sehari-hari
  • Sulit berkonsentrasi secara signifikan
  • Mengalami gangguan tidur atau kecemasan

Pendekatan profesional dapat membantu mengembalikan keseimbangan fungsi otak.

Kesimpulan

Overstimulasi dopamin merupakan fenomena yang semakin umum di era digital. Paparan stimulus instan secara berlebihan dapat membuat seseorang mudah bosan dan kehilangan fokus.

Dengan mengatur penggunaan teknologi dan menjaga keseimbangan aktivitas, kondisi ini dapat dicegah dan dikendalikan.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Kenapa-Banyak-Anak-Muda-Kena-GERD.jpg.jpeg

Pendahuluan

Belakangan ini, keluhan “asam lambung naik” semakin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda. Banyak yang menganggap kondisi ini hanya sekadar maag biasa, padahal bisa jadi merupakan tanda dari Gastroesophageal reflux disease yang memerlukan perhatian lebih serius.

Perubahan gaya hidup modern seperti pola makan tidak teratur, konsumsi kopi berlebihan, hingga stres berkepanjangan menjadi faktor utama meningkatnya kasus GERD pada usia produktif.

Apa Itu GERD?

GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus) akibat melemahnya katup antara lambung dan esofagus. Kondisi ini menimbulkan gejala seperti rasa terbakar di dada (heartburn), mual, hingga rasa asam di mulut.

Berbeda dengan maag biasa, GERD bersifat kronis dan dapat berulang jika tidak ditangani dengan baik.

Seberapa Besar Masalah GERD di Indonesia?

GERD bukan lagi penyakit yang jarang terjadi. Di Indonesia, prevalensinya cukup tinggi dan terus meningkat:

  • Prevalensi GERD mencapai sekitar 27,4%–40,8% populasi menurut berbagai penelitian nasional
  • Pada remaja, sekitar 10–15% sudah mengalami GERD
  • Data terbaru menunjukkan tren peningkatan dari 17% menjadi sekitar 29% dalam beberapa tahun terakhir

Fakta ini menunjukkan bahwa GERD sudah menjadi masalah kesehatan yang signifikan, terutama pada usia muda.

Gejala yang Sering Diabaikan

Banyak orang tidak menyadari bahwa gejala yang mereka alami adalah GERD. Beberapa tanda umum meliputi:

  • Rasa terbakar di dada (heartburn)
  • Mual dan kembung
  • Rasa asam atau pahit di mulut
  • Batuk kronis tanpa sebab jelas
  • Suara serak, terutama di pagi hari

Gejala ini sering dianggap ringan, sehingga penderita terlambat mendapatkan penanganan.

Kenapa Anak Muda Rentan Terkena GERD?

Peningkatan kasus GERD pada anak muda sangat erat kaitannya dengan gaya hidup modern, di antaranya:

1. Pola Makan Tidak Teratur

Sering melewatkan makan atau makan dalam porsi besar sekaligus dapat memicu produksi asam lambung berlebih.

2. Konsumsi Kopi dan Minuman Berkafein

Kafein dapat merangsang produksi asam lambung dan melemahkan katup esofagus.

3. Makanan Pedas dan Cepat Saji

Penelitian menunjukkan konsumsi makanan pedas berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko GERD

4. Kebiasaan Begadang

Kurang tidur dapat mengganggu keseimbangan hormon dan sistem pencernaan.

5. Stres

Stres terbukti dapat memengaruhi fungsi saluran cerna dan memperburuk refluks asam lambung

Dampak Jika GERD Dibiarkan

GERD bukan sekadar rasa tidak nyaman. Jika tidak ditangani, dapat menyebabkan:

  • Peradangan esofagus (esofagitis)
  • Penyempitan saluran esofagus
  • Gangguan tidur kronis
  • Penurunan kualitas hidup
  • Bahkan risiko komplikasi serius seperti Barrett’s esophagus

Cara Mencegah dan Mengontrol GERD

Pencegahan GERD dapat dilakukan dengan perubahan gaya hidup sederhana, seperti:

  • Makan secara teratur dengan porsi seimbang
  • Menghindari makanan pemicu (pedas, berlemak, kopi)
  • Tidak langsung berbaring setelah makan
  • Menjaga berat badan ideal
  • Mengelola stres dengan baik
  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika:

  • Gejala muncul lebih dari 2 kali seminggu
  • Nyeri dada terasa berat
  • Sulit menelan
  • Berat badan turun tanpa sebab jelas

 

Kesimpulan

GERD kini tidak lagi identik dengan usia tua. Gaya hidup modern membuat anak muda semakin rentan mengalami kondisi ini. Dengan memahami gejala dan faktor risikonya, GERD dapat dicegah dan dikendalikan sejak dini.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Sering-Lelah-Tanpa-Sebab-1.jpg.jpeg

Pendahuluan

Rasa lelah sering kali dianggap sebagai hal yang wajar, terutama di tengah aktivitas yang padat. Namun, jika kelelahan muncul terus-menerus tanpa sebab yang jelas, kondisi ini tidak boleh diabaikan.

Salah satu penyebab yang sering tidak disadari adalah Anemia defisiensi besi. Kondisi ini cukup umum terjadi, terutama pada remaja, wanita usia produktif, dan ibu hamil, tetapi sering kali tidak terdiagnosis sejak dini.

Apa Itu Anemia Defisiensi Besi?

Anemia defisiensi besi adalah kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga tidak dapat memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup. Hemoglobin sendiri berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Ketika kadar hemoglobin rendah, jaringan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang optimal, sehingga menimbulkan berbagai gejala, terutama kelelahan.

Seberapa Besar Masalahnya? (Data Indonesia & Global)

Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius:

  • Secara global, sekitar 30% populasi dunia mengalami anemia menurut WHO
  • Di Indonesia:
    • Prevalensi anemia pada remaja mencapai sekitar 32% (Riskesdas 2018 – Kementerian Kesehatan RI)
    • Pada ibu hamil, prevalensi anemia mencapai sekitar 48,9%
    • Pada wanita usia subur, angka kejadian berkisar 20–30%

Data ini menunjukkan bahwa anemia, khususnya akibat kekurangan zat besi, masih sangat umum terjadi dan sering tidak terdeteksi.

Gejala yang Sering Diabaikan

Gejala anemia defisiensi besi sering muncul secara perlahan sehingga dianggap sebagai kelelahan biasa. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Mudah lelah dan lemas
  • Pusing atau sakit kepala
  • Wajah pucat
  • Jantung berdebar
  • Sesak napas saat aktivitas ringan
  • Sulit berkonsentrasi

Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami kuku rapuh dan rambut rontok.

Siapa yang Berisiko?

Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia defisiensi besi, yaitu:

  • Remaja, terutama perempuan
  • Wanita usia subur
  • Ibu hamil
  • Individu dengan pola makan tidak seimbang
  • Orang dengan penyakit kronis tertentu

Kelompok ini membutuhkan perhatian khusus karena kebutuhan zat besi yang lebih tinggi.

Penyebab Utama Anemia Defisiensi Besi

Beberapa faktor yang menyebabkan anemia antara lain:

1. Asupan Zat Besi yang Kurang

Kurangnya konsumsi makanan sumber zat besi seperti daging merah, hati, dan sayuran hijau.

2. Kehilangan Darah

  • Menstruasi berlebihan
  • Perdarahan saluran cerna

3. Penyerapan Zat Besi yang Tidak Optimal

Gangguan pada saluran pencernaan dapat menghambat penyerapan zat besi.

4. Kebutuhan Zat Besi yang Meningkat

Terjadi pada masa pertumbuhan, kehamilan, dan menyusui.

Dampak Jika Dibiarkan

Anemia defisiensi besi yang tidak ditangani dapat menyebabkan:

  • Penurunan daya tahan tubuh
  • Gangguan konsentrasi dan performa belajar/kerja
  • Risiko komplikasi pada kehamilan
  • Penurunan kualitas hidup

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak pada produktivitas dan kesehatan secara keseluruhan.

Cara Mencegah dan Mengatasi

Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan langkah sederhana:

1. Konsumsi Makanan Kaya Zat Besi

  • Daging merah
  • Hati ayam/sapi
  • Bayam dan sayuran hijau
  • Kacang-kacangan

2. Kombinasikan dengan Vitamin C

Vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi (misalnya dari buah jeruk).

3. Hindari Penghambat Penyerapan

Seperti teh dan kopi yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan.

4. Konsumsi Tablet Tambah Darah

Terutama pada kelompok berisiko, sesuai anjuran tenaga kesehatan.

5. Pemeriksaan Kesehatan Rutin

Untuk mendeteksi anemia sejak dini.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri jika mengalami:

  • Kelelahan berkepanjangan
  • Pusing berulang
  • Wajah terlihat pucat
  • Sesak napas saat aktivitas ringan

Pemeriksaan sederhana seperti cek hemoglobin dapat membantu memastikan diagnosis.

Kesimpulan

Kelelahan yang sering dianggap sepele bisa menjadi tanda anemia defisiensi besi. Dengan tingginya angka kejadian di Indonesia, penting bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala yang muncul.

Deteksi dini dan perubahan pola hidup sehat dapat membantu mencegah serta mengatasi anemia secara efektif.


Mata-Perih-Buram-di-Era-Gadget_-Ancaman-Computer-Vision-Syndrome-1.jpg.jpeg

Pendahuluan

Di era digital saat ini, hampir seluruh aktivitas—mulai dari bekerja, belajar, hingga hiburan—bergantung pada layar gadget. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul keluhan yang semakin sering dirasakan masyarakat: mata perih, kering, hingga penglihatan buram.

Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda Computer Vision Syndrome yang jika dibiarkan dapat mengganggu kualitas hidup dan produktivitas.

Apa Itu Computer Vision Syndrome?

Computer Vision Syndrome (CVS), atau digital eye strain, adalah kumpulan gejala gangguan mata dan penglihatan yang muncul akibat penggunaan perangkat digital secara berlebihan, seperti komputer, laptop, tablet, dan smartphone.

Kondisi ini terjadi karena mata dipaksa bekerja lebih keras saat menatap layar dalam waktu lama, terutama akibat pencahayaan, kontras, dan fokus visual yang terus berubah.

Seberapa Besar Masalahnya? (Data Indonesia & Global)

Masalah ini bukan kasus kecil—bahkan sudah menjadi isu kesehatan global:

  • Sekitar 50–90% pengguna perangkat digital mengalami gejala CVS
  • Secara global, prevalensi mencapai sekitar 69% populasi pengguna layar
  • Di Indonesia, penelitian menunjukkan:
    • 59,5% mahasiswa mengalami gejala CVS
    • Bahkan hingga 73,5% pada kelompok mahasiswa tertentu
  • Durasi penggunaan layar pada responden bisa mencapai lebih dari 7–10 jam per hari

Artinya, mayoritas pengguna gadget berisiko mengalami gangguan ini, terutama pada usia produktif.

Gejala yang Sering Terjadi

Gejala CVS sering muncul perlahan dan dianggap normal. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Mata kering dan terasa perih
  • Pandangan kabur atau tidak fokus
  • Mata merah atau berair
  • Sakit kepala
  • Nyeri leher dan bahu

Gejala ini dapat muncul setelah beberapa jam penggunaan gadget dan semakin berat jika tidak diatasi.

Siapa yang Paling Berisiko?

Computer Vision Syndrome dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih sering ditemukan pada:

  • Pekerja kantoran
  • Pelajar dan mahasiswa
  • Tenaga kesehatan
  • Pengguna gadget intens (>4–6 jam/hari)

Kelompok usia muda menjadi yang paling rentan karena tingginya paparan layar dalam aktivitas sehari-hari.

Penyebab Utama Computer Vision Syndrome

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya CVS antara lain:

1. Durasi Screen Time yang Tinggi

Penggunaan gadget dalam waktu lama meningkatkan kelelahan otot mata.

2. Jarak Layar Tidak Ideal

Penggunaan smartphone terlalu dekat terbukti meningkatkan risiko digital eye strain

3. Jarang Berkedip

Saat menatap layar, frekuensi berkedip menurun drastis sehingga mata menjadi kering.

4. Pencahayaan Tidak Tepat

Layar terlalu terang atau terlalu redup menyebabkan mata bekerja lebih keras.

5. Postur Tubuh yang Buruk

Postur yang tidak ergonomis berkaitan dengan peningkatan risiko CVS

Dampak Jika Dibiarkan

Jika tidak ditangani, CVS dapat menyebabkan:

  • Penurunan produktivitas kerja
  • Gangguan konsentrasi
  • Kelelahan kronis
  • Penurunan kualitas hidup
  • Gangguan penglihatan sementara

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperburuk gangguan refraksi yang sudah ada.

Cara Mencegah dan Mengatasi CVS

Kabar baiknya, Computer Vision Syndrome dapat dicegah dengan langkah sederhana:

1. Terapkan Aturan 20-20-20

Setiap 20 menit, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki.

2. Atur Pencahayaan

Pastikan layar tidak terlalu terang dan ruangan cukup cahaya.

3. Jaga Jarak Layar

  • Laptop: ±50–70 cm
  • Smartphone: minimal 30–40 cm

4. Sering Berkedip

Membantu menjaga kelembapan mata secara alami.

5. Gunakan Posisi Ergonomis

Pastikan posisi duduk nyaman dan layar sejajar dengan mata.

6. Batasi Screen Time

Kurangi penggunaan gadget yang tidak perlu.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika:

  • Mata terasa sangat nyeri
  • Penglihatan sering buram
  • Sakit kepala terus-menerus
  • Keluhan tidak membaik meskipun sudah istirahat

Kesimpulan

Computer Vision Syndrome merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di era digital. Tingginya penggunaan gadget membuat hampir semua orang berisiko mengalami gangguan ini.

Dengan mengenali gejala dan menerapkan kebiasaan penggunaan gadget yang sehat, CVS dapat dicegah sejak dini.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Sleep-Call-Setiap-Malam_-Hati-Hati-Dampaknya-bagi-Kesehatan-Tubuh.jpg.jpeg

Halo, Sobat eRSIy!
Pernah melakukan sleep call hingga tertidur saat sedang berkomunikasi melalui telepon atau aplikasi? Kebiasaan ini cukup sering dilakukan, terutama di kalangan anak muda. Meskipun terlihat sepele, sleep call yang dilakukan secara terus-menerus dapat memengaruhi kualitas tidur dan kesehatan tubuh. Yuk, kita bahas bersama!

 

Apa Itu Sleep Call?

Sleep call adalah kebiasaan melakukan panggilan suara atau video dalam waktu lama hingga tertidur. Aktivitas ini biasanya dilakukan pada malam hari sebagai bentuk komunikasi atau kebiasaan sebelum tidur.

Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini dapat mengganggu waktu dan kualitas istirahat.

 

Dampak Sleep Call terhadap Kualitas Tidur

Tidur yang berkualitas sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Kebiasaan sleep call dapat memengaruhi kualitas tidur karena:

  • Waktu tidur menjadi lebih larut
  • Tidur menjadi kurang nyenyak
  • Otak tetap menerima rangsangan dari suara atau cahaya layar
  • Pola tidur menjadi tidak teratur

Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan istirahat yang optimal.

 

Dampak terhadap Kesehatan Tubuh

Jika dilakukan secara terus-menerus, sleep call dapat berdampak pada kesehatan, antara lain:

  • Mudah merasa lelah saat bangun
  • Sulit berkonsentrasi
  • Penurunan produktivitas
  • Perubahan suasana hati
  • Gangguan pola tidur

Kurangnya kualitas tidur juga dapat memengaruhi keseimbangan aktivitas sehari-hari.

 

Cara Mengurangi Kebiasaan Sleep Call

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas tidur antara lain:

  • Mengatur waktu tidur yang konsisten
  • Menghindari penggunaan gadget sebelum tidur
  • Mengakhiri komunikasi sebelum waktu istirahat
  • Menciptakan suasana tidur yang nyaman
  • Membiasakan tidur tanpa gangguan dari perangkat elektronik

Dengan membiasakan pola tidur yang sehat, tubuh dapat beristirahat dengan lebih optimal.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Gangguan tidur yang berlangsung lama
  • Sulit tidur tanpa menggunakan gadget
  • Kelelahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari

Pemeriksaan diperlukan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

 

Penutup

Kebiasaan sleep call memang dapat menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari, tetapi perlu dilakukan dengan bijak agar tidak mengganggu kesehatan.

Dengan menjaga kualitas tidur dan mengatur penggunaan gadget, kesehatan tubuh dapat tetap terjaga. Jika mengalami keluhan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Sering-Menahan-Lapar-atau-Makan-Tidak-Teratur.jpg.jpeg

Halo, Sobat eRSIy!
Pernah melewatkan waktu makan karena kesibukan, atau sengaja menahan lapar? Kebiasaan ini sering dianggap sepele, terutama di kalangan pelajar maupun pekerja. Padahal, pola makan yang tidak teratur dapat berdampak pada kesehatan tubuh jika dilakukan terus-menerus. Yuk, kita bahas bersama!

 

Mengapa Pola Makan Teratur Itu Penting?

Tubuh membutuhkan asupan energi secara teratur untuk menjalankan berbagai fungsi, mulai dari aktivitas fisik hingga kerja organ dalam. Pola makan yang teratur membantu menjaga kestabilan energi dan metabolisme tubuh.

Sebaliknya, kebiasaan menunda atau melewatkan waktu makan dapat mengganggu keseimbangan tersebut.

 

Dampak Menahan Lapar terhadap Tubuh

Menahan lapar atau makan tidak teratur dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan berbagai keluhan, antara lain:

  • Tubuh terasa lemas dan kurang bertenaga
  • Sulit berkonsentrasi
  • Pusing atau sakit kepala
  • Produksi asam lambung meningkat
  • Pola makan menjadi tidak terkontrol

Selain itu, kebiasaan ini juga dapat membuat seseorang cenderung makan dalam jumlah berlebih pada waktu berikutnya.

 

Pengaruh terhadap Sistem Pencernaan

Pola makan yang tidak teratur dapat memengaruhi sistem pencernaan. Lambung yang kosong dalam waktu lama dapat meningkatkan produksi asam lambung, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan.

 

Dampak terhadap Metabolisme Tubuh

Tubuh yang tidak mendapatkan asupan energi secara teratur dapat mengalami penurunan metabolisme. Hal ini dapat memengaruhi keseimbangan energi dalam tubuh dan berdampak pada aktivitas sehari-hari.

Oleh karena itu, penting untuk menjaga pola makan yang konsisten agar metabolisme tetap optimal.

 

Cara Menjaga Pola Makan yang Sehat

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga pola makan antara lain:

  • Makan secara teratur sesuai waktu makan
  • Tidak melewatkan sarapan
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Mengatur porsi makan dengan baik
  • Menyediakan camilan sehat jika diperlukan

Membiasakan pola makan yang teratur dapat membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Nyeri perut yang sering muncul
  • Gangguan pencernaan yang berulang
  • Penurunan atau kenaikan berat badan yang tidak terkontrol
  • Keluhan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi lebih lanjut dan mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Penutup

Menahan lapar atau makan tidak teratur mungkin terlihat sepele, tetapi dapat berdampak pada kesehatan jika dilakukan terus-menerus.

Dengan menjaga pola makan yang teratur dan seimbang, tubuh dapat berfungsi secara optimal. Jika keluhan mulai dirasakan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Berat-Badan-Naik-Padahal-Makan-Biasa-Aja.jpg.jpeg

Halo, Sobat eRSIy!
Pernah merasa berat badan naik padahal pola makan tidak berubah? Atau sering merasa lelah tanpa sebab yang jelas? Kondisi ini bisa saja berkaitan dengan gangguan pada hormon tubuh, salah satunya hipotiroidisme. Yuk, kita bahas lebih lanjut!

 

Apa Itu Hipotiroidisme?

Hipotiroidisme adalah kondisi ketika kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah yang cukup. Hormon ini berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh, termasuk proses pembakaran energi.

Ketika kadar hormon tiroid menurun, metabolisme tubuh menjadi lebih lambat sehingga dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh.

 

Mengapa Hipotiroidisme Bisa Terjadi?

Hipotiroidisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Gangguan pada kelenjar tiroid
  • Kekurangan asupan yodium
  • Riwayat penyakit autoimun
  • Efek samping pengobatan tertentu
  • Riwayat keluarga dengan gangguan tiroid

Kondisi ini dapat terjadi secara bertahap sehingga sering tidak disadari pada tahap awal.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala hipotiroidisme sering kali tidak spesifik dan berkembang perlahan. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  • Kenaikan berat badan tanpa perubahan pola makan
  • Mudah lelah
  • Sensitif terhadap suhu dingin
  • Kulit kering
  • Rambut rontok
  • Sulit berkonsentrasi

Karena gejalanya mirip dengan kondisi lain, penting untuk tidak mengabaikannya.

 

Dampak terhadap Kesehatan

Jika tidak ditangani, hipotiroidisme dapat memengaruhi kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari. Metabolisme yang melambat dapat menyebabkan tubuh terasa lemas dan kurang bertenaga.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala sejak dini agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Cara Menjaga Kesehatan Tiroid

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan kelenjar tiroid antara lain:

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Memastikan asupan yodium yang cukup
  • Menjaga pola hidup sehat
  • Mengelola stres dengan baik
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala

Kesadaran terhadap kesehatan tubuh sangat penting untuk mencegah gangguan yang lebih serius.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Kenaikan berat badan yang tidak jelas penyebabnya
  • Kelelahan yang berkepanjangan
  • Gejala lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Hipotiroidisme merupakan salah satu gangguan hormon yang dapat memengaruhi metabolisme tubuh. Gejalanya yang sering tidak disadari membuat kondisi ini perlu diwaspadai.

Dengan menjaga pola hidup sehat dan mengenali tanda-tanda sejak dini, kesehatan tubuh dapat tetap terjaga. Jika mengalami keluhan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Glaukoma-di-Usia-Muda.jpg.jpeg

Halo, Sobat eRSIy!
Pernah mendengar bahwa glaukoma identik dengan usia lanjut? Faktanya, kondisi ini juga dapat terjadi pada usia muda. Meskipun lebih sering ditemukan pada orang yang lebih tua, glaukoma tetap perlu diwaspadai oleh semua kelompok usia karena dapat berdampak pada penglihatan. Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Apa Itu Glaukoma?

Glaukoma adalah penyakit mata yang terjadi akibat kerusakan pada saraf optik, yang berperan penting dalam menghantarkan informasi visual dari mata ke otak. Kerusakan ini umumnya berkaitan dengan peningkatan tekanan di dalam bola mata, meskipun pada beberapa kasus dapat terjadi tanpa peningkatan tekanan yang signifikan.

Jika tidak ditangani dengan baik, glaukoma dapat menyebabkan gangguan penglihatan secara bertahap.

Apakah Glaukoma Bisa Terjadi di Usia Muda?

Glaukoma tidak hanya terjadi pada lansia, tetapi juga dapat dialami oleh usia muda, meskipun kasusnya relatif lebih jarang. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain:

  • Riwayat keluarga dengan glaukoma
  • Cedera pada mata
  • Penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang
  • Kondisi kesehatan tertentu yang memengaruhi mata

Oleh karena itu, penting untuk tetap waspada meskipun tidak memiliki keluhan yang berarti.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Pada tahap awal, glaukoma sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun, seiring perkembangan kondisi, beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  • Penglihatan mulai menyempit (seperti melihat melalui terowongan)
  • Mata terasa nyeri
  • Sakit kepala
  • Penglihatan kabur
  • Melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu

Karena gejalanya sering tidak disadari, pemeriksaan mata secara rutin menjadi hal yang penting.

Dampak Glaukoma terhadap Penglihatan

Glaukoma dapat menyebabkan kerusakan saraf optik secara bertahap. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko menimbulkan gangguan penglihatan permanen.

Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk mencegah perburukan kondisi.

Cara Mencegah dan Menjaga Kesehatan Mata

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mata antara lain:

  • Melakukan pemeriksaan mata secara rutin
  • Menjaga kesehatan tubuh secara umum
  • Menghindari cedera pada mata
  • Menggunakan pelindung mata saat diperlukan
  • Mengatur penggunaan gadget agar tidak berlebihan

Kesadaran untuk menjaga kesehatan mata sejak dini dapat membantu menurunkan risiko gangguan penglihatan di kemudian hari.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Penurunan penglihatan secara bertahap
  • Nyeri pada mata yang tidak kunjung hilang
  • Penglihatan kabur atau menyempit
  • Keluhan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari

Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan kondisi dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Glaukoma tidak hanya terjadi pada usia lanjut, tetapi juga dapat dialami oleh usia muda. Oleh karena itu, penting untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan mata sejak dini.

Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin dan menerapkan kebiasaan yang sehat, risiko gangguan penglihatan dapat diminimalkan. Jika terdapat keluhan pada mata, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2026. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?