INFO UNTUK ANDA

Waspada-Penyakit-Leptospirosis.jpeg
30/Jan/2026

Sobat eRSIy, leptospirosis adalah penyakit yang dapat menyerang manusia melalui kontak dengan hewan yang terkontaminasi bakteri Leptospira. Lingkungan yang kotor dan tidak sehat bisa menjadi sarang bakteri ini, yang sering ditemukan di urine hewan seperti tikus, air kotor, atau lumpur. Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan sangat penting untuk mencegah penularan penyakit ini.

 

Leptospirosis merupakan infeksi bakteri yang bisa masuk ke tubuh melalui luka atau selaput lendir ketika kita bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan yang membawa bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat bertahan lama di lingkungan yang basah dan kotor, terutama selama musim hujan dan ketika terjadi banjir.

 

Gejala Leptospirosis

Pada awalnya, leptospirosis sering kali tidak menunjukkan gejala atau bisa mirip flu, antara lain:

  • Demam tinggi dan menggigil
  • Sakit kepala dan nyeri otot, terutama pada betis dan punggung bawah
  • Mual, muntah, dan diare
  • Mata merah dan nyeri perut

Jika tidak diobati, penyakit ini dapat berkembang menjadi lebih serius, menyebabkan kuning pada kulit dan mata (jaundice), gangguan pernapasan, hingga kerusakan organ hati dan ginjal.

Langkah Mencegah Leptospirosis

  1. Menjaga Kebersihan Lingkungan
    Pastikan lingkungan rumah dan sekitarnya bersih dari kotoran hewan dan tumpukan sampah yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya tikus.
  2. Hindari Kontak dengan Air dan Tanah Tercemar
    Ketika banjir atau berada di area rawan leptospirosis, hindari kontak langsung dengan air dan lumpur yang berpotensi terkontaminasi.
  3. Gunakan Pelindung Diri
    Memakai alas kaki dan sarung tangan saat membersihkan area kotor atau saat bekerja di pertanian dan peternakan.
  4. Mengendalikan Populasi Tikus
    Lakukan pembersihan yang rutin dan pasang perangkap untuk mengurangi populasi tikus di sekitar rumah.
  5. Konsumsi Makanan dan Minuman Bersih
    Pastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi bebas dari kontaminasi kotoran hewan.

Manfaat Menjaga Lingkungan dari Leptospirosis

  1. Mencegah Penularan Penyakit Berbasis Lingkungan
    Lingkungan yang bersih mengurangi risiko kejadian leptospirosis dan penyakit infeksi lainnya.
  2. Mendukung Kesehatan Masyarakat Secara Keseluruhan
    Lingkungan yang sehat meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi beban penyakit.
  3. Menjamin Keamanan dan Kenyamanan Tempat Tinggal
    Dengan mengelola sampah dan hewan pengerat, lingkungan menjadi aman dan nyaman untuk dihuni.

 

Itulah pentingnya menjaga lingkungan agar terhindar dari leptospirosis. Jika Sobat eRSIy mengalami gejala leptospirosis atau memerlukan informasi lebih lanjut, segera konsultasikan dengan dokter.

Terus jaga kesehatan otak dengan gaya hidup sehat agar tetap aktif dan produktif setiap hari

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505

0811363670 / 47 (customer care)

Atau anda bisa mengunjungi RSI Surabaya A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya.


Kenali-Hipotermia.jpeg
28/Jan/2026

Hipotermia saat mendaki gunung adalah kondisi tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya untuk memproduksinya, menyebabkan suhu tubuh turun drastis di bawah normal (di bawah 35°C). Kondisi ini sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

 

Penyebab Hipotermia:

Hipotermia umumnya terjadi akibat paparan suhu dingin dalam waktu lama, baik di lingkungan terbuka maupun tertutup. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hipotermia meliputi:

  1. Paparan cuaca dingin (misalnya saat mendaki gunung atau tersesat di lingkungan bersalju).
  2. Terendam air dingin (seperti jatuh ke laut atau sungai yang bersuhu rendah).
  3. Pakaian yang tidak memadai dalam cuaca dingin.
  4. Gangguan kesehatan tertentu, seperti diabetes, hipotiroidisme, atau malnutrisi, yang dapat menghambat produksi panas tubuh.
  5. Konsumsi alkohol atau obat-obatan yang dapat mengganggu regulasi suhu tubuh.

 

MENGAPA PENDAKI GUNUNG RENTAN TERKENA HIPOTERMIA?

Pendaki gunung termasuk kelompok yang paling rentan mengalami hipotermia karena beberapa faktor, antara lain:

  • Kondisi Cuaca yang Tidak Terduga: Suhu di pegunungan dapat berubah secara drastis, terutama pada malam hari atau saat terjadi badai.
  • Pakaian yang Tidak Sesuai: Pendaki pemula sering kali kurang memahami pentingnya pakaian berlapis (layering) yang mampu menjaga suhu tubuh.
  • Kelelahan Fisik: Aktivitas fisik yang berat membuat tubuh lebih cepat kehilangan panas, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan makanan dan minuman yang cukup.
  • Efek Ketinggian: Pada ketinggian tertentu, tubuh mengalami kesulitan dalam mengatur suhu dan produksi panas, meningkatkan risiko hipotermia.
  • Kurangnya Adaptasi terhadap Dingin: Pendaki yang tidak terbiasa dengan lingkungan bersuhu rendah lebih cepat mengalami kehilangan panas tubuh.

Gejala Hipotermia

Gejala hipotermia berkembang secara bertahap dan dapat bervariasi tergantung tingkat keparahannya:

  • Ringan (32–35°C): Menggigil, kulit pucat, kelelahan, kebingungan ringan, bicara melantur, dan kesulitan menggerakkan tubuh.
  • Sedang (28–32°C): Berhenti menggigil, gangguan koordinasi yang parah, kantuk berlebihan, denyut jantung dan pernapasan melambat.
  • Parah (<28°C): Hilang kesadaran, denyut jantung dan pernapasan hampir tidak terdeteksi, pupil melebar, dan berisiko henti jantung.

Penanganan Hipotermia

Jika seseorang mengalami hipotermia, segera lakukan langkah-langkah berikut sebelum bantuan medis datang :

  1. Pindahkan ke tempat yang lebih hangat dan kering.
  2. Lepaskan pakaian basah dan ganti dengan pakaian kering dan hangat.
  3. Gunakan selimut tebal atau sumber panas seperti botol air hangat yang dibungkus kain di area leher, dada, atau selangkangan.
  4. Berikan minuman hangat yang tidak mengandung alkohol atau kafein.
  5. Hindari pemanasan langsung seperti menggunakan penghangat ruangan dengan suhu tinggi karena dapat menyebabkan syok.
  6. Jika korban tidak sadar, segera lakukan CPR jika tidak ada detak jantung atau napas.

Pencegahan Hipotermia

Untuk mencegah hipotermia, penting untuk:

  • Gunakan pakaian yang sesuai saat berada di lingkungan dingin, termasuk pakaian berlapis, jaket tahan air, dan topi.
  • Tetap kering dan hindari kontak langsung dengan air dingin.
  • Konsumsi makanan bergizi untuk menjaga energi tubuh
  • Hindari konsumsi alkohol.
  • Selalu bawa perlengkapan darurat, terutama jika beraktivitas di alam terbuka.

Pastikan tubuh pendaki dalam keadaan yang prima sebelum memutuskan untuk mendaki gunung dengan melakukan MCU di RSI Surabaya A Yani.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Mata-Bayi-Tampak-Berair-Terus-Bisa-Jadi-Obstruksi-Ductus-Nasolakrimalis.jpeg
23/Jan/2026

Hai Sobat Ersiy, Mata bayi yang terus berair memang sering bikin orang tua cemas. Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi adalah obstruksi ductus nasolakrimalis atau yang dikenal sebagai dakriostenosis. Meski umumnya tidak berbahaya dan bisa membaik seiring pertumbuhan si kecil, kondisi ini tetap perlu dikenali sejak dini agar tidak menimbulkan masalah lanjutan. Yuk, kenali lebih dekat penyebab mata bayi berair agar penanganannya tepat

 

Apa Itu Obstruksi Ductus Nasolakrimalis?

Obstruksi ductus nasolakrimalis adalah kondisi tersumbat atau menyempitnya saluran air mata (duktus nasolakrimal), sehingga air mata tidak dapat mengalir dengan normal ke rongga hidung. Akibatnya, air mata menumpuk dan keluar berlebihan dari mata.

Kondisi ini paling sering bersifat kongenital (sejak lahir) akibat sistem drainase air mata yang belum berkembang sempurna. Namun, pada beberapa kasus dapat pula terjadi karena faktor yang didapat, seperti trauma atau peradangan sistemik.

 

Seberapa Sering Terjadi?

Obstruksi ductus nasolakrimalis tergolong cukup sering ditemukan pada bayi. Sekitar 6–20% bayi mengalami gangguan aliran air mata pada tahun pertama kehidupan. Bahkan, sekitar 20% bayi sehat dapat menunjukkan gejala mata berair pada usia awal.

Kabar baiknya, kondisi ini memiliki angka kesembuhan spontan yang tinggi. Sekitar 70% bayi bebas gejala pada usia 3 bulan, dan lebih dari 90% sembuh sebelum usia 1 tahun tanpa tindakan operasi.

 

Tanda dan Gejala yang Perlu Diperhatikan

Gejala biasanya mulai muncul beberapa hari hingga minggu setelah bayi lahir dan dapat memburuk saat bayi mengalami infeksi saluran napas atas atau terpapar udara dingin. Beberapa tanda yang sering ditemukan meliputi:

  • Mata berair terus-menerus meskipun bayi tidak menangis
  • Air mata berlebihan hingga tampak “banjir”
  • Penumpukan cairan mukoid atau mukopurulen (mirip nanah)
  • Timbul kerak pada kelopak mata
  • Kemerahan atau iritasi kulit di sekitar mata akibat gesekan air mata

 

Penyebab Terjadinya Sumbatan

Pada sebagian besar bayi, obstruksi disebabkan oleh saluran nasolakrimal yang belum terbuka sempurna. Kondisi ini biasanya akan membaik secara alami seiring pertumbuhan. Namun, bila terjadi sumbatan menetap, air mata yang tertahan dapat memicu infeksi, seperti dakriosistitis.

Penanganan dan Perawatan di Rumah

Penanganan utama obstruksi ductus nasolakrimalis tanpa komplikasi adalah pijat nasolakrimal, yang bertujuan membantu membuka sumbatan agar air mata dapat mengalir normal.

Selain itu, perawatan yang dianjurkan meliputi:

  • Pijat nasolakrimal secara rutin
  • Membersihkan kelopak mata dengan air hangat
  • Pemberian antibiotik topikal bila terdapat tanda infeksi, sesuai anjuran dokter

 

Cara Melakukan Pijat Nasolakrimal

Pijat dapat dilakukan oleh orang tua di rumah dengan langkah-langkah berikut:

  1. Cuci tangan hingga bersih
  2. Posisikan bayi dengan kepala sedikit menengadah
  3. Temukan titik pijat di atas kantung lakrimal (sudut dalam mata)
  4. Gunakan jari telunjuk atau kelingking, lalu tekan perlahan ke arah bawah mengikuti sisi hidung
  5. Lakukan gerakan memijat dari sudut mata ke bawah sebanyak 5–10 kali per sesi
  6. Pijat dapat dilakukan 2–4 kali sehari secara rutin

 

Ingat ya, Sobat Ersiy, meski obstruksi ductus nasolakrimalis tergolong kondisi yang sering terjadi pada bayi dan umumnya bisa membaik dengan sendirinya, perawatan yang tepat dan pemantauan rutin tetap sangat penting. Dengan pemahaman yang baik, orang tua dapat membantu meminimalkan risiko komplikasi sejak dini. Jika mata si kecil terus berair atau muncul tanda infeksi, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter agar penanganannya lebih optimal

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Perdarahan-Subkonjungtiva-Kondisi-Mata-Merah-yang-Umumnya-Tidak-Berbahaya.jpeg
22/Jan/2026

Perdarahan subkonjungtiva merupakan kondisi mata yang ditandai dengan munculnya bercak merah terang pada bagian putih mata (sklera). Kondisi ini terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil yang berada di bawah lapisan konjungtiva. Meski tampak mencolok dan sering menimbulkan kekhawatiran, perdarahan subkonjungtiva pada umumnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya.

 

Penyebab Perdarahan Subkonjungtiva

Beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya perdarahan subkonjungtiva antara lain:

  • Batuk, bersin, atau muntah yang kuat
  • Mengejan berlebihan
  • Cedera ringan pada mata
  • Mengucek mata terlalu keras
  • Tekanan darah tinggi
  • Penggunaan obat pengencer darah
  • Gangguan pembekuan darah
  • Operasi mata atau trauma sebelumnya

Pada sebagian kasus, perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi tanpa penyebab yang jelas.

 

Gejala yang Umum Dirasakan

Gejala utama perdarahan subkonjungtiva adalah:

  • Bercak merah terang pada bagian putih mata
  • Tidak disertai nyeri
  • Tidak mengganggu penglihatan
  • Tidak terasa gatal atau perih yang berat

Warna merah dapat berubah menjadi kecokelatan atau kekuningan seiring proses penyembuhan, mirip seperti memar pada kulit.

 

Penanganan dan Perawatan

Sebagian besar kasus perdarahan subkonjungtiva tidak memerlukan pengobatan khusus. Darah akan diserap kembali oleh tubuh secara bertahap dalam waktu sekitar 1–2 minggu.

Langkah perawatan yang dapat dilakukan meliputi:

  • Menghindari mengucek mata
  • Menggunakan obat tetes mata pelumas bila mata terasa tidak nyaman
  • Mengontrol tekanan darah secara rutin
  • Menghindari aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan secara tiba-tiba

 

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun umumnya tidak berbahaya, pemeriksaan medis dianjurkan apabila:

  • Perdarahan sering berulang
  • Disertai nyeri hebat atau gangguan penglihatan
  • Terjadi setelah cedera berat pada mata
  • Disertai memar di bagian tubuh lain tanpa sebab yang jelas
  • Pasien memiliki riwayat gangguan pembekuan darah atau mengonsumsi obat pengencer darah

 

Perdarahan subkonjungtiva merupakan kondisi mata yang sering terlihat mengkhawatirkan namun umumnya tidak berbahaya. Dengan pemahaman yang tepat dan perawatan sederhana, kondisi ini dapat sembuh secara alami. Namun, pemeriksaan ke dokter mata tetap disarankan untuk memastikan tidak terdapat gangguan kesehatan lain yang mendasari.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


waspada-ISK.jpg
18/Dec/2025

Infeksi Saluran Kemih (ISK)
 Ini adalah infeksi yang terjadi pada bagian saluran kemih, yaitu :

  • Uretra (saluran tempat keluarnya urine)
  • Kandung kemih
  • Ureter (saluran dari ginjal ke kandung kemih)
  • Bahkan bisa sampai ke ginjal

Penyebab paling sering adalah bakteri, terutama E. coli dari usus, yang masuk ke saluran kencing.

Gejala ISK diantaranya :

  • Nyeri atau panas saat buang air kecil
  • Sering merasa ingin kencing, tapi urine keluar sedikit
  • Urine keruh atau berbau tidak sedap
  • Kadang disertai demam (bila infeksi sudah sampai ginjal)

Yuk kenali beberapa faktor penyebabnya agar sobat eRSIy dapat lebih waspada!

1. Bakteri dari Area Sekitar

Sebagian besar ISK disebabkan oleh bakteri E. coli yang biasanya hidup di usus. Bakteri ini bisa berpindah ke saluran kencing, terutama bila kebersihan area genital tidak dijaga dengan baik.

2. Wanita Lebih Rentan

Kenapa wanita lebih sering kena ISK? Karena saluran kencing wanita lebih pendek, sehingga bakteri lebih mudah masuk ke kandung kemih. Selain itu, setelah menopause, kadar hormon estrogen menurun dan membuat perlindungan alami tubuh berkurang.

3. Menahan Kencing

Sering menunda ke toilet? Hati-hati, hal ini memberi waktu bagi bakteri untuk berkembang biak di kandung kemih.

4. Kurang Minum Air Putih

Kalau jarang minum, urine jadi sedikit dan jarang keluar. Akibatnya, bakteri tidak terbilas dan lebih mudah menempel di saluran kencing. Minumlah cukup air putih, minimal 2 liter per hari.

5. Faktor Medis

Beberapa kondisi bisa meningkatkan risiko ISK, misalnya:

  • Pemakaian kateter urine (selang kencing).
  • Penyakit seperti diabetes atau batu ginjal.
  • Pada pria, pembesaran prostat bisa membuat urine tidak keluar tuntas.

6. Usia dan Daya Tahan Tubuh

  • Anak-anak bisa terkena ISK bila kebersihan kurang terjaga.
  • Lansia lebih berisiko karena daya tahan tubuh melemah.

Kesimpulan

ISK bisa dicegah dengan cara sederhana: cukup minum air putih, tidak menahan kencing, jaga kebersihan area genital, serta kontrol penyakit yang sudah ada seperti diabetes atau batu ginjal. Jika Sobat eRSIy mengalami gejala seperti nyeri dan sering kencing namun sedikit-sedikit jangan ragu untuk memeriksakan diri ke Poli Urologi RSI Surabaya A Yani.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Yuk-Intip-Rahasia-Membangun-Otot-dengan-Sumber-Protein-Sehat.jpeg
02/Dec/2025

Protein merupakan komponen esensial dalam proses pembentukan dan pemeliharaan massa otot. Ketika tubuh mengalami aktivitas fisik seperti olahraga, terutama latihan kekuatan, kebutuhan protein meningkat untuk membantu pemulihan jaringan otot dan mendukung pertumbuhan otot baru. Namun, tidak semua sumber protein memberikan manfaat yang sama. Pemilihan sumber protein yang sehat dan berkualitas tinggi sangat penting untuk hasil yang optimal.

Mengapa Protein Penting untuk Otot?

Protein terdiri dari asam amino, yang merupakan komponen penyusun otot. Konsumsi protein setelah aktivitas fisik dapat meningkatkan sintesis protein otot dan mencegah pemecahan otot. Asupan protein yang cukup setiap hari, disertai latihan yang konsisten, berkontribusi pada peningkatan massa dan kekuatan otot.

Kriteria Sumber Protein Sehat

Sumber protein yang baik untuk membangun otot harus mengandung:

  • Asam amino esensial lengkap, terutama leusin yang sangat berperan dalam stimulasi pertumbuhan otot.
  • Nilai biologis tinggi, artinya protein tersebut mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.
  • Rendah lemak jenuh dan kolesterol, untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Sumber Protein Sehat yang Direkomendasikan

1. Telur

Telur merupakan salah satu sumber protein dengan nilai biologis tertinggi. Satu butir telur menyediakan sekitar 6–7 gram protein lengkap. Selain itu, telur juga mengandung vitamin B12 dan kolin yang mendukung metabolisme energi. Studi dalam American Journal of Clinical Nutrition menyebutkan bahwa konsumsi telur utuh pasca-latihan meningkatkan sintesis protein lebih baik dibanding putih telur saja.

2. Daging Tanpa Lemak

Daging sapi, ayam, dan kalkun tanpa lemak mengandung protein tinggi dengan kandungan lemak jenuh yang lebih rendah dibanding daging olahan. Protein hewani dari daging tanpa lemak sangat efektif untuk mendukung hipertrofi otot jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup.

3. Ikan Berlemak

Ikan seperti salmon dan tuna menyediakan protein berkualitas tinggi serta asam lemak omega-3 yang memiliki efek antiinflamasi. Omega-3 dapat meningkatkan sensitivitas otot terhadap protein dan membantu pemulihan setelah latihan intensif (Journal of the International Society of Sports Nutrition, 2018).

4. Produk Susu Rendah Lemak

Susu, yogurt, dan keju rendah lemak merupakan sumber protein kasein dan whey. Protein whey dikenal cepat diserap dan efektif dalam merangsang sintesis otot, sedangkan kasein menyediakan pelepasan asam amino yang lambat dan stabil. Penelitian dari Nutrition & Metabolism menunjukkan bahwa kombinasi whey dan latihan resistensi mempercepat peningkatan massa otot.

5. Kacang-Kacangan dan Biji-Bijian

Meskipun protein nabati umumnya tidak lengkap, mengombinasikan beberapa jenis kacang-kacangan dan biji-bijian (misalnya kacang merah dengan nasi atau quinoa) dapat menyediakan spektrum asam amino esensial. Selain itu, mereka mengandung serat dan lemak sehat yang baik untuk kesehatan jantung.

6. Tahu dan Tempe

Sebagai sumber protein nabati dari kedelai, tahu dan tempe mengandung protein lengkap dan merupakan pilihan utama bagi vegetarian. Tempe juga mengandung probiotik hasil fermentasi yang dapat mendukung kesehatan pencernaan.

Tips Konsumsi Protein untuk Membangun Otot

  • Distribusi seimbang: Bagi asupan protein secara merata sepanjang hari (sekitar 20–30 gram per makan).
  • Konsumsi pasca-latihan: Waktu terbaik mengonsumsi protein adalah dalam 30–60 menit setelah latihan.
  • memberikan efek optimal terhadap Gabungkan dengan latihan beban: Asupan protein tanpa aktivitas fisik tidak akan massa otot.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


Yuk-Ketahui-Manfaat-Sensory-Play-untuk-Anak.jpg
27/Nov/2025

Apa Itu Sensory Play?

Sensory play merupakan permainan atau aktivitas yang merangsang satu atau lebih indera anak, termasuk juga indera keseimbangan dan kesadaran tubuh.

 

Mengapa Kegiatan Sensory Play Penting untuk Anak?

  1. Sebagian besar perkembangan otak terjadi sebelum usia 3 tahun
  2. Sensory play memperkuat koneksi saraf, meningkatkan fungsi ngatan, fokus, regulasi emosi, dan membantu anak dalam pemecahan masalahnya
  3. Bermain sensory membantu otak memproses rangsangan pancaindra, sekaligus melatih motorik halus dan kasar

Contoh Aktivitas Sensory Play yang Bisa Diberikan kepada Anak

  • Bermain dengan adonan kue, slime, atau pasir, untuk mengajarkan anak beragam tekstur
  • Bermain dengan jenis kacang yang berbeda bentuk dan warna, untuk mengajarkan anak beragam warna dan bentuk
  • Membiarkan anak untuk makan sendiri, bermain tebak rasa, bentuk, atau warna buah, untuk mengenalkan bau, tekstur, warna, hingga rasa makanan
  • Bermain dengan menumpuk gelas plastik berwarna untuk mengajarkan anak tentang beragam warna
  • Bermain dengan alat musik atau benda yang bisa mengeluarkan suara ketika dipukul, misalnya panci, ember, atau baskom

Manfaat Utama Sensory Play

  1. Interaksi dengan berbagai media (warna, tekstur, rasa) memperluas kosakata dan kemampuan deskriptif saat anak dan orang tua berdiskusi .
  2. Aktivitas seperti mencubit, menuang, atau memindahkan benda memperkuat koordinasi tangan-mata, sedangkan bermain di luar (lompat, lari, naik sepeda) memperbaiki keseimbangan dan kekuatan otot besar
  3. Sensory play mendorong pemecahan masalah (misal, mengelompokkan bentuk/warna), meningkatkan ingatan, konsentrasi, dan kemampuan berpikir fleksibel

Bermain bersama teman atau orang tua mengasah empati, kerjasama, keterampilan regulasi emosi seperti kesabaran dan kepercayaan diri

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


waspada-hiperkolesterolemia.jpeg
21/Nov/2025

Hiperkolesterolemia terjadi saat kadar kolesterol darah (terutama LDL atau “jahat”) melewati batas normal, memperbesar risiko timbulnya aterosklerosis, penyakit jantung koroner, pankreatitis, diabetes, gangguan tiroid, hingga penyakit hati dan ginjal

Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kolesterol

  • Usia dan jenis kelamin: Risiko kolesterol meningkat seiring bertambahnya usia dan lebih rentan pada pria dan wanita usia 40–60 tahun .
  • IMT tinggi (obesitas): Peningkatan berat badan berbanding lurus dengan kenaikan kadar LDL dan total kolesterol
  • Tekanan darah tinggi: Hipertensi sering bersamaan dengan kadar kolesterol yang tinggi
  • Merokok & aktivitas fisik rendah: Kedua faktor ini meningkatkan risiko hiperkolesterolemia

Strategi Mengendalikan Kolesterol

Perubahan Gaya Hidup (Therapeutic Lifestyle Changes – TLC), Strategi ini meliputi :

  1. Kurangi lemak jenuh dan kolesterol makanan
     Setiap pengurangan 1% kalori dari lemak jenuh dapat menurunkan LDL sebesar ~2%
  2. Pilih bahan yang bantu kadar LDL
     Konsumsi sterol/tanaman stanol, serat larut, dan protein kedelai dapat menurunkan LDL
  3. Turunkan berat badan bila perlu
     Menurunkan berat badan membantu memperbaiki profil lipid .
  4. Aktivitas fisik rutin
     Latihan aerobik moderat hingga intensif secara konsisten membantu membakar lemak dan menurunkan LDL

Pencegahan dan  pengelolaan Kolesterol

  • Jaga berat badan ideal (IMT 18,5–24,9 kg/m²).
  • Rutin olahraga minimal 150 menit/minggu.
  • Kurangi merokok dan asupan lemak jenuh.
  • Perlu deteksi dini melalui pemeriksaan kolesterol darah secara berkala.

Kesimpulan

Mengendalikan kolesterol tinggi membutuhkan pendekatan terpadu: perubahan pola makan, penurunan berat badan & peningkatan aktivitas fisik, serta pengobatan bila diperlukan. Strategi TLC dan dukungan dari Kemenkes serta jurnal medis telah menunjukkan efektivitas dalam menurunkan LDL dan risiko penyakit kardiovaskular.

Jika sobat eRSIy mengalami keluhan atau ingin berkonsultasi dapat mengunjungi Poli Penyakit Dalam RSI Surabaya A Yani

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


sering-pusing-merasa-berputar-saat-berjalan-waspadai-gejala-vertigo.jpeg
19/Nov/2025

Apa Itu Vertigo?

Pernahkah Anda merasakan dunia “berputar” padahal Anda diam? Itulah vertigo: ilusi gerakan tubuh sendiri atau lingkungan sekitarnya—yang bukan disebabkan oleh gerakan nyata . Ini berbeda dari pusing ringan: vertigo disertai mual, kesulitan menyeimbangkan diri, dan gerakan mata tak terkendali (nistagmus)

 

Penyebab Vertigo

Vertigo muncul ketika sistem keseimbangan terganggu, baik di telinga dalam, otak, maupun indera proprioseptif (otot dan sendi). Secara umum, vertigo dibagi menjadi dua:

1. Vertigo perifer – masalah pada telinga bagian dalam seperti:

  • BPPV (Benign Paroxysmal Positional Vertigo): kristal otolit lepas menyebabkan sensasi berputar saat ganti posisi
  • Vestibular neuritis/labyrinthitis: peradangan saraf vestibular, biasanya akibat virus .
  • Penyakit Meniere: kelebihan cairan di telinga dalam, ditandai dengan vertigo, tinnitus, dan gangguan pendengaran .

 

2. Vertigo sentral – gangguan di batang otak atau serebelum, misalnya akibat stroke atau tumor.

Gejala Vertigo yang Harus Diwaspadai

Tanda khas vertigo mencakup:

  • Sensasi berputar atau ruang seperti bergoyang
  • Mual atau muntah
  • Mata bergerak tak terkendali (nistagmus)
  • Sulit berjalan lurus atau koordinasi buruk (ataxia)
  • Gejala timbul saat bergerak atau berganti posisi

Pencegahan & Manajemen Jangka Panjang

  • Ikuti Latihan Vestibular secara rutin
  • Hindari perubahan posisi leher dan kepala yang cepat
  • Diet sehat: rendah garam, hindari pemicu Meniere atau migrain vestibular
  • Kurangi stres dan konsumsi kafein/alkohol
  • Segera konsultasi bila gejala persisten atau disertai tanda bahaya

Kesimpulan

Vertigo adalah kondisi medis serius yang mempengaruhi sistem keseimbangan. Diagnosis tepat dan penanganan seperti manuver reposisi BPPV, rehabilitasi vestibular, dan obat sesuai penyebabnya terbukti efektif. Untuk hasil terbaik, segeralah periksakan diri ke dokter dan jalani terapi rutin. Jika vertigo disertai tanda neurologis (misalnya kesulitan bicara, mati rasa, kelemahan otot), segera konsultasikan ke poli saraf RSI Surabaya A Yani.

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya

 


Mengapa-Minum-Teh-Setelah-Makan-Tidak-Dianjurkan.jpeg
17/Nov/2025

Minum teh setelah makan adalah kebiasaan yang umum di Indonesia. Namun, para ahli kesehatan menyarankan untuk menghindari kebiasaan ini karena dapat berdampak negatif pada penyerapan nutrisi dan kesehatan pencernaan. Berikut penjelasannya

1. Menghambat Penyerapan Zat Besi

Teh mengandung senyawa tanin dan polifenol yang dapat mengikat zat besi non-heme (zat besi dari sumber nabati) dalam makanan, sehingga menghambat penyerapannya oleh tubuh. Hal ini dapat meningkatkan risiko anemia defisiensi besi, terutama pada remaja putri dan wanita usia subur yang memiliki kebutuhan zat besi lebih tinggi.

2. Meningkatkan Risiko Anemia

Kebiasaan minum teh setelah makan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko anemia. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh setelah makan dapat menurunkan penyerapan zat besi hingga 64%.

3. Memicu Gangguan Pencernaan

Kandungan kafein dalam teh dapat merangsang produksi asam lambung berlebih, yang berpotensi menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Hal ini dapat memicu gejala seperti mual, mulas, dan diare, terutama jika teh dikonsumsi dalam jumlah besar atau saat perut kosong.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Minum Teh?

Untuk meminimalkan dampak negatif terhadap penyerapan nutrisi, disarankan untuk memberikan jeda waktu antara makan dan minum teh. Idealnya, konsumsi teh dilakukan setidaknya satu jam setelah makan. Hal ini memungkinkan tubuh menyerap nutrisi penting dari makanan sebelum tanin dalam teh mengikatnya.

 

Kesimpulan

Meskipun teh memiliki berbagai manfaat kesehatan, seperti kandungan antioksidan dan efek relaksasi, konsumsi teh segera setelah makan dapat menghambat penyerapan zat besi dan meningkatkan risiko anemia serta gangguan pencernaan. Oleh karena itu, sebaiknya hindari minum teh langsung setelah makan dan berikan jeda waktu untuk memastikan penyerapan nutrisi yang optimal.

 

Jika Anda memiliki keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan untuk penyakit yang Anda alami, Anda bisa berkunjung ke RSI A. Yani agar segera mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyakit Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami di:

(031) 8284505
0811363670 (customer care)

Atau Anda bisa mengunjungi RSI A. Yani di Jl. Achmad Yani No.2-4, Wonokromo, Surabaya


rsi lam putih

Kesembuhan datang dari Allah, keselamatan dan kepuasan pasien tanggung jawab kami

CopyRight, 2025. Yayasan RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA | Managed by Markbro

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Customer Care Kami. Siap membantu!
Assalamu'alaikum, Apa yang bisa kami bantu?